Please Feel My Love

Please Feel My Love
Ancaman Mama



...'Jika Ibunda Ratu telah mengeluarkan mandatnya, maka yang bisa kita lakukan hanyalah mematuhinya'...


...----------------...


Rayla masih saja berguling-guling di atas kasur kesayangannya, Ia sudah mencoba untuk terpejam dari satu jam yang lalu tetapi usahanya tetap saja gagal. Salahkan saja tadi Mamanya yang mengajaknya menonton sinetron sembari memakan camilan dan di temani kopi, ya walaupun sebenarnya Rayla lebih fokus memakan camilan dan juga kopinya daripada sinetron yang episodenya sudah ratusan bahkan ribuan. Akhirnya Ia memutuskan untuk bangkit dari atas kasurnya kemudian berjalan menuju meja belajarnya, Ia pun mengambil salah satu buku dan mulai membacanya. Rayla termasuk anak yang rajin, Ia akan memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar karena Ia sadar bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting.


Tak terasa sudah dua jam Ia duduk dan membaca bukunya, matanya pun sudah terasa berat dan ingin segera tidur. Ia melirik jam yang ada di samping meja di dekat tempat tidurnya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Rayla pun menutup bukunya dan meletakkannya kembali ke tempatnya semula, Ia pun berjalan menuju tempat tidurnya dan merebahkan dirinya. Tak lama kemudian Rayla pun terlelap ke dalam alam mimpinya.


Detik demi detik, menit demi menit hingga jam pun berlalu. Rayla mulai terusik ketika jam alarmnya berbunyi, Ia meraba-raba meja kecil yang terdapat di samping tempat tidurnya dengan mata yang masih terpejam. Setelah mematikan jam alarmnya, Rayla pun duduk di pinggir tempat tidurnya guna mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpinya.


"Masih pengen tidur," gumamnya. Ia pun menjatuhkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya mulai terpejam tetapi belum sempat kembali lagi ke alam mimpinya Ia di kejutkan dengan Mamanya yang masuk ke dalam kamarnya.


"Effie Rayla Zefanya, bangun kamu! Kebiasaan banget, udah bangun tidur lagi!" ucap Mamanya yang sudah sangat hafal kelakuan anak perempuannya.


"Lima menit lagi Ma," ucap Rayla meminta keringanan.


"Gak ada lima menit lagi! Kalo kamu gak bangun sekarang, Mama bakalan sumbangin novel-novel kamu ke panti asuhan!" ancam Mamanya.


Mendengar ancaman Mamanya, Rayla sontak langsung terbangun dari tidurnya dan berucap.


"Mama jangan sumbangin novel-novelnya Ayla dong! Itu dapetinnya susah tau Ma!" ucap Rayla yang kesal dengan ancaman Mamanya.


"Makanya bangun! Punya anak gadis satu kerjaannya buat darah tinggi mulu!" ucap Mamanya sembari berlalu menuju pintu kamar Rayla guna kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi karena harus membangunkan Rayla.


"Langsung mandi! Awas aja, kalo dalam waktu tiga puluh menit kamu belum turun ke bawah dengan pakaian yang sudah rapi. Siap-siap pulang sekolah, semua novel kamu bakal raib dari tempatnya." ucap Mamanya sebelum menutup pintu kamar Rayla.


"Iya, ini Ayla mandi sekarang!" jawab Rayla berteriak.


"Ini rumah bukan hutan, jadi jangan teriak-teriak!" balas Mamanya berteriak.


"Oke Ma!" jawab Rayla dengan berteriak. Setelah sadar Ia membalas ucapan Mamanya dengan berteriak, Ia pun menggumamkan salah satu peribahasa.


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya," gumam Rayla.


Tidak mau membuang waktu lagi, Rayla segera berlari masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Jika tidak, habis sudah semua koleksi novelnya akan di sumbangkan oleh Mamanya ke panti asuhan.


Tiga puluh menit berlalu, Rayla pun sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tidak mau berlama-lama lagi, Ia pun turun menuju meja makan untuk memulai sarapannya bersama kedua orang tuanya.


