Please Feel My Love

Please Feel My Love
Berangkat Bareng



...'Do you feel what I feel?' ...


...----------------...


Dua hari telah berlalu sejak Sam mencegatnya di tengah jalan dengan sangat menyebalkan. Tak terasa weekend telah berakhir, yang artinya hari ini adalah hari senin. Dimana semua orang harus kembali beraktivitas seperti biasa, setelah menghabiskan waktu liburan singkatnya.


Jam baru saja menunjukkan pukul setengah enam pagi, tapi Edward sudah duduk manis di sofa ruang tamu milik keluarga Rayla. Bahkan sepertinya Rayla belum selesai mengarungi dunia mimpinya. Tujuannya? Sudah pasti mengajak gadis itu untuk berangkat bersamanya. Kemarin Ia sempat mengajak Rayla untuk berangkat bersamanya, tetapi gadis itu menolak dengan alasan tidak mau menjadi bahan gosip penggemar fanatik Edward. Padahal Edward sudah meyakinkan Rayla, bahwa mereka tidak akan berani menyakitinya selagi ada Edward. Tapi Rayla tetap saja tidak mau. Akhirnya muncullah ide ini, yaitu datang menjemputnya disaat matahari belum muncul dari persembunyiannya.


"Kamu bangunin aja Rayla ke kamarnya Ed," ucap Mama Rayla yang muncul dari arah dapur.


"Gapapa tan kalau saya masuk?" tanya Edward.


Mama Rayla tersenyum menggoda, "Gapapa. Kan calon pacarnya."


Edward tersenyum canggung, "Ya udah tan, Edward bangunin Rayla dulu."


"Iya, nanti keburu telat. Apalagi hari ini, hari senin."


"Iya tan," ucap Edward kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Rayla. Sampai di hadapan kamar Rayla, Edward tidak langsung masuk. Melainkan mengetok terlebih dahulu pintu biru muda yang ada dihadapannya saat ini. Setelah beberapa detik tidak ada sahutan dari dalam, akhirnya Edward lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar Rayla. Mengingat waktu yang terus berjalan.


Edward tersenyum geli melihat Rayla yang masih asik bergelung dengan selimut dan juga bantal guling nya. Ia pun menghampiri Rayla, kemudian menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Edward menepuk pelan pipi Rayla, tapi tidak ada pergerakan sama sekali. Edward belum menyerah, akhirnya Ia mengguncangkan tubuh Rayla dengan sedikit keras sembari memanggil namanya.


"Lo gamau bangun? Ini udah siang," ucap Edward sembari terus mengguncangkan tubuh Rayla, sembari sesekali menepuk pipi Rayla.


"Lima menit lagi Ma, Ayla masih ngantuk banget," ucap Rayla sembari memperbaiki posisi selimutnya.


Edward geleng-geleng kepala, kemudian tanpa berpikir panjang Edward langsung menarik selimut Rayla. Mau tak mau, Rayla pun membuka matanya ketika merasakan dinginnya ac yang menerpa kulitnya.


"Mama bar-bar banget sih bangunin akunya," ucap Rayla yang masih belum sadar bahwa yang membangunkannya adalah Edward.


"Mama di bawah, ini gue Edward. Buruan sana mandi, ini udah jam enam kurang lima belas menit," ucap Edward sembari menaruh kembali selimut yang sempat Ia tarik tadi.


Rayla sontak membulatkan matanya mendengar waktu yang di ucapkan oleh Edward. Eh tunggu, Edward!?


"Heh, ngapain lo di sini!?" semprot Rayla ketika Ia sudah sadar sepenuhnya.


Edward tersenyum miring, kemudian perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Rayla.


"Menurut lo, gue ngapain hmm?" tanya Edward tepat di hadapan wajah Rayla.


"Ma-mana gue tau," jawab Rayla gugup sembari mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Tangannya meremas bantal guling yang masih berada di atas pangkuannya, guna menyalurkan rasa gugup yang kini menderanya secara tiba-tiba. Hei, perlu diingat Rayla belum sempat mandi apalagi cuci muka. Tapi sudah diperhatikan sedekat dan se intes ini oleh Edward. Rayla tidak tau bagaimana caranya Ia menyembunyikan malunya nanti, jika Edward melihat bekas air liur di wajahnya. Plis, Rayla malu banget kalau sampai itu beneran terjadi!


Edward masih saja betah pada posisinya, yaitu membungkuk sembari memperhatikan wajah bangun tidur Rayla. Yang sialnya sangat cantik! Sampai pada akhirnya Rayla angkat bicara.


"Mi-minggir, gue mau mandi," ucap Rayla sembari mendorong bahu Edward agar menjauh.


Edward tak langsung menurut, bahkan Ia kini menjatuhkan kedua tangannya disisi kanan dan kiri tubuh Rayla. Kemudian mendekatkan kembali wajahnya ke arah Rayla. Rayla sendiri sudah dibuat ketar-ketir dengan tingkah Edward.


"Lo mau ngapain?" tanya Rayla dengan raut wajah panik.


Edward tersenyum miring, kemudian tangan kanannya bergerak mengambil headset yang tergeletak di dekat selimut Rayla.


"Sana mandi, gue tunggu di bawah," ucap Edward kemudian langsung melenggang pergi dari kamarnya. Bahkan headset nya pun ikut serta dibawanya.


Rayla menghembuskan nafasnya lega, kemudian langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Tentunya bersama Edward.


Setelah menunggu Rayla selama lima belas menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Rayla langsung bergabung ke meja makan, kemudian memakan sarapannya.


"Kamu ini, kasian Edward udah nunggu kamu dari jam setengah enam. Eh kamu nya masih asik mimpi," ucap Mamanya sembari mengoleskan selai ke atas rotinya. Hanya ada tiga orang di meja makan, yaitu Rayla, Edward, dan Mama Rayla. Karena Papanya masih ada urusan bisnis di luar kota.


"Salah dia kenapa dateng sepagi itu," balas Rayla yang tak ingin disalahkan.


"Kamu harusnya berterima kasih sama Edward, karena dia udah mau nyempetin waktunya buat jemput kamu," ucap Mamanya yang masih saja melanjutkan acara webinarnya. Sedangkan Edward masih anteng memakan rotinya, sembari menyimak perdebatan yang terjadi dihadapannya.


"Terus apa gunanya sopir yang ada di rumah?" tanya Rayla kesal.


"Itu, khusus buat nganter kalau lagi kepepet," ucap Mamanya santai.


"Terserah Ma, terserah. Rayla berangkat sekarang, ayo Ed," ucap Rayla jengah.


Edward mengangguk, kemudian berpamitan kepada Mama Rayla.


"Tan, Edward berangkat ya," ucapnya sembari mencium punggung tangannya.


"Iya hati-hati, ingat anak tante jangan sampai lecet. Skincare nya dia mahal," ucap Mama Rayla setengah berbisik agar Rayla tidak dapat mendengarnya.


Edward terkekeh, "Siap tan."


Rayla langsung menarik tangan Edward, ketika dirinya sudah berpamitan kepada Mamanya.


"Mama bilang apa tadi?" tanya Rayla sembari memasang helm yang disodorkan oleh Edward.


"Disuruh bawain buah mangga yang ada di deket sekolah," jawab Edward asal.


Rayla memukul keras pundak Edward, "Gue lagi gak mood bercanda."


Mana ada pohon mangga di dekat sekolahnya, yang ada hanyalah pohon nangka. Itupun sedang tidak berbuah.


"Buruan naik, ntar telat," ucap Edward mengalihkan pembicaraan.


Rayla pun menuruti perintah Edward untuk segera naik ke atas motornya, mengingat waktu yang semakin menipis. Bisa-bisa terlambat mereka, jika meneruskan perdebatan unfaedah yang terjadi beberapa detik yang lalu.


Selang sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di sekolahnya. Rayla tak henti-hentinya mengumpat ditengah jalan, pasalnya Edward mengendarai motornya seperti kesetanan.


"Lo kalau nyari mati jangan ngajak-ngajak dong!" semprot Rayla ketika dirinya sudah turun dari atas motor Edward.


Edward tertawa, "Sekali-kali menguji nyali gapapa."


"Nguji nyali kayak mau nyari mati! Liat nih rambut gue jadinya berantakan!" ucap Rayla sembari berusaha merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.


Edward terkekeh, kemudian membantu Rayla merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan terluka. Kemudian langsung pergi, ketika Ia merasa tak sanggup lagi menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul ketika melihat kedekatan yang terjalin antara Edward dan Rayla.