
...'Aku tidak akan pernah mencoba hal yang akan memiliki konsekuensi yang besar dalam kehidupan ku.'...
...----------------...
Edward menghembuskan nafasnya kasar. Sudah seminggu, setelah pertemuan makan malam yang berujung dengan perjodohan konyol yang Edward tolak. Hubungannya dengan Rayla pun semakin dekat setelah insiden Ia yang datang ke rumah Rayla kemudian memeluknya. Entahlah, hanya nama Rayla yang terlintas di pikiran Edward ketika dirinya sedang kalut. Berbanding terbalik dengan hubungan antara Ia dan keluarganya. Edward yakin, setelah malam itu, akan ada banyak masalah yang akan menghampirinya. Dan Edward sudah bersiap untuk hal itu, asalkan ada Rayla disisinya.
Dan yeah, masalah sudah perlahan mendatanginya sejak kemarin lusa. Ia menerima pesan dari Ayahnya, yang menyuruh Ia untuk menjemput Bela di salah satu pusat belanja. Tentu saja Edward langsung menolak, Ia beralasan sedang ada urusan. Setelah terlibat perdebatan cukup panjang, akhirnya Ayahnya mengalah. Dan baru saja, Ia menerima pesan dari Ayahnya, agar besok berangkat bersama Bela.
"Kenapa lo? Muka lo kusut amat, kek baju yang belum disetrika," celetuk Rifki yang saat ini ada disebelahnya sembari bermain ponsel.
"Jangan mancing emosi Rif, gue lagi gak mood," jawab Edward sembari melempar ponselnya ke atas sofa.
"Lah gue kan cuma nanya."
Edward lebih memilih bungkam, tak menanggapi ocehan Rifki.
"Lo kenapa sih? Perasaan tadi muka lo cerah, kayak sinar mentari di siang hari. Lah sekarang, muka lo mendung, kayak mau turun hujan."
"Gue lagi pusing," jawab Edward jujur. Yah dirinya memang sedang pusing, pusing memikirkan bagaimana caranya agar Ia dapat menolak perjodohan yang Ayahnya inginkan.
"Minum paramex."
"Kok lo malah iklan sih?"
"Katanya pusing, nah itu gue ngerekomen obat pereda pusing."
"Terserah."
Rifki memandang aneh ke arah Edward. Ini temannya sedang kerasukan apa sampai bisa begini?
"Lo lagi marahan sama Rayla?" tanya Rifki ragu-ragu.
Edward membulatkan matanya, "Enak aja lo," ucap Edward sembari melempar bantal sofa ke arah Rifki.
"Santai aja kali," ucap Rifki kesal. Pasalnya, bantal sofa yang dilempar oleh Edward mengenai wajahnya yang tampan rupawan, kalau Rifki alergi gimana?
"Eh, tapi gue serius. Lo kenapa?" tanya Rifki setelah mengembalikan bantal sofa tersebut ke asalnya.
"Gak papa."
"Gak ikut-ikut, kalau semisal lo besok jadi gila."
"Gue udah gila."
Rifki melotot, "Serius?"
Edward mengangguk, "Bergaulnya aja sama orang setengah waras, gimana gue engga ketularan?"
Rifki memicingkan matanya, "Lo ngatain gue gila?"
"Itu kata-katanya bukan dari mulut gue, tapi mulut lo. Jadi, secara enggak langsung lo mengakui kalau lo gila."
"Itu gue nanya, woy!"
"Tapi menurut gue, lo buat pengakuan."
"Udah lah, kesel gue lama-lama. Mending gue pulang," ucap Rifki sembari bersiap untuk pulang ke rumahnya.
"Sana."
"Gue pulang dulu, makasih buat tumpangan rebahannya," ucap Rifki kemudian melenggang pergi dari apartemen Edward.
Edward hanya mengangguk, kemudian pergi ke dapurnya untuk mengambil segelas air minum. Bel apartemen yang kembali berbunyi, membuat Edward mengalihkan perhatiannya. Ia pun bergegas membuka pintu apartemennya. Awalnya Ia kira itu Rifki yang kembali untuk mengambil barang miliknya yang mungkin tertinggal. Tapi nyatanya, yang menekan bel apartemennya adalah Heru, Ayahnya.
"Mau ngapain Ayah ke sini?" tanya Edward masih di depan pintu apartemennya.
"Kamu gak mau nawarin Ayah buat masuk dulu?"
