Please Feel My Love

Please Feel My Love
Beginning



...'Aku memilih diam, karena aku sadar dengan posisi ku saat ini.'...


...----------------...


Rayla meletakkan kembali ponsel nya ke atas nakas. Baru saja Edward menghubunginya dan memberitahu bahwa Ia besok tidak bisa berangkat bersama. Rayla menghembuskan nafas, pikirannya mulai berkelana ke kejadian kemarin malam, yang dimana Ia menyaksikan sendiri bagaimana kedekatan antara Bela dan Edward. Entah kenapa, mood Rayla tiba-tiba memburuk saat mengingat kembali kejadian itu. Tak ingin semakin terlarut dalam perasaan aneh yang tiba-tiba muncul menggerogoti pikirannya, Rayla lebih memilih untuk segera masuk ke dalam dunia mimpi.


Pagi harinya, Rayla terbangun lebih awal dari kebiasaannya bangun pagi. Ia pun, bangkit dan berjalan menuju kamar mandi guna melaksanakan ritual paginya. Selang dua puluh menit kemudian, Rayla telah siap dengan balutan seragam sekolah miliknya. Ia pun turun ke bawah, guna membantu sang Ibunda.


"Tumben banget kamu jam segini udah rapi," ucap Aleta ketika melihat Rayla yang telah selesai bersiap.


"Emang enggak boleh?"


Aleta menggelengkan kepalanya, "Bukan gitu, cuma tumben aja. Apa Edward bakal jemput lebih pagi? Inikan hari senin."


Rayla menggelengkan kepalanya, "Edward enggak jemput Rayla hari ini, katanya ada urusan."


Aleta menoleh ke arah Rayla, "Terus kamu mau berangkat sama siapa? Pak Santoso?"


"Ayla berangkat sama Devan aja tan," ucap Devan yang tiba-tiba muncul.


"Tante sih yes, tapi gak tau kalau si Ayla, dia mau atau enggak."


"Gue nebeng lo aja," putus Rayla.


Devan mengacungkan jempolnya, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Tak lama kemudian, Theo bergabung ke meja makan. Mereka pun menikmati sarapan bersama, dengan hening. Devan terlebih dahulu menghabiskan sarapannya, Ia pun mendesak Rayla agar cepat selesai.


"Lo niat nganterin gue enggak sih?" tanya Rayla ketika sudah duduk di kursi penumpang yang ada di mobil milik Devan.


"Setengah niat sih. Cuma biar kelihatan jadi sepupu yang baik aja sih di depan nyokap lo," jawab Devan santai.


"Dasar pencitraan," cibir Rayla, sedangkan Devan hanya terkekeh.


"By the way, biasanya lo berangkat bareng siapa kalau enggak sama gue?"


"Sama Edward," jawab Rayla jujur.


Devan menoleh sekilas ke arah Rayla, "Emang lo ada hubungan apa sama dia?"


"Cuma temen doang."


Devan terkekeh mendengar jawaban Rayla, "Mana ada yang hubungannya cuma temen doang, tapi antar jemput hampir tiap hari."


"Ada. Buktinya gue," jawab Rayla meski agak ragu.


Devan tertawa, "Siapa ya, yang waktu malam minggu kemarin, tiba-tiba ngajak pulang dengan alasan kepala pusing, padahal ternyata dia lagi liat pangeran kesayangannya lagi berduaan sama seseorang."


Rayla membulatkan matanya mendengar ucapan Devan, "Gak usah ngarang deh lo! Kepala gue beneran pusing pas itu."


"Emang gue bilang, kalau yang gue maksud itu lo?"


Skak mat!


"Tapi omongan lo mengarah ke gue."


"Beneran pusing lo pas itu? Tapi kok, gue liat lo maraton nonton drakor sampai jam tiga pagi setelah pulang dari taman?" seringai Devan.


Rayla memejamkan matanya, "Pusing gue dah hilang pas makan jagung bakar."


"Ngeles aja terus!"


"Terserah lo deh. Tapi gue ingetin sama lo, kalau sampai Edward berani nyakitin lo, gue gak bakal segan-segan ngehajar dia," ucap Devan serius.


Rayla menatap Devan, "Thanks."


Devan hanya diam, kemudian tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Devan sampai di sekolah Rayla.


