Please Feel My Love

Please Feel My Love
Kenangan



...'Keluarga yang luar biasa adalah keluarga yang di mulai dengan Cinta, di bangun dengan kasih dan sayang, serta di pelihara dengan kesetiaan.'...


...----------------...


Hari sudah semakin larut malam, tetapi Rifki masih betah bermain ps di apartemen Edward. Tuan rumah adem ayem rebahan sambil main hp, eh tamu nya yang bar-bar teriak-teriak ketika kalah.


"Berisik lo Rif, teriak-teriak gak jelas!" ucap Edward sembari melempar bantal ke arah Rifki.


"Sakit woi, lo buat gue kalah aja!" seru Rifki tidak terima dan melempar kembali bantal yang di lempar Edward.


"Dih lo yang gak bisa main malah nyalahin gue!" ucap Edward kembali melemparkan bantal yang tadi di lempar kan oleh Rifki.


"Lo ngeraguin kemampuan gue main ps?" tanya Rifki.


"Pernah denger kenyataan tak sesuai ekspektasi gak?"


"Ya pernah lah!" jawab Rifki sewot.


"Nah tuh kalimat cocok banget sama lo," ucap Edward sembari menahan tawanya.


"Kampret lu Ed,"


Edward menyemburkan tawanya, sedangkan Rifki mendengus.


"Daripada gue makin darah tinggi di sini mending gue pulang aja,"


"Sana pulang, gue juga niatnya tadi mau nyeret lo keluar karena berisik banget."


"Gak usah di seret gue bisa jalan sendiri!" ucap Rifki segera bangkit dan menuju pintu apartemen Edward.


BRAKK!


Rifki membanting pintu apartemen Edward dengan cukup keras, membuat sang pemilik apartemen berjingkat kaget di buatnya.


"Untung sahabat, coba aja kalo gak udah gue sembelih. Awes aja kalo sampe itu pintu apartemen gue rusak, gue lempar tuh anak ke antartika." gumam Edward kesal.


Selang beberapa saat kemudian Rifki kembali dan itu membuat Edward mengerutkan keningnya bingung.


"Ngapain lo balik lagi?" tanya Edward.


"Ada yang ketinggalan," jawab Rifki dan berjalan menuju meja yang terletak di dekat sofa tempat Edward duduk.


Matanya mengawasi gerak-gerik Rifki, ketika melihat Rifki membungkuk mengambil sesuatu di atas meja, Edward yakin bahwa benda yang di tinggalkan nya adalah kunci mobilnya.


Edward tak dapat menyembunyikan tawanya, Ia langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah masam bercampur kesal milik Rifki.


"Seneng banget ngetawain temen ya," ucap Rifki sembari memandang kesal ke arah Edward.


"Habisnya lo tadi keluar kayak cewek lagi ngambek ke cowoknya, eh tiba-tiba balik lagi kayak ngajak baikan. Gimana gue gak ngakak cobak!" seru Edward masih dengan tawanya yang setia menghiasi bibirnya.


"Ketawain aja sampe perut lo kram!" ucap Rifki ketus.


"Adu-adu bayi gedenya Om Herman ngambek, sini-sini babang Edward peluk dulu." ucap Edward sembari merentangkan tangannya hendak memeluk Rifki. Tetapi dengan sigap Rifki menghindar dari serangan Edward.


"Nih peluk aja bantal sofa," ucap Rifki melempar bantal sofa ke arah Edward.


"Adik Rifki gak boleh lempar-lempar ke abang Edward, ntar kualat terus jodohnya adik Rifki gak di kasi sama Tuhan gimana? Masak mau jadi jomblo seumur hidup?" ucap Edward dengan tampang polosnya.


Rifki berjudul ngeri, "Lo ketempelan setan deh kayaknya Ed,"


"Adek Rifki gak boleh ngomong kayak gitu, gak baik. Ntar kalo ada malaikat yang lagi jalan-jalan deket kita terus di iyain gimana?"


"Bodo amat! Gue mau pulang" ucap Rifki dan bergegas berlari menuju pintu apartemen Edward.


Setelah Rifki pergi Edward terkekeh di tempatnya, mengerjai Rifki memang membuat kesenangan tersendiri.


Edward melangkah menuju kamarnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit kamarnya. Perlahan tapi pasti memorinya mengulang kembali kejadian di mana Bundanya belum pergi meninggalkan nya. Kehangatan yang selalu Ia rasakan ketika berkumpul dengan Ayah dan Bundanya, canda tawa yang setiap hari menghiasi keluarga nya. Tetapi tiba-tiba itu semua lenyap ketika Bundanya di vonis kanker darah pergi meninggalkan nya, belum bisa menerima kenyataan bahwa Bunda yang sangat Ia cintai pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ayahnya malah memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang janda yang sudah memiliki satu anak, Edward sangat kecewa dengan keputusan Ayahnya. Ia sudah menentang keras Ayahnya agar tidak menikah dengan wanita pilihan Ayahnya, tetapi tak di gubris sama sekali oleh Ayahnya. Ayahnya tetap melaksanakan pernikahan nya tanpa persetujuan dari Edward yang notabenenya adalah anaknya sendiri.


