
...'Not only you, I also know how it feels.'...
...----------------...
Hari minggu telah berlalu, yang di mana artinya hari senin sudah ada di depan mata. Sebagian orang menyukai hari senin, dan tak jarang juga ada orang yang tidak menyukai hari senin. Tau sendirilah apa alasannya. Yup, upacara bendera di bawah teriknya sinar matahari pagi. Ini khusus untuk para murid yang sedang mengenyam pendidikan di bangku SD, SMP, dan SMA/K.
Semua murid SMA Fulminans Zapota saat ini sudah berdiri di tengah lapangan guna mengikuti upacara bendera yang memang rutin di lakukan setiap hari senin dan pada saat peringatan hari-hari tertentu. Tak jarang banyak siswa yang mengeluh kepanasan, khusunya bagi anak-anak putri. Mereka mengkhawatirkan sunscreen yang mereka pakai tidak tahan untuk melindungi kulit mereka di bawah teriknya sinar matahari.
Semua murid berdecak kesal ketika pembina ucapara tidak henti-hentinya memberikan mereka wejangan, khususnya untuk anak kelas dua belas yang sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional.
Setelah memberikan wejangan yang lamanya seperti seabad, padahal hanya lima belas menit. Akhirnya upacara pun usai. Setelah di bubarkan oleh pemimpin upacara, murid-murid mulai berhamburan meninggalkan lapangan menuju kelas mereka masing-masing. Tak jarang juga ada yang menuju kantin untuk membeli minum agar dapat melegakan haus mereka.
"Ngomong-ngomong kalau upacara di dalam ruangan kayak gimana ya?" tanya Rifki kepada Edward yang ada di sebelahnya. Mereka saat ini tengah menyusuri koridor sekolah untuk sampai di kelas mereka.
"Maksud lo?" tanya Edward yang tidak paham.
"Upacaranya dalam ruangan, enggak di lapangan."
"Caranya buat bendera berkibar gimana? Dalam ruangan kan pasti enggak muat tiang benderanya," ucap Edward. Ada-ada saja si Rifki ini.
"Petugas upacaranya di lapangan, nah kita pesertanya ikut dari dalam ruang kelas aja. Gimana saran gue? Bagus kan?" ucap Rifki sembari berdecak kagum dengan ide yang terlintas di pikirannya.
Edward memukul pundak Rifki ketika mendengar ucapannya.
"Kok lo malah mukul gue sih?!" tanya Rifki heran.
"Biar sadar! Lagian kita cuma di suruh berdiri, hormat, istirahat di tempat sama dengerin amanat dari guru pembina. Bukan di suruh lari keliling lapangan!" jawab Edward.
Rifki mendengus, "Ini gue udah sadar kok Ed, kalo enggak sadar gimana jalan ceritanya gue jalan sekarang?"
"Pikir aja sendiri, ngapain lo nyuruh gue mikirin pertanyaan lo!"
"Kan sebagai teman harus saling sharing kesulitan," jawab Rifki tak mau kalah.
Edward hanya mendengarkan saja ocehan Rifki tanpa ada niat untuk membalasnya. Masih pagi, enggak mau buang-buang energi ucap Edward dalam hati.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di kelasnya, mereka segera masuk dan menuju tempat duduk mereka masing-masing karena bel tanda pelajaran pertama telah berbunyi.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Selamet memenuhi ruangan kelas XII IPA 2.
"Selamat pagi pak," jawab serentak dari seluruh penghuni kelas.
"Ada pantun gak Pak untuk hari ini?" tanya Rian.
"Jelas ada," jawab Pak Selamet.
"Yes! Saya juga udah nyiapin pantun Pak," jawab Rian girang.
Pak Selamet tersenyum sumringah mendengar ucapan Rian, "Jalan-jalan ke pasar pagi."
"Cakep!" seru Rian.
"Apa kabar hari senin ini?"
Rian berdehem sebelum menjawab, "Jalan-jalan bareng pacar ke tanah abang."
"Kagak modal amat lo ngajak pacar jalan-jalan ke tanah abang," celetuk Rifki yang langsung di sambut gelak tawa oleh seluruh penghuni kelas.
"Bukannya bilang cakep, malah ngatain lo!" ucap Rian kesal.