"Thank you. Gue masuk dulu," ucap Rayla sembari membuka seat belt yang menahan tubuhnya.


Devan mengangguk, "Belajar yang bener. Jangan cuma ngurusin oppa-oppa lo doang."


Rayla memutar bola matanya malas, "Lo juga. Kuliah yang bener, jangan cuma mikirin koleksi cewek lo."


Devan terkekeh, "Iya. Sana keluar, gue mau berangkat."


Rayla mengangguk dan segera keluar dari mobil milik Devan, Rayla melambaikan tangannya sebelum benar-benar masuk ke gerbang sekolah. Tak ayal, beberapa anak perempuan berbisik-bisik, dengan siapa Rayla berangkat kali ini. Pasalnya, belakangan ini Rayla selalu datang dan pulang bersama dengan Edward. Rayla yang mendengar gosip tentang dirinya pun, lebih memilih untuk diam dan melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas.


Langkah Rayla terhenti, ketika sebuah motor yang sangat Ia kenali melintas di sampingnya. Siswi perempuan yang berada di dekat area parkir tersebut, sontak memekik ketika Edward datang dengan membonceng Bela. Sedangkan Rayla hanya diam, ketika melihat Edward membantu Bela membuka helm yang dikenakan oleh gadis itu.


Edward sempat melihat ke arah Rayla, dan Rayla pun membalas tatapan Edward. Pandangan mereka bertemu, tetapi tak lama kemudian Edward langsung memutus kontak mata mereka dan menggandeng Bela untuk memasuki area gedung sekolah. Sedangkan Rayla hanya tersenyum tipis, dan melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti.


Rifki yang baru saja turun dari atas motornya, dan sontak berlari mengejar langkah Rayla yang jauh di depan, tentu saja setelah Ia melepas helm yang Ia kenakan. Tadi, Ia sempat melihat jika Edward berangkat bersama dengan seorang gadis, awalnya Rifki kira itu Rayla. Tetapi setelah memperhatikan ransel yang digunakan oleh gadis tersebut, Rifki sadar. Gadis yang berangkat bersama Edward bukanlah Rayla.


"Ay tunggu," teriak Rifki.


Rayla pun sontak menghentikan langkahnya ketika merasa seseorang memanggil namanya. Dahi Rayla berkerut, ketika melihat Rifki yang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa.


"Kenapa?" tanya Rayla ketika Rifki sudah sampai di hadapannya.


"Lo berangkat bareng siapa barusan?" tanya Rifki setelah berhasil mengatur nafasnya.


"Sama Devan," ucap Rayla kemudian melangkah menjauhi Rifki. Rifki pun segera menyusul Rayla.


"Enggak berangkat bareng Edward?"


Rayla menggeleng, "Dia berangkat bareng Bela barusan."


Mata Rifki membola ketika mendengar penuturan Rayla, "Serius? Kok bisa?"


Rayla menggidikkan bahunya, "Enggak tau."


Rifki memilih diam ketika mendengar jawaban Rayla. Sampai di kelas, Rifki langsung bergegas menuju kursinya yang ada di depan kursi Edward. Dengan cepat Rifki melempar tasnya ke atas meja, kemudian langsung duduk menghadap ke arah Edward.


"Lo berangkat bareng Bela?" tanya Rifki to the point.


Edward mengangguk sebagai respon.


"Kok bisa?" tanya Rifki penasaran.


"Bukan urusan lo," balas Edward dingin.


Rifki terdiam ketika mendengar nada bicara Edward yang dingin. Sebenarnya ada apa antara Edward dan Rayla. Apa mereka sedang terlibat suatu permasalahan?


"Lo lagi ada masalah sama Rayla?" tanya Rifki yang tak mampu membendung rasa penasarannya.


"Udah gue bilang, bukan urusan lo," ucap Edward dengan penuh penekanan.


Rifki diam, kemudian lebih memilih untuk memutar posisi tubuhnya menjadi menghadap ke arah papan tulis. Rifki menoleh ke arah Rayla yang kini tengah mengeluarkan buku dari dalam tas miliknya. Kemudian, melirik ke arah Bela dan Edward. Rifki jadi bertanya-tanya dalam benaknya, sebenarnya apa yang tengah terjadi di antara ketiga orang tersebut?