Mysterious CEO

Mysterious CEO
Kepedulian Eduardus.



Mendengar nama anaknya disebut membuat Eduardus terkejut. Tapi mengingat Mrs. Stewart adalah pemilik perusahan di mana Kensky bekerja, ia pun tahu kenapa wanita itu sampai mengenal anaknya Kensky.


"Sudah, Nyonya. Tadi saat nona Kensky menghubungi kontak tuan, aku yang mengangkat dan memberitahukan keadaan tuan Dean."


"Terus apa reaksinya?"


"Nona Kensky langsung terdiam. Aku sudah menghubungi kontak Mr. Bon untuk menanyakan keadaan nona, tapi beliau tidak merespon."


"Ya, ampun, dia pasti sangat khawatir."


Melihat ekspresi Mrs. Stewart membuat Eduardus terharu. Ia yakin kalau wanita tua itu sangat memperdulikan kondisi anaknya. "Nyonya, sebaiknya Anda duduk dulu. Percayalah, semua akan baik-baik saja," kata Eduardus.


Mrs. Stewart menatapnya. Dan tepat di saat itu pintu ruangan operasi terbuka.


Clek!


Mrs. Stewart-lah orang yang lebih dulu bergerak dan menghampiri para petugas medis yang baru saja keluar dari ruangan itu. "Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?"


Dokter muda itu tersenyum kepada Mrs. Stewart. "Tenang saja, Nyonya, putra Anda baik-baik saja. Salah satu pembuluh darah di kepalanya pecah, tapi kami sudah mengatasinya. Mungkin dia akan sadar sedikit lama, karena pengaruh obat bius yang kami berikan."


Eduardus meneteskan air mata. "Terima kasih, Tuhan. Akhirnya Engkau telah mengambulkan doaku."


Mrs. Stewart yang mendengar kata-kata itu segera menatapnya.


"Dokter, terima kasih banyak," kata Eduardus.


"Sama-sama. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."


Perkataan si dokter mengalihkan pandangan Mrs. Stewart untuk menatapnya. "Terima kasih banyak, Dokter."


Eduardus juga mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya. "Apa kami sudah bisa menjenguknya, Dokter?"


"Boleh. Tapi setelah pasien pindah ruangan, ya."


"Sekali lagi terima kasih banyak, Dokter," kata Eduardus lagi.


Mrs. Stewart menatap sang supir. "Matt, apa kau sudah menyelesaikan semua administrasinya?"


"Sudah, Nyonya."


Di saat bersamaan beberapa perawat keluar dari ruangan operasi. Mereka mendorong brangkar di mana ada tubuh Dean yang sedang tak sadarkan diri dengan kepala diperban, serta infus yang menjuntai.


Eduardus menoleh. Tanpa berkata apa-apa dia langsung mengikuti para perawat itu untuk memindahkan Dean ke ruangannya.


Mrs. Stewart menatap Eduardus. "Siapa dia, Matt? Kenapa dia begitu peduli kepada Dean?"


"Beliau adalah Mr. Oxley, ayah kandungnya nona Kensky."


Mata Mrs. Stewart tebelalak. "Apakah dia Eduardus?"


"Iya, Nyonya."


***


Setelah beberapa jam perjalanan, Kensky akhirnya tiba di Amerika. Tanpa memperdulikan penampilannya ia segera mencari taksi dan menuju rumah sakit. Karena tidak tahu di rumah sakit mana Dean telah rawat, Kensky segera merogoh ponsel yang ada di dalam tas untuk menghubungi Matt.


Zet!


"Ya, Tuhan, di mana ponselku?"


Kensky mencari-cari isi dalam tas. Tapi begitu mengingat saat terakhir kali ia menggunakan benda itu, Kensky pun sadar kalau ponselnya tertinggal di dalam ruangan kantor. "Ya, ampun, bagaimana ini? Aku harus mencari mereka di mana, rumah sakit di sini kan banyak?" Kensky berkutat dengan pikirannya. Dan begitu ingatannya tertuju pada rumah sakit di mana pihak kantor membawa Soraya tempo hari, saat itulah ia menghentikan taksi dan pergi ke Bebbi Hospital.


Di sisi lain.


Karena hari sudah gelap ditambah cuaca yang tidak memungkinkan, Eduardus menghampiri Mrs. Stewart yang sedang duduk di samping brangkar sambil menatap Dean. "Nyonya, sebaiknya Anda pulang saja, biar aku yang menjaga Dean."


Dean yang sudah sadarkan diri pun ikut berkomentar. "Benar, ini sudah larut, Mami. Mami ingat kan, kalau tidak boleh lama-lama di luar?"


Mrs. Stewart menatap Dean. "Iya, Sayang," katanya lalu menatap Eduardus, "Maaf sudah merepotkan Anda."


"Tidak sama sekali, Nyonya. Justru karena akulah sampai Dean jadi begini. Seandainya Dean tidak menolongku, dia tidak mungkin berada di sini."


Mrs. Stewart tersenyum lalu menatap Dean. "Baiklah. Kalau begitu mami pergi dulu ya, Nak. Matt?"


"Iya, Nyonya?"


