
...'Balon hijau meledak aja bisa bikin hati aku kacau, apalagi liat kamu sama yang lain.'...
...----------------...
Rayla mengerutkan keningnya bingung ketika motor yang Edward kendarai masuk ke pelataran parkir restoran cepat saji. Ia pun mencondongkan badannya ke depan agar dapat berbicara dengan Edward.
"Ngapain ke sini?" tanya Rayla dengan sedikit berteriak.
"Mancing lumba-lumba," jawab Edward asal.
Rayla pun berdecak kesal kemudian memukul pundak Edward sedikit keras, "Gue lagi gak mood bercanda."
Edward tertawa mendengar ucapan Rayla, setelah memarkirkan motornya dan melepas helm yang Ia kenakan. Edward pun menolehkan kepalanya ke arah belakang.
"Turun," ucap Edward sembari memperhatikan Rayla.
Rayla dengan terpaksa turun dari atas jok motor Edward, ya dia cuma nebeng bisa apa?
Setelah Rayla turun, Edward pun segera menyusulnya kemudian langsung menarik tangan Rayla untuk memasuki restoran cepat saji tersebut. Sedangkan Rayla hanya bisa pasrah mengikuti langkah Edward.
Setelah mereka berdua duduk berhadapan di salah satu meja yang terdapat di dalam restoran cepat saji tersebut, Edward pun memanggil salah satu karyawan guna mencatat pesanannya. Setelah menyebutkan pesanannya, pelayan tersebut pun pamit undur diri. Kini hanya tinggal mereka berdua yang terdiam satu sama lain.
Edward berdehem guna menghilangkan keheningan yang menyelimuti mereka, otaknya bekerja ekstra guna mencari topik obrolan.
"Lo ada hubungan apa sama Sam? Kok kayaknya deket banget," akhirnya pertanyaan yang selama ini menjadi tanda tanya besar di otak Edward berani Ia tanyakan.
"Temen doang," jawab Rayla sekenanya.
"Cuma itu?" tanya Edward yang nampaknya kurang puas dengan jawaban Rayla.
"Ya terus?" tanya Rayla kembali.
Edward membuang muka, apakah Ia harus dengan gamblang menyebutkan bahwa Ia ingin tahu ada hubungan apa antara Sam dan Rayla selain pertemanan?
"Yakin cuma temen doang? Temen kok nganter jemput terus jalan bareng," ucap Edward.
"Kok lo tau Sam jemput gue?" tanya Rayla dengan mata yang memicing curiga.
Untung Edward sudah terlatih dalam hal kibul mengibul, karena Ia sangat sering mengerjai Rifki.
"Gosipnya udah nyebar kemana-mana, gue denger dari temen-temen sekelas," jawab Edward santai.
Rayla mengangguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti.
"Baru berangkat bareng sekali aja udah nyebar gosipnya, gimana kalo setiap hari," gumam Rayla yang masih dapat di dengar oleh Edward.
"Maksud lo, lo bakal berangkat bareng sama Sam setiap hari?" tanya Edward dengan wajah kesalnya.
Rayla mengangguk polos sebagai jawabannya. Edward pun berdecak tidak suka dengan fakta yang baru Ia ketahui itu.
"Jangan berangkat bareng sama dia," ucap Edward serius.
"Loh kenapa?" tanya Rayla bingung.
"Gue gak suka," jawab Edward spontan. Edward merutuki dirinya sendiri ketika kalimat tersebut keluar dari mulutnya. Sedangkan Rayla terkejut mendengar jawaban Edward. Untung saja pelayan segera datang membawa pesanan mereka hingga dapat mengalihkan sejenak perhatian mereka. Mereka menyantap makanannya dengan hening, tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka berdua diam, hanyut ke dalam pikiran mereka masing-masing.
Setelah selesai makan, Edward pun meminta bill tagihan untuk membayarnya. Sempat Ia melirik sejenak ke arah Rayla, tetapi Rayla tidak menyadari hal tersebut karena Ia sibuk menundukkan kepalanya.
"Ayo pulang," ajak Edward ketika dirinya sudah selesai melunasi bill.
Rayla mendongak kemudian hanya mengangguk sebagai jawabannya, Ia pun mengikuti langkah Edward keluar menuju tempat parkir. Setelah Edward selesai mengenakan helm nya, Rayla pun naik ke jok belakang motor Edward dengan cara memegang bahu Edward.
