
...'Sama seperti sebuah perlombaan lari. Segala sesuatu, pasti dimulai dari garis start, dan berakhir di garis finish.'...
...----------------...
Rayla turun dari dalam mobil, setelah Edward memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya. Ia meninggalkan Edward yang masih mengambil tasnya, yang Ia taruh di jok belakang tadi. Setelah berpesan, agar langsung menyusulnya masuk saja nanti, tidak usah isi acara ketuk pintu lagi. Dan Edward, menyetujuinya.
Rayla memasuki rumahnya, dan langsung disambut rentetan kalimat dari Mamanya.
"Kamu kok jam segini baru pulang!? Kamu pulang bareng siapa? Mama liat kamu dianter pakai mobil barusan, pasti kamu pulang engga bareng Edward, terus kamu keluyuran sama temen-temen kamu. Kalau kamu pulang bareng Edward. Engga mungkin jam segini kamu baru pulang," cerocos Mamanya, yang menuding kan pertanyaan secara bertubi-tubi, dan tak memberikannya celah untuk menjawab tuduhan yang dilayangkan.
"Satu-satu nanya nya, Ma. Ayla pusing, mau jawab yang mana duluan."
"Jawab semuanya. Sekarang!" ucap Mamanya dengan penuh penekanan.
Rayla mendengus, "Ayla balik sama Edward kok."
"Bohong dosa! Orang jelas-jelas tadi pagi Edward jemput kamu pakai motor engga mobil."
"Udah jawab, dibilang bohong," ucap Rayla, sembari memutar bola matanya malas.
Mamanya sudah siap untuk melayangkan protes, tapi sebelum itu terjadi. Suara salam dari arah pintu utama rumah, mengalihkan atensi Mamanya.
"Selamat sore, tante," ucap Edward, sembari mendekat ke arah Mama Rayla, dan menyalami nya.
Senyum Mama Rayla merekah melihat Edward yang datang menghampirinya, "Sore ganteng."
Rayla menatap jengah ke arah Mamanya. Sebenarnya, yang disini anak kandung siapa sih!?
"Ayo duduk dulu," ucap Mama Rayla, sembari menggiring Edward ke arah sofa yang berada diruang tamu. Edward menurut, sedangkan Rayla mengekori langkah mereka berdua.
"Ed," panggil Mama Rayla, setelah dirinya, Edward, dan Rayla duduk di atas sofa.
"Iya tan, kenapa?" tanya Edward.
"Kamu, yang nganterin Ayla pulang barusan?"
Rayla mendengus sebal, ternyata Mamanya masih belum percaya, jika dirinya tadi pulang bersama Edward.
"Iya, tan. Ada apa?" tanya Edward, bingung.
"Ga papa, cuma tante bingung aja. Kok jam segini baru pulang?"
Rayla hanya diam menyimak percakapan yang terjadi, diantara Mamanya dan Edward.
"Sebelumnya Edward minta maaf tan. Tadi, Edward ngajakin Rayla buat mampir dulu ke apartemen Edward. Soalnya Edward mau ganti baju dulu," terang Edward.
"Terus?" tanya Mama Rayla, yang masih nampak penasaran.
"Edward ngajak Rayla makan dulu, soalnya kasian. Dia udah kayak orang yang gak makan tiga hari."
Rayla mendelik tidak terima, mendengar ucapan Edward barusan.
"Enak aja!" ucap Rayla, dengan wajah yang ditekuk kesal.
Mamanya tertawa, begitu juga dengan Edward.
"Terus sekarang, kamu mau langsung pulang?" tanya Mama Rayla, kepada Edward.
Edward menggeleng, "Enggak tan. Edward sama Rayla mau latihan buat presentasi dulu."
"Oh gitu. Kirain mau ngajak anak tante buat jalan-jalan."
Edward tersenyum canggung, sedangkan Rayla mulai beranjak dari duduknya.
"Lo tunggu di sini. Gue mau ganti baju, sekalian ngambil perlengkapan yang lain," pesan Rayla, kepada Edward. Dan Edward mengangguk mengerti.
Setelah itu, Rayla pun langsung beranjak menuju ke lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Sedangkan Mama Rayla, juga meninggalkan Edward sendiri di ruang tamu. Dengan alasan, ingin membuatkan minum, dan mengambil beberapa camilan sebagai pengiring mereka berlatih presentasi.
"Mau mulai darimana?" tanya Rayla, ketika dirinya sudah mengambil posisi duduk lesehan di atas karpet berbulu, dan diikuti oleh Edward yang mengambil tempat tepat disebelahnya.
"Yang pasti, dari awal."
Rayla mendengus, "Itu juga gue tau."
Edward terkekeh, "Mulai dari perkenalan dulu. Terus lanjut ke perkenalan topik yang kita bahas, pembahasan, sesi tanya jawab, pamit undur diri."
Rayla manggut-manggut, "Ok. Let's start!"
Mereka mulai melakukan latihan untuk presentasi mereka, beberapa kali mereka nampak berdiskusi untuk membuat strategi, bagaimana caranya menjawab dengan baik, benar dan efisien. Jika nanti sewaktu-waktu teman-temannya atau bu Citra ingin mengajukan sebuah pertanyaan.
Di tengah keseriusan mereka berdiskusi, Mama Rayla datang dengan membawa nampan yang berisi minuman dan juga beberapa makanan ringan.
"Ayo, di minum dulu. Ntar lanjut lagi belajarnya," ucap Mama Rayla, sembari meletakkan nampan yang dibawanya di dekat Edward.
Edward mengangguk, "Makasih, tante."
"Makasih, Ma." ucap Rayla.
Mama Rayla mengangguk, "Iya sama-sama. Kalian lanjut belajarnya, Mama mau masak buat makan malem dulu."
Edward dan Rayla kompak mengangguk, setelah itu. Mama Rayla pun beranjak pergi dari sana, dan melangkah menuju dapur.
Edward dan Rayla pun melanjutkan diskusi dan latihan mereka. Hingga tak terasa, sudah dua jam lebih mereka menghabiskan waktu untuk membahas mengenai presentasi yang akan mereka lakukan.
"Papa pulang."
Edward dan Rayla kompak menoleh ke arah sumber suara. Senyum Rayla muncul ketika melihat Papa nya yang sudah pulang dari kantor tempatnya bekerja.
"Selamat malam, om," sapa Edward, kemudian menyalaminya ketika Papa Rayla menghampiri mereka.
"Kalian ada tugas kelompok?" tanya Papa Rayla.
"Iya, om."
"Ya sudah. Kalian lanjut kerjain tugas kelompoknya, Papa mau mandi dulu," ucap Papa Rayla sembari mengacak pelan rambut Rayla. Yang disambut dengan pekikan kesal, oleh empunya.
Edward tersenyum tipis melihat interaksi, Ayah dan anak dihadapannya. Tatapannya berubah sendu, Ia merindukan sosok Ayahnya yang dulu, sebelum Ayahnya menikah lagi.
Rayla mengerutkan keningnya bingung, ketika melihat tatapan Edward yang berubah sendu.
"Lo kenapa?" tanya Rayla, dengan nada bingung.
"Gak papa," jawab Edward singkat.
Rayla menatap Edward, ada perasaan aneh ketika Ia melihat tatapan sendu milik Edward.
Mama Rayla datang, dengan wajah yang lebih segar. Sepertinya baru selesai mandi, pikir Rayla. Ngomong-ngomong, Ia belum mandi sore ini! Bahkan waktu yang sudah menunjukkan hampir jam tujuh malam, tidak lagi bisa di bilang sore.
"Udahan dulu belajarnya. Kita makan malam sama-sama," ucap Mama Rayla.
"Gak usah tan, Edward mau langsung pulang aja," tolak Edward, halus.
Mama Rayla menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju.
"Kamu makan dulu, baru boleh pulang. Kalau engga, tante gak bakal izinin kamu pulang," ancam Mama Rayla.
Edward pasrah mendengar ancaman Mama Rayla. Mau tak mau, Ia pun mengikuti langkah Mama Rayla, dan Rayla menuju ruang makan.
Edward duduk tepat dihadapan Rayla, mereka masih menungu Papa Rayla selesai mandi. Sembari menunggu, Mama Rayla mulai mengambilkan nasi beserta teman-temannya, yang akan diberikannya kepada suami, Rayla, Edward, dan tentunya untuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Papa Rayla datang dengan rambut yang masih sedikit basah. Tak menunggu lama lagi, mereka pun mulai menyantap makan malam dengan tenang. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu.