
...'Ingatlah selalu, bahwa kebahagiaan pasti selalu di kawal oleh penderitaan.'...
...----------------...
Edward menghela nafasnya kasar, ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ini masih terlalu pagi untuk memancing emosi lawan bicara. Dengan kesal, Edward menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya, kemudian mendekatkan benda pipih tersebut ke telinganya.
"Kalau gak penting, mending gue tutup," ucap Edward tak lama setelah Ia mengangkat panggilan tersebut.
"Wow, santai. Gak usah ngegas gitu," ucap orang di sebrang sana, dan dibarengi dengan kekehan ringan setelahnya.
"Gue rasa, gak ada hal penting yang mau lo omongin, kak," ucap Edward sengaja menekankan kata kak dalam pengucapannya.
Di seberang sana, Sam tersenyum miring mendengar ucapan Edward.
"Malam ini, kita ada undangan makan malam dari rekan bisnis Ayah."
Edward menyeringai, "Lo bisa gantiin gue. Lo cukup bilang, kalau lo satu-satunya pewaris Ayah. Itu kan yang lo mau?"
"Adik gue emang cerdas," jeda sejenak sebelum Sam melanjutkan ucapannya, "Tapi dengan bodohnya, Ayah lo yang juga merangkap sebagai Ayah gue, masih mengharapkan kehadiran putra yang terlahir dari seorang wanita yang penyakitan."
Edward mengetatkan rahangnya ketika mendengar ucapan Sam, "Jaga ucapan lo!"
"Kenapa? Ucapan gue sama sekali enggak ngada-ada, itu semua murni fakta, " ucap Sam dengan nada meremehkan.
"Cukup lo yang bakal hadir di acara nanti," ucap Edward datar.
Di seberang sana Sam menggelengkan kepalanya, meski Edward tak dapat melihatnya.
"Come on bro, acara kali bakal bawa kenangan yang gak bakal terlupakan semasa hidup lo."
"Lo jangan macem-macem sama bokap gue!" sentak Edward.
"Unfortunately he is also my father."
Edward memejamkan matanya, sungguh, saat ini Ia sangat ingin menghajar Sam!
"Don't play with me," desis Edward.
"Calm down. Cukup lo hadir nanti malam di restoran yang dulu menyimpan banyak kenangan diantara lo dan keluarga lo yang dulu."
Setelah mengucapkan kalimat yang tersirat akan ancaman di dalamnya, Sam langsung memutus panggilan mereka sepihak.
Edward menghela nafasnya, kemudian melirik jam digital yang ada di ponselnya. Setelah sadar, Ia pun segera bergegas untuk mengambil perlengkapannya untuk berangkat ke sekolah dan juga menjemput Rayla. Gadis yang dengan segala tingkah lakunya yang abnormal, namun mampu membuat seorang Edward Rasia Nafandra tertarik padanya.
Rayla menatap jengkel Edward, ketika motor lelaki itu memasuki pekarangan rumahnya.
"Jam di apartemen lo mati ya?" tanya Rayla sembari menghampiri Edward yang masih bertengger manis di atas motornya.
Edward menyunggingkan senyum tipis, mendengar penuturan Rayla.
"Gue masih mampu buat beli baterai."
Rayla mendengus, "Udah. Ayok buruan berangkat, ntar telat terus kena hukum."
Rayla memukul pundak Edward, ketika kalimat tersebut meluncur dari bibirnya seperti tanpa beban.
Edward meringis merasakan sakit di bekas pukulan Rayla pada pundaknya.
"Lo cewek pertama, yang berani mukul gue kayak gini," ucap Edward sembari mengelus bekas pukulan Rayla.
Rayla menggidikkan bahunya acuh, "Gak peduli dan gak mau tau."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rayla langsung naik ke atas motor Edward. Edward hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rayla. Sudah Edward bilang bukan, kalau Rayla itu gadis unik.
Edward mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata. Beberapa kali, Rayla mengingatkan Edward bahwa sebentar lagi gerbang sekolah akan segera ditutup, dan menyuruhnya untuk meningkatkan kecepatan motornya. Tetapi Edward sama sekali tidak mengindahkan ucapan Rayla, Ia masih mengendarai motornya dengan kecepatan seperti semula.
Rayla menggerutu kesal karena ulah Edward yang tidak mau menuruti ucapannya saat di jalan tadi. Beruntung karena mereka sampai satu menit sebelum gerbang di tutup. Kalau tidak, mungkin mereka akan berakhir membersihkan taman belakang sekolah seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, karena Dean yang memecahkan jam dinding kesayangan wali kelas mereka.
"Lo kalau mau iseng liat situasi dong!" ketus Rayla kepada Edward yang saat ini tengah duduk manis di sebelahnya sembari bermain ponsel. Entah apa yang Edward sedang lakukan, Rayla tidak mau tahu. Intinya sekarang, Ia ingin membahas mereka yang hampir saja menjadi tukang kebun dadakan. Untung tadi guru yang mengajar di jam pelajaran pertama sedang berhalangan hadir, dimana hal tersebut menguntungkan baginya dan juga Edward yang datang di detik-detik terakhir sebelum jam pelajaran pertama dimulai.
Edward terkekeh, "Gue lagi gak mau ngeluarin skill balapan gue."
"Eleh skill konon, bawa motor aja kayak orang yang baru bisa naik motor," cibir Rayla.
Edward membulatkan matanya, mendengar penuturan Rayla.
"Lo ngeremehin gue?" tanya Edward yang tak habis pikir. Baru tempo hari Ia menjelaskan alasannya waktu itu ingin mengakhiri hidupnya, dan sekarang Rayla sudah lupa akan hal itu? Ingatkan Edward untuk bersabar karena menghadapi satu spesies lagi semacam Rifki, tetapi dengan wujud yang berbeda.
"Iya!" tantang Rayla.
"Ok, liat aja nanti. Jangan sampai nanti lo trauma naik motor," ucap Edward dibarengi dengan senyuman penuh arti di akhir kalimatnya.
Rayla menelan ludahnya kasar, sepertinya Ia salah telah menantang Edward yang notabenenya memang memiliki skill pembalap. Jangan salahkan mulutnya yang tadi berbicara seperti itu, salahkan saja otaknya yang tidak ingat dengan ucapan Edward tempo hari.
"Kenapa lo?" tanya Edward yang menyadari perubahan raut wajah Rayla.
Rayla menggeleng cepat sebagai respon, "Gak papa."
Edward mengangguk, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Rayla.
"Lo jangan macem-macem deh, gue lagi gak mood buat hadapin para fans lo yang lebih bar-bar daripada gue," ucap Rayla sembari bergerak mundur hingga dirinya menabrak tembok yang ada di belakangnya.
"Gue gak pernah mau macem-macem sama lo. Bukannya gue udah pernah bilang, kalau gue cuman mau satu macem dari lo?" ucap Edward sembari tersenyum penuh arti.
Rayla menatap Edward, tatapan mereka berdua terkunci. Dan dengan perlahan, Edward mulai memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa centimeter dari permukaan wajah Rayla.
Rayla menahan nafasnya, ketika Edward semakin memajukan wajahnya. Edward tersenyum geli ketika melihat Rayla yang memejamkan matanya.
"Get ready baby girl," bisik Edward kemudian meniup wajah Rayla dan menjauhkan wajahnya.
Rayla menghembuskan nafasnya kasar, sudah dua kali Ia kena prank oleh Edward. Dan bodohnya, pipinya masih saja memerah ketika membayangkan Edward yang akan menciumnya. Eh?
Edward tersenyum, ketika melihat pipi Rayla yang bersemu merah. Hal tersebut sangat menggemaskan di matanya. Ingin rasanya Ia mencubit pipi Rayla, tetapi hal tersebut Ia tahan. Ia masih sadar, jika dirinya masih ada di lingkungan kelas, dan sedari tadi tak jarang murid lain mencuri pandang ke arah mereka. Ingatkan Edward untuk membalas Rayla nanti di atas motor kesayangannya.