
...'Kehangatan dalam sebuah keluarga tidak di ukur dari besar dan luas rumahnya, tetapi keharmonisan yang ada di dalamnya.'...
...----------------...
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Edward sedang menikmati makan malamnya begitu juga dengan Rifki. Edward sudah mengusir Rifki sedari tadi untuk segera pulang kerumahnya, tetapi Rifki menolak dan lebih memilih makan terlebih dahulu baru pulang. Menambah energi dulu sebelum menghadapi omelan Ayahnya, begitulah yang ada di pikiran Rifki.
"Gak pulang lo? Katanya jam delapan udah nyampe rumah, ini udah jam tujuh lebih." ucap Edward memperingati Rifki agar Ia segera pulang ke rumahnya.
"Iya ini juga gue mau pulang, gak sabar banget lo liat gue kena marah!" ucap Rifki mendengus kesal sembari memakai jaketnya yang Ia taruh di sofa.
Edward menyengir, "Enggak kok, gue cuma ngingetin doang suer."
"Sakarepmu lah Ed,"
"Dih ngambekan jadi cowok,"
"Dah gue mau pulang dulu, jangan kangen lo sama gue."
"Dih ngarep banget lo di kangenin sama gue, lagian buat apa juga gue kangen sama kembaran kuda kayak lo gitu."
"Makasih Ed, udah bilang gue pangeran berkuda."
"Sip, lo udah ke geser otaknya. Sono cepat pulang, gue gak mau ketularan virus lo!"
Rifki mendengus, "Lo lupa kalo gue selalu ada di samping lo, jadi ya pasti kalo gue punya virus lo juga udah kena."
"Gak denger gue tutup mata,"
"Up to you, gue pulang dulu. Dan jangan coba-coba lo loncat dari lantai ini ke bawah mentang-mentang acara bunuh diri lo waktu ini gagal!" ucap Rifki dengan nada serius.
Edward memutar bola matanya malas, "Iya, paling gue minta dokter buat suntik mati!"
"Bodo amat," ucap Rifki dan langsung melengos pergi dari ruang kamar Edward.
"Jan lupa belokan lurus Rif!" ucap Edward sedikit berteriak agar di dengar oleh Rifki yang sudah menghilang di balik daun pintu.
Setelah Rifki pulang ke rumahnya, yang di lakukan Edward hanya bermain ponsel. Tidak ada kegiatan lain yang dapat Ia lakukan selain bermain ponsel, tidak mungkin kan Edward joget-joget di dalam kamarnya. Bisa-bisa Ia langsung di kirim ke Rumah Sakit Jiwa malam itu juga.
Saat ini Rifki sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali Ia bersenandung lagu 'How You Like That' singel terbaru milik girlband Korea Blackpink. Ya Rifki seorang Blink, Ia sangat menyukai music Korea terutama milik Blackpink dan BTS. Tentu para pembaca tidak asing lagi dengan dua nama girlband dan boyband asal negeri ginseng tersebut, nama mereka sudah terkenal di seluruh Dunia.
Rifki menghentikan laju motornya ketika lampu lalu lintas di depannya menyala dengan warna merah, walaupun di sekolah Rifki termasuk salah satu siswa yang bar-bar tetapi tetap saja di jalanan Ia selalu mentaati peraturan yang ada. Demi keselamatan kita juga toh.
Setelah menempuh perjalanan yang setidaknya memakan waktu dua puluh menit, akhirnya Rifki sampai di rumahnya. Dengan segera Ia memarkirkan sepeda motornya di garasi rumahnya dan berjalan memasuki rumahnya. Sebelum membuka pintu rumah Rifki berhenti sejenak dan melafalkan doa.
"Ya Tuhan semoga hamba bisa menghadapi keganasan Ayah hamba." barulah Rifki membuka pintu rumahnya dan sudah langsung di sambut oleh Ayahnya.
"Kamu telat sepuluh menit." ucap seorang lelaki paruh baya yang duduk di sofa ruang tamu.
Rifki menjawab cengengesan, "Macet tadi Yah,"
"Alasan saja kamu ini, sini duduk depan Ayah." ucap Ayah Rifki yang mengisyaratkan Rifki agar duduk di sofa yang ada di hadapan Ayahnya.
Dengan patuh Rifki berjalan menuju sofa yang ada di hadapan Ayahnya dan duduk di sana.
"Gimana keadaan Edward?" tanya Ayahnya membuka pembicaraan.
"Baik, dia besok udah boleh pulang kok Yah." jawab Rifki seadanya, memang tadi Edward sudah memberi tahunya bahwa Ia sudah di perbolehkan untuk pulang besok dan menyuruh Rifki untuk menjemputnya setelah pulang sekolah nanti. Untung saja sahabat, coba saja kalau tidak sudah Rifki dorong Edward dari lantai tiga Rumah Sakit tempat Ia di rawat.
