
...'Otak terkadang selalu mengandalkan logika dan menampik rasa yg di berikan oleh hati.'...
...----------------...
Edward memperbaiki posisi duduknya, sudah satu jam lebih Ia hanya men scroll instagram. Semua post terbaru yang muncul di layar bercandanya pun sudah Ia like semuanya. Karena kebanyakan akun-akun yang di ikuti oleh Edward adalah akun-akun yang berbau pendidikan, beda hal nya dengan akun instagram Rifki. Sudah pasti yang muncul pertama kali di layar beranda lelaki itu adalah akun-akun yang berbau k-pop, entah apa namanya Edward tidak mau tau.
Edward mengernyit ketika sebuah pesan masuk, setelah melihat pengirimnya. Edward memutar bola matanya, dengan malas Edward membuka pesan yang Setan Halu alias Rifki kirimkan.
Setan Halu
Misi kang pos lewat,
^^^/tutup pintu^^^
Ciah yg udh bsa pake garis miringš¤£
^^^Gk denger tutup mata^^^
Bukannya hidung ya?
^^^Suka" gw lah, knp lo yg repot!^^^
Kalem, gw cuma mau ngasi tau sesuatu,
^^^Plng berita yg gk penting,^^^
Weh!
Jan salah, ini berita penting, aktual dan terpercaya!
Karna gw udh liat langsung!
^^^Plng, ayam lahiran.^^^
Bukan!
Gk cayaan bngt lo sama gw,
^^^Gmn mau prcya, biasanya jg gtu kan?^^^
Udh gw blng, ini tuh bedaš
^^^Y udh apaan?^^^
^^^Cpt ksi tau^^^
^^^Aws aj klo gk pnting,^^^
^^^Gw tenggelemin lo ke kolam hiu!^^^
Sabar, gw cari posisi yg pas dlu buat kirim bukti
^^^Cpt!^^^
Rifki send a picture
^^^Read^^^
Edward menatap lamat-lamat foto yang baru saja Rifki kirimkan padanya. Dapat Ia lihat, Sam dan juga Rayla yang tengah berduaan di tengah gramedia. Entah kenapa, rasa tidak suka langsung menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Gimana?
Gw gk ngadi" kan?
^^^Lo dmn?^^^
Di atas bumi,
Di bawah langit
^^^Gw serius!^^^
Eits,
Kalem bro
Gw lagi iseng aj main ke mall
Biasa, nyari cewek, sapa tau ad yg kepincut ma gw
Eh, gk sengaja nemu ketua osis
Yg lgi ke gramed berduaan
^^^Mall dmn?^^^
Deket taman kota
^^^Tunggu gw,^^^
Mau kmn lo?
^^^Gw nyusul lo ke sana!^^^
Ahsiap!
^^^Read^^^
Rifki ter kikik geli melihat pesan terakhir yang Edward kirimkan padanya. Dengan santai Ia memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jaketnya kemudian melangkah menuju salah satu kafe yang ada di dekat parkiran. Supaya nanti Edward mudah menemukan keberadaanya.
"Buset, cepet bener lo nyampenya," ucap Rifki yang terkejut melihat Edward yang sudah ada di hadapannya.
"Baru juga dua puluh menit," jawab Edward santai.
"Baru lo bilang?! Astaga, lo gak nyadar jarak ini mall ke apartemen lo itu lumayan jauh."
"Terus?" tanya Edward sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Udah ah, males gue jelasinnya," jawab Rifki kesal.
"Baguslah," ucap Edward kemudian melangkah memasuki mall.
Rifki mendengus, kemudian mengikuti langkah Edward.
"Mau kemana lo?" tanya Rifki.
"Ke gramed," jawab Edward singkat.
Rifki tersenyum menggoda ketika mendengar ucapan Edward, "Mau ngapain lo hayo?!"
"Berenang!" jawab Edward asal.
"Berenang dalam api kecemburuan maksud lo?" tanya Rifki jail.
Edward tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar ucapan Rifki, sedangkan Rifki tertawa terbahak-bahak melihat Edward yang nampak sangat terkejut mendengar ucapannya. Tak jarang pengunjung yang lain menatap aneh ke arah Rifki, tapi ya mau bagaimana lagi. Urat malunya sudah tidak terdeteksi.
Edward mempercepat langkahnya, Ia menyadari bahwa Rifki menjadi pusat perhatian karena tertawa begitu lepas di tengah mall yang ramai pengunjung itu. Kasian, padahal masih muda.
Edward melangkahkan kakinya ke dalam gramedia yang nampak lumayan lenggang itu, sedangkan Rifki Ia masih setia mengikuti kemanapun langkah Edward pergi.
"Lo nyari Rayla?" tanya Rifki.
Edward tanpa sadar mengangguk, setelah beberapa detik Ia menggelengkan kepalanya.
"Enggak, gue mau cari buku," kilah Edward cepat.
"Udah deh gak usah ngibul lo!" ucap Rifki yang jengah melihat tingkah Edward yang seakan-akan tidak peduli padahal nyatanya. Yah kalian tau sendiri lah.
"Siapa yang ngibul sih," ucap Edward yang masih berusaha untuk berkilah.
"Dah lah, males gue. Mending lo samperin aja sono si Rayla sama si Sam," ucap Rifki sembari meng kode Edward agar melihat ke arah samping kirinya.
Edward menurut ketika Rifki meng kode dirinya agar menoleh ke samping kiri, dapat Ia saksikan Rayla dan Sam yang tengah tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawai, padahal tidak ada yang lucu. Iri? Bilang bos!
"Kalo lo gak mau nyamperin ya udah biar gue aja yang nyamperin," ucap Rifki kemudian langsung melenggang pergi menuju tempat Rayla dan Sam berdiri.
"Hai Ay, Sam, berdua aja nih?" sapa Rifki santai. Ia pun berpura-pura memilih buku yang ada di rak sebelah mereka.
Rayla terkejut begitu juga dengan Sam, bagaimana bisa Rifki ada di sini?
"Hai, kok lo bisa ada di sini?" jawab Rayla ketika sadar dari keterkejutannya.
"Jalan-jalan, kebetulan otak gue lagi bener makanya mampir ke sini," jawab Rifki asal.
"Lo sendiri ke sini?" tanya Rayla lagi.
Rifki menggeleng, "Enggak, tuh sama Edward," ucap Rifki sembari mengarahkan pandangannya ke arah Edward.
Edward yang merasa dirinya di bawa-bawa dalam percakapan mereka pun, mendekat ke arah mereka. Buset, kuat bener ilmu telepati nya.
"H-hai," sapa Rayla gugup ketika Edward sudah ada di hadapannya.
Edward hanya berdehem pelan menjawab sapaan Rayla.
"Udah ketemu belum bukunya?" tanya Edward kepada Rifki sembari memberi kode agar mengikuti scenario yang Ia buat.
Rifki cengengesan sebelum menjawab, "Kayaknya otak gue udah normal lagi Ed. Setelah beberapa menit di tempat orang pinter, jadi gue batal beli bukunya."
Untung Rifki connect, coba aja enggak. Ambyar sudah.
Edward hanya menatap Rifki, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah deretan buku yang tersedia di sana.
"Nyari makan yuk Ed, gue laper," celetuk Rifki.
"Bayar sendiri tapi," jawab Edward.
"Pelitnya gak pernah ilang ma temen sendiri," cibir Rifki.
Edward hanya menggidikkan bahunya acuh mendengar cibiran Rifki.
"Sekalian yuk Ay, kita makan malam sama-sama," ajak Rifki kepada Rayla.
"Gue sih ok, tapi-," ucap Rayla sembari melirik Sam.
"Gapapa, kita makan malem bareng mereka aja," jawab Sam sembari tersenyum.
"Nah mumpung Sam udah setuju, jadi cus lah kita cari makan," ajak Rifki dengan semangat. Urusan makan aja, semangat kao bang!
"Tapi tunggu bentar, gue mau bayar novel yang Ayla mau beli dulu," ucap Sam.
"Ok, gak masalah. Kita tunggu di depan," jawab Rifki.
Sam mengangguk kemudian berjalan menuju kasir di ikuti oleh Rayla untuk membayar novel yang sudah Rayla pilih tadi. Sempat terjadi perdebatan di antara mereka ketika memutuskan siapa yang akan membayar novel yang Rayla ingin beli. Setelah mengalami perdebatan yang cukup lama, akhirnya Rayla mengalah dan membiarkan Sam untuk membayar novel yang Ia inginkan.
Setelah selesai dengan urusan bayar membayar novel, mereka pun menghampiri Edward dan Rifki untuk mencari makan malam bersama.