
...'Perkara rasa tak semudah yang kau bayangkan.'...
...----------------...
Sepanjang mengikuti pelajaran, Edward tidak dapat fokus mendengarkan apa yang gurunya sampaikan. Ia terus saja memikirkan ucapan Rifki pagi tadi, walaupun sudah berkali-kali Ia mengusir pemikirannya itu. Tapi tetap saja, ucapan Rifki terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Edward tersentak ketika tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya, Ia kira yang menggebrak nya adalah guru yang sedang mengajar di kelasnya. Tetapi ternyata Rifki lah pelakunya.
"Ngapain sih lo?" tanya Edward kesal sekaligus was-was. Takut guru yang sedang mengajar di kelasnya menghampiri mereka dan menghukum mereka karena telah membuat keributan di jam pelajarannya. Edward tidak menyadari bahwa guru yang mengajar di kelasnya sudah tidak ada, Ia baru menyadarinya ketika Ia mengalihkan pandangannya dari Rifki menuju ke depan kelas dan Ia tidak menemukan sosok guru yang tadi mengajar di kelasnya. Wow, berapa lama waktu yang sudah di habiskan oleh Edward untuk melamun?
"Lo bengong kenapa? Gak takut kerasukan ntar?" tanya Rifki heran.
"Gak kenapa-napa," alibi Edward.
Jika kalian kira Rifki percaya, jawabannya salah besar. Karena sekarang Ia tengah memandang Edward dengan pandangan yang menyelidik.
"Lo mikirin ucapan gue tadi pagi?" tebak Rifki yang sialnya tepat sasaran.
"Enggak!" elak Edward cepat.
Rifki tertawa mendengar jawaban Edward, "Udah lah gak usah bohong sama gue."
"Siapa yang bohong?" tanya Edward pura-pura tidak mengerti.
"Susah ya ngomong sama orang yang lebih mengedepankan logika ketimbang perasaan," ucap Rifki yang langsung membuat Edward terdiam.
"Dah lah mending ke kantin. Cacing di perut gue udah pada konser lagu How You Like That nih," ucap Rifki ketika melihat Edward yang tak bergeming setelah mendengar ucapannya barusan.
Edward mengangguk mengiyakan ucapan Rifki. Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan beriringan menuju kantin sekolah.
Suasana kantin nampak sangat ramai dan penuh sesak oleh lautan manusia. Bahkan semua meja di dalam kantin itu nampak penuh dan tidak menyisakan tempat untuk mereka.
"Duh ini kantin apa pasar malem yak, gila rame bener," komentar Rifki.
"Daripada lo mikirin hal yang udah jelas kebenarannya, mending lo pesan makanan, biar gue yang nyari tempat duduk," ucap Edward memberi saran.
"Nah boleh juga tuh ide lo," respon Rifki antusias.
Edward hanya memandang Rifki kemudian berlalu untuk mencari tempat yang kosong di antara banyaknya manusia yang ada di kantin. Sedangkan Rifki, Ia berjalan menuju salah satu stan penjual bakso yang ada di kantin sekolahnya.
Mata Edward menelusuri seluruh penjuru kantin, dan matanya tak sengaja menangkap Rayla yang tengah makan sembari tertawa dengan seorang lelaki yang di kenali Edward. Sam, laki-laki itu adalah Sam.
Entah mengapa ada rasa tidak suka yang menyeruak memenuhi hatinya ketika melihat Rayla yang tertawa bersama Sam.
Sebuah tepukan di pundaknya mengembalikan Edward ke dunia nyata setelah beberapa saat sempat terhanyut di dalam perasaan semu yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia pun menoleh kebelakang untuk melihat sang pelaku.
"Lo ngapain malah jadi tustel di sini? Bukannya nyari meja kosong," ucap Rifki.
"Ini gue lagi nyari, tapi enggak ketemu meja yang kosong," elak Edward kemudian pura-pura mengedarkan pandangannya.
"Gimana mau ketemu, orang gue perhatiin tadi lo malah asik mantengin Sam sama Rayla," cibir Rifki.
"Gue bukannya sok tau, gue tuh berbicara fakta alias kenyataan!"
