Please Feel My Love

Please Feel My Love
Sukarelawan CCTV Taman



...'Jangan suka menyimpulkan sesuatu secara terburu-buru. Cari tau dulu sebab akibatnya, bila perlu sampai ke akar-akarnya. Kalau sudah dapat semua bukti, baru boleh berspekulasi apa yang sebenernya terjadi.'...


...----------------...


Edward memandang jengah Rifki yang saat ini hanya duduk dan memperhatikan sekitarnya, yup Edward menyetujui untuk ikut dengan acara Rifki yaitu joging di pagi hari. Padahal kalau boleh jujur, Edward lebih senang di rumah saja melakukan aktivitasnya seperti membersihkan apartemen, rebahan, dan belajar. Bukan, bukan karena Edward yang tidak suka olahraga. Masalahnya sebenarnya ada di Rifki, Ia hanya menjadikan mengajaknya joging sebagai kedok untuk menutupi niat aslinya. Bersahabat bertahun-tahun dengan Rifki membuatnya sangat hafal bagaimana tabiat sahabatnya itu.


"Lo mau jadi cctv gratis di taman ini sampai kapan?" tanya Edward yang sudah jengah menunggu Rifki. Yup inilah yang Edward maksud, Rifki tidak benar-benar ingin olahraga. Ia hanya ingin mencuci matanya dengan melihat banyaknya gadis-gadis bening yang berolahraga di hari minggu.


"Nanggung Ed, bentar lagi," jawab Rifki tanpa melepaskan pandangannya dari seorang gadis yang saat ini tengah melalukan peregangan tak jauh dari tempatnya berada.


Edward menggeplak tangan Rifki ketika mendengar jawaban sahabatnya itu. Rifki memekik kaget akibat serangan geplakan yang tidak Ia duga akan terjadi.


"Sakit tau!" ucap Rifki dengan wajah kesalnya.


"Mending gue pulang daripada di sini! Joging enggak kepanasan iya," ucap Edward yang sudah bersiap-siap akan kembali ke rumahnya.


"Eits, jangan dong! Lo gak kasian sama bensin lo? Lumayan loh Ed, uang buat beli bensin kalo abis," tanya Rifki.


"Itu juga gara-gara lo! Jadi kalau ntar bensin gue abis, lo yang harus tanggung jawab!"


"Ah susah debat sama orang pinter, ya udah ayok!" ucap Rifki kemudian bangkit dari kursi taman yang Ia duduki tadi.


"Dari tadi kek!" gerutu Edward.


Akhirnya mereka berdua pun melakukan joging bersama, baru saja dua putaran Rifki sudah mengeluh capek dan ingin beristirahat.


"Ini taman seluas matahari kali ya, gila gue baru joging dua kali aja udah ngos-ngosan kayak gini," keluh Rifki. Sedangkan Edward mendengus kesal mendengar ucapan Rifki.


"Bukan, tamannya seluas gurun sahara!" jawab Edward.


"Kok lo tau? Lo udah pernah ke sana emangnya?" tanya Rifki heran. Tiati Rif, Edward kang kibul!


"Bahkan gue pernah bermalam di sana," jawab Edward tenang.


"Serius lo?! Kapan? Kok nggak ngajak gue sih! Kan gue juga mau ikut, sekalian liat unta," ucap Rifki.


"Ngapain jauh-jauh liat unta? Di sini juga ada unta kali," jawab Edward dengan senyum penuh arti. Hmm, perasaan Rifki mulai gak enak nih!


Rifki berusaha mencerna maksud dari ucapan Edward, tetapi memang dasarnya otaknya yang lemot. Dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Edward.


"Di sini taman Ed, bukan kebun binatang," jawab Rifki setelah berpikir sejenak. Rifki bisa mikir juga?


"Untanya kan lo, ngapain juga lo jauh-jauh ke gurun sahara buat liat unta," ucap Edward sembari menahan tawanya karena melihat wajah Rifki yang berubah masam.


"Jahat bener lo! Muka mirip Kim Tae-hyung Bities lo sama-sama in sama unta!" rajuk Rifki. Excuse me, is this a joke?


Edward hanya tertawa mendengar ucapan Rifki, sedangkan Rifki. Ia memandang lekat satu objek yang ada di belakang Edward.