"Antarkan aku ke depan."


Dengan sigap Matt pun mengantarkan wanita itu. Dan meski Mrs. Stewart punya supir pribadi yang selalu menemaninya, tapi dia punya alasan tertentu mengajak Matt untuk mengantarkannya hingga ke depan pintu masuk rumah sakit.


"Sudah, Nyonya. Nona Kensky sudah tahu semuanya."


"Lalu bagaimana dengan Kapleng Group dan rumah itu?"


"Mr. Oxley sudah memberikannya kepada tuan Dean. Beliau juga sudah meminta izin kepada nona Kensky, dan nona Kensky menyutujuinya."


Mrs. Stewart tersenyum. "Aku tidak salah mengangkat Dean sebagai putraku, dia laki-laki yang luar biasa hebat." Selepas mengtakan itu wanita itu pun segera masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan rumah sakit.


Matt kembali ke dalam. Tapi saat langkah sebelahnya baru hendak menginjak lantai rumah sakit, suara dari belakang membuatnya berhenti dan menoleh.


"Matt!"


"Nona Kensky? Kenapa Anda tidak menghubungi saya?"


"Handphone-ku ketinggalan di ruangan. Bagaimana keadaan Dean? Di mana dia? Antarkan aku padanya, Matt." Kensky terlihat gelisah.


"Bos baik-baik saja. Bos juga sudah sadar dan sekarang sedang istirahat di ruangan bersama ayah Anda."


Kensky bernapas lega. "Bagaimana kejadiannya, Matt? Kenapa dia sampai ditabrak mobil?"


Matt pun menceritakan kronologinya secara detail kepada Kensky berdasarkan informasi yang ia dapat dari Eduardus.


"Papi? Lalu keadaan papi bagaimana?"


"Ayah Anda tidak apa-apa, Nona. Karena sebelum mobil itu mengenai beliau, bos sudah berlari dan menghadang mobil itu."


Mata Kensky berkaca-kaca. "Dasar bodoh! Dia pikir tubuhnya sekuat hulk, apa?"


Matt menahan tawa.


"Antarkan aku padanya, Matt. Aku harus memarahinya."


Dengan cepat pria itu berjalan mengimbangi langkah Kensky. Dan ketika tubuh mereka tiba di depan ruangan di mana Dean di rawat, sosok Eduardus baru saja keluar dari ruangan itu. "Kensky?"


"Papi! Bagaimana keadaan Dean, Pi?" tanya Kensky seraya melirik pintu ruangan.


"Masa kritisnya sudah lewat. Dia juga baru saja tertidur, jadi sebaiknya kau jangan mengganggunya dulu."


"Tidak, Pi, aku harus menemaninya di dalam."


Eduardus memborong tubuh Kensky. "Kau dari Eropa dengan dandanan seperti ini?"


Kensky menatap tubuhnya yang masih mengenakan pakaian kantor. "Iya, begitu mendengar kabar dari Matt aku langsung ke bandara."


Eduardus menggeleng. "Baiklah, kalau begitu papi mau cari kopi dulu. Papi ingin minum kopi."


Kensky menggeleng. "Sebaiknya Papi pulang saja dan istirahat, ini sudah larut. Dean biar aku yang jaga."


Eduardus diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah."


Matt yang masih berdiri pun segera menawarkan diri untuk mengantar Eduardus. Sedangkan Kensky dengan langkah pelan memasuki ruangan Dean.


Clek!


Didorongnya pintu ruangan dan melihat sosok Dean sedang tertidur di atas brangkar. Air mata Kensky merebak. Dilihatnya kepala Dean yang terlilit perban serta selang infus yang menjuntai.


Dengan langkah sangat pelan Kensky mendekati ranjang. Ia menarik kursi yang ada samping brangkar kemudian duduk di samping Dean. Perlahan ia meraih tangan lelaki itu dan meletakannya ke pipi. "Aku tak menyangka ... demi menyelamatkan papi kau merelakan dirimu ditabrak mobil," ia menangis sekaligus tersenyum.


Perkataan Kensky membuat Dean terkejut. Perlahan ia membuka mata dan menatap gadis yang sedang duduk dengan mata terpejam dan air mata yang terus mengalir.


"Sky?"


Suara Dean yang sangat pelan membuat gadis itu membuka mata. "Sayang, maaf aku telah mengganggu tidurmu."


Dean tersenyum samar. "Kapan kau tiba? Siapa yang mengabarimu?"


Kensky mengusap airmatanya. "Itu tidak penting, yang penting sekarang adalah kesehatanmu. Tidurlah, ini sudah larut."


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku juga tidak ingin tidur."


"Tidak apa-apa, bagaimana? Kalau tidak apa-apa kau tidak mungkin dioperasi. Lagi pula kenapa kau begitu bodoh dan membiarkan dirimu ditabrak, hah? Kau tidak tahu apa itu sangat berbahaya. Kalau kau mati lalu aku bagaimana? Apa kau akan membiarkan diriku menjanda, hah?"


Omelan Kensky membuat Dean tertawa. "Peluk aku, aku sangat merindukanmu."


Bersambung___