
...'Kamu adalah orang pertama yang ada dipikiran ku, di saat aku butuh seseorang untuk tempat bersandar.'...
...----------------...
Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan yang di atas rata-rata. Ia masih kesal dengan sikap Ayahnya yang seenaknya menjodohkannya dengan Bela. Apalagi setelah melihat pesan Sam, kekesalannya tambah memuncak. Dan Ia melampiaskannya lewat kebut-kebutan di jalan raya.
Edward menepikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian mengambil ponselnya yang tadi Ia lempar ke jok belakang mobilnya. Ia mengotak-atik ponselnya sebelum mendekatkan benda pipih tersebut ke telinganya.
"Halo," sapa orang diseberang sana.
Edward diam.
"Kenapa?"
"Lo dimana?" tanya Edward.
"Rumah lah, yakali di pinggir jalan," jawab Rayla malas.
"Ok," ucap Edward kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya, tanpa menghiraukan Rayla yang mungkin sekarang sedang menyumpah serapahinya.
Di seberang sana Rayla menggeram kesal karena tingkah Edward yang memutuskan panggilan mereka secara sepihak. Dengan mulut yang masih berkomat-kamit seperti mbah dukun yang membaca mantra, Rayla kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya, kemudian melanjutkan acara berhalu ria dengan idola-idolanya.
Pintu kamar yang di ketuk secara brutal membuat Rayla menggeram kesal. Ada saja yang mengganggu acaranya! Dengan langkah malas, Rayla bangkit kemudian berjalan menuju pintu kamarnya untuk melihat siapa gerangan yang mengetuk pintunya seperti orang yang ingin demo saja.
"Ngapain sih lo ketuk pintu gue kayak orang kesetanan?!" tanya Rayla ketika melihat Devan yang tengah berdiri dihadapannya.
Devan meletakkan jari telunjuknya di bibir, kemudian mendorong Rayla agar memasuki kamarnya.
"Apa-apaan sih lo?!" pekik Rayla kesal.
"Gak usah teriak-teriak napa, telinga gue sakit nih!" ucap Devan sembari mengelus telinganya.
Rayla memutar bola matanya malas, "Udah sana keluar. Ganggu orang aja lo!"
Devan menahan tangan Rayla yang mendorongnya.
"Gue ke sini mau nanya sesuatu yang penting," ucap Devan dengan raut wajah yang serius, tapi malah terlihat menggelikan di mata Rayla.
"Muka lo biasa aja napa," ucap Rayla sembari memukul pelan pundak Devan.
"Dibilangin serius, malah dikira bercanda gue," dumel Devan kesal.
Rayla terkekeh, "Iya-iya. Emang nanya apaan?"
"Si Edward ngapain ke sini malem-malem?" tanya Devan yang sukses membuat kedua bola mata Rayla membulat.
"Edward ke sini?" tanya Rayla terkejut.
Devan mendengus, "Iya. Tadi gue gak sengaja liat pas mau ke kamar."
Devan memang menginap dari kemarin di rumahnya. Alasannya? Biar lebih gampang PDKT sama anak tetangga Rayla yang baru pindah seminggu lalu. Begitu katanya, saat Rayla bertanya pada Devan kenapa tiba-tiba seperti orang yang baru saja diusir dari rumah.
"Terus, Edward dimana sekarang?" tanya Rayla.
"Lagi ngobrol mungkin sama ortu lo," jawab Devan acuh tak acuh.
Rayla mengangguk, "Yaudah sana lo keluar dari kamar gue."
"Lo gak mau keluar nemuin Edward?" tanya Devan heran. Pasalnya bukannya ikut keluar bersamanya, Rayla malah berjalan menuju meja riasnya.
"Bentar lagi, gue mau nyisir rambut dulu," jawab Rayla sembari menyisir rambutnya.
Devan tersenyum jahil. "Ceileh. Kek anak gadis yang di apelin aja lo! Sok-sokan sisir rambut, biasanya juga ogah."
"Gak usah nyari gara-gara deh lo! Sana keluar dari kamar gue, pintu masuk sama keluarnya masih sama."
Devan tertawa, "Iya ini juga gue udah mau keluar."
Sebelum Devan benar-benar keluar dari kamar Rayla. Ia menyempatkan diri untuk menggoda Rayla sekali lagi.
