
...'Do the best, let God do the rest.'...
...----------------...
Seminggu belakangan ini, Edward tengah gencar mencari donor jantung untuk Ayahnya. Rifki pun turut serta membantu. Kini, mereka berdua tengah duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di Rumah Sakit.
"Lo udah hubungin dokter Kendrick?" tanya Rifki pada Edward yang tengah memejamkan mata. Edward kekurangan tidur, Ia juga seringkali telat makan. Itu sebabnya, badan Edward terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Begitupun dengan kantung mata Edward yang mulai menghitam karena kurang tidur.
Edward membuka matanya, "Udah, tadi pagi."
"Terus gimana?" tanya Rifki lebih lanjut. Jujur, Ia sangat prihatin dengan masalah yang Edward hadapi.
Edward menggeleng, "Belum ada pendonor yang bersedia."
Rifki menepuk pundak Edward, "Sabar. Gue yakin, secepatnya bakal ada donor buat bokap lo."
Edward tersenyum tipis, "Thanks, bro."
Rifki mengangguk, "By the way, gue pulang dulu ya."
"Iya. Makasih lo udah mau nemenin gue."
"Ya elah, kayak sama siapa aja sih lo. Udah ya, gue mau pulang."
Edward hanya mengangguk sebagai respon. Selepas Rifki pergi, Edward pun kembali ke ruang ICU tempat Ayahnya di rawat. Edward tidak masuk, Ia hanya melihat dari jendela kecil yang terdapat di depan pintu masuk. Ia tidak sanggup, melihat orang yang Ia sayang terbaring lemah tak berdaya di atas hospital bed. Ia belum siap untuk kehilangan orang tuanya lagi. Tuhan, tolong berikan jalan, agar Edward tak kembali merasakan dunianya yang hancur karena kepergian orang yang sangat Ia sayang.
Edward mengerjapkan matanya, kemudian melangkah menjauh dari ruang ICU menuju parkir area. Ia harus kembali ke apartemennya guna membersihkan diri, kemudian mengganti pakaiannya.
Tak terasa, hari telah berganti. Edward pun masih menjaga Ayahnya walaupun hanya dari luar saja. Di saat sedang menikmati sarapan di kantin Rumah Sakit. Edward di kejutkan oleh panggilan telepon dari dokter Kendrick. Dengan segera, Edward mengangkat panggilannya.
"Selamat pagi, dok," sapa Edward.
"Selamat pagi. Edward, saya ingin menyampaikan informasi, bahwa ada pendonor untuk Ayah mu," jelas dokter Kendrick.
Edward yang mendengar hal itupun, sontak menegakkan tubuhnya, "Dokter serius?"
Dokter Kendrick tersenyum di seberang sana, "Apakah ini waktu yang cocok untuk bercanda?"
Edward menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Jadi, apa operasinya bisa di lakukan sekarang, dok?"
"Saya akan mengecek kecocokan jantung pendonor dan jantung Ayah mu terlebih dahulu. Jika nanti ada informasi lebih lanjut mengenai tindakan operasi, saya akan langsung menghubungi mu."
Edward menghembuskan nafas kasar, "Baik, dok. Semoga saja jantung pendonornya cocok dengan Ayah saya."
"Saya juga berharap seperti itu. Saya tutup dulu, masih banyak prosedur yang harus saya lengkapi," pamit dokter Kendrick.
"Terimakasih atas informasinya dok," ucap Edward sebelum menutup panggilan.
Edward memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Setidaknya sudah ada pendonor untuk Ayahnya. Kini, Edward tinggal berdoa, semoga jantung pendonor tersebut cocok dengan jantung Ayahnya.
Edward harap-harap cemas menunggu informasi dari dokter Kendrick. Beberapa kali, Ia mengecek ponselnya untuk memeriksa apakah dokter Kendrick telah mengiriminya pesan atau belum.
Tangan Edward gemetar ketika membuka email yang baru saja di kirimkan oleh dokter Kendrick. Merapalkan banyak doa, Edward pun mulai membuka file yang terlampir. Kata demi kata, Ia cermati dengan sebaik-baiknya. Hingga sampai pada barisan kalimat terakhir yang menyatakan bahwa jantung pendonor tersebut cocok dengan jantung milik Ayahnya. Finally, thanks God!
