Please Feel My Love

Please Feel My Love
Rifki Dengan Segala Faktanya



...'Is this how it'll end?'...


...----------------...


Rifki memasuki rumah Edward, ketika asisten rumah tangga Edward telah membukakan pintu untuknya.


"Siang bik, mau nyari Edward, ada?"


"Eh, den Rifki. Ada den, den Edwardnya lagi di kamar."


Rifki tersenyum, "Yaudah. Kalau gitu Rifki langsung ke kamarnya Edward ya, bik."


"Oh boleh. Monggo," ucap asisten rumah tangga Edward sembari memberikan jalan kepada Rifki.


Rifki pun menaiki satu persatu anak tangga demi bisa sampai di kamar Edward. Ketika telah sampai di depan kamar milik Edward, Rifki langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Edward hanya diam, tak menyadari keberadaan Rifki di dalam kamarnya.


Rifki bersidekap dada, ketika Edward lebih fokus untuk memperhatikan sapu tangan yang ada di tangannya, daripada memperhatikan lingkungannya.


Dengan perlahan, Rifki melangkah mendekat ke arah Edward, kemudian menepuk pundaknya. Edward pun sontak berjingkat kaget, ketika merasakan sentuhan di pundaknya.


"Ngapain lo?" tanya Edward, kepada Rifki yang kini duduk di atas tempat tidurnya. Entah sejak kapan manusia itu ada di kamarnya, Edward sama sekali tidak menyadarinya.


Rifki mengabaikan pertanyaan Edward, "Kenapa muka lo? Kusut banget, kayak jemuran yang gak di seterika seminggu."


Edward menatap Rifki, kemudian menghembuskan nafasnya, "Rayla pindah."


Rifki hanya diam ketika mendengar ucapan Edward.


"Dia pergi sebelum gue sempet minta maaf sama dia, Rif," lirih Edward.


Rifki menatap Edward, "Minta maaf soal apa?"


"Semuanya. Dan gue juga belum sempet bilang makasih karena dia udah donorin darahnya ke gue."


Rifki menanggapi ucapan Edward hanya dengan menyebut kata 'Oh' saja. Hal itu tentu membuat Edward heran, karena biasanya Rifki akan merespon sesuatu yang tidak Ia ketahui dengan berlebihan, kecuali…


"Jangan bilang, kalau lo udah tau dari lama masalah ini?!"


Rifki menggidikkan bahunya acuh, "Emang."


Edward membelalakkan matanya, ketika mendengar jawaban Rifki.


"Kenapa lo gak bilang sama gue?!" tanya  Edward kesal.


Rifki melirik Edward sinis, "Bukannya pas itu lo lagi bucin sama Bela, ya?"


Edward menggeleng tak terima, ketika mendengar ucapan Rifki.


"Gue sama sekali enggak ada rasa sama Bela!" ucap Edward penuh penekanan.


"Tapi pas itu, lo belain dia habis-habisan," nyinyir Rifki, sedangkan Edward terdiam mendengarnya.


Rifki yang melihat keterdiaman Edward, akhirnya kembali untuk angkat bicara.


"Asal lo tahu ya. Rayla sampai jatuh pingsan habis donorin darahnya buat lo," ucap Rifki memberitahu.


Edward membenahi posisi duduknya, ketika mendengar ucapan Rifki.


"Pingsan? Kok bisa?" tanya Edward penasaran.


Rifki mendengus malas, "Karena ngantuk!"


Edward berdecak kesal mendengar jawaban Rifki, timing untuk bercandanya sama sekali tidak tepat!


"Gue lagi serius, Rif."


Rifki mengangkat tangan kanannya, kemudian membentuk simbol "peace."


"Rayla shock. Dia sebenarnya trauma sama jarum, tapi masih maksain buat donorin darahnya dia ke lo, karena pas itu situasinya urgent banget. Lo kehilangan banyak darah, dan pihak Rumah Sakit kehabisan stock darah yang tipe golongan darahnya sama kayak punya lo. Setelah di test, golongan darah Rayla cocok sama tipe golongan darah lo. Akhirnya, Rayla minta ke dokter buat ambil darahnya dia sebanyak yang diperluin buat nyelametin lo."


Edward termenung ketika mendengar penjelasan Rifki.


"Kenapa lo gak bilang ke gue?" tanya Edward menuntut.


