
...'Jangan dilihat dari harganya, tapi lihatlah dari makna yang ada di baliknya.'...
...----------------...
Edward berjalan cepat menghampiri Rayla yang saat ini tengah duduk di kantin sekolah bersama dengan Vika. Edward memberi kode pada Vika agar meninggalkan Rayla bersamanya. Sedangkan Rayla tak menyadari bahwa sekarang Edward tengah berada di belakangnya, karena posisi yang membelakangi Edward. Vika yang mengerti pun, langsung pamit untuk ke kelas duluan, sedangkan Rayla menatap bingung Vika yang tiba-tiba ingin kembali ke kelas padahal jam istirahat masih lama.
"Dibelakang lo ada Edward," ucap Vika sebelum benar-benar pergi dari hadapan Rayla.
Rayla sontak menoleh ke belakang, kemudian menemukan Edward yang tengah berdiri sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Kenapa?" tanya Rayla ketika Edward terus memandanginya.
Edward menggeleng, kemudian duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Rayla.
"Nanti malem lo ada acara?" tanya Edward.
Rayla nampak berpikir, "Kayaknya sih enggak ada."
"Bagus."
"Emang kenapa?"
"Gue mau ngajak lo keluar."
Rayla mengerutkan keningnya bingung, "Kemana?"
"Night market."
"Mau ngapain ke sana?"
"Beli gulali."
Rayla terkekeh, "Gak usah sampai ke pasar malem juga kalau mau beli gulali. Di gang deket pertigaan sekolah juga ada yang jual."
Edward menggeleng, "Terlalu mainstream, gue maunya yang anti mainstream."
"Kayaknya prinsip hidup lo, kalau ada yang susah, kenapa harus cari yang gampang."
Edward tertawa, "Maybe."
Rayla hanya geleng-geleng kepala, kemudian meminum es tehnya.
"Lo udah makan?" tanya Rayla yang melihat Edward hanya memperhatikannya.
"Belum."
"Oh."
Edward melongo melihat respon Rayla, "Kok lo cuma bilang oh?"
"Lah emang salah? Kan gue cuma nanya," balas Rayla.
Edward mendengus, "Dasar gak peka," gerutu Edward dalam hati.
"Nih," ucap Rayla sembari menyodorkan sebungkus roti pada Edward.
"Buat gue," tanya Edward memastikan. Gak mau GR dulu.
Rayla mengangguk, "Tapi kalau lo gak mau, gak masalah sih."
Edward dengan cepat menyambar roti tersebut, "Thanks."
Rayla tersenyum, "Sama-sama."
"Gue ke kelas duluan ya," pamit Rayla pada Edward yang masih memakan rotinya.
Edward dengan cepat menggelengkan kepalanya sebagai respon.
"Tungguw win gwue," ucap Edward dengan mulut yang penuh dengan roti.
Rayla geleng-geleng kepala melihat tingkah Edward, "Pelan-pelan. Ntar keselek, gue gak mau tanggung jawab."
Edward menelan roti yang ada di mulutnya, kemudian langsung menyambar es teh Rayla yang masih tersisa.
"Heh, es teh gue!" pekik Rayla.
"Minta dikit," balas Edward.
"Tapi...Itu sisa gue Ed," cicit Rayla.
Edward tertawa, "Gak papa kali."
Rayla menghela nafasnya, "Yaudah. Gue mau ke kelas."
Rayla tengah bersiap untuk pergi bersama Edward malam ini. Dengan sweater warna baby blue di padukan dengan celana jeans hitam, dan rambutnya Ia kuncir kuda. Rayla mematut sekali lagi penampilannya di depan cermin. Setelah puas dengan penampilannya, Rayla pun mengambil tas selempang nya kemudian turun ke bawah. Karena Ia juga sudah mendengar bunyi mobil yang memasuki pekarangan rumahnya.
"Mau kemana kamu Ay?" tanya Aleta yang saat ini tengah bersantai sembari menonton televisi.
Rayla menghampiri Mamanya, "Mau keluar bareng Edward."
"Edward nya udah dateng?"
Tak lama setelah Aleta bertanya, bel rumah mereka berbunyi.
"Itu barusan dateng. Kalau gitu, Ayla berangkat dulu ya, Ma. Titip salam sama Papa, anaknya keluar bentar," ucap Rayla sembari mencium punggung tangan Mamanya.