"Gak jelas," ucap Edward kemudian berlalu menuju meja kosong yang berada di belakang Rifki.
Rifki mengikuti langkah Edward, dan tak lama setelah mereka duduk. Salah satu pegawai yang bekerja di stan bakso tempat Rifki memesan makanannya, membawakan mereka dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk. Setelah meletakkan makanan dan minumannya di atas meja, pegawai itu pun pamit undur diri dan di jawab ucapan terimakasih oleh Rifki. Sedangkan Edward sudah mulai memakan makanannya. Efek cemburu bisa buat nafsu makan bertambah juga, pikir Rifki. Eh, emang Edward cemburu?
Mereka memakan makanannya dengan hening, tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Masing-masing masih sibuk dengan semangkuk bakso dan juga es jeruk mereka yang sudah menunggu untuk di eksekusi segera.
"Gue balik duluan ke kelas," ucap Edward ketika dirinya sudah memakan habis bakso dan juga es jeruknya.
"Twunggu guew bentarw," ucap Rifki yang masih mengunyah pentol bakso terakhir nya. Setelah Ia menelannya, Ia pun meminum es jeruknya yang masih tersisa setengah gelas. Edward hanya memutar bola matanya malas melihat kelakukan sahabatnya itu.
"Buruan!" ucap Edward tidak sabaran.
"Lo ini berdosa banget, sabar dikit napa!" ucap Rifki kesal.
"Waktu terlalu berharga untuk di sia-siakan," ucap Edward dengan raut wajah datar.
"Dan perkara rasa tidak semudah yang kau bayangkan," balas Rifki.
"Kenapa nyambung ke sana coba?" tanya Edward kesal.
"Nyambung kan?" goda Rifki.
"Enggak!" jawab Edward cepat.
"Iya, iya. Terserah lo aja, gue ngikut."
Edward hanya mendengus kemudian bangkit dari kursi yang Ia duduki. Matanya sempat melirik ke arah meja yang di tempati oleh Rayla dan juga Sam. Mereka berdua masih asik mengobrol satu sama lain, tanpa memperdulikan waktu yang sebentar lagi akan memasuki jam pelajaran.
"Hati-hati tuh mata kemasukan lalat," sindir Rifki.
"Sembarangan kalo ngomong!"
"Lagian lo liatin nya sampe gak kedip, siapa tau ntar ada lalat yang gabut terus coba-coba masuk ke bola mata lo!" jelas Rifki.
"Segabut-gabutnya lalat, belum pernah tuh gue denger lalat masuk ke dalam bola mata orang karena gabut," balas Edward.
"Bro, sekarang udah zaman modern revolusi industri four poin zero. Semuanya berkembang, siapa tau lalat ikut berkembang. Ya kan?" tanya Rifki absurd. Awalnya sih keren bahas revolusi industri, tapi dasar Rifki. Tetap aja ntar akhir-akhirnya jadi aneh kayak gitu pernyataannya.
"Daripada gue ladenin ke absrud an lo, mending gue ke kelas," ucap Edward kemudian berlalu menuju pintu keluar kantin.
"Ada yang salah ya sama ucapan gue?" tanya Rifki kepada dirinya sendiri. Ada sayang ada~
Tak mau ambil pusing, karena hidup udah bikin pusing. Rifki pun menyusul Edward yang sudah terlebih dahulu meninggalkan area kantin. Sudah Rifki bilang kan, nasib Rifki kalau jalan bareng Edward itu pasti di tinggal terus. Tapi anehnya Rifki masih mau saja bepergian bersama Edward. Mungkin ini yang di sebut dengan persahabatan sejati. Eaaa!
Rifki pun mempercepat langkahnya untuk bisa menyeimbangkan langkahnya dengan Edward. Bukan ada kepentingan atau apapun itu, Rifki hanya ngeri membayangkan jika nanti dirinya tidak ada di sisi Edward, Edward akan di culik oleh salah satu setan yang berkeliaran di sana. Siapa tau kan? Setannya lagi gabut karena jomblo, eh malah liat Edward yang ganteng lagi jalan sendirian. Rejeki untuk si setan, malapetaka untuk Edward!