Please Feel My Love

Please Feel My Love
Caught



...'Sudahkah cukup waktu kalian untuk bermain-main?'...


...----------------...


Edward memarkirkan motornya di dekat markas Darrel. Ini saatnya Edward mengakhiri segalanya.


Edward masuk ke dalam markas Darrel, kemudian langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok Jason. Pandangan Edward terhenti pada sofa yang ada di pojok ruangan. Disana, terdapat Alan, Darrel, dan juga Jason yang tengah berbincang.


Dengan segera Edward menghampiri mereka, kemudian langsung duduk di salah satu kursi yang tersedia disana.


Darrel melirik sekilas ke arah Edward yang tengah menatap Jason.


"Ekhem!" deheman Darrel berhasil menarik perhatian dari Alan, Edward, dan Jason.


"Jason, gue mau nanya sesuatu sama lo," ucap Darrel dengan raut wajah serius.


Jason menganggukkan kepalanya, "Silakan."


"Lo yang meriksa motor Edward sebelum dia balapan, beberapa waktu yang lalu?"


Jason bungkam ketika mendengar pertanyaan Darrel. Cukup lama tak ada balasan dari Jason, hingga akhirnya Edward membuka suara.


"Jawab," ucap Edward dingin.


Jason menunduk ketika menyadari Edward tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Iya," jawab Jason pada akhirnya.


"Nah, tinggal jawab iya aja, susah amat," ucap Jali yang berada tak jauh dari mereka.


"Jal, kondisikan," desis Darrel.


Jali terkekeh, "Ok, sorry ya. Lanjut-lanjut."


Perhatian Darrel kini kembali teralih pada tiga manusia yang ada di dekatnya.


"Lebih baik lo jujur sekarang, dan kasi tau gue semuanya. Dengan begitu, gue akan berbaik hati untuk ngurangin tindak pidana lo nanti. Ingat, gue cuma kurangin," ucap Edward.


Jason menghembuskan nafasnya kasar, ketika mendengar ucapan Edward.


"Percuma juga gue mengelak, lo pasti udah tahu kebenarannya."


"Makanya gue nyuruh lo ke sini, buat denger alasan lo secara langsung," sarkas Edward.


Jason mengangguk mengerti, "Pertama-tama, gue mau minta maaf sama lo, Ed. Seperti yang lo duga. Gue yang nyabotase motor lo, supaya lo kecelakaan pas balapan. Dan gue ngelakuin itu karena di suruh sama Sam. Awalnya gue nolak, tapi Sam ngancam bakal nyelakain pacar gue. Jadi gue gak punya pilihan lain, selain nurut sama peritahnya Sam. Jujur, setelah lo kecelakaan karena ulah gue, gue gak bisa tidur nyenyak. Gue selalu dihantui sama rasa bersalah. Gue awalnya mau jujur di acara Pensi waktu itu, tapi…"


"Tapi?" beo Edward.


"Rayla kecelakaan malem itu kan?"


Edward mengiyakan pertanyaan Jason.


"Lo tahu siapa pelakunya?" tanya Jason.


"Bela'kan?"


"Iya, bener. Gue gak jadi jujur malam itu ke lo, karena gue ngikutin mobil yang udah nabrak Rayla malam itu."


Edward langsung menegakkan tubuhnya, ketika mendengar ucapan Jason.


"Kok bisa?"


"Gue tahu, lo suka sama Rayla. Jadi, sebagai penebusan rasa bersalah gue ke lo, gue mau bantuin lo nangkep pelakunya. Yaa, walaupun itu gak seberapa, dan gue emang harus tetep pertanggung jawabin perbuatan gue."


"Jadi lo tahu siapa yang nabrak Rayla?" tanya Alan.


"Tau, dia supirnya Bela."


"Terus sekarang dia dimana?" tanya Darrel.


"Udah meninggal."


Sontak Alan, Darrel, dan Edward terkejut mendengar jawaban Jason.


"Meninggal kenapa?" tanya Edward.


"Dibunuh? Bisa di bilang begitu," jawab Jason.


"Dibunuh sama siapa?"


"Bela."


"Maksud lo?" tanya Edward.


"Kan maen, calon psikopat tuh!" seru Jali.


Edward dan yang lainnya tak menghiraukan seruan Jali, mereka tetap fokus kepada Jason yang kini kembali membuka suara.