"Jangan lupa pakai parfum, badan lo bau. Kasian entar Edward," ucap Devan kemudian langsung keluar dari kamar Rayla, dan tak lupa langsung menutupnya demi menghindari botol lotion yang melayang dan hampir mengenai dirinya, jika saja Ia tidak gesit untuk menutup pintu.
"Awes lo Devan!" teriak Rayla dari dalam kamarnya. Sedangkan Devan hanya tertawa puas karena berhasil menjahili sepupunya itu.
"Devan, tolong kamu panggilin Rayla. Ada Edward di bawah," teriak Aleta pada Devan.
"Tenang aja tan, si Rayla udah tau. Ini dia lagi siap-siap keluar buat ketemu calonnya," jawab Devan yang juga ikut berteriak.
Rayla yang baru keluar kamar pun, memukul pundak Devan dengan keras karena berbicara sembarangan. Kalau Edward salah paham gimana?
Devan memekik sakit karena pukulan Rayla yang tak main-main, sedangkan Aleta dan Theo geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
"Mereka emang kayak gitu kalau ketemu, berantem mulu," ucap Aleta memberitahu.
Edward tersenyum menanggapi ucapan Mama Rayla.
"Ay cepet sini turun, kasian Edward nungguin kamu," ucap Theo dengan suara yang agak kencang.
"Iya, pa," ucap Rayla sembari bergegas menuruni anak tangga. Saat Rayla sudah di hadapan mereka, Mama dan Papa Rayla pamit untuk undur diri karena alasan ingin beristirahat. Rayla dan Edward pun mengiyakan.
Setelah Mama dan Papanya memasuki kamar mereka, barulah Rayla membuka obrolan antara dirinya dan Edward.
"Ngapain lo ke sini malem-malem?" tanya Rayla.
Edward hanya diam, sembari memperhatikan Rayla. Rayla pun balas menatap Edward. Menyadari ada yang berbeda dari tatapan Edward, Rayla pun menghembuskan nafasnya kasar.
"Kita ke taman belakang rumah gue aja yuk," ajak Rayla yang di setujui oleh Edward. Edward pun mengikuti Rayla, sesampainya di sana, Rayla menyuruh Edward agar duduk di kursi taman. Sedangkan Rayla kembali masuk ke dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian, Rayla datang dengan dua gelas mug di tangannya.
Edward mendongak ketika Rayla menyodorkan sebuah mug yang ada di tangannya.
"Buat lo," ucap Rayla ketika Edward tak kunjung mengambil mug yang Ia sodorkan.
Edward mengambil alih mug yang Rayla sodorkan, "Makasih."
Rayla mengangguk, kemudian duduk di sebelah Edward sembari menyesap cokelat panas miliknya.
"Lo kenapa?" tanya Rayla setelah beberapa saat hening.
Edward menoleh ke arah Rayla, "Gak papa."
"Gak usah bohong, lo gak berbakat," balas Rayla.
"Susah ternyata bohong sama lo," ucap Edward sembari tersenyum tipis.
Rayla menganggukkan kepalanya, "Makanya. Ayo cerita!"
Edward menghembuskan nafasnya kasar, kemudian menyesap cokelat panasnya.
"Tapi kalau lo belum siap, gak usah cerita. Lain kali aja," tambah Rayla.
"Makasih."
"Gue engga ngapa-ngapain."
"Lo selalu bisa ngertiin gue. Gue beruntung bisa kenal sama lo," ucap Edward sembari menatap Rayla dalam.
Rayla menoleh, netranya langsung bersitubruk dengan netra hitam milik Edward yang tengah memperhatikannya.
"Dibilang beruntung ada benernya, dibilang engga beruntung juga ada benernya. Yaudah, jalan tengah aja, netral."
Edward mengerutkan alisnya, "Maksud lo?"
"Lupakan. Engga penting juga," jawab Rayla acuh.
Edward menggeleng tidak terima, "Mana bisa gitu!"
"Eh btw, lo ke rumah gue cuma numpang minum doang?" ucap Rayla mengalihkan pembicaraan.
"Enggak lah!" jawab Edward sewot.
"Ya terus mau ngapain?"
Edward tak menjawab, Ia meletakkan mug yang Ia bawa di sebelahnya. Kemudian langsung menarik tangan Rayla ke dalam dekapannya. Rayla yang terkejut pun, berusaha mendorong dada Edward. Tetapi Edward malah mempererat dekapannya.
"To hold you in my arms," bisik Edward.