Edward menghela nafasnya, kemudian memberikan ruang agar Ayahnya masuk ke dalam apartemennya.
"Ayah mau minum apa?" tanya Edward ketika Ayahnya sudah duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.
Edward mengangguk kemudian langsung bergegas pergi menuju dapur. Beberapa saat Edward kembali dengan nampan yang ada di tangannya.
"Minum, Yah," ucap Edward setelah Ia meletakkan nampan yang Ia bawa tadi di hadapan Ayahnya.
"Kamu gak kesepian tinggal di sini sendiri?" tanya Ayahnya memecah keheningan diantara mereka.
Edward tersenyum tipis, "Ayah baru nanya itu sekarang? Selama ini, Ayah kemana aja?"
Heru bungkam ketika mendengar pertanyaan sang anak.
"Sebenarnya, apa tujuan Ayah dateng ke sini?"
"Ayah mau bilang, perjodo--,"
"Edward gak mau di jodohin," potong Edward.
Heru menghela nafas kasar, "Kamu harus mau, Edward."
"Atas dasar apa Edward harus nerima perjodohan ini?"
"Reynald adalah sahabat baik Ayah, dia udah Ayah anggap seperti saudara sendiri. Dia punya anak tunggal perempuan, Bela. Dia ingin menitipkan anaknya pada kita," jelas Heru, yang berharap dengan hal ini Edward dapat menerima perjodohan yang telah Ia rencanakan.
"Kenapa harus Edward? Masih ada Sam, yang juga notabenenya adalah putra Ayah."
"Karena Ayah percaya sama kamu Ed."
"Maaf Yah, Edward gak bisa."
"Kenapa? Apa kamu punya pacar?"
Edward menggeleng sebagai respon.
"Terus kenapa kamu nolak Ed?"
"Edward enggak tertarik sama Bela."
Alasan yang klasik, tapi Edward akan tetap berusaha untuk membatalkan perjodohan ini. Bagaimanapun caranya!
"Kamu belum terbiasa Ed. Ingat, rasa suka muncul karena terbiasa."
"Hati gak bisa di paksakan, Yah."
Heru menghela nafasnya lelah. Ia sudah tahu, bahwa membujuk Edward adalah hal yang sulit. Ia keras kepala, sama seperti dirinya.
"Kamu coba dulu Ed, kalau memang kamu enggak tertarik sama Bela. Ayah akan batalkan perjodohan kalian," ucap Heru yang mulai bernegosiasi dengan Edward.
"Ayah gak lagi bercanda kan?" tanya Edward curiga.
Heru mengangguk, "Iya. Tapi kamu harus coba buat dekat sama Bela. Bagaimanapun juga, Ayah berharap perjodohan ini bisa tetap berjalan."
"Edward enggak bisa jamin kalau perjodohan ini bisa tetap berjalan. Karena sampai kapan pun, Edward enggak mau dijodohin. Edward mau, orang yang nanti nemenin Edward selama sisa hidup Edward, adalah wanita pilihan Edward sendiri."
Heru tersenyum tipis, "Enggak ada salahnya buat mencoba."
"Edward gak bakal nyoba hal, yang nantinya bakal bawa konsekuensi besar ke kehidupan Edward."
Heru diam mendengar penuturan Edward. Ia merasa Edward telah banyak berubah. Sesibuk itukah dirinya? Hingga tak menyadari, Edward kecilnya telah berubah menjadi Edward dewasa, yang mampu membuatnya diam tak berkutik ketika mendengar opininya.
Heru menyesap kopi yang dihidangkan oleh Edward, kemudian Ia bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
"Ayah pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik," ucap Heru sembari menepuk pundak Edward.
"Hati-hati di jalan," balas Edward.
Heru mengangguk, kemudian Ia berlalu menuju pintu apartemen Edward. Setelah Ayahnya pergi, Edward menghempaskan tubuhnya ke atas sofa diruang tamunya. Ia memejamkan matanya, sembari menghembuskan nafasnya kasar.
Edward bangkit, kemudian mengambil ponsel, jaket, dan kunci motornya. Ia ingin pergi ke tempat dimana Ia bisa menjernihkan pikirannya. Satu tempat yang terlintas di otaknya, dan Edward akan pergi ke sana. Tidak untuk menceburkan diri ke dalam airnya yang tenang, tapi mencuri ketenangan air yang nampak tenang.