"Selamat pagi good morning Mama Papa ku sayang," ucap Rayla ketika Ia sampai di meja makan dan telah mendapati Papanya yang sedang meminum kopinya dan Mamanya yang sedang menata makanan di atas meja makan.


"Jadi Papa sama Mama harus jawab yang selamat pagi atau good morning nya?" tanya Papanya.


"Yang mana aja boleh kok Pa, kan maknanya sama." jawab Rayla cengengesan. Sedangkan Papanya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak perempuannya.


"Mungkin jam tujuh Ma, soalnya nanti Papa ada meeting sama klien."


"Ma, Ayla pengen makan roti selai cokelat." rengek Rayla sembari menunjuk roti yang sudah ada di hadapannya.


"Ya tinggal di ambil terus di makan itu Ayla," ucap Mamanya.


"Gimana mau makan, orang Mama sama Papa ngobrol terus!" ucap Rayla dengan bibir yang mengerucut kesal.


"Ya sudah, ayo kita sarapan." ucap Papanya yang di sambut dengan senyuman sumringah dari Rayla.


Dua puluh menit pun berlalu, Rayla sudah menyelesaikan sarapannya begitu juga dengan orang tuanya.


"Ayla berangkat sekolah dulu ya," ucap Rayla seraya berdiri menghampiri orang tuanya kemudian mencium punggung tangan mereka.


"Hati-hati di jalan, di sekolah jangan bandel!" ucap Mamanya menasehati Rayla.


Rayla mengerucutkan bibirnya, "Emang aku anak TK apa!"


"Mama kan udah hafal sama kelakuan aneh bin ajaib kamu," jawab Mamanya santai.


"Mama ih, pagi-pagi jangan buat mood anjlok dong!" rengek Rayla.


Papanya yang melihat perdebatan antara Ibu dan anak itu pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Sana kamu berangkat ntar telat lagi," ucap Mamanya mengingatkan Rayla untuk segera berangkat menuju sekolahnya mengingat waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh lima menit.


Rayla pun menepuk jidatnya, "Astaga hampir Ayla lupa. Kalo gitu Ayla berangkat dulu ya, dada Mama dan Papa ku sayang." ucap Rayla dan segera berlari menuju pintu utama rumah. Di sana sudah berdiri Pak Santoso yang akan mengantarnya ke sekolah.


"Anak kamu tuh!" ucap Celine, Mama Rayla kepada suaminya.


"Anak kita!" koreksi suaminya.


Di lain tempat, tanpa mengetahui perdebatan yang terjadi antara orang tuanya. Rayla memainkan ponselnya guna menghilangkan kebosanannya, jalanan sedikit padat pagi hari ini. Wajarlah, banyak karyawan-karyawan dan juga para murid bahkan mahasiswa yang beraktivitas di pagi hari.


"Makasih ya Pak, Ayla masuk dulu ya udah mau bel soalnya." ucap Rayla terburu-buru karena melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit.


"Iya sama-sama non," jawab Pak Santoso.


Tanpa mau membuang waktu lagi, Rayla segera memasuki gerbang sekolahnya. Dengan berlari kecil Ia menyusuri koridor menuju kelasnya, beruntung karena Ia sampai di kelasnya pukul tujuh kurang lima menit. Itu artinya Ia tidak terlambat di hari keduanya bersekolah di SMA Fulminans Zapota. Rayla melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya, suasana kelasnya pun sudah ramai mengingat sebentar lagi bel akan segera berbunyi. Rayla mendudukkan dirinya di kursinya kemudian mulai menyiapkan peralatan sekolahnya untuk mengikuti pelajaran hari ini, fokusnya teralihkan pada suara bising yang timbul dari luar kelas. Tepat setelah itu, sosok Rifki dan Edward muncul. Dengan Rifki yang berceloteh tiada hentinya dan Edward yang nampak tidak terganggu dengan celotehan yang Rifki lontarkan. Ia dan Edward sempat melakukan eye contact, tetapi tidak lama karena Rayla yang segera memutus kontak mata mereka. Ia masih jengkel dengan kelakuan Edward kemarin saat bertemu di supermarket yang seenak jidatnya mengatai dirinya pendek. Mengingat itu saja sudah membuat Rayla ingin menendang Edward ke kutub selatan, biar beku sekalian!