"Rayla yang larang gue buat ngasi tahu lo. Kalau gue sih, dari awal udah gereget pengen ngasi tahu."


Rifki yang ditatap sedimikian rupa pun gugup, "Gak usah lihatin gue kayak gitu elah!"


Edward memicingkan matanya curiga, ketika mendapati Rifki yang seperti menghindari tatapan darinya.


"Lo tahu sesuatu tentang kepindahannya Rayla?" tanya Edward menginterogasi.


Belum sempat Rifki menjawab, tiba-tiba dari arah pintu masuk kamar Edward, muncul asisten rumah tangganya untuk membawakan Rifki minuman, dan juga beberapa camilan sebagai pelengkapnya.


"Makasi bik, jadi ngerepotin deh," ucap Rifki sembari cengengesan.


"Bawa balik aja bik, minuman sama camilannya. Biar gak ngerepotin," usul Edward.


"Eh, jangan dong! Sesuatu yang telah diberikan, tidak boleh ditagih kembali," ucap Rifki yang tiba-tiba menjadi bijak.


Asisten rumah tangga Edward hanya tersenyum melihat tingkah Edward dan Rifki.


"Silakan dinikmati den Rifki, kalau kurang tinggal panggil bibik, atau ambil aja ke dapur langsung."


"Bibik jangan terlalu baik ke dia, ntar dianya malah ngelunjak!" seru Edward.


"Untung temen lo, Ed," ucap Rifki, sembari menatap Edward dengan tatapan yang ingin menggampar Edward.


"Kalau gitu, bibik pamit kebelakang dulu ya, den."


"Oke bik. Sekali lagi makasih buat minuman sama camilannya.," ucap Rifki.


Asisten rumah tangga Edward hanya mengangguk, kemudian pamit untuk undur diri kembali ke dapur.


Perhatian Edward kembali teralih kepada Rifki,  ketika asisten rumah tangganya telah berlalu.


Melihat Edward yang akan kembali angkat bicara, Rifki dengan segera menghadangnya, menggunakan tangan kanannya yang Ia naikkan, membentuk simbol stop.


"Stop. Gue mau minum dulu."


Edward mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut, ketika mendengar instruksi Rifki.


"Oke. Jadi, masih ada satu hal lagi yang mau gue kasih tau ke lo," ucap Rifki setelah Ia selesai meminum minumannya.


"Tentang apa?" tanya Edward penasaran.


Rifki membenarkan posisi duduknya, "Rayla selalu jenguk lo, pas lo koma."


Edward menatap Rifki dengan tatapan yang menuntut, "Lo gak lagi bohongin gue, kan?"


Rifki mendengus, "Buat apa juga gue bohongin lo?"


"Kok lo bisa tahu?"


"Rayla sering jenguk lo, tapi dia gak pernah masuk ke ruangan tempat lo di rawat. Dia cuma lihatin lo dari luar, terus pergi. Karena, Rayla takut ketahuan sama Bela."


"Bela?" beo Edward.


Rifki mengangguk, "Ya iya, si Bela. Mantan tunangan lo itu."


"Gue belum tunangan sama dia!" bantah Edward.


"Iya, belum tunangan. Tapi dijodohin."


Edward mengabaikan ucapan Rifki, "Terus, kok lo bisa tahu, kalau Rayla sering jengukin gue?"


"Lo kira, gue gak pernah jengukin lo apa!?" delik Rifki kesal.


"Ya, mana gue tau. Gue kan pas itu dalam kondisi gak sadar," balas Edward.


"Punya temen, begini amat," gerutu Rifki sembari menatap Edward.


"Gue gak sengaja lihat Rayla beberapa kali, pas jenguk lo. Dia cuma ngelihatin lo dari luar, terus pergi, tanpa masuk buat ngelihat lo dari deket," jelas Rifki.


Edward menghela nafasnya, ketika mendengar penjelasan Rifki. Rasa bersalah semakin bertumpuk di hati Edward. Apakah Rayla masih mau untuk memaafkannya, terlepas dari berbagai perlakuan Edward selama ini? Oh ayolah, bahkan Edward tidak tahu sekarang Rayla berada dimana. Haruskah hubungannya dengan Rayla berakhir, tanpa ada kata maaf yang terucap dari bibir Edward?


Edward melirik ke arah sapu tangan yang tergeletak di atas meja belajar miliknya, "Can I take you back?" gumam Edward.