Please Feel My Love

Please Feel My Love
Loosing You



'Maaf karena aku telah gagal untuk menjagamu agar tetap berada di sampingku.'


Edward memarkirkan motornya di pelataran Rumah Sakit. Dengan segera Ia turun dari atas motor, dengan membawa sebuah kantung plastik di tangan kanannya, dimana kantung plastik tersebut berisi makanan yang Ia beli di perjalanan tadi.


Edward memasuki lobby Rumah Sakit dengan suasana hati yang senang. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahukan kepada orang tua Rayla, bahwa pelaku yang menyababkan putri mereka sampai terbaring tak berdaya di kasur Rumah Sakit, sudah tertangkap.


Edward menatap bingung ke arah ruang ICU, yang dimana merupakan tempat Rayla dirawat. Edward memfokuskan pandangannya, untuk mencari tahu bahwa penglihatannya tidak salah. Ragu dengan apa yang ada di pikirannya saat ini, Edward memutar knop pintu ruang ICU tempat Rayla di rawat, kemudian masuk ke dalam.


Pikiran Edward sudah terbagi, ketika melihat ruangan tersebut sudah di bersihkan dan tak ada seorang pun disana. Dengan segera Edward bergegas berlari keluar dari ruangan tersebut. Karena terlalu panik, Edward sampai tidak sengaja menabrak suster yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.


"Maaf," ucap Edward, sembari membantu suster tersebut merapikan barang-barang yang terjatuh ke lantai.


"Tidak apa-apa, mas," ucap suster tersebut.


Edward berdiri, kemudian menyerahkan barang suster tersebut, dan bertanya.


"Sus, saya mau tanya. Pasien yang ada di ruang ICU, kemana ya?"


"Pasien sudah dipindahkan mas."


"Berarti pasien sudah sadar?" tanya Edward kelewat senang dengan fakta yang baru saja Ia dengar.


"Sudah. Tetapi, pasien masih perlu perawatan lebih lanjut."


"Kalau boleh tau, pasien dipindahkan kemana ya?"


"Kalau masalah itu, pasien sudah tidak di rawat di Rumah Sakit ini."


Edward mengerutkan keningnya bingung, "Maksudnya gimana ya, sus?"


"Begini mas. Satu jam setelah pasien sadar, orang tua pasien langsung mengurus surat pindah rawat pasien."


Edward mengangguk mengerti, "Terimakasih sus, atas informasinya."


Suster tersebut mengangguk, kemudian pamit undur diri.


Edward mengambil ponsel miliknya, kemudian mendial nomor Rayla. Edward berharap, Rayla masih bersedia untuk menerima panggilan darinya.


Edward menghela nafasnya, ketika hanya suara operator telepon yang menjawab dan memberitahukan bahwa nomor yang Ia tuju tidak aktif.


Setelah menimang-nimang, akhirnya Edward memutuskan untuk pulang dengan membawa makanan yang Ia beli tadi. Menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Edward pun sampai di rumahnya. Yup, rumahnya. Edward telah memutuskan untuk kembali tinggal di rumahnya.


Edward memarkirkan motornya di garasi yang ada di sebelah rumahnya. Setelah melepas helm dan memastikan motornya telah terparkir dengan aman, Edward pun masuk ke dalam rumahnya.


"Baru pulang?" tanya Ayah Edward yang tengah bersantai sembari menonton Televisi di ruang keluarga.


Edward mengangguk, "Ini Edward ada beli makanan, kalau Ayah mau, makan aja," ucap Edward sembari meletakkan kantung plastik yang berisi makanan tersebut di meja yang ada di hadapan Ayahnya.


"Tumben. Emang kamu habis darimana?" tanya Ayahnya sembari membuka kantung plastik yang Edward letakkan.


"Ayah juga tau kalau kamu habis dari luar. Maksudnya keluar kemana?" tanya Ayah Edward sembari menatap Edward.


"Adalah. Udah, Edward mau ke kamar dulu," ucap Edward sembari melenggang pergi dari hadapan Ayahnya, menuju kamar miliknya. Sedangkan Ayahnya, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang satu itu.


Edward melepas jaket yang Ia kenakan, kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur miliknya. Matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya hanya tertuju pada Rayla. Dimanakah Ia sekarang?


