Please Feel My Love

Please Feel My Love
Tercyduk



...'Jujur itu lebih baik, daripada munafik.'...


...----------------...


Rayla menghembuskan nafasnya kesal. Ini hari libur karena tanggal merah, seharusnya Ia bisa tenang dengan acara rebahan dan maraton drakor nya. Tapi semuanya sirna karena Devan, si sepupu minus akhlak plus playboy sok kecakepan, mengajaknya untuk jalan-jalan keluar. Rayla sudah menolak mentah-mentah ajakan Devan, tapi dengan gak ada akhlaknya, Devan malah mengancam akan mengambil paksa album yang pernah Ia belikan untuknya. Tentu saja Rayla langsung panik. Akhirnya dengan berat hati, Rayla menerima ajakan Devan.


"Lama banget sih lo," semprot Rayla ketika Devan baru saja turun.


"Gue tuh harus tampil keren. Siapa tau ntar ketemu cewek cantik di sana," ucap Devan sembari menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jari-jari tangan.


Rayla yang mendengar hal itu pun memutar bola matanya malas, "Terserah lo. Jadi gak sih perginya?!"


"Jadilah! Ayok buruan berangkat, gue udah gak sabar buat berburu cecan nanti," balas Devan dengan semangat dua-dua tambah dua tiga.


Rayla hanya mendengus, yang dari tadi buat lama siapa coba. Dasar kadal!


Di dalam perjalanan, Devan terus berbicara tiada henti. Rayla yang notabenenya hanya mendengarkan saja lelah, kenapa Devan sepertinya tidak ada lelahnya berbicara sedari tadi.


"Lo sarapan apa sih tadi?" tanya Rayla yang sudah tak tahan hanya sekedar mendengarkan ocehan Devan.


"Sama kayak yang lo makan," jawab Devan santai.


Sial, niatnya mau nge roasting malah gagal karena jawaban Devan.


"Udah nyampe. Saatnya kita berburu cecan!" pekik Devan senang sembari melepas seat belt nya.


Rayla memperhatikan sekeliling, "Kita ngapain ke mall?"


Devan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil.


"Udah di bilang mau berburu cecan."


"Terus si Rosa gimana?" tanya Rayla.


Rosa itu anak tetangga Rayla. Dia juga penyebab Devan mau repot-repot mengungsi ke rumahnya.


"Main-main dikit sama yang lain gak papa kali," jawab Devan santai.


Rayla menggelengkan kepalanya, "The real of bastard."


Bukannya tersinggung atau marah dengan ucapan Rayla, Devan malah tertawa.


"Yes, I am."


"Udah ke geser kayaknya otak lo. Di katain bukannya marah, malah seneng."


"Buat apa marah? Kan sifat gue emang gitu."


"Gak ada niatan berubah lo?"


"Nanti. Kalau udah nemu yang cocok."


Rayla menganggukkan kepalanya, "Yaudah. Ayok masuk."


Devan mengangguk, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mall yang terlihat ramai pengunjung yang dikarenakan oleh hari libur.


"Mau kemana?" tanya Devan pada Rayla yang berjalan di sebelahnya.


Rayla menggidikkan bahunya, "Lo yang ngajak gue ke sini. Jadi terserah lo mau kemana, gue ngikut."


Devan mengangguk, "Keliling-keliling dulu aja gimana?"


"Kuy lah," jawab Rayla.


Devan menggamit tangan Rayla, menyadari tatapan horor dari Rayla, Devan dengan segera memberi klarifikasi.


"Biar gak di kira jomblo," jelas Devan dengan cengiran di akhir kalimatnya.


Rayla membiarkan tangannya di genggam oleh Devan. Terserah laki-laki itu sajalah, Rayla cuma ngikut. Mau dia batal berburu cecan nya, Rayla enggak peduli. Asalkan selesai ini, Devan memberikannya makan. Jalan juga butuh tenaga kan?


"Mending gak usah gandeng-gandeng deh!" ucap Rayla kesal. Bagaimana tidak, tangannya boleh di genggam oleh Devan. Tapi matanya itu loh, jelalatan kemana-mana! Liat cecan dikit, udah di godain. Kalau kayak gini terus, bisa-bisa Rayla dikira sad girl yang di selingkuhin di depan matanya!