"Ed, itu Rayla bukan?" tanya Rifki sembari menunjuk objek yang Ia maksud dengan jari telunjuknya.


Edward pun refleks berhenti tertawa dan mengikuti kemana arah jari telunjuk Rifki mengarah. Dapat Ia lihat Rayla yang sedang duduk dengan seorang laki-laki yang duduknya memunggungi nya sehingga Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa wajah laki-laki yang bersama Rayla. Eh laki-laki?


"Oy!" ucap Rifki sembari menyenggol tangan Edward karena Ia tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaannya barusan.


"Apa?!" jawab Edward nge gas.


"Eits, santai dong mas bro gak usah nge gas."


Edward mendengus mendengar ucapan Rifki, "Gue mau pulang," ucap Edward kemudian langsung melangkah menuju tempat di mana Ia memarkir motornya tadi.


"Eits, tunggu dulu!" ucap Rifki sembari menarik baju bagian belakang Edward.


"Mau apa lagi sih?!" jawab Edward keki.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Rifki langsung menyeret Edward untuk mendekat ke tempat di mana Rayla dan laki-laki itu berada.


Edward pun memberontak ingin melepaskan diri, tetapi bukan Rifki namanya kalo Ia tidak punya cara untuk membuat Edward tunduk. Ia pun mengapit kepala Edward di bawah ketiaknya. Edward mengerang kesal, bisa-bisanya si kutu kupret malah mengapit kepalanya di bawah ketiaknya. Awas saja nanti rambut Edward rontok semua karena ulah Rifki, bisa Edward pastikan Rifki akan mendapat hukuman darinya!


"Ay, bareng siapa? Pacar?" tanya Rifki yang kini sudah ada di dekat Rayla. Ia pun melepaskan kepala Edward dari bawah ketiaknya dan membiarkan Edward merapikan rambutnya yang terlihat awut-awutan tetapi tidak mengurangi kadar ketampanannya. Malah Ia menjadi semakin tampan jika rambutnya sedang awut-awutan.


Rayla menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya, "Enggak, dia bukan pacar gue."


"Kamu kok ngomongnya gitu? Aku kan pacar kamu," jawab lelaki yang ada di sebelah Rayla. Rayla memutar bola matanya malas mendengar ucapan lelaki yang notabenenya adalah sepupunya itu.


Rifki mengerutkan keningnya bingung mendengar dua jawaban yang bertolak belakang dari dua manusia yang ada di hadapannya. Sedangkan Edward, Ia mendengus. Merasa seperti tidak di anggap ada di sana, padahal segini gede badannya apa tidak terlihat?


"Jangan percaya omongannya dia, suka gak bener soalnya," ucap Rayla yang seakan mengerti dengan kebingungan Rifki.


"Tega bener lo ngatain gue!" ucap lelaki tersebut dengan wajah kesalnya.


Rayla hanya menggidikkan bahunya acuh, kemudian memperkenalkan lelaki yang sedang bersamanya saat ini.


"Kenalin ini Devan, sepupu gue," ucap Rayla.


"Hai bro, kenalin gue Devan," ucap Devan sembari menjabat tangan Rifki.


"Rifki, temen sekelasnya Rayla," ucap Rifki.


Devan pun beralih menatap Edward yang ada di samping Rifki.


"Devan," ucap Devan sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Edward dan di sambut jabatan tangan oleh Edward.


"Edward," jawab Edward sembari melepaskan jabatan tangannya.


"Rif, Ed. Gue sama Devan pamit dulu, ada urusan mendesak," ucap Rayla sembari menarik-narik baju Devan agar segera mengikutinya.


"Palingan juga urusan perut," cibir Devan. Ia pun mendapatkan sebuah giveaway cubitan di lengannya dari Rayla.


"Gak usah banyak omong, ayo cepetan!" rengek Rayla. Sedangkan Devan hanya terkekeh melihat wajah Rayla sekarang.


"Iya-iya, gue duluan ya bro," ucap Devan yang kemudian hanya diangguki oleh Rifki tidak dengan Edward. Ia hanya melihat interaksi antara Rayla dan Devan dengan pandangan yang sulit di artikan.