"Sudah-sudah, Rian ayo lanjutkan," ucap Pak Selamet menginterupsi perdebatan yang terjadi di antara Rian dan Rifki.
"Jalan-jalan bareng pacar ke tanah abang," ucap Rian mengulangi ucapannya.
"Cakep!" seru semua penghuni kelas. Tak terkecuali Pak Selamet.
"Hari yang sungguh malang untuk memulai pelajaran," ucap Rian yang di akhiri kekehan kecil dirinya.
"Jadi kamu tidak ingin belajar hari ini Rian?" tanya Pak Selamet.
"Enggak Pak, saya cuma bercanda ada kok," jawab Rian gelagapan.
"Halah jangan percaya omongannya Rian Pak, dia itu jagonya ngasi peta palsu," ucap Rifki mengompori.
"Maksudnya Rifki?" tanya Pak Selamet tidak mengerti.
"Jagonya menyesatkan Pak!" seru Rifki.
"Sembarangan lo kalo ngomong!" ucap Rian tak terima. Sedangkan Pak Selamet geleng-geleng kepala melihat perdebatan yang terjadi di antara anak didiknya.
"I speak kebenaran," jawab Rifki.
"I don't understand lo ngomong apa," ucap Rian sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sedangkan penghuni kelas yang lainnya sudah tertawa terbahak-bahak mendengar Rifki dan juga Rian yang mencampur adukkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
"Sudah-sudah, ini jam pelajaran bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris. Ngobrol bahasa Inggrisnya lanjut saja nanti, sekalian tambahin bahasa sunda biar lebih mantap," ucap Pak Selamet sembari tertawa. Penghuni kelas pun ikut tertawa mendengar ucapan Pak Selamet.
"Kalau ada nyamuk pakai aja kelambu," ucap Pak Selamet.
"Cakep!"
"Ayo sekarang baca buku dulu," lanjut Pak Selamet.
"Baik pak."
Semua murid kelas XII IPA 2 pun membuka buku pelajaran mereka dan menyimak materi yang di sampaikan oleh Pak Selamet. Banyak yang bilang pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran yang membosankan, karena terlalu banyak bacaan. Dan juga banyak yang bilang bahwa di saat ulangan bahasa Indonesia, soalnya akan sepanjang perjalan hidup. Dan nyatanya yang di tanyakan hanyalah judulnya saja. Sebenarnya bahasa Indonesia tidak semembosankan itu, jika kita sudah tau strategi dan cara menjawab soal yang benar. Dan yang banyak berpengaruh juga adalah, cara penyampaian materi dari guru yang mengajar di kelas. Do you agree with me?
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, jam pembelajaran bahasa Indonesia pun akan segera berganti menuju jam istirahat yang sudah di nanti-nantikan oleh seluruh warga sekolah SMA Fulminans Zapota.
"Baiklah, sampai di sini pertemuan kita hari ini. Selamat siang, dan selamat beristirahat," ucap Pak Selamet kemudian berlalu dari ruang kelas XII IPA 2.
Sebagian besar murid bersorak gembira ketika mengetahui jam istirahat telah tiba. Kelas yang tadi hening karena kehadiran Pak Selamet, sekarang tiba-tiba menjadi sangat ramai dengan berbagai macam suara yang ada di dalamnya.
"Kantin yok!" ajak Rifki kepada Edward.
"Lo aja, gue nitip roti sama susu ultramilk," jawab Edward menolak ajakan Rifki.
"Kenapa lo gak ikut aja sih? Ntar gue jalan sendirian terus di culik gimana?"
"Mana ada yang mau nyulik lo, abang-abang tukang culiknya juga mikir-mikir kali kalau mau nyulik orang!"
Rifki mendengus mendengar ucapan Edward. Sabar Rif sabar temen lo itu, ucap Rifki di dalam hati. Ia pun lebih memilih untuk pergi menuju kantin untuk mengisi perutnya daripada meladeni ucapan Edward yang dapat membuatnya darah tinggi saat itu juga.
...----------------...
...Hai semua, gak kerasa udah chapter 30 aja. Aku cuma mau ngucapin terimakasih sama kalian para readers yang udah ngikutin alur cerita ini sampai di sini. Aku sayang kalian, tetep support aku terus ya. Untuk yang masih sekolah, semangat PAS nya. Semoga hari kalian menyenangkan, Love u guys♥...