Please Feel My Love

Please Feel My Love
Rumah Sakit



...'Sahabat sejati adalah sahabat yang selalu ada di sampingmu meskipun Ia telah mengenalmu dengan sebenarnya, baik dan buruknya dirimu bisa Ia terima dan percaya bahwa semua manusia di Bumi memiliki kekurangan. Maka sebenarnya kita tercipta untuk saling melengkapi.'...


...----------------...


Hal pertama yang Edward lihat ketika Ia membuka matanya adalah tembok putih dengan bau obat-obatan khas Rumah Sakit yang tercium. Ia yakin dirinya sedang berada di Rumah Sakit saat ini, karena saat Ia mengerakkan tangan kanannya terdapat sebuah selang infus yang bertengger manis di atas punggung tangannya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang Ia tempati, matanya menangkap sosok Rifki sedang tertidur pulas di atas sofa yang ada di ruang kamar inapnya. Pandangannya kembali menjelajah seluruh ruangan yang Ia tempat hingga matanya terhenti pada satu fokus yaitu sebuah jam yang terdapat di atas meja kecil di pojok ruangan ini. Ternyata hari telah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari, Ia terdiam kembali dan memandang langit-langit kamar inapnya. Ingatannya tertuju pada kejadian yang baru beberapa jam yang lalu terjadi, di mana Ia yang sedang berusaha untuk mengakhiri hidupnya tetapi gagal karena seorang gadis yang memergoki aksinya. Pandangannya teralih pada pergelangan tangan kirinya, di mana sekarang luka itu sudah di tutupi oleh perban berwarna putih. Perlahan sebuah lengkungan senyum tercipta di bibirnya, mengingat bagaimana gadis bersurai hitam itu menasehatinya. Dan sekarang Ia merasa bosan, dengan segala pertimbangan yang telah Ia susun di otaknya akhirnya Ia memutuskan untuk tidur kembali.


Edward nampak mengerjapkan matanya ketika Ia merasakan dirinya sulit untuk bernafas, ketika Ia membuka matanya nampak Rifki yang sudah berdiri di samping bankar yang Ia tiduri dengan wajah yang terlihat kesal saat Ia sudah sadar sepenuhnya.


"Dari tadi gue bangunin gak bangun-bangun lo, lo tidur apa latihan mati sih?!" cerocos Rifki ketika Edward sudah sadar dari latihan matinya.


"Astaga, lo mau buat gue mati? Kalo bangunin orang tidur tuh yang lembut apalagi gue lagi sakit kayak begini. Bukanya malah lo bekap hidungnya" dumel Edward.


Yang menjadi sebab Ia merasakan kesulitan saat bernafas adalah, dengan tidak berperikesahabatan Rifki membangunkannya dengan cara membekap hidungnya.


"Bukannya emang itu ya tujuan lo kemaren?" jawab Rifki sarkastik kemudian melanjutkan kalimatnya, "Bom jatuh di samping lo juga gak bakal bangun lo."


"Tadinya sih iya, sebelum ada seseorang yang mengandaskan tujuan gue." jawab Edward dengan senyum di akhir kalimatnya.


"Siapa?" tanya Rifki penasaran, dan hanya di jawab gelengan oleh Edward.


"Gimana ceritanya lo gak tau dia siapa?" tanya Rifki heran.


Edward mengembuskan nafasnya sebelum menjawab, "Gue emang gak tau, dia tiba-tiba dateng pas gue mau jalan ke tengah Danau dan langsung narik gue ke kursi taman. Terus dia juga yang balut tangan gue pakai sapu tangan punyanya dia." Edward menunjukkan pergelangan tangannya yang terbalut perban.


Rifki melotot kaget ketika mendengar cerita Edward, "Gila lo! Bunuh dirinya niat amat. Masih untung itu cewek dateng, coba aja kalo gak. Gue tebak sekarang lo udah di dalam kubur, lagian masi muda sok-sokan mau bunuh diri. Gak niat sukses dulu apa lo baru mati?!"


Edward mendengus kesal mendengar ucapan Rifki, walaupun sahabatnya itu sangat menyebalkan namum Rifki lah sahabat terbaik yang Edward punya.


Ia memperhatikan kembali pergelangan tangan kirinya, seketika ingatannya tertuju pada sapu tangan yang kemarin membalut lukanya. Ia pun menanyakannya pada Rifki, "Rif, sapu tangan yang kemaren balut luka gue di mana?"


"Udah gue buang tadi,"


Jawaban Rifki sukses mengundang Edward untuk bangkit dari posisi tidurnya, "Lo buang di mana?!" tanya Edward panik.


"Gue mau balikin sapu tangan itu ke dia, sekarang cepetan kasi tau gue di mana lo buangnya sebelum nanti ilang!"


