
"Enam sembilan?"
"Iya," balas Tanisa, "Tunggu di sini, aku akan mengambil laptop dulu."
Kensky menatap bingung ke arah Tanisa yang kini berjalan memasuki kamarnya.
"Kau harus melihat ini, Sky," kata Tanisa yang tiba-tiba muncul sambil membawa laptop. Ia duduk di sebelah Kenksy kemudian mengotak-atik benda itu, "Ini adalah situs terbaik yang pernah aku lihat."
Zet!
Kensky terkejut. "Kau sering melihatnya di situs ini, ya?"
Tanisa tertawa. "Memangnya kenapa? Kan mencari pengalaman bukan harus mempraktekannya saja. Sama seperti sekolah, kita akan mendapat materi dulu, baru mempraktekannya. Bukan, begitu?"
Kensky terdiam karena apa yang dikatakan Tanisa ada benarnya. Ia tidak perlu bercinta dulu baru mendapatkan pengalaman, tapi hanya dengan berbagi pengalaman bersama Tanisa dan melihat video di situs itu sudah cukup bagi Kensky untuk mempraktekannya bersama Dean.
"Jadi inilah yang harus kau lakukan ketika bersama Dean. Aku yakin dia pasti akan semakin cinta padamu, Sky."
Kensky tak menjawab, ia terus menatap layar laptop untuk memperhatian setiap gaya yang dilakukan pasangan itu di dalam sana.
"Nanti kalau kau bosan dengan gaya itu-itu saja, kau bisa buka situs ini dan mencari gaya yang lain. Caranya gampang, kau tinggal ketik saja gaya apa yang kau inginkan dan video itu akan muncul."
Kensky menatap Tanisa dengan wajah memerah. "Rasanya aku pasti akan malu."
"Kenapa?" Tanisa menahan tawa.
"Aku malu jika menonton situs ini bersama Dean."
Tanisa mengendus. "Ya, ampun, kau tidak perlu mengajaknya, Sky. Dia itu lebih berpengalaman darimu. Jadi tanpa melihat ini pun dia sudah tahu apa yang bisa membuatmu senang di atas ranjang."
"Tapi kan aku pacar pertamanya," balas Kensky, "Atau jangan-jangan ...."
Tanisa tersenyum lebar. "Bisa jadi. Sama seperti aku, Sky. Meskipun pacarku hanya satu, tapi aku bisa membuatnya betah karena aku sering memperagakan gaya yang aku dapatkan dari situs ini ketika kami bercinta. Alhasil dia puas, aku pun senang."
"Pantasan hubungan kalian awet, ya."
"Itu harus, karena laki-laki akan mencari wanita lain ketika dia sudah tidak nyaman dengan pasangannya. Tapi selama pasangannya pintar membuatnya nyaman, sampai kapanpun dia tidak akan mencari wanita lain. Ingat, laki-laki itu lebih memprioritaskan ego dibanding perasaan. Mereka akan mencari wanita yang bisa memuaskan ego mereka tanpa peduli dengan perasaan wanita yang mencintai mereka."
"Baiklah, nanti kau kirim padaku lewat pesan nama situsnya. Mulai malam ini aku harus belajar, agar pas malam pertama nanti aku akan langsung mempraktekan gaya itu bersama Dean."
Tanisa tertawa. "Dia pasti akan kaget dan bertanya kau belajar dari mana."
"Kalau dia tanya aku akan bilang, bahwa aku tahu darimu. Kaulah yang telah mengajarkanku, Tan."
"Kensky!"
Mereka pun terbahak hingga suara memenuhi ruangan itu.
***
Di salah satu mension keluarga Stewart yang mewah semua orang sedang ikut merayakan pernikahan Dean dan Kensky. Pernikahan tertutup yang hanya dihadiri oleh kerabat, relasi dan keluarga itu terlihat mewah dengan dekorasi yang bertema putih.
Sejak acara pemberkatan selesai dan sah menjadi pasangan suami-istri, Dean dan Kensky tak henti-hentinya melemparkan senyum tulus kepada setiap undangan yang ikut memeriahkan acara mereka. Senyum yang terpacar dari wajah mereka bagaikan perwakilan untuk menyatakan bahwa saat ini mereka sangat bahagia.
"Halo, Mr. Harvest!" sapa Dean begitu mendekati sosok lelaki matang yang tampan yang sedang berdiri bersama istri dan anaknya, "Aku pikir Anda tidak akan datang."
Kensky menyapa wanita yang sedang menggendong bayi laki-laki berwajah tampan seperti ayahnya. "Halo, Boy. Siapa namamu?"
Wanita yang namanya Ellena itu ikut tersenyum dan memberikan anaknya kepada Kensky untuk digendong. "Namaku Reagan Levon, Aunty. Tapi Aunty bisa memanggilku Levon."
"Wow, nama yang bagus," balas Kensky. Ia menatap Dean, "Sayang, kau harus kerja keras untuk mendapatkan anak perempuan. Aku ingin menjodohkan anak kita dengan Levon."
Perkataan Kensky mengundang tawa keluarga Harvest. "Itu ide yang bagus," balas Alex lalu menatap Ellena, "Kau setuju?"
Wanita itu tersenyum sayang. "Aku sangat setuju."
Dean tertawa. "Berarti nanti malam aku harus ekstra lembur, biar bisa menghasilkan benih yang luar biasa