"Hati-hati di jalan," pesan Aleta yang hanya di angguki oleh Rayla.
Rayla membuka pintu rumahnya, kemudian menghampiri Edward yang berdiri membelakanginya.
"Berangkat sekarang?" tanya Rayla.
Edward menoleh memperhatikan penampilan Rayla, "Iya."
Edward dan Rayla pun masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam mobil tampak hening, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, hingga mereka tiba di lokasi tujuan mereka.
"Lo serius cuma mau beli gulali ke sini?" tanya Rayla pada Edward yang saat ini berjalan di sebelahnya.
"Lihat nanti aja."
Rayla mengangguk mengerti.
Suasana pasar malam cukup ramai pengunjung, baik dari kalangan anak-anak sampai orang dewasa. Rayla beberapa kali tertawa gemas, melihat anak kecil yang tengah menggerutu kesal karena tidak berhasil memancing ikan buatan yang ada di dalam kolam.
"Tunggu di sini, gue mau beli sesuatu," ucap Edward pada Rayla yang masih asik memperhatikan anak kecil tersebut.
Rayla mengangguk tanpa menoleh ke arah Edward.
"Inget jangan kemana-mana," pesan Edward sebelum benar-benar pergi dari hadapan Rayla.
Setelah beberapa saat Edward pergi, Rayla mulai lelah karena terus berdiri. Ia pun duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana sembari menunggu Edward datang. Sudah tiga puluh menit Edward pergi, Rayla pun mulai bosan menunggunya. Karena tak kunjung datang, Rayla pun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran sana. Rugi kalau semisal Ia kesini, dan hanya duduk termenung seperti orang yang hilang arah. Baru saja Ia akan beranjak, suara seseorang menginterupsinya.
"Bandel. Dibilangin jangan kemana-mana," omel Edward yang datang sembari membawa gulali di salah satu tangannya.
Rayla menatap Edward kesal, "Siapa suruh lama!"
Edward tak menghiraukan ucapan Rayla, "Nih. Buat lo," ucap Edward sembari menyodorkan sebuah gulali pada Rayla.
Rayla menerimanya, "Makasih."
Edward mengangguk, "Lo mau naik bianglala gak?"
"Mau lah!" jawab Rayla antusias.
Edward tersenyum penuh arti, "Yaudah ayok. Kita beli tiketnya dulu."
Rayla mengangguk, kemudian mengikuti Edward sembari memakan gulali nya. Setelah mendapatkan tiket, Rayla dan Edward pun menunggu giliran untuk naik ke atas bianglala.
"Lo gak takut ketinggian kan?" tanya Edward pada Rayla ketika mereka naik ke wahana bianglala.
"Terus kalau gue takut, lo bakal nyuruh gue loncat dari sini?" tanya Rayla sinis.
Edward tertawa, "Enggak juga."
Rayla diam, dan memilih fokus melihat pemandangan yang terlihat dari tempatnya duduk sembari memakan gulali nya yang masih tersisa setengah. Sedangkan Edward terus memperhatikan Rayla. Gulali yang ada di tangannya pun, belum Ia sentuh sedikit pun.
"Pegang bentar," ucap Edward sembari menyerahkan gulali miliknya.
Rayla menerima gulali yang Edward sodorkan, kemudian kembali memperhatikan pemandangan yang ada di sekitarnya.
"Coba deh, lo liat ke samping kiri lo," ucap Edward.
Rayla menurut, Ia mengalihkan pandangannya ke arah sisi kiri tubuhnya.
Tanpa Rayla sadari, Edward mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Dengan perlahan, Edward mendekat ke arah Rayla kemudian memakaikan kalung yang sempat Ia beli tadi ke leher Rayla.
Rayla terkejut ketika merasakan tangan Edward yang berada di bagian lehernya.
"Lo ngapain?" tanya Rayla sembari meraba benda yang saat ini sudah terpasang rapi di lehernya.
"Ngasi tanda," balas Edward sembari mengambil alih gulali miliknya yang Ia titipkan tadi pada Rayla.
Rayla kembali melihat kalung yang kini terpasang di lehernya, dengan liontin huruf E di tengahnya. Rayla melihat kembali Edward nampak santai seperti tidak terjadi apa-apa, dan malah menikmati gulali miliknya.
"Maksudnya apa?" tanya Rayla dalam hati.