"Gue lihat Bela nunggu sopirnya di pinggir jalan. Terus pas sopirnya dateng, Bela masuk ke mobil, dan mobil itu pergi dengan Bela dan sopirnya yang ada di mobil itu. Gue pun dengan cekatan ngambil motor gue, dan ngikutin mereka. Setelah kurang lebih gue ikutin mereka empat puluh menit, ternyata mobilnya menuju ke danau yang ada di kawasan hutan. Terus gak lama kemudian mobilnya berhenti di tepi danau. Gue nunggu beberapa saat, dan gak lama Bela keluar dengan bawa kejut listrik di tangannya."


"Biar gue tebak kelanjutannya. Pasti Bela nenggelamin mobilnya ke danau, plus sama sopirnya'kan?" tebak Darrel.


Jason mengangguk sebagai jawaban, "Kalau lo perlu bukti, gue ada rekamannya kok."


"Coba lo kasi liat," ucap Alan


Jason kemudian merogoh saku jaket, untuk mengambil ponselnya. Edward menunggu dengan tidak sabar, ketika Jason tengah mengotak-atik ponselnya.


"Nih," ucap Jason sembari menaruh ponselnya dengan posisi berdiri, bertumpu pada botol air yang ada di atas meja.


Alan, Darrel, dan Edward pun merapat, untuk melihat rekaman video yang terdapat di ponsel Jason.


Beberapa saat kemudian, video yang terputar pun berakhir, Edward memperbaiki posisi duduknya, kemudian menatap ke arah Jason.


"Kirim ke gue," ucap Edward yang langsung diangguki oleh Jason.


"Thanks," ucap Edward ketika Jason telah mengirimkan video yang Edward minta.


"Mau kemana lo, Ed?" tanya Darrel ketika melihat Edward yang telah bersiap-siap untuk pergi.


"Lapor polisi," jawab Edward singkat.


"Sam, gimana?" tanya Jason sembari mendongak menatap Edward yang tengah berdiri.


"Ajak dia ketemuan di kafe yang ada di deket sekolah, selebihnya, biar gue yang urus."


Jason mengangguk.


"Gue bakal ikut sama Jason. Siapa tau ni bocah niat kabur," ucap Jali sembari memakai jaketnya.


Edward mengangguk sebagai tanggapan, "Kalau gitu gue pergi dulu. Buat semuanya, makasi ya, karena udah bantuin gue untuk nyelesaiin kasus ini."


"Santuy aja kali," jawab Jali.


Edward tersenyum tipis, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Setelah mengenakan helm dan jaketnya, Edward melajukan motor yang Ia kendarai meninggalkan area markas Darrel.


Beberapa menit kemudian, Edward sampai di kantor polisi. Ia pun memarkirkan motornya di area parkir yang tersedia di sana.


"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang polisi yang bertugas di sana.


"Saya ingin membuat laporan terkait dengan kasus pembunuhan berencana," ucap Edward tenang.


"Sebelumnya, apakah ananda memiliki bukti yang cukup untuk membuat laporan ini?"


Edward merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan ponsel dan memutar video yang tadi Jason sempat kirimkan, dan juga video yang lainnya yang Ia dapatkan sebelumnya. Setelahnya, Edward menjawab segala pertanyaan yang polisi tersebut layangkan kepadanya.


"Laporan ini akan segera kami proses. Mohon kerjasamanya agar kami dapat menangkap pelaku dengan segera. Sebelumnya, apakah anda kenal dengan para pelaku?"


Edward menegakkan tubuhnya, "Mereka orang terdekat saya."


"Lalu, apakah anda tahu dimana keberadaan mereka sekarang?"


"Jika bapak mau, saya bisa mengantar bapak sekarang ke sana."


Polisi tersebut mengangguk, "Baiklah. Tolong tunggu sebentar di sini, saya akan berkoordinasi dengan atasan saya terlebih dahalu, untuk menangani kasus ini."


Polisi tersebut beranjak, kemudian memasuki salah satu ruangan yang ada di sana. Tak lama setelah polisi tersebut pergi, ponsel Edward yang ada di atas meja tersebut berdering. Dengan segera Edward mengambil ponselnya, dan menjawab panggilan tersebut ketika tertera nama Darrel di layar ponselnya.


"Gue sama Jali lagi ngawasin Jason sama Sam," ucap Darrel to the point di seberang sana.


"Lo ikut ke sana?"


"Iya. Lo lagi dimana?"


"Gue di kantor polisi."


"Terus, ini si Jason sama Sam gimana?"


"Lo awasin aja dulu mereka. Bentar lagi gue nyusul ke sana sama polisi."


"Ok."


Edward memutus sambungan teleponnya, kemudian langsung meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Hari ini, Edward harus berhasil untuk mengakhiri semuanya.