Please Feel My Love

Please Feel My Love
Hukuman Massal



...'Khawatir adalah salah satu bentuk reflek yang diberikan oleh alam bawah sadar, ketika kita takut terjadi sesuatu kepada orang yang kita sayangi.'...


...----------------...


Semua murid kelas XII IPA 2, tak henti-hentinya menyumpah serapahi Dean. Pasalnya, karena manusia yang satu itu. Mereka harus merelakan waktu jam pulang mereka, untuk melaksanakan hukuman yang diberikan oleh wali kelas mereka karena telah memecahkan jam dinding kesayangannya.


"Kayaknya hari ini bakal jadi hari yang bersejarah deh Ed," ucap Rifki sembari mencabut rumput liar yang ada di kebun belakang sekolah mereka.


"Maksud lo?" tanya Edward tidak mengerti.


"Kena hukuman massal gara-gara mecahin jam dinding kelas, terus pertama kalinya juga gue nyabut rumput liar kek begini," ucap Rifki sembari menunjukkan rumput liar yang baru saja Ia cabut.


Edward mengangguk setuju, karena ini merupakan pengalaman pertamanya kena hukuman, setelah hampir tiga tahun Ia mengenyam pendidikan di SMA Fulminans Zapota.


"Lumayan, ada cerita buat kita ceritain ke anak cucu kita nanti," ucap Edward santai. Berbeda dengan Rifki, Ia kini tengah menatap takjub ke arah Edward.


"Akhirnya, di otak lo ada hal lain juga yang lo pikirin, selain rumus-rumus njelimet."


Edward geleng-geleng kepala mendengar ucapan Rifki, yang sepertinya sangat antusias saat dirinya membahas hal lain yang tidak berkaitan dengan rumus-rumus yang dapat membuat kepala modar.


"Astaga sorry Ay, gue engga sengaja," pekik salah satu siswi yang membuat perhatian Edward sepenuhnya teralihkan, karena tak sengaja mendengar nama Rayla disebut-sebut.


Edward melangkah cepat menghampiri Rayla, yang kini tengah meringis menahan sakit di lengannya.


"Lo kenapa?" tanya Edward, setelah dirinya sampai dihadapan Rayla.


Rayla menggeleng, tetapi raut wajahnya tidak dapat berbohong, jika saat ini dirinya tengah menahan sakit yang mendera lengannya.


Edward menatap tajam, gadis yang kini menunduk dihadapannya.


"Kenapa?" tanya Edward dingin.


Semua teman sekelasnya menatap terkejut ke arah Edward. Lebih tepatnya, ke gaya bicara dan aura Edward yang sangat berbeda


"A-aku?" ucap Bela gugup.


"Kenapa!?" tanya Edward, penuh dengan penekanan dan jangan lupakan tatapan tajamnya.


"A-ku, gak sengaja gores tangan dia pakai ranting kayu," jelas Bela dengan menunduk tak berani menatap Edward.


Edward memejamkan matanya, mencoba meredam emosinya. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Edward menghampiri Rayla, kemudian menggendongnya ala bridal style.


Rayla memekik terkejut karena tindakan Edward yang tiba-tiba, Ia memukul dada Edward menggunakan tangan kanannya yang tidak sakit.


"Gak usah banyak gerak, darah lo nempel di baju gue," ucap Edward sembari melirik noda darah yang menempel di bajunya.


Rayla mengikuti arah pandang Edward, kemudian meringis malu.


"Sorry," ucapnya ketika Edward menurunkannya di atas brankar yang ada di UKS.


Edward lebih memilih untuk diam, Ia melangkah menuju lemari yang tak jauh dari brankar yang Rayla tempati, kemudian mengambil kotak P3K yang ada di sana.


"Siniin tangan lo," ucap Edward dengan kapas yang berisi alkohol tengah berada di tangannya.


"Gak mau, perih," ucap Rayla menolak.


"Kalau gak di obatin ntar infeksi, terus tangan lo di amputasi, mau?" tanya Edward datar.


"Doanya gitu banget sih," sungut Rayla kesal.


"Udah, buruan siniin tangan lo. Keburu menguap ini alkohol."


Rayla masih enggan mengulurkan tangannya.


"Tenang, gue bakal pelan-pelan ngobatinnya," ucap Edward meyakinkan.


Mau tak mau, akhirnya Rayla mengulurkan tangan kirinya ke arah Edward, Edward langsung sigap membersihkan tangan Rayla. Beberapa kali, Rayla nampak meringis, merasakan perih yang mendera lengannya. Edward yang menyadari hal itupun, meniup pelan luka Rayla, berharap tindakannya tersebut dapat meringankan rasa sakit yang tengah dirasakan olehnya.


