
...'Masalah itu datang, bukan karena kita enggak punya kemampuan sama sekali. Justru, masalah datang supaya kita bisa mengasah kemampuan yang kita miliki.'...
...----------------...
Edward tersenyum tipis, ketika melihat wajah Rayla yang nampak bingung ketika dibawa ke tempat pertama kali mereka bertemu.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Rayla, sembari mendongak menatap Edward yang saat ini tengah memandang lurus ke arah danau.
Edward tak menjawab, melainkan langsung menarik tangan Rayla ke arah kursi yang ada di dekat mereka. Kemudian, menarik tangan Rayla lembut agar ikut duduk di sampingnya.
"Inget tempat ini?" tanya Edward, sembari mengalihkan pandangannya ke arah air danau yang nampak tenang.
Rayla mengangguk sekilas, "Inget."
Suasana berubah hening, Edward tak menanggapi jawaban Rayla. Dirinya masih tenggelam di dalam pemikirannya sendiri. Begitupun dengan Rayla, Ia lebih memilih untuk diam, sembari menikmati angin malam yang menerpa kulitnya.
"Makasih," ucap Edward tiba-tiba, setelah lima menit keheningan menyelimuti mereka.
Rayla menatap bingung ke arah Edward, "Buat apa?"
Edward menatap lembut Rayla, "Semuanya."
"Emang gue ngapain?"
Rayla meringis, ketika dirinya tidak mengerti maksud Edward. Kenapa juga, otaknya tidak jalan di saat-saat genting seperti ini?
"Lo yang buat gue gak jadi nyebur ke tengah danau--," ucap Edward, sembari menunggu reaksi Rayla.
Rayla tertawa mendengar ucapan Edward, "Lagian, lo sok-sokan mau nyebur. Kalau lo tenggelam, terus gak ada yang nyelamatin gimana?"
"Itu emang tujuan awal gue."
"Terus, tujuan akhir lo apa?"
"Ketemu bunda di surga," jawab Edward dengan tatapan sendunya.
Rayla merasa bersalah ketika menyadari tatapan Edward yang berubah sendu.
"Sorry, gue gak bermaksud," ucap Rayla tak enak hati.
"Gak papa kok."
Hening kembali menyelimuti mereka, Rayla sesekali melirik ke arah Edward. Pada akhirnya, Rayla yang tidak tahan dengan keheningan yang tercipta diantara mereka, memberanikan diri untuk bertanya.
"Lo lagi ada masalah?" tanya Rayla.
Edward langsung tersentak ketika Rayla bertanya kepada dirinya, "Emang kelihatan banget ya?" tanya Edward sembari tertawa sumbang.
Rayla menatap Edward, kemudian menghembuskan nafasnya.
"Butuh teman cerita?" tawar Rayla.
Edward menatap Rayla, begitupun dengan Rayla. Ketika merasa Edward yang tak kunjung menerima ataupun menolak tawarannya. Rayla kembali mengangkat suara.
"Gak papa semisal lo belum mau cerita, gue juga orang yang baru lo kenal, gue minta maaf semisal gue lan--,"
Ucapan Rayla terpotong, dengan ucapan Edward.
"Bunda gue meninggal, dan gak lama setelah itu, Ayah gue milih buat nikah lagi. Bisa lo bayangkan, betapa hancur nya gue pas Bunda pergi dan gak lama setelahnya Ayah gue udah nemu pengganti Bunda. Lo tau? Orang yang sekarang jadi istri Ayah gue, gak lebih cuma mau harta Ayah gue doang. Dan dia sama anaknya, berusaha buat nyingkirin gue dengan berbagai cara. Dan puncak nya, gue di usir dari rumah karena ketahuan ikut balapan liar. Ayah gue bahkan mukul gue, ngatain gue anak yang gak berguna, dan banding-bandingin gue sama kakak tiri gue, yang dimana sebenarnya kelakuan dia lebih bejat daripada gue--," Edward menghentikan ucapannya. Matanya memerah karena mengingat segala perbuatan bejat dari Ibu dan saudara tirinya.
Rayla menatap Edward yang tengah memejamkan matanya, sembari mengatur nafasnya.
Edward yang mendengar ucapan Rayla, sontak mengalihkan pandangannya ke arah Rayla. Ia menatap Rayla dengan tatapan yang tak terbaca.
"Mungkin, disaat pertama kali lo menghadapi masalah yang ada di hidup lo, lo bakal berpikir. Lo gak bakal bisa menghadapi masalah lo sendirian, lo butuh sandaran untuk menopang lo, disaat lo rapuh. Dan disaat lo gak menemukan sandaran itu, lo gak ada pilihan lain selain menghadapi masalah itu sendiri dan nyimpen segala kenangan pahit lo sendirian--," Rayla menoleh ke arah Edward, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Dan disaat yang bersamaan, tanpa disadari. Lo mulai membangun pertahanan lo sendiri. Yang dimana, pertahanan itu yang buat lo bertahan sampai detik ini."