Dan mulai dari sana lah, Edward merasakan perubahan pada Ayahnya. Ayahnya yang dulu selalu menyayangi nya perlahan mulai membencinya, dan itu semua merupakan hasil hasutan dari Ibu tirinya. Apalagi di saat Ayahnya membanding-bandingkan nya dengan kakak tirinya, sungguh Edward sangat muak. Akhirnya Ia memilih untuk tinggal di apartemen yang merupakan hadiahnya ketika berulang tahun yang ke tujuh belas tahun, dan akan pulang ke rumahnya jika ada keperluan yang sangat mendesak. Tak terasa air mata yang sedari tadi Ia tahan, akhirnya perlahan luruh jatuh membasahi pipinya.


"Bunda Edward kangen sama Bunda" ucap nya dengan lirih.


Tak mau berlarut dalam kesedihan kembali, Edward dengan segera menghapus air mata yang tadi membasahi pipinya. Ia kemudian beranjak untuk mempersiapkan keperluan sekolahnya besok, karena mulai besok Ia akan kembali bersekolah. Setelah selesai mempersiapkan peralatan sekolah dan buku-buku pelajarannya, Edward kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya dan mulai mengarungi dunia mimpi nya.


---


Edward berjalan menyusuri koridor sekolah yang nampak ramai, banyak tatapan memuja yang Ia dapatkan dari siswi yang ada di sepanjang koridor menuju kelasnya. Tetapi Ia tidak menggubris nya sama sekali, lain hal nya jika Ia berjalan berdampingan bersama Rifki. Anak itu pasti akan mengumbar senyum manis dan kedipan matanya kepada semua siswi yang menatap ke arahnya. Yang sialnya membuat Edward ingin menceburkan Rifki ke tong sampah yang ada di dekat sana.


Setelah menyebrangi lautan yang berisi manusia yang berceloteh tidak ada hentinya, akhirnya Edward sampai di depan kelasnya. Ia kemudian langsung masuk ke dalam kelasnya, pandangannya beredar ke segala penjuru kelas mencari sosok seseorang yang tak lain adalah Rifki. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menepuk pundaknya cukup keras.


"Cie, pasti lo lagi nyariin gue kan? Hayo ngaku lo!" tebak Rifki yang sialnya benar.


"Dih pede amat lo!" jawab Edward kemudian melengos pergi menuju tempat duduknya yang berada paling pojok untuk menaruh tas nya. Rifki pun mengikuti Edward.


"Siapa?" tanya Edward.


"Yang nanya! Gak bakal gue ke jebak dua kali dengan trik yang sama" ucap Rifki sombong.


"Halah, omong kosong kau nak."


"Eh ngomong-ngomong bakal ada murid pindahan lo di sekolah kita, cewek lagi." ucap Rifki sok serius.


"Dari mana lo tau?"


"Biasa dari grup OTR,"


"Huh? OTR grup apaan tuh?" tanya Edward dengan kening yang mengerut sempurna.


"Organisasi Tukang Ria" jawab Rifki santai.


Edward menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Rifki.


"Ada-ada aja kalian,"


"Ih serius ini Ed, katanya sih murid pindahannya dari Amerika cantik lagi." ucapnya sembari membayangkan foto gadis yang kemarin di kirimkan di grup whatsapp OTR.


"Ngapain repot-repot pindah ke Indonesia segala lagi pula kan udah kelas dua belas,"


"Menurut informasi, dia ngikut Bokapnya yang pindah tugas lagi ke sini."


Edward membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'


"Semoga aja tu cewek mau sama gue," ucap Rifki senyum-senyum sendiri.


"Segitu ngarepnya lu sama cewek, kelamaan jomblo ya bang?" ejek Edward.


"Dih gak ngaca dia, lo juga sama kali kelamaan jomblo."


"Setidaknya gue menikmati masa jomblo gue," ucap Edward sok bijak.


"Halah, menikmati dari Texas!"


"Dih gue mah masih suka produk dalam negeri,"


"Ngapain nyambung ke produk dalam negeri sih?" tanya Rifki heran.


"Texas itu di mana?" tanya Edward.


"Di Amerika Serikat,"


"Ya udah kan itu namanya luar negeri,"


"Kok gue gak konek ya Ed?" tanya Rifki bingung.


"Sinyal lo jelek berarti, beli sinyal gih."


"Di mana gue belinya?" tanya Rifki polos, Ia belum menyadari jika Edward hanya mempermainkan nya saja.


"Hmm," ucap Edward dan mengeluarkan ekspresi seperti orang yang sedang berfikir keras. Sedetik kemudian Ia menjentikkan jarinya.


"Lo beli di Pak Junet aja," ucap Edward.


Perlu kalian ketahui, Pak Junet adalah salah satu pedagang yang ada di kantin sekolahnya.


"Emang Pak Junet jual sinyal?" tanya Rifki masih belum menyadari.


"Ya tergantung orangnya," ucap Edward sok serius, yang membuat akting nya semakin meyakinkan.


"Maksud lo?" tanya Rifki tak mengerti.


"Lo tau Pak Junet jualan apa di kantin sekolah?"


"Tau,"


"Jualan apa?"


"Mie ayam,"


Edward menetralisir tawa yang hampir saja meledak, "Lo inget gak tadi lo bilang gak bakal ketipu lagi sama gue?"


"Iya inget," ucap Rifki dengan tampang polosnya.


"Nah sekarang malah keadaannya lo kena tipu lagi, mana ada sinyal bisa di beli yang bisa di beli mah cuma paket data."


Sedetik kemudian Rifki sadar bahwa Ia telah di tipu lagi oleh sahabatnya dan langsung melayangkan sumpah serapahnya.