"Emang lo tau dia tinggal di mana?" pertanyaan Rifki sukses membungkam Edward, benar juga di mana Ia bisa menemui gadis bersurai hitam itu lagi.


"Gue juga gak tau, tapi setidaknya gue mau simpan sapu tangan itu. Kalo nanti gue ketemu dia baru gue balikin."


Rifki hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, Ia pun merogoh sesuatu dari balik saku celananya, "Nih" ucapnya sembari menyodorkan sapu tangan yang Edward maksud.


Edward memandang Rifki kesal, "Ngapain lo bilang udah di buang kalo sebenernya masih lo simpan." ucapnya kesal dan langsung menyambar sapu tangan yang Rifki sodorkan.


"Makasih," ucap Rifki mencibir.


Edward tak memperdulikan sindiran Rifki, sekarang dirinya tengah sibuk memperhatikan sapu tangan yang berada di genggamannya. Rifki yang melihat tidak ada respon dari sahabatnya itu pun mendengus kesal dan menyumpah serapahi Edward dalam hatinya. Sudah malam-malam menelepon dirinya untuk segera menghampirinya ke apartemen sehingga Ia harus merelakan mimpi berkencan nya dengan Jennie ambyar, dan ketika Ia menyuruh Edward untuk menunggu tantenya hingga datang. Anak itu malah pingsan dan mengakibatkan Rifki harus memapahnya menuju basement apartemen dan beruntungnya saat itu Ia melihat Pak Diki, sehingga Ia meminta bantuan kepada beliau untuk mencarikan sebuah taksi, karena Ia ke sini menggunakan sepeda motor. Ia berfikir, kenapa sulit sekali rasanya mendengar ucapan terimakasih terlontar dari mulut seorang Edward Rasia Nafandra.


"Gak usah ngatain gue dalam hati," ucap Edward tiba-tiba.


Rifki tersentak kaget dibuatnya, kenapa Edward bisa tahu kalau dirinya tengah mengumpatinya. Rifki bergidik ngeri, apakah Edward sudah kerasukan salah satu hantu di sini sampai dia bisa tau apa yang ada di pikirannya. Wajar saja Rifki berfikiran seperti itu, ini Rumah Sakit tentu saja ada banyak mahkluk tak kasat mata yang berkeliaran.


"Jangan mikir yang aneh-aneh, gue gak kerasukan!" ucap Edward kembali membuat Rifki terkejut, tak mau mati penasaran Ia pun bertanya.


"Kok lo bisa tau kalo gue lagi ngatain lo dalam hati?"


"Keliatan dari tampang lo yang gak seberapa itu" jawab Edward santai.


Ok setelah mendengar jawaban Edward yang baru saja Ia lontarkan, Ia yakin bahwa Edward tidak kerasukan hantu yang ada di rumah sakit ini. Tetapi otaknya sepertinya sedikit tergeser dari posisi sebelumnya.


"Orang ganteng bebas mau ngomong apa!" jawab Rifki pada akhirnya, malas berdebat dengan orang yang sedang sakit. Jika saja sahabat nya itu tidak sedang sakit, maka Rifki tidak akan mau mengalah dengan mudah. Pasti Ia akan membantah dengan keras saat Edward mengatakan bahwa mukanya tidak seberapa, bahkan Rifki yakin hanya dengan Ia sekali kedip saja kepada para wanita pasti saat itu juga para wanita akan menjerit histeris. Tapi ya mau bagaimana lagi, kalau dalam persahabatan tidak ada bumbu adu mulut pastilah terasa hambar. Dan juga Ia tidak ingin di salahkan, nanti jika Edward tidak sembuh-sembuh bisa jadi Rifki yang di tuduh tidak-tidak oleh sahabat kampret nya itu.


Begitulah persahabatan mereka berdua, selalu ada saja hal yang mereka perdebatkan. Masalah sepele sekali pun akan menjadi panjang, mungkin cukup untuk satu bab cerita. Apalagi masalah yang serius, bisa-bisa mereka berdua menjadi penulis dadakan yang dapat menerbitkan buku.


Setelah itu tidak ada percakapan kembali di antara mereka, masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Rifki yang sedang asik bermain game cacing di ponselnya dan Edward yang hanya diam mengamati betapa heboh sahabatnya itu bermain game hingga memiring-miringkan ponselnya, bahkan bukan hanya ponselnya saja yang miring-miring kepala Rifki pun ikut miring mengikuti arah ponselnya. Terkadang Rifki juga berteriak kesal ketika cacingnya yang berbobot sudah jutaan mati karena menabrak cacing kecil, ternyata benar kata pepatah kecil-kecil cabe rawit. Cacing yang bobotnya tidak seberapa dapat membunuh cacing yang bobotnya sudah jutaan, hebat bukan? Edward hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Tak lama kemudian seorang dokter memasuki ruangan yang Edward tempati untuk mengecek keadaannya.