Please Feel My Love

Please Feel My Love
Hukuman



...'Persahabatan itu sebuah ikatan yang sangat erat, tidak akan ada kata perpisahan di dalamnya walau terhalau jarak. Di manapun itu, sahabat memiliki ruang khusus di dalam hati. Karena persahabatan tidak di ukur dengan jarak melainkan hati.'...


...----------------...


Sang surya sudah berada tepat di atas ubun-ubun, tetapi Edward dan Rifki masih saja betah dengan aktivitas mereka yang sebelumnya. Yaitu rebahan sembari bermain ponsel, menyenangkan bukan? Tentu saja, tanpa adanya gangguan dan juga dapat menumpang wi-fi rumah sakit secara gratis. Sungguh kenikmatan yang sangat hakiki sekali.


"Lo kapan bisa pulang Ed?" tanya Rifki masih dengan posisi rebahan di atas sofa dengan memainkan ponselnya.


"Mana gue tau, tanya dokter lah!" jawab Edward.


"Ya kan gue kira lo tau kapan bisa pulang, lagian gue besok harus sekolah. Gue udah bolos hari ini buat jagain lo!"


"Sekolah mah sekolah aja kali, ngapain laporan sama gue."


"Bukannya bilang makasih udah gue temenin,"


Edward memutar bola matanya malas menanggapi ucapan Rifki.


"Iya makasih ya abang Rifki," ucap Edward dengan nada yang menggelikan.


Rifki bergidik ngeri di buatnya, "Ya gak gitu juga kali Ed, susah ngomong sama orang yang lagi sakit. Otaknya rada korslet,"


"Emang otak aliran listrik ya? Bisa korslet segala,"


"Dalam tubuh kan juga mengandung listrik yang di sebut biolistrik."


"Tumben lo pinter Rif,"


Rifki menyengir dan menjawab, "Baru aja gue searching di google, katanya besok ada ulangan Biologi makanya gue belajar."


"Halah, sok-sok kan lo belajar. Biasanya juga nyontek!"


"Bro, ada masanya kita berubah. Nah kebetulan gue lagi niat berubah jadi pribadi yang lebih baik."


"Bahasa lo, ngakak gue dengernya" ucap Edward dengan tertawa.


Rifki mendengus kesal di buatnya, "Temen mau berubah tuh ya di dukung, bukannya malah di ketawain."


"Habisnya gak ada angin gak ada hujan lo tiba-tiba mau berubah, gimana gue gak herman."


"Heran woi, kalo Herman mah nama bokap gue."


"Nah iya itu maksud gue,"


"Bodo amat Ed!"


"Dih, entar gue aduin lo ke om Herman kalo lo gak peduli sama dia." ucap Edward sembari mengotak-atik ponselnya.


"Kapan gue ada bilang gitu tapir, lo ngada-ngada aja."


"Hohoho, maafkan aku anak muda. Baru aja gue kirim pesan ke om Herman ngaduin lo." ucap Edward kelewat santai tanpa memperdulikan mata Rifki yang sudah membulat sempurna.


Dengan segera Ia merampas ponsel milik Edward untuk mengetahui apa yang baru saja Ia ucapkan kepada Ayahnya.


Setelah melihat isi ponsel Edward, Rifki mendengus. Temannya yang satu ini memang senang sekali membuat dirinya kena masalah.


*From Edward to Om Herman


Om kata Rifki dia mau minta tambahan uang jajan bulan ini, soalnya uang jajan bulan ini udah habis buat traktir pacarnya shoping tas sama baju di mall. Dia gak berani bilang langsung ke om, makanya minta bantuan Edward untuk bilang ke om*.


"Lo tega banget sih sama gue Ed, salah gue apa sama lo." ucap Rifki dengan nada dramatis sembari memegang dadanya, menambah kesan dramatis yang Ia ciptakan.


"Pengen muntah gue liat lo kayak gitu Rif!" ucap Edward bergidik ngeri.


Tiba-tiba ponsel Edward yang berada di tangan Rifki berbunyi, dengan segera Rifki membuka pesan yang baru masuk dan ternyata itu adalah pesan dari Herman. Ayahnya sendiri.


*Om Herman


Dengan pasrah Rifki menyerahkan kembali ponsel Edward kepada pemiliknya, Edward yang melihat Rifki seperti itu langsung saja menyambar ponselnya. Setelah Ia membaca pesan dari om Herman, tawanya tak bisa Ia tahan. Ia pun menyemburkan tawanya melihat wajah nelangsa Rifki, menjahili Rifki membawa kesenangan tersendiri bagi Edward. Ia pun segera membalas pesan om Herman.


*From Edward to Om Herman


Iya om, saran dari saya hukumannya gak boleh bawa motor selama 1 minggu aja om. Dia berangkat dan pulang sekolah naik angkot aja, lumayan kan om buat irit ongkos daripada naik taksi.


