Please Feel My Love

Please Feel My Love
Photo Shoot



...'Aku ingin membawa mu kedalam dekapan ku. Tapi, apakah kamu bersedia?' ...


...----------------...


Hari ini merupakan jadwal bagi kelas XII untuk melaksanakan acara foto bersama, guna untuk mengisi buku tahunan dan juga sebagai kenang-kenangan. Rayla sudah rapi dengan baju putih abu-abunya. Saat ini, Ia tengah menunggu Sam untuk berangkat bersama ke sekolah.


Rayla menatap kosong ke arah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Pikirannya berkelana, memikirkan keputusan yang akan Ia ambil. Apakah Ia akan menetap di sini, atau kembali ke Amerika dan tinggal di sana kembali?


Rayla terkesiap, ketika pintu kamarnya di ketuk oleh Aleta.


"Ay, buruan turun, Sam udah nungguin kamu di bawah," ucap Aleta, sembari menyembulkan kepalanya di antara celah yang tercipta diantara pintu Rayla, karena Aleta hanya membukanya sedikit.


Rayla menoleh ke arah Aleta, "Iya, Ma."


Setelah mendengar jawaban putrinya, Aleta pun berlalu pergi setelah mewanti-wanti agar Rayla segera turun. Tak lama setelah Aleta memanggilnya ke kamar, Rayla pun turun, dan menghampiri Sam yang tengah menunggunya sembari duduk di sofa ruang tamu.


"Udah siap?" tanya Sam, sembari tersenyum lembut.


Rayla mengangguk, "Udah."


"Ayo berangkat," ucap Sam, sembari bangkit dari sofa yang Ia duduki.


Rayla pun hanya menurut, kemudian mengikuti langkah Sam menuju pintu utama rumahnya, setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, mereka pun sampai di pelataran parkir sekolah yang telah ramai oleh berbagai macam kendaraan. Baik itu kendaraan roda dua, maupun kendaraan roda empat. Setelah memastikan Sam telah memarkir mobilnya dengan baik, Rayla pun melepas seatbelt nya, kemudian turun dari dalam mobil yang Ia dan Sam tumpangi.


"Lo ngapain ngikutin gue?" tanya Rayla dengan kening berkerut.


"Gue mau ngenterin lo ke kelas," jawab Sam dengan santai.


"Gak usah. Mending lo ke kelas lo aja," tolak Rayla halus.


"Gak papa. Udah ayo, jangan bawel," ucap Sam kemudian menggamit tangan Rayla, untuk digenggamnya.


Rayla pun hanya pasrah, dan mengikuti langkah Sam. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan pintu ruang kelas XII IPA 2.


"Sana masuk," ucap Sam sembari mendorong pelan tubuh Rayla agar masuk ke dalam ruang kelas.


Rayla berdecak sebal, "Gak usah dorong-dorong, bisa kan?"


Sam terkekeh, "Iya maaf. Sana masuk, gue gabung sama anak OSIS lain dulu," ucap Sam sembari mengacak pelan rambut Rayla sebelum berlalu pergi, dan meninggalkan Rayla yang kini tengah menggerutu kesal.


Rayla langsung memutus kontak mata mereka, kemudian melangkah ke arah Vika yang memanggilnya. Diam-diam, Rayla tersenyum tipis, ketika melihat Edward yang sudah sembuh. Walaupun masih terdapat, bekas luka di wajahnya. Tetapi itu sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan seorang Edward Rasya Nafandra. Sedangkan Edward, terus mengamati pergerakan Rayla.


Tak lama kemudian, muncul Rifki. Rifki pun hanya menoleh sekilas ke arah Edward, kemudian mengalihkan arah pandangnya dengan segera ketika melihat Edward yang akan memanggil namanya. Edward terdiam, ketika mendapati sikap Rifki yang berubah cuek terhadapnya. Bahkan minggu lalu, disaat Edward diperbolehkan untuk pulang, Rifki tidak datang untuk membantunya. Padahal, Edward sudah memberitahunya, tetapi Rifki hanya membaca pesan miliknya, tanpa mengirimkan balasan.