"Baguslah kalo dia sudah sembuh," jeda sebentar sebelum Ayahnya melanjutkan kalimatnya.
"Benar kamu minta tambahan uang jajan untuk bulan ini karena uang jajan mu sudah habis untuk mentraktir pacar kamu?"
Finally, malapetaka sudah berada di depan mata. Awas lo Ed, gerutu Rifki dalam hati.
"Tadi Edward Wa Ayah, terus bilang kayak gitu."
"Enggak, Edward cuma ngada-ngada kok itu Yah!"
"Gak mungkin Edward ngada-ngada, yang ada kamu nih yang ngada-ngada."
See, Ayahnya lebih percaya Edward daripada Dia. Ini gue beneran anaknya apa bukan si?
"Ayah lebih percaya sama Edward daripada Rifki?" tanya Rifki lesu.
"Jelas Ayah lebih percaya Edward daripada kamu" jawab Ayah Rifki mantap.
"Kalo gitu sekalian aja angkat Edward jadi anaknya Ayah." ucap Rifki kesal.
"Nanti Ayah pikirkan lagi saran kamu itu," ucap Ayah Rifki santai. Sedangkan Rifki hanya bisa melongo mendengar apa yang baru saja Ayahnya katakan. Mengangkat Edward sebagai anaknya dan itu berarti dirinya dan Edward akan menjadi saudara tiri. Oh tidak bisa-bisa war setiap hari mereka.
"Gak-gak, Rifki tarik ucapan Rifki yang tadi!" ucap Rifki panik seketika, pasalnya Ayahnya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
"Benar kamu tidak punya pacar, dan uang jajan mu tidak habis untuk traktir pacar kamu itu?" tanya Ayahnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya Yah, buat apa juga Rifki bohong."
"Ok, hari ini kamu lolos dari hukuman. Tapi kalo nanti Ayah tau kalo apa yang di bilang sama Edward benar, Ayah bakal hukum kamu dua kali lipat."
"Kayak penagih hutang aja nih bokap gue," gumam Rifki.
"Kamu bilang apa Rif?" tanya Ayahnya ketika mendengar gumaman Rifki samar-samar.
"Enggak apa-apa kok Yah," jawab Rifki cepat.
"Yasudah, Ayah mau istirahat dulu. Kamu sudah makan?" tanya Ayahnya yang sudah bersiap naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Udah tadi di rumah sakit makan bareng Edward Yah,"
Ayahnya hanya mengangguk kan kepalanya, "Ayah ke atas dulu."
"Iya Yah, selamat istirahat." yang hanya di balas deheman oleh Ayahnya.
Setelah Ayahnya pergi menuju kamarnya, Rifki mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan melihat Wa sebentar. Memang dasarnya jomblo ngenes, satu pesan pun tidak ada yang masuk. Ia pun memutuskan untuk memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan beranjak dari sofa yang Ia duduki tadi untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya Rifki pun langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuk miliknya, perlahan Ia memejamkan matanya menikmati kesunyian malam. Tak berselang lama kemudian, rasa kantuk menghampirinya dan memaksanya untuk tenggelam ke alam mimpinya.
......................
Sang Surya sudah menampakkan dirinya di ufuk timur, tetapi anak manusia yang satu ini masih saja betah untuk bergelung bersama bantal guling kesayangannya dan juga selimutnya. Sampai seorang wanita paruh baya memasuki kamarnya dan Ia tidak merasa terusik sama sekali, malah Ia semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling kesayangannya. Wanita paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putra semata wayangnya, Ia pun menghampiri putranya agar segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
"Rifki, bangun yuk. Udah siang nanti kamu telat loh sekolahnya" ucap Ibu Rifki yang mengelus rambut putranya. Itu membuat tidur Rifki sedikit terusik.
"Ya Bu, lima menit lagi. Rifki masih ngantuk banget."
"Gak ada lima menit lagi, bangun sekarang atau Ibu siram kamu pakai air segayung" ancam Ibunya.
Rifki terpaksa membuka matanya dan bangkit dari posisi tidurnya.
"Iya, ini Rifki bangun. Gak usah pakai acara siram air segayung," ucap Rifki malas.
"Sana kamu buruan mandi, setelah itu turun kita sarapan sama-sama" ucap Ibunya dan beranjak keluar dari kamar Rifki.
Setelah Ibunya keluar dari kamarnya Rifki dengan segera bersiap-siap untuk mandi dan berpakaian, kasian juga Ayah dan Ibunya yang harus menunggunya lama.