Edward dan Rayla saling memandang. Tatapan mereka terkunci satu sama lain, seolah tengah berusaha menyelami perasaan yang kini mereka rasakan.
Rayla memutus terlebih dahulu kontak mata yang terjadi diantara mereka. Ia melarikan pandangannya ke arah air danau yang kini tengah memantulkan cahaya rembulan di tengah gelapnya sang malam.
Sedangkan Edward, Ia masih setia menatap wajah Rayla dari posisinya saat ini. Dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, Edward menarik Rayla ke dalam dekapannya. Rayla menegang mendapatkan serangan yang sangat tiba-tiba itu, baru saja Ia ingin mendorong tubuh Edward. Ucapan Edward setelahnya, membuat dirinya urung melakukan niatnya.
"Lo selalu berhasil buat gue berpikir dua kali buat ngambil keputusan, lo selalu berhasil buat gue semangat lagi menjalani kehidupan, lo berhasil buat gue merasa dibutuhkan disaat yang lain merendahkan--," Edward tercekat, "Makasih, karena lo udah hadir di tengah kehidupan gue, yang dulunya hampir gue sia-siakan," lirih Edward disebelah telinga Rayla.
Rayla menahan nafasnya, ketika mendengar bisikan lirih Edward. Setelah beberapa menit, Rayla pun perlahan mulai membalas pelukan Edward.
"Gue engga sekeren itu kok. Lo gak lupa kan, segimana absurd nya gue?" ringis Rayla, sembari menepuk pelan bahu Edward.
Edward terkekeh mendengar ucapan Rayla, "Mana mungkin gue lupa--," Edward mengeratkan pelukannya, "Tapi gue suka."
Dibalik punggung Edward, Rayla diam-diam menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah lengkungan senyum. Hal tak jauh berbeda juga terjadi pada Edward.
"Emm, kita sampai kapan mau pelukan kaya teletubbies gini?" tanya Rayla setelah lebih dari sepuluh menit mereka berpelukan.
Edward terkekeh mendengar pertanyaan Rayla, "Sampai besok aja gimana?" ucap Edward menggoda Rayla.
"Heh! Jangan ngadi-ngadi lo. Lepas gak?!" ucap Rayla, sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan Edward. Enak saja mau pelukan sampai besok, emang Rayla bantal guling apa?!
Edward tertawa geli mendengar ucapan Rayla. Bukannya melepaskan tubuh Rayla, Edward malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Coba aja kalau bisa."
Rayla berdecak kesal mendengar ucapan Edward. Mulai lagi iseng nya!
"Lo kalo gak isengin gue sehari aja, kayaknya ada yang kurang ya?" ucap Rayla kesal.
Edward terkekeh mendengar ucapan Rayla, "Tenang aja. Gue isengnya sama lo doang kok," goda Edward.
"Idih sok-sokan nge-gombal lo, gak bakal mempan sama gue. Udah ah lepasin!" ucap Rayla sembari memukul pundak Edward dengan keras.
Bukan Edward namanya kalau langsung menyerah begitu saja, dipukul bukannya nambah longgar pelukannya, malah makin erat. Akhirnya, Rayla memilih diam, sembari berpikir bagaimana caranya bisa lepas dari dekapan Edward.
Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Rayla menemukan ide. Ia pun berpura-pura pasrah dan menerima pelukan Edward. Dan cara itu berhasil. Beberapa saat kemudian, Edward melonggarkan pelukannya. Dan ketika hal itu terjadi, Rayla langsung mendorong sekuat tenaga tubuh Edward. Edward yang tak siap dengan serangan tiba-tiba itu pun terjungkal kebelakang hingga terjatuh dari atas kursi.
Rayla yang berhasil lepas dari dekapan Edward pun, langsung beringsut menjauh. Kemudian setelah dirasa cukup jauh, Rayla menengok ke arah belakang dan mendapati Edward yang tengah terduduk manis di atas rumput. Sontak Rayla tak dapat membendung tawanya. Ia pun tertawa terpingkal-pingkal melihat kondisi Edward saat ini.
"Gila! Lo bar-bar banget sih jadi cewe," ucap Edward yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Rayla.
Rayla yang mendengar itu pun, bukannya marah atau kesal. Ia malah meledakkan tawanya kembali. Edward yang melihat itu pun hanya geleng-geleng kepala.
"Unique girl," gumam Edward sembari memperhatikan Rayla yang tengah tertawa.