Pandangan Edward berubah tajam, ketika melihat Rifki yang menghampiri Rayla kemudian merangkul bahunya. Edward menatap Rifki penuh peringatan, Rifki yang melihat hal itupun, bukannya merasa terintimitasi, Ia malah semakin menjadi-jadi. Dengan sengaja pula, Ia mengacak-acak rambut Rayla, dan hal itu sukses mematik rasa cemburu Edward semakin berkobar. Rifki yang melihat itupun, tersenyum miring. Tapi setelahnya, Rifki mengerang kesakitan, ketika Rayla memukulinya tanpa ampun. Edward yang melihat hal itupun, hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Menghampiri mereka dan menarik Rifki menjauh? Bisa-bisa terjadi pertumpahan darah nanti.


Bela mendelik kesal, ketika menyadari Edward sama sekali tidak mendengarkan ceritanya.


"Kamu dengerin aku gak sih?!" tanya Bela kesal.


"Ya?" tanya Edward yang linglung.


"Ed, aku ini calon tunangan kamu," peringat Bela.


Edward menghembuskan nafasnya kasar, "Iya."


"Guys, ini udah jadwal kita buat foto. Yok, semuanya ke lapangan," ucap Sean, selaku ketua kelas yang memberikan intruksi.


Dengan patuh mereka keluar dari ruang kelas menuju lapangan. Setelah semua anggota kelasnya terkumpul, Sean pun melaporkannya kepada sang petugas fotografer. Setelah itu, sang fotografer pun, mengarahkan posisi mereka agar terlihat bagus di kamera nanti.


Setelah acara foto formal, Sean pun mengeluarkan kameranya, "Kawan-kawanku yang budiman sekalian. Mumpung ini acara foto buku tahunan udah kelar, gimana kalau kita foto-foto pake kamera gue? Itung-itung pake kenang-kenangan," ucap Sean yang mengajukan ide.


Teman-temannya yang lain pun, bersorak setuju. Tanpa menunggu lama, mereka menyingkir dan mencari spot yang bagus. Dengan bermodal kamera seadanya, Sean memanggil temannya dari kelas sebelah, untuk membantunya mengambil gambar.


Edward menatap jengah ke arah Rifki, yang selama acara foto bersama selalu merangkul Rayla. Edward yang sudah tidak tahan pun, menyindir Rifki tepat di sebelahnya.


"Ini acara foto bersama, bukan foto pamer kemesraan," ucap Edward dingin.


Rifki menoleh, kemudian tersenyum sinis, "Emang ada hubungannya sama lo? Urus aja calon tunangan lo, gak usah ngurusin urusan orang lain," ucap Rifki kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan Edward.


Tak lama kemudian, Bela datang menghampiri Edward.


"Ed, foto bareng yuk!" ajak Bela dengan sangat antusias.


Edward menatap sekilas ke arah Bela, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rayla. Tangan Edward mengepal kuat, ketika melihat Sam yang menghampiri Rayla dan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Rayla. Sumpah demi apapun, Edward ingin langsung menghampiri Rayla, menarik Rayla ke dalam dekapannya, kemudian menghajar Sam yang telah berani-beraninya menyentuh miliknya. Eh?


Pandangan Edward, beralih ke arah Rifki yang kini tengah memperebutkan sesuatu bersama Rian. Edward memejamkan matanya, harusnya Ia tidak membentak Rifki dan tidak membela Bela di hari, dimana Rifki menjenguknya. Edward merasa kehilangan setelah Rifki secara terang-terangan menjauh darinya. Sudah Edward jelaskan, Rifki itu sahabatnya dari zaman mereka menjadi embrio. Mereka selalu bersama dari kecil hingga dewasa sekarang. Dan ketika Rifki menjauhinya, Edward merasa kehilangan. Bela yang melihat raut wajah Edward yang nampak frustrasi, tersenyum sinis. Inilah yang Ia inginkan. Semua orang terdekat Edward menjauhinya, disaat itulah Bela akan mengambil kesempatan untuk selalu berada di sisi Edward. Dan dengan begitu, Edward tidak punya alasan untuk menolaknya kan? Memikirkannya saja sudah membuat Bela tersenyum senang.