
...'Investasi terbaik adalah pendidikan dan pengetahuan yang menghasilkan bunga sangat menjanjikan kelak, karena pendidikan merupakan golden tiket untuk menuju masa depan yang gemilang'...
...----------------...
Selang sepuluh menit kemudian, Rifki sudah turun dari kamarnya menuju lantai satu lengkap dengan seragam dan juga tas nya yang Ia sampirkan di pundak sebelah kanannya. Ia segera menghampiri Ayah dan Ibunya yang sudah terlebih dahulu berada di meja makan, Ia pun duduk di kursi meja makan. Setelah semua anggota keluarganya lengkap berkumpul mereka pun memulai acara sarapan bersamanya, hanya ada suara dentingan sendok yang beradu.
"Rifki berangkat sekolah dulu Yah, Bu" ucap Rifki sembari bangkit dari kursi yang Ia duduki dan menyalami Ayah dan juga Ibunya.
"Kamu hati-hati di jalan jangan ngebut" pesan Ibunya ketika Rifki menyalami tangannya.
Rifki menjawab cengengesan, "Ehe, gak janji ya Bu."
"Sudah, sana cepat kamu berangkat sekolah daripada nanti telat" ucap Ayahnya yang saat ini sedang menyesap kopi hitamnya.
"Rifki ada di rumah di suruh cepetan pergi, Rifki gak ada di rumah di cariin" ucap Rifki mencibir.
Ayahnya menggidikkan bahu acuh, "Ayah mau menikmati hari libur yang jarang ini sama Ibu kamu."
Rifki tersenyum menggoda, "Oh jadi gitu, ya udah Rifki berangkat dulu" sebelum berlalu dari hadapan orang tuanya Rifki menyempatkan diri melirik Ayahnya sembari menaik turunkan alisnya. Setelah itu Ia berlalu menuju garasi untuk mengambil motornya dan berangkat ke sekolah.
Melihat Rifki yang sudah berlalu dari hadapannya, Herman hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
......................
Rifki baru saja selesai memarkirkan sepeda motornya di parkiran khusus siswa, Ia pun berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah lumayan ramai. Kali ini Ia berjalan sendirian karena sahabatnya yang satu itu sedang berada di rumah sakit, banyak tatapan memuja yang Ia dapatkan dari para gadis yang ada di koridor sekolah. Rifki pun tak menyia-nyiakan kesempatan, Ia mengumbar senyum termanisnya dan sesekali mengedipkan matanya yang sialnya di hadiahi teriakan dari gadis yang Ia goda.
Tak lama kemudian Ia sampai di kelasnya, XII IPA 2 begitulah tulisan yang ada di atas pintu kelas yang Rifki masuki. Baru saja Ia memasuki kelasnya, Rifki terkejut melihat penghuni kelasnya yang berhamburan dengan wajah panik nya masing-masing. Rifki melangkahkan kakinya mendekati Sean yang notabennya adalah ketua kelas di kelasnya.
"Ada apaan sih kok pada panik gitu mukanya?" tanya Rifki kepada Sean yang saat ini sedang sibuk mencatat di bukunya, entah apa yang di catat Rifki tidak tahu.
"Ini ada tugas dari Pak Bondan, sebenarnya tugasnya di suruh kumpul kemarin tapi karena kita males jadinya gak kita kerjain tapi malah asik nonton film hantu. Eh malah tadi Pak Bondan marah-marah ke gue karena gak ada yang kumpul tugasnya, terus beliau ngasi gue waktu sampai bel masuk kelas bunyi dan itu tugas udah harus ada di mejanya Pak Bondan. Kalau gak, kita sekelas bakal di hukum." jelas Sean tanpa mengalihkan perhatiannya sejenak dari aktivitas menulis di atas bukunya.
Rifki yang mendengar penjelasan Sean membulatkan matanya, niatnya Ia ingin tidur di kelas malah buyar karena tugas yang di berikan oleh Pak Bondan.
"Astaga, gue nyontek punya lo ya Sean" ucap Rifki terburu-buru setelah melihat waktu yang di tunjukkan oleh jamnya sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, yang di mana artinya bel masuk kelas akan berbunyi sepuluh menit lagi.
"Iya, nih lo salin aja" ucap Sean yang menggeser sedikit bukunya.
Rifki pun dengan segera duduk di sebelah Sean dan mengeluarkan bukunya, Ia mulai menyalin semua yang tertulis di buku Sean ke dalam buku miliknya. Ia menulis secepat yang Ia bisa, karena waktu yang ada sangatlah tipis.
Sepuluh menit telah berlalu, Rifki juga sudah menyelesaikan menyalin tugas begitu juga dengan teman-temannya. Tangannya berasa sangat pegal karena menulis dengan kecepatan ekstra, tak peduli dengan tulisannya yang sudah seperti ceker ayam yang bentuk nya tidak jelas. Ia bodo amat mau gurunya bisa membacanya atau tidak yang penting Ia sudah mengerjakan tugas yang di berikan.
Tak lama setelah itu Pak Joko memasuki kelas mereka dan memulai pelajaran.
"Selamat pagi menjelang siang anak-anak," ucapnya membuka percakapan.
"Pagi Pak," jawaban serentak dari penghuni kelas XII IPA 2.
"Sudah siap untuk tes Biologi hari ini?" tanya Pak Joko.
"Nah itu kamu sudah tau, baiklah kita mulai saja tes hari ini. Silakan keluarkan alat tulis kalian dan hanya ada lembar jawaban dan alat tulis di atas meja, buku dan catatan silakan di masukkan ke dalam tas. Dan satu lagi tidak boleh mencontek, kalau ada yang melanggar akan Bapak hukum untuk membersihkan gudang sekolah selama seminggu!"
Semua murid bergidik ngeri membayangkan hukuman yang akan di berikan jika mereka melanggar, bayangkan saja kita di suruh membersihkan gudang. Yang biasanya di rumah cuman rebahan tiba-tiba di suruh kerja keras untuk membersihkan gudang, yang benar saja!
Pak Joko pun mulai membagikan kertas yang berisi soal tes hari ini ke meja masing-masing anak didiknya.
"Waktu kalian satu jam di mulai dari sekarang," ucap Pak Joko kemudian duduk di kursi guru dan mulai mengawasi anak didiknya yang sedang mengerjakan tes.
Semua murid nampak serius membaca dan menjawab soal yang ada, tak jarang juga ada yang grasak-grusuk karena tidak tau akan menjawab apa. Tiga puluh lima menit telah berlalu, beberapa murid sudah mulai panik dan menengok sana-sini untuk meminta bantuan. Tetapi semua murid di kejutkan oleh suara Pak Joko yang cukup keras.
"Dean kenapa kamu melihat-lihat lembar jawaban Rio!" ucap Pak Joko dengan mata yang membulat sempurna.
Dean tersenyum tanpa dosa, "Ini Pak kayaknya soal saya mirip deh sama soalnya Rio."
"Kan memang mirip soalnya, terus kenapa kamu masih melihat-lihat lembar jawabannya Rio? Kamu ingin mencontek jawabannya Rio?" tanya Pak Joko dengan pandangan menyelidik.
"Astaga Pak, gak baik nuduh sembarangan. Saya bukannya ingin mencontek jawabannya Rio,"
"Terus?"
"Saya cuma pengen nyocokin jawaban saya sama jawabannya Rio. Apakah sama atau tidak kan soalnya mirip Pak."
Pak Joko mendengus mendengar alasan yang di berikan oleh Dean, "Itu sama saja dengan kamu ingin mencontek jawabannya Rio Dean!"
"Beda Pak, kalo nyontek itu kan kita belum nulis apapun. Nah sedangkan saya kan sudah menulis jawaban tapi ingin mencocokkan saja dengan punya Rio," ucap Dean tak mau kalah.
"Sudah, Bapak tidak ingin mendengar alasan dari kamu lagi. Kamu akan Bapak hukum untuk membersihkan gudang mulai nanti saat jam pulang sekolah," final Pak Joko.
"Kok saya di hukum sih Pak?" ucap Dean tidak terima.
"Udah bro yang sabar aja, jalani semuanya dengan senyuman" ucap Rio dengan menepuk bahu Dean.
Dean menghela nafasnya pasrah, niat ingin mencocokan saja malah di kira mencontek. Memang di mana salahnya? Ngatain guru dosa gak sih? Pikir Dean dengan wajah yang di tekuk.
"Waktu kalian tinggal lima menit lagi," ucap Pak Joko memperingatkan waktu yang masih tersisa untuk mengerjakan tes Biologi.
Semua murid sontak fokus kembali mengerjakan soal yang di berikan ketika mengetahui waktu yang terisa tinggal sedikit, tetapi ada yang santai saja mengetahui waktu yang tersisa tinggal sedikit. Biasanya anak-anak yang tergolong pintar akan merasakan biasa saja ketika waktu tinggal sedikit lagi.
"Waktu mengerjakan soal sudah habis, silakan kumpulkan jawaban kalian. Jika telat tidak akan saya terima," ucap Pak Joko yang membuat semua murid sontak segera mengumpulkan lembar jawaban mereka.
"Hari ini cukup sampai disini saja, kalian boleh istirahat terlebih dulu. Dan untuk Dean jangan lupa hukuman kamu mulai nanti sore saat jam pulang sekolah" ucap Pak Joko.
Setelah Pak Joko keluar kelas, semua murid sontak bersorak ria karena di perbolehkan untuk istirahat mendahului jam yang sudah di tentukan. Para murid mulai berhamburan, ada yang menuju kantin, perpustakaan, main game online di ponselnya dan ada juga yang tidur di dalam kelas.
Rifki yang sedang malas pergi akhirnya lebih memilih untuk berdiam diri di kelas, Ia mengambil ponsel dan juga earphone yang Ia taruh di tasnya kemudian memakainya. Ia memilih lagu yang akan di dengarkan nya kemudian meletakkan ponselnya di kolong meja, kemudian Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya.