
...'Kamu cukup rasakan, tak perlu mengerti dengan segala tindakan yang tengah aku lakukan saat ini.' ...
...----------------...
Edward baru saja memarkir kan motornya di pelataran parkir yang ada di sekolahnya. Hari ini tepat tiga hari, setelah dirinya dan Rayla berlatih dirumahnya. Tiga hari terakhir ini, mereka rutin berlatih, baik itu ketika sedang bertemu ataupun lewat ponsel.
"Udah siap?" tanya Edward, ketika dirinya dan Rayla tengah berjalan menuju ruang kelas mereka.
Rayla mengangguk, "Udah."
Edward tersenyum tipis mendengar jawaban Rayla.
"Gimana kalau kita bikin challenge," tawar Edward.
Rayla mengerutkan keningnya bingung, "Challenge apa?"
Edward menyeringai, "Kita rebutan buat jawab pertanyaan, dari guru ataupun temen-temen yang lain nanti."
Rayla mulai paham kemana arah pembicaraan Edward.
"Terus?"
"Yang lebih banyak jawab, bakal dapet traktiran dari yang lebih dikit jawab soal," jelas Edward.
"Ok, siapa takut?"
"Deal?" tanya Edward, sembari mengulurkan tangannya ke arah Rayla.
"Deal," jawab Rayla, sembari menerima uluran tangan Edward.
Usai acara persetujuan challenge yang mereka buat. Setelah sampai di ruang kelas mereka, Rayla kembali membuka bukunya untuk mengulang kembali materi-materi yang sudah sempat Ia pelajari kemarin. Rayla gak mau ya, kalau harus traktir Edward nanti!
Sepuluh menit kemudian, bel pelajaran pertama pun berbunyi. Bu Citra, memasuki ruang kelas XII IPA 2 setelah lima menit bel berbunyi.
"Selamat pagi anak-anak," sapa bu Citra, kepada seluruh siswa-siswi yang ada di kelas XII IPA 2.
"Selamat pagi bu," jawaban serentak, dari seluruh siswa yang ada di kelas XII IPA 2.
"Hari ini, Ibu akan mengambil nilai dari presentasi kalian. Jadi untuk nama yang Ibu panggil, silakan maju ke depan. Untuk yang lain, silakan bersiap-siap."
Murid-murid yang mendengar ucapan bu Citra, mengangguk mengerti. Kemudian mereka mulai mencari pasangannya untuk bersiap-siap.
Edward duduk di sebelah Rayla, sembari membawa bukunya. Sedangkan Rayla, mengambil flashdisk yang Ia letakkan di dalam tas nya kemarin.
Mereka berdua memperhatikan temannya yang sedang melakukan prestasi. Beberapa menit kemudian, presentasi dari teman mereka pun usai. Rayla, sudah deg-degan gak karuan ketika nama Edward dipanggil ke depan.
"Rileks, jangan tegang. Jangan lupa kesepakatan kita tadi pagi," bisik Edward.
Rayla menatap kesal ke arah Edward. Bukannya memberikannya kata-kata motivasi, atau semacamnya. Ini malah mengingatkannya pada kesepakatan, yang bisa saja membuat dompetnya menangis.
Setelah usai memasukkan data dari dalam flashdisk ke dalam laptop yang telah tersedia di depan. Rayla dan Edward pun, memulai presentasi mereka. Semua orang berdecak kagum, melihat bagaimana tampilan powerpoint dan juga penguasaan materi yang Edward dan Rayla sampaikan. Hingga tiba saatnya di sesi tanya jawab. Rayla sudah berdoa dalam hati, semoga Ia yang dapat memenangkan challenge yang telah mereka sepakati tadi.
Bu Citra, memberikan mereka pertanyaan, dan langsung di jawab oleh Edward. Usai menjawab pertanyaan dari bu Citra. Edward melirik sekilas ke arah Rayla, yang saat ini memasang wajah kesal.
Acara tanya jawab masih terus berlangsung, terhitung total. Ada lima buah pertanyaan, satu dari bu Citra dan sisanya dari teman-temannya yang lain, Rayla hanya berhasil menjawab dua, dari total keseluruhan pertanyaan. Sedangkan Edward berhasil menjawab tiga pertanyaan. Yang di mana artinya, Edward memenangkan challenge nya.
Setelah usai melakukan presentasi, yang menuai banyak pujian, baik itu dari guru maupun teman-teman sekelasnya. Edward dan Rayla, beranjak kembali ke tempat duduknya. Tentunya, dengan Edward yang masih mengambil posisi di sebelah Rayla, karena jam pelajaran Kimia, belum berakhir.
"Gue tagih kesepakatan kita tadi pagi, di jam istirahat," ucap Edward setelah dirinya dan Rayla, sudah kembali duduk di kursi dengan nyaman.
Rayla merengut, "Gak bisa lain kali apa?"
Edward tersenyum geli, "Gak. Gue maunya nanti, pas jam istirahat."
"Gue--," ucap Rayla menggantung. Sedangkan Edward, menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan dari ucapan Rayla.
"Gue cuma bawa uang pas-pasan," ucap Rayla, sembari menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Malu.
Edward tak dapat membendung tawanya, hingga beberapa anak lain menatap aneh kepadanya. Begitu juga dengan bu Citra.
"Ada apa, Edward?" tanya bu Citra.
"Maaf bu, tidak ada apa-apa. Hanya saja, animasi yang dipakai dalam powerpoint yang sedang ditampilkan menurut saya lucu," kilah Edward dengan cepat. Beruntung matanya menangkap gambar animasi Pikachu, yang sedang bergerak-gerak dengan lucu. Jadi, sedikit mengurangi kecurigaan.
Bu Citra mengangguk, kemudian kembali fokus untuk menilai presentasi dari anak didik nya. Sedangkan Rayla, tambah menyembunyikan wajahnya ketika mendengar jawaban Edward. Sedangkan Edward, masih berusaha menetralisir tawanya.
"Gak papa. Gue makannya yang murah aja kok, paling habis cuma dua puluh ribu aja,"
Wajah Rayla semakin memerah mendengar ucapan Edward.
"Gak usah nanti deh, gue traktir lo kapan-kapan aja," ucap Rayla, yang masih mencoba untuk bernegosiasi.
Edward menggeleng tegas, Ia masih kukuh dengan pendiriannya.
"Gak papa, lo bebas traktir gue apa aja. Cuma chiki aja gue gak masalah," ucap Edward serius.
Pada akhirnya, Rayla mengangguk pasrah. Hal itu, disambut senyuman oleh Edward. Tanpa sadar, tangannya mengelus pelan puncak kepala Rayla.
"Thanks," lirih Edward.
Rayla menegang mendengar bisikan Edward yang terdengar lirih. Dalam hati, Ia bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada Edward? Dari semenjak tiga hari yang lalu, Edward nampak sangat tertekan. Tapi lelaki itu mencoba untuk menyembunyikannya, lewat guyonan dan senyumnya. Walaupun sebenarnya, sorot matanya tidak dapat berbohong.
Sedangkan Edward, saat ini tengah menatap kosong ke arah buku tulis yang ada di meja nya. Bukan tanpa alasan, Ia membuat challenge antara dirinya dan Rayla. Ia sebenarnya tengah menyembunyikan sesuatu, yang bahkan Rifki tidak tahu. Karena belakangan ini, Edward sibuk dengan pemikirannya sendiri, dan juga bagaimana caranya agar Ia dapat mempertahankan Rayla, agar terus berada di sisinya. Terdengar egois memang, tapi itulah kenyataannya. Edward tidak ingin Rayla pergi dari sisinya, bagaimana pun juga Rayla harus tetap berada di sisinya. Dan Edward, siap melakukan apapun. Asal tujuannya itu tercapai.
Edward melirik ke arah Rayla yang kini tengah memperhatikan teman mereka yang sedang melakukan presentasi. Senyum tipis terbit di bibir Edward, ketika melihat Rayla tertawa karena pertanyaan konyol dari temannya yang sedang mengajukan pertanyaan. Demi melihat senyum itu, Edward bertekad, tidak akan diam lagi seperti dulu, ketika dirinya di tindas oleh kakaknya. Lebih tepatnya, ditindas oleh kakak tiri nya. Sam.