"Gak ikhlas banget lo tangannya gue gandeng," cibir Devan.


"Gue gak mau ya, di cap sebagai orang yang di selingkuhin di depan matanya!"


"Apa lo bilang? Coba ulang sekali lagi," ucap Rayla dengan tangan yang sudah siap untuk memukul Devan.


Devan cengengesan, "Bukan apa-apa."


Rayla memutar bola matanya malas, "Jadi lo mau kemana sebenernya? Kita udah muterin ini gedung tiga puluh menit lebih."


Devan nampak berpikir, "Lo mau kemana?"


Rayla mendengus, di tanya kok malah balik nanya.


"Balik aja lah. Gue mau lanjut nonton drakor," putus Rayla


Devan menggeleng dengan cepat, "Gak! Kasian bensin yang udah gue habisin buat bisa nyampe ke sini."


Rayla menggeram, kemudian tanpa aba-aba memukul pundak Devan dengan keras, hingga sang empunya memekik kesakitan.


"Lo ngapain mukul gue sih?!"


"Kesel."


"Jujur amat lo jadi cewe."


"Udah ah. Ayok pulang," rengek Rayla.


Devan menggelengkan kepalanya tegas, "Rugi kalau semisal gak ngapa-ngapain."


"Siapa bilang gue mau pulang dengan tangan kosong? Ayo traktir gue makan dulu," ucap Rayla kemudian menarik tangan Devan agar mengikutinya ke arah kedai es krim yang berada tak jauh dari mereka.


Devan mengumpat dalam hati, resiko punya saudara sepupu yang rada-rada abnormal ya begini. Stres karena tingkahnya yang ada-ada aja!


"Yakin mau beli es krim doang?" tanya Devan yang kini tengah memperhatikan Rayla memakan es krimnya.


Rayla menggeleng, "Enggak. Gue mau makan Tteokbokki."


Alis Devan terangkat, "Lo serius mau makan koki?"


Rayla merenggut, "Tteokbokki, bukan koki."


"Emang itu makanan?" tanya Devan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iyalah! Yakali gue makan, makanan yang gak bisa di makan."


"Siapa tau, lo kan orangnya rada-rada," bisik Devan pelan.


"Ngomong apa lo barusan?" tuding Rayla.


"Bukan apa-apa. Jadi mau makan koki?"


Rayla mendengus, di bilang bukan koki. Devan ngeyel banget!


"Tunggu. Gue habisin es krim dulu," ucap Rayla sembari memakan es krim nya dengan cepat.


Devan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rayla, "Makan kayak anak kecil aja lo. Cemong sana sini," ucap Devan sembari memberikan Rayla tisu.


"Makasih," ucap Rayla sembari menerima tisu yang Devan sodorkan.


Devan mengangguk, "Ayok."


Rayla bangkit dari duduknya, kemudian menarik tangan Devan agar mengikutinya ke arah restoran yang menyajikan berbagai macam masakan Korea. Langkah Rayla sontak terhenti, ketika netra nya tak sengaja menangkap sosok yang sangat Ia kenali tengah berjalan beriringan bersama seorang gadis. Rayla menajamkan penglihatannya, takut-takut Ia salah orang. Tetapi, semakin Ia fokus memperhatikan, sosok tersebut memang sangat mirip dengan orang yang selama ini mengisi hari-harinya.


"Kenapa berhenti?" tanya Devan yang heran kenapa Rayla tiba-tiba berhenti.


Rayla menggelengkan kepalanya, "Gak papa."


Devan memicingkan matanya, "Serius?"


Rayla merubah raut wajahnya, "Gak percayaan banget sih lo! Ayok buruan jalan," ucap Rayla kemudian langsung menarik tangan Devan agar segera mengikutinya.


Devan hanya pasrah, ketika dirinya di tarik paksa oleh Rayla entah kemana. Sebelum benar-benar memasuki restoran Korea, Rayla sempat melirik ke arah dimana Ia menangkap sosok Edward tadi.


"Edward sama siapa?" tanya Rayla dalam hati, ketika seorang gadis terus menempel pada tubuh Edward.