
...'Belajarlah untuk selalu menghargai waktu, karena waktu yang hanya terlewat barang satu detik pun tidak bisa di ulang kembali.'...
...----------------...
Pagi ini Edward berangkat lebih awal, tujuannya hanyalah ingin memberitahu Rayla bahwa Ia akan mengikuti tes Biologi susulan nanti sepulang sekolah.
Edward memarkirkan sepeda motornya di tempat parkiran sekolah, kemudian Ia mulai menyusuri koridor untuk bisa sampai di kelasnya. Edward memasuki ruang kelasnya yang masih terlihat sepi itu, Ia pun meletakkan tasnya di atas mejanya kemudian duduk di atas kursi miliknya. Sembari menunggu kelas ramai dan juga menunggu Rayla, Edward mengambil handphonenya yang Ia letakkan di saku bajunya untuk mengusir kebosanan.
Selang sepuluh menit kemudian, Rayla datang dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Ia menyapa Vika yang berada di bangkunya. Edward yang merasa familiar dengan suara Rayla pun sontak menengok ke arah bangku Rayla. Ketika melihat Rayla yang sudah datang, Edward pun menyudahi acara bermain handphonenya kemudian berjalan mendekat ke arah Rayla.
"Lo kapan mau tes susulan Biologi?" tanya Edward ketika sudah sampai di bangku Rayla.
Rayla mendongak ketika mendengar suara Edward, "Kapan aja."
Edward mendengus mendengar jawaban Rayla.
"Gue pulang sekolah mau tes susulan, lo mau sekalian ikut gak?"
Rayla manggut-manggut mendengar ucapan Edward, "Ok, gue ikut lo nanti."
"Emang lo udah belajar?" tanya Edward ketika mendengar jawaban Rayla.
Rayla memutar bola matanya malas, "Udahlah, kalo belum mana mungkin gue mau ikut lo tes susulan nanti!"
Sekarang giliran Edward yang manggut-manggut mendengar jawaban Rayla.
"Ok, nanti pulang sekolah tunggu gue di depan kelas," ucap Edward kemudian langsung melenggang pergi menuju tempat duduknya kembali.
"Nanti tunggu gue di depan kelas," ucap Rayla menirukan suara Edward ketika mengucapkannya.
"Ngapain lo ke bangkunya Rayla?" tanya Rifki ketika Edward sudah duduk kembali di bangkunya.
"Kepo!" jawab Edward.
Rifki memicingkan matanya mendengar jawaban Edward.
"Lo ngajak Rayla makan bareng nanti di kantin?" tebak Rifki.
"Sembarangan kalo ngomong!"
"Lo yang gue tanya jawabnya gak bener!" balas Rifki tak terima.
Edward melirik ke arah Rifki, "Gue ngajak dia buat tes susulan Biologi nanti sepulang sekolah."
"Cuman itu doang?" tanya Rifki yang masih belum puas dengan jawaban yang di berikan oleh Edward.
"Maunya?" tanya balik Edward.
"Kirain bakal ada acara makan siang bareng," ucap Rifki kecewa.
Edward menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rifki. Sedangkan Rifki masih mempertahankan wajah pura-pura kecewanya. Tak lama kemudian bel tanda pelajaran di mulai pun berbunyi, semua murid yang berada di kelas XII IPA 2 segara bersiap-siap untuk menyambut guru yang akan mengajar di kelas mereka.
Tak terasa detik demi detik, menit demi menit sudah terlewati. Tidak terasa hari sudah semakin siang, jam pun sudah menunjukkan waktu untuk pulang.
"Ed, gue ikut ya," ucap Rifki yang kini tengah memasukkan buku tulis miliknya ke dalam tasnya.
"Ikut kemana?" tanya Edward yang tidak paham akan pertanyaan Rifki.
"Ikut tes susulan."
"Bukannya lo udah tes ya?" tanya Edward heran.
"Udah."
"Gue bukannya mau ikut tes susulan, tapi gue mau ikut buat nemenin Rayla."
"Maksudnya?" tanya Edward yang semakin tidak mengerti arah pembicaraan Rifki.