Tak lama kemudian, motor yang Edward kendarai sudah bergabung dengan kendaraan darat lainnya. Di perjalanan hanya suara angin dan teriknya mentari di sore hari yang menemani perjalanan mereka. Ketika sudah akan memasuki komplek perumahan Rayla, Edward pun akhirnya membuka suara.
"Mampir beli martabak dulu ya," ucap Edward berteriak agar Rayla dapat mendengar ucapannya.
Edward pun menepikan motornya guna memberi martabak yang ada di dekat komplek Rayla.
"Bang beli martabaknya dua bungkus ya," ucap Edward kepada penjual martabak tersebut. Sedangkan Rayla menunggu di dekat motor Edward. Setelah menunggu hampir lima belas menit, pesanan Edward pun jadi. Setelah membayar nominal angka yang di sebutkan oleh penjual, Edward pun segera menghampiri Rayla kemudian menjalankan kembali motornya menuju rumah Rayla.
"Makasih untuk traktiran dan tumpangannya," ucap Rayla ketika dirinya sudah diantar dengan selamat sampai ke tujuan.
"Sama-sama," ucap Edward.
"Gue masuk dulu," ucap Rayla kemudian langsung berbalik menuju gerbang rumahnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika Edward menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa?" tanya Rayla dengan kening yang mengkerut bingung.
"Buat lo," ucap Edward sembari menyodorkan sebungkus martabak yang Ia beli tadi.
"Buat gue?" tanya Rayla memastikan.
"Iya."
"Lo mau buat gue gendut?" tanya Rayla dengan mata yang memicing curiga.
Edward menatap Rayla bingung, sedangkan Rayla menghembuskan nafasnya ketika menyadari Edward tidak mengerti dengan maksud kalimatnya.
"Tadi lo ngajak gue makan, sekarang lo ngasi gue martabak. Kalo gue gendut lo mau tanggung jawab?"
"Bukan urusan gue."
"Jelas urusan lo, kan lo yang ngasi gue makanan dari tadi," ucap Rayla kesal.
"Baru sekali, belum setiap hari," jawab Edward santai.
"Buat lo aja itu martabaknya," ucap Rayla menolak halus makanan pemberian Edward.
"Ya kali gue ngabisin martabak dua bungkus sendirian," jawab Edward sembari menggelengkan kepalanya.
"Udah tau gitu, kenapa lo beli dua bungkus. Harusnya lo beli sebungkus aja," ucap Rayla yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Edward.
"Terserah gue lah, uang juga uang gue."
"Dah lah, ngomong sama lo buat gue pusing," ucap Rayla jengah.
Edward menganggukan kepalanya, "Sama gue juga pusing kalo ngomong sama lo."
Mata Rayla melotot sempurna mendengar ucapan Edward, dan tanpa pikir panjang Rayla memukul pundak Edward cukup keras hingga Edward memekik. Memekik bukan karena sakit, tetapi karena terkejut dengan tindakan bar-bar Rayla.
"Ngapain lo mukul gue sih?!"
"Terserah gue lah, tangan juga tangan gue," ucap Rayla yang membalikkan perkataan Edward tadi. Sedangkan Edward hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rayla. Lucu, satu kata yang terlintas di pikiran Edward yang tanpa sadar membuatnya menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Rayla yang melihat Edward tersenyum sembari menatapnya, malah merasa ngeri.
"Ngapain lo senyam senyum gitu? Lo gak kesurupan kan?" tanya Rayla bertubi-tubi.
Edward menyentil kening Rayla, "Gak usah ngaco kalo ngomong."
Rayla mengelus keningnya yang baru saja menjadi sasaran tangan jail Edward.
"Sakit tau! Lo mau tanggung jawab kalo seumpama nanti tumbuh jerawat di kening gue?!" amuk Rayla.
Edward menggidikkan bahunya acuh, menanggapi amukan Rayla.
"Udah sana masuk, nih inget di makan," ucap Edward sembari menarik tangan Rayla dan meletakkan sebungkus martabak ditangannya. Setelah itu, Ia pun mendorong pelan tubuh Rayla agar segera memasuki pekarangan rumahnya.
Melihat Rayla yang sudah siap melayangkan protes padanya, dengan cepat Edward mengenakan helmnya dan menghidupkan mesin motornya.
"Gue pulang dulu, jangan lupa di makan martabaknya!" usai mengatakan hal tersebut Edward langsung melajukan motornya, meninggalkan Rayla yang tengah menggerutu kesal akibat ulahnya.