Iya om gak papa, terimakasih atas doanya*.


Tak lama kemudian ponsel Edward kembali berbunyi menandai ada sebuah pesan yang masuk.


*Om Herman


Boleh juga saran kamu Ed, nanti om bakal hukum dia kayak gitu.


Iya, sama-sama*


Edward yang membaca pesan dari om Herman hanya senyum-senyum sendiri, membayangkan Rifki yang naik angkot saat pergi dan pulang sekolah saja sudah mampu membuatnya merasa ingin tertawa terpingkal-pingkal. Bayangkan saja, orang yang biasanya keren membawa motor ninja sekarang harus naik angkot untuk berangkat dan pulang sekolah. Rifki yang melihat temannya cekikikan tidak jelas hanya pasrah, Ia yakin kalau Edward sedang merencanakan sesuatu yang sialnya itu menjadi malapetaka baginya.


"Seneng ya habis ngerjain temen!" ucap Rifki.


"Banget! Rasanya tuh kayak ada manis-manisnya gitu,"


"Yeu malah ngiklan lo di sini Bejo,"


"Bejo bintang tuju, wes ewes ewes bablas angine."


"Ngapain lo lanjut ngiklan Joko,"


"Nama gue Situbondo, kenapa jadi Joko."


"Terserah lo, lama-lama gue bisa jadi gila kalo ngomong sama lo terus."


"Gue juga bisa gila kalo ngomong sama lo terus,"


Tak ada yang mau mengalah di antara keduanya, hingga dering ponsel Rifki membuat mereka berdua mengalihkan perhatiannya. Tertera nama Ayah di layar ponselnya, Rifki menelan ludahnya kasar. Oh tidak, mimpi buruknya akan segera terjadi. Dengan pasrah Rifki mengangkat panggilan dari Ayahnya, sedangkan Edward yang melihat wajah masam Rifki sudah menduga bahwa yang memanggilnya adalah Ayahnya. Edward menahan tawanya ketika melihat wajah takut-takut Rifki yang menjawab panggilan Ayahnya, senangnya oh senangnya hati ini.


"Halo," ucap Rifki.


"Kamu kapan pulang?" jawab Ayahnya di seberang sana.


"Nanti malam Yah, sekitar jam 8 udah nyampe rumah kok."


"Bagus, nanti Ayah mau bicara sama kamu."


"Iya Yah," jawab Rifki pasrah.


"Ya sudah, Ayah lanjut kerja dulu."


"Siap Yah, yang semangat ya." yang hanya di jawab deheman oleh Ayahnya.


Setelah memutus panggilan dari Ayahnya, Rifki menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Edward yang melihat sahabatnya seperti itu hanya tertawa dalam hati, memang ya sabahat dalam keadaan susah dia malah tertawa bukannya membantu. Ini sih namanya bahagia di atas penderitaan orang lain! Rifki kadang bingung dengan sikap Ayahnya kenapa Ayahnya lebih mempercayai Edward daripada Ia yang notabennya adalah anaknya sendiri. Ini yang anak kandungnya siapa sih? Edward atau Ia. Sudahlah memikirkan itu membuat Rifki tambah pusing saja, Ia lebih memilih untuk merebahkan dirinya di atas sofa mengumpulkan energi untuk menghadapi Ayahnya nanti di rumah. Yang salah Edward dia yang kena hukumannya, dasar sahabat laknat. Tunggu saja nanti pembalasannya, tentu saja Rifki tidak akan diam saja setelah Ia di tuduh oleh Edwrad. Tidak afdol rasanya jika tidak membalas, iya toh? Toh.


Perlahan Rifki memejamkan matanya dan mulai memasuki dunia mimpi, hal yang sama pun di lakukan oleh Edward. Tak lama kemudian mereka berdua sudah terlelap di dunia mimpinya masing-masing, cukup lama mereka berdua tertidur. Hingga suara derit pintu membuat tidur Edward sedikit terusik, Ia pun perlahan membuka matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retina matanya. Tampak seorang dokter yang seusia Ayahnya sedang berdiri sembari tersenyum hangat ke arahnya.


"Maaf mengganggu istirahatnya, saya hanya ingin memeriksa keadaan anda." ucap dokter tersebut masih dengan senyuman yang terpatri di bibirnya.


"Silakan," jawab Edward dengan ramah.


Dokter itu pun segera memeriksa keadaan Edward, dokter itu memberi tahu Edward bahwa Ia besok sudah di perbolehkan untuk pulang. Setelah selesai dokter itu segera keluar dari ruangannya karena masih banyak pasien yang harus Ia tangani. Edward hanya mengangguk sebagai jawaban, Ia pun melanjutkan tidurnya kembali.