"Gue mau nemenin Rayla, kasian ntar kalo berdua sama lo doang. Yang ada pulang-pulang anak orang minta pindah sekolah lagi," ucap Rifki dengan raut wajah serius.
Edward memutar bola matanya jengah, "Lo kira anak orang mau gue apain huh?!"
"Lo kan setara sama air kalo udah beku, kembaran juga sama beruang kutub, tapi lo juga besanan sama boncabe. Tau sendiri lah apa yang gue maksud," ucap Rifki santai.
Edward mendengus mendengar ucapan Rifki yang baru saja Ia lontarkan.
"Gue gak seperti yang lo bayangkan,"
"Iya gak seperti yang gue bayangkan, tapi seperti yang gue ucapkan."
Edward merubah raut wajahnya menjadi datar ketika mendengar jawaban Rifki. Ingin rasanya Ia sekarang menumbalkan Rifki untuk menjadi kelinci percobaan para ilmuwan. Andai saja link pendaftarannya sudah tersebar luas, bisa di pastikan Ia adalah orang pertama yang akan menyumbangkan sukarelawan.
"Lama banget sih lo, jadi tes susulan gak?" tanya Rayla yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Rifki dengan raut wajah kesalnya.
"Jadilah," jawab Rifki.
"Ngomongnya aja jadi, padahal masih debat di sini. Lo tau gak, gue udah nunggu hampir sepuluh menit di depan kelas tau!" ucap Rayla dengan bersungut-sungut.
"Baru juga sepuluh menit, bukan sepuluh abad," balas Edward santai.
"Lo kira waktu sepuluh menit itu gak berharga?"
"Yang bilang gak berharga siapa?"
"Lo lah!"
"Gak ada tuh gue bilang kayak gitu."
"Ta-," ucapan Rayla menggantung di udara ketika Rifki menyela perdebatan yang terjadi di antara mereka.
"Kalo lo berdua debat terus, kapan mau tes susulan nya?" tanya Rifki yang sudah panas mendengar perdebatan antara Edward dan Rayla.
"Temen lo yang mulai!"
"Udah-udah, mending sekarang kita ke ruang guru. Sebelum Pak Joko pulang dan berujung lo berdua batal tes nya."
"Tumben otak lo bener," ucap Edward yang merasa heran.
Rifki mendengus, "Otak gue emang bener, tapi gara-gara sering bergaul sama lo otak gue jadinya ke geser."
Rayla menahan senyumnya ketika melihat Edward yang melotot tidak terima dengan ucapan Rifki barusan.
"Daripada gue nungguin lo pada yang debatnya enggak kelar-kelar, mending gue ke ruang guru duluan deh. Kalian lanjut aja lagi debatnya," ucap Rayla dan langsung memutar balik tubuhnya dan melangkah menuju pintu ruang kelas mereka.
Edward dan Rifki saling pandang sejenak kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah Rayla. Tak berselang lama kemudian, mereka bertiga sampai di ruang guru dan langsung di sambut oleh Pak Joko.
"Nah mumpung kalian sudah sampai, ini tes yang harus kalian kerjakan. Waktunya satu jam," jelas Pak Joko sembari memberikan mereka kertas yang berisi tes soal. Pak Joko memang sudah mengetahui maksud dari kedatangan mereka, karena kemarin Edward sempat memberitahunya bahwa Ia akan melakukan tes susulan sepulang sekolah.
"Baik Pak, terimakasih," ucap Rayla sembari menerima kertas yang di sodorkan oleh Pak Joko, yang di balas hanya dengan anggukan saja.
"Bukannya kamu sudah tes ya?" tanya Pak Joko yang baru menyadari keberadaan Rifki.
Rifki tersenyum canggung kemudian menjawab, "Saya cuma nemenin Edward Pak."
Pak Joko hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti situasi yang sedang terjadi, lain halnya dengan Edward dan juga Rayla. Mereka berdua saat ini tengah fokus mengerjakan tes yang di berikan oleh Pak Joko tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aktivitas yang mereka lakukan hanyalah, membaca, berkedip, bernafas dan juga menulis jawaban di atas kertas yang telah mereka sediakan. Memang ya, aura murid pintar saat mengerjakan soal itu beda.