Dengan semangat, Edward mendial nomor Rifki untuk memberi tahu, bahwa Ayahnya telah mendapatkan donor jantung. Rifki yang mendengar kabar tersebut, turut bahagia. Dengan segera Rifki bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit, ketika Edward mengatakan para dokter akan mulai melakukan operasi kurang lebih dalam waktu satu jam mendatang.
Edward dengan segera mengurus segala berkas yang dibutuhkan untuk melengkapi prosedur operasi yang akan Ayahnya jalani.
Edward dan Rifki duduk di kursi yang ada di dekat ruang operasi. Ayahnya sudah ada di dalam, dengan beberapa dokter ahli bedah dan juga beberapa suster. Lampu indikator ruang operasi pun telah menyala, yang menandakan bahwa operasi Ayahnya telah di mulai. Dalam hati Edward terus berdoa, agar operasi Ayahnya berjalan dengan lancar.
"Lo udah makan?" tanya Rifki tak lama setelah Ayah Edward masuk ke dalam ruang operasi.
"Makan tadi pagi doang."
Rifki geleng-geleng kepala, "Gue mau nyari makan dulu."
Edward mengangguk tanda setuju. Setelah itu, Rifki pun beranjak, guna mencari makan untuk dirinya dan juga Edward. Rifki datang setelah tiga puluh menit pergi. Setelah sampai di dekat Edward, Rifki mendapati Edward yang tengah terlelap dengan posisi duduk.
Rifki menepuk pelan pundak Edward. Bukannya Ia tidak kasihan pada Edward yang nampak sangat kekurangan tidur itu, tetapi Edward juga harus makan. Dengan perlahan Edward membuka matanya dan mendapati Rifki yang tengah duduk di sebelahnya sembari memakan nasi goreng.
"Makan," ucap Rifki sembari menyodorkan nasi goreng yang terbungkus dengan styrofoam.
Edward pun menerimanya, "Thanks."
Edward dan Rifki memakan makanan mereka. Beberapa kali, Edward terus melihat ke arah pintu ruang operasi dengan tatapan khawatir.
Enam jam telah berlalu. Indikator ruang operasi pun telah dimatikan. Dengan segera Edward dan Rifki bangkit, ketika dokter yang menangani Ayah Edward keluar.
"Bagaimana keadaan Ayah saya, dok?" tanya Edward penasaran.
"Operasinya berjalan dengan lancar. Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU sebentar lagi, guna mendapatkan perawatan yang intensif," jelas dokter tersebut.
"Berapa lama waktu yang di butuhkan agar Ayah saya sadar?"
"Kurang dari dua puluh empat jam, pasca operasi."
Edward mengangguk paham, "Terimakasih, dok."
Dokter tersebut tersenyum, "Sudah kewajiban saya. Kalau begitu saya permisi dulu."
Edward dan Rifki kompak mengangguk. Tak lama kemudian, nampak Ayah Edward yang dalam keadaan tidak sadar di atas hospital bed digiring memasuki ruang ICU kembali.
Edward menghela nafas, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rifki.
"Lo gak pulang?" tanya Edward.
Rifki menggeleng, "Gue mau nemenin lo di sini. Lagian besok juga libur."
"Yakin lo?"
"Yakin lah, ya kali enggak."
"Makasih. Lo udah mau nemenin gue di masa-masa sulit gue," ucap Edward tulus.
Rifki terkekeh, "Kebanyakan bilang makasih lo. Santai aja kali, kita ini kan besties dari zigot."
Edward tertawa, "Omongan lo, emang suka berlebihan."
Rifki menggidikkan bahu, "Gak berlebihan, bukan Rifki namanya."
Edward menggelengkan kepalanya, kemudian meninggalkan Rifki di depan ruang operasi. Rifki yang menyadari hal itupun langsung beranjak menyusul Edward. Gak lucu kan, kalau nanti Ia bertemu dengan mbak kunti atau mbak suster ngesot, terus di ajakin buat main petak umpet bareng. Bisa-bisa Rifki trauma untuk ke datang ke Rumah Sakit lagi!