"Makasih," ucap Rayla ketika Edward telah usai membalut lukanya menggunakan perban.


"Sama-sama, lagian lo kok bisa luka sih?" tanya Edward penasaran.


Rayla meringis mendengar pertanyaan Edward, "Gak papa. Emang dasarnya gue aja yang ceroboh."


Edward memicingkan matanya curiga mendengar alasan yang di ucapkan Rayla.


"Serius? Cuma itu doang?" tanya Edward menyelidik.


Rayla menelan ludahnya susah payah, melihat tatapan menyelidik milik Edward, "I-iya."


"Anterin gue pulang," rengek Rayla sebelum Edward bertanya hal yang lain.


"Kan kita masih jalanin hukuman."


Rayla mengerucutkan bibirnya, "Emang gak boleh izin ya?"


Rayla merenggut mendengar ucapan Edward, "Yaudah."


"Tunggu bentar di sini, jangan kemana-mana, gue keluar bentar," ucap Edward, kemudian tanpa menunggu persetujuan Rayla, Ia langsung beranjak pergi.


Rayla menggerutu kesal, "Belum juga bilang iya."


Sepuluh menit kemudian, Edward datang sembari membawa serta tas Rayla dan juga miliknya.


"Ayo pulang," ucap Edward sembari menyodorkan tas Rayla.


Rayla menerima tas nya, "Emang boleh?"


"Kita bahkan udah kabur ke sini pas ngejalanin hukuman, jadi pulang sekarang bukan masalah besar, " ucap Edward santai.


"Kan beda," protes Rayla.


"Beda dari mana nya?"


"Kita ke sini kan gara-gara tangan gue luka."


Edward manggut-manggut, "Ya udah. Pakai alasan itu lagi biar kita bisa izin pulang."


"Caranya?" tanya Rayla.


"Udah, gak usah di pikirin, tadi sebelum ke sini gue udah minta izin sama wali kita supaya kita bisa pulang duluan."


"Bener?" tanya Rayla, memastikan.


Edward mengangguk, "Ayok pulang," ucap Edward sembari mengulurkan tangannya kepada Rayla, guna membantunya untuk turun dari atas brankar UKS yang lumayan tinggi.


Rayla menerima uluran tangan Edward, kemudian turun dengan hati-hati. Agar tidak terjadi drama terpeleset, seperti di film-film pada umumnya.


"Masih sakit?" tanya Edward kepada Rayla yang saat ini tengah melangkah di sebelahnya.


"Sedikit."


Edward mengangguk, "Nanti jangan lupa lo ganti perbannya."


Rayla mengangguk mengerti, kemudian langkahnya harus terhenti ketika seseorang menghadang jalan mereka.


"Ay, aku minta maaf ya," ucap Bela.


Rayla melirik ke arah Edward, kemudian ke arah Bela.


"Iya, aku gak papa kok," ucap Rayla sembari tersenyum.


"Gak papa, kok sampai ngeluarin darah tangannya," cibir Edward.


Rayla mencubit perut Edward ketika mendengar ucapannya, Edward memekik kaget karena cubitan tiba-tiba Rayla.


Bela tersenyum, "Sekali lagi aku minta maaf ya Ay."


"Iya gak papa, santai aja."


"Kalau gitu, aku duluan ya," pamit Bela.


"Iya, hati-hati," ucap Rayla.


Bela hanya mengangguk kemudian pergi dari hadapan Rayla dan Edward.


Rayla menoleh ke arah Edward, ketika merasa dirinya tengah di perhatikan.


"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?"


"Gak papa," ucap Edward kemudian melanjutkan langkahnya dan di ikuti oleh Rayla.


"Mau langsung pulang atau mampir dulu?" tanya Edward sembari mengenakan helm full face nya.


"Pulang," ucap Rayla.


Edward menoleh ke arah belakang ketika merasakan Rayla yang tak kunjung naik, Edward terkekeh karena ternyata gadis itu tengah kesulitan mengenakan helm nya.


"Sini," panggil Edward, mau tak mau Rayla pun mendekat ke arah Edward.


Edward mengambil alih helm yang ada di tangan Rayla, kemudian dengan cekatan helm tersebut sudah terpasang rapi di kepala Rayla.


"Makasih," ucap Rayla.


Edward mengangguk, "Ayo naik."


Setelah memastikan Rayla duduk dengan aman dan nyaman pada posisinya, Edward melajukan motornya keluar dari area parkir sekolah dan berbaur dengan pengendara lainnya di jalan raya.