Ketukan pintu, membuat Edward tersadar dari lamunannya. Dengan segera Edward bangkit, dan membuka pintu kamarnya.


"Den, itu ada titipan surat kemarin," ucap asisten rumah tangga Edward.


"Dari siapa, bi?" tanya Edward.


"Kurang tahu, den. Soalnya yang bawa cuma bilang ada titipan surat, terus langsung pergi. Bibi juga enggak sempat liat mukanya."


Edward mengangguk mengerti, "Bibi taruh dimana suratnya?"


"Itu den, di atas meja belajar."


"Oke. Makasih ya bi."


"Iya sama-sama, den. Kalau gitu, bibi pamit kebelakang dulu ya," pamit asisten rumah tangga Edward.


Edward hanya mengangguk, kemudian menutup pintu kamarnya setelah memastikan asisten rumah tangganya berlalu.


Edward duduk di kursi meja belajarnya, kemudian membuka surat yang terdapat di sana. Edward menegang ketika membaca surat yang ada di tangannya. Itu surat dari Rayla!


Dengan segera Edward bergegas bangkit dari duduknya, kemudian menyambar jaket yang tadi Ia hempaskan sekaligus kunci motornya. Edward menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, tujuannya adalah sampai di rumah Rayla dengan segera.


Asisten rumah tangganya, yang melihat Edward seperti orang yang tengah di kejar setan akhirnya bertanya, "Kenapa, den?"


"Bi, nanti kalau Ayah nanya Edward kemana, bilang aja Edward mau keluar sebentar," ucap Edward tergesa-gesa.


"Keluar kemana, den?"


"Ke rumah Rayla," ucap Edward sembari berlari menuju garasi rumahnya.


Edward melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata. Harapan Edward hanya satu, yaitu Rayla belum pergi untuk meninggalkannya. Tetapi harapannya pupus ketika Ia sampai di rumah Rayla. Gerbang yang terkunci rapat, suasana rumah yang sepi, dan hanya sinar lampu di halaman rumahnya saja yang menyala, semakin membuat pikiran Edward kacau. Rayla telah pergi meninggalkanya.


Edward turun dari atas motornya, kemudian menatap kosong ke arah rumah Rayla. Apakah dirinya terlalu pengecut? Sampai mengungkapkan rasa yang selama ini Ia pendam, rasanya sangat sulit. Sekarang Ia sendiri yang harus menanggung akibat dirinya yang terlalu pengecut. Orang yang Ia sayangi, pergi meninggalkannya karena kebodohannya sendiri. Perlahan tubuh Edward luruh, dadanya sesak karena harus menerima fakta yang ada. Sekarang Ia harus mencari Rayla kemana?


Edward mengacak rambutnya. Tanpa Edward sadari, air mata yang sedari tadi Ia tahan, perlahan turun melewati pipinya. Ia belum sempat meminta maaf kepada Rayla, karena telah menuduhnya yang bukan-bukan. Dan bahkan, Edward belum sempat berterimakasih karena Rayla telah menyelamatkan nyawanya, di saat Edward mengalami kecelakaan karena ulah Sam. Kenapa? Kenapa, Rayla harus pergi ketika semua kebenarannya terungkap?


Edward meremas surat yang diberikan oleh Rayla untuknya. Tiba-tiba, pikirannya tertuju ke danau tempat pertama kali mereka bertemu. Dengan segera Edward bangkit, kemudian mengemudikan motornya diatas kecepatan rata-rata, demi bisa sampai sesegera mungkin di danau tersebut.


Kurang dari tiga puluh menit, Edward sudah sampai di tempat yang penuh kenangannya bersama dengan Rayla. Edward turun dengan segera, dan berlari ke arah kursi yang biasa mereka tempati jika mereka mengunjungi danau tersebut. Edward terpaku, ketika melihat selembar sapu tangan yang sangat Ia kenali, terlipat rapi dan ditahan oleh sebuah batu mungil.


Edward mengambil sapu tangan tersebut, kemudian menatapnya dengan pandangan sendu. Rayla telah benar-benar pergi meninggalkannya. Entah Rayla memilih pergi untuk kembali datang ke kehidupannya, atau Rayla pergi untuk benar-benar menghilang dari kehidupannya.