
...'Tolong maafkan aku, bukan keinginan ku untuk bersikap seperti ini. Tetapi keadaan lah yang membuat ku terpaksa untuk bersikap bak orang yang tak pernah mengenal.'...
...----------------...
Malam ini merupakan acara yang paling di tunggu-tunggu oleh sebagian murid kelas XII. Karena malam ini akan diadakan acara pensi tahunan, sebagai pelengkap bagi kelulusan mereka. Telah banyak siswa-siswi yang hadir pada malam ini. Dan tentunya mereka telah membawa pasangan mereka masing-masing. Bagaimana tidak? Khusus untuk acara pensi tahunan kali ini, akan diadakan acara dansa metathesis, yaitu dansa bertukar pasangan. Jadi tentunya, orang yang hadir di acara ini harus membawa pasangan mereka masing-masing. Jika tidak, mereka tidak akan bisa mengikuti acara dansa yang akan dilangsungkan nanti.
Rayla malam ini hadir bersama Sam. Ia nampak cantik dengan gaun berwarna baby pink yang membalut tubuhnya, rambutnya Ia biarkan tergerai alami, dan dengan sedikit polesan make-up natural di wajahnya, semakin membuat Rayla tampil dengan mempesona malam ini. Di sebelahnya, dengan setia Sam berdiri, sembari merangkul pinggang Rayla posesif. Dengan mengenakan kemeja berwarna abu-abu, membuat mereka nampak seperti pasangan yang serasi.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Edward dengan setia memperhatikan gerak-gerik Sam dan juga Rayla. Beberapa kali Ia nampak mengatur nafas, dan mengingatkan dirinya sendiri, agar tidak sampai lepas kendali, yang akan berakibat fatal pada acara pensi tahunan kali ini.
Bela yang sedaritadi merasa diacuhkan pun, mulai merasa jengah. Dengan paksa Ia menarik lengan Edward, agar menemaninya untuk mencari minum. Edward yang tidak fokus pun, mau tak mau, mengikuti kemana Bela menariknya.
Tak lama kemudian, acara pensi pun di mulai. Acara di buka oleh Kepala Sekolah, dan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia pensi kali ini, yaitu Jason, anak OSIS kelas XI.
"Haii, halo, hola, selamat malam semuanya! Terkhusus untuk kakak-kakak yang udah lulus, saya sebagai perwakilan dari panitia mengucapkan selamat atas kelulusannya. Ciah, udah kayak nikahan aja ya--," ucapan Jason di hadiahi kekehan dari para siswa-siswi yang hadir di sana.
"Jangan lupa, bagi jurus jitu biar lulus UN ya kakak-kakak semua! Kami para pejuang UN tahun depan memerlukan solusi-solusi jitu, seperti jurusnya Naruto dan juga Sasuke."
"Bergurulah kepada sang ahli, dan yang pastinya bukan gue," celetuk salah satu siswa, yang langsung di hadiahi gelak tawa dari siswa-siswi yang lain.
"Okey siap! Saya akhiri aja kali ya sambutannya? Kayaknya kakak-kakak sekalian udah pada gak sabar buat dansa sama pasangan masing-masing."
"Tau aja!" sorak seseorang dari kerumunan tengah.
Jason terkekeh, "Iya dong. Oh iya, kakak-kakak sekalian udah pada bawa pasangan masing-masing kan?"
"Udah dong!" jawab audience kompak.
Jason mengangguk, "Untuk yang jomblo, menyingkir sebentar ya~" Jason melanjutkan kalimatnya, "Untuk para jomblowati, dan jomblowan. Silakan nikmati kudapan yang tersedia di pojok ruangan, sembari merenung, dimanakah pasangan anda sedang bersembunyi. Atau, siapa tau, nanti ada para jomblo lovers yang ketemu sama jodohnya di pojokan," canda Jason.
"Jason!" teriak salah satu audience dari arah belakang.
"Oit, kenapa?" tanya Jason sembari mencari sosok yang memanggilnya.
"Open recruitment, gak?"
"Buat apa kak?" tanya Jason dengan kening berkerut.
"Buat pasangan dansa kamu malam ini!" teriak gadis tersebut, dan langsung di soraki oleh teman-temannya yang lain.
"Wah, sayangnya saya nanti gak turun ke dance floor, Kak. Kalau sampai saya turun ke dance floor entar yang ngurus acaranya siapa?" tolak Jason dengan halus, dengan memanfaatkan kedudukannya sebagai ketua panitia Pensi, sebagai dalih untuk menolak ajakan seseorang.
Siswi yang di tolak Jason pun, memasang wajah kecewa karena di tolak oleh Jason.
"Yes, what's up bro?"
"Gak bisa bahasa enggress!" jawab siswa tersebut dengan nada menyedihkan.
Jason hampir saja terjungkal, karena tertawa terlalu keras akibat ekspresi dan nada suara kakak kelasnya. Suer, receh banget emang humornya si Jason. Tapi, entah kenapa dia yang dipilih buat jadi ketua panitia acara Pensi.
"Humor kakak kelas saya ternyata sama rendahnya," ucap Jason setelah berhasil menetralkan tawanya.
"Lo beneran ketua panitianya gak sih?" tanya seseorang yang berada di barisan paling depan.
"Wah, kakak ragu sama saya?"
"Tampang lo meragukan."
"Saya beneran ketuanya kok, tapi ya gitu--,"
"Gitu gimana?"
"Terlalu humoris buat jadi ketua, padahal saya udah gak mau kak, tapi saya dipaksa sama temen-temen. Apalagi sama si Sam, beuh di paksa terus saya buat jadi ketua," jawab Jason sok dramatis.
"Kok lo jadi curhat?" tanya Sam yang ada di bagian samping panggung.
Jason menyengir melihat Sam, "Yah, saya gibahin orang di depannya. Tapi gak papa, itu namanya saya enggak munafik."
Mata Jason berubah jail ketika melihat tangan Sam yang sedari tadi masih setia melingkar di pinggang Rayla, "Wuih, itu tangannya udah kayak dikasi lem ya. Nempelnya sempurna! Tenang aja, kak Ayla gak bakal kemana-mana kok, gak usah posesif gitu ah!" goda Jason.
Rayla menunduk ketika perhatian semua murid terarah padanya. Edward menatap tajam Sam, yang saat ini juga tengah menatap ke arahnya dengan tatapan meremehkan. Edward mengepalkan tangannya, ketika Sam mengeratkan rengkuhannya di pinggang Rayla. Ingin rasanya Edward menarik Rayla menjauh dari Sam, tetapi keadaannya tidak memungkinkan Edward untuk melakukan hal tersebut. Alhasil Ia hanya dapat menahan emosinya.
"Gak usah ngurusin gue, cepetan turun dari atas panggung! Acaranya ketunda gara-gara lo cosplay jadi tukang lawak dadakan," ucap Sam sembari melotot garang ke arah Jason.
Jason cengengesan tidak jelas, "Galak banget. Iya-iya, ini gue sekarang turun, biar ni acara cepet mulai, terus kakak bebas dansa sama kak Ayla."
"Gitu dong, baru calon generasi penerus gue," ucap Sam sembari memberikan jempol ke arah Jason.
"Okey, karena mantan ketua OSIS kita udah gak sabaran mau dansa sama pasangannya. Acara Pensi hari ini di buka dengan pementasan tari kebesaran sekolah kita. Untuk kakak-kakak sekalian, silakan menikmati seluruh rangkaian acara yang telah kami para panitia susun, dengan sedemikian rupa, agar meninggalkan kesan yang tak terlupakan di sepanjang sejarah SMA. So, enjoy the show!" ucap Jason, yang kemudian langsung turun dari atas panggung.
Tak lama kemudian, acara pun di mulai dengan penampilan-penampilan memukau dari klub dance yang membawakan tari kebesaran sekolah mereka. Setelah usai, acara dilanjutkan dengan pementasan drama yang di bawakan oleh anak-anak klub Drama.
Sepanjang acara berlangsung, tak sedetik pun Edward menikmati acara. Pikirannya hanya tertuju pada Rayla. Sungguh, Edward sangat merindukannya. Hampir selama tiga bulan ini, mereka tidak pernah bertegur sapa, apalagi sampai berbicara satu sama lain. Pertanyaan yang sedaritadi berputar di kepala Edward adalah, sampai kapan Ia dan Rayla harus berperan sebagai orang asing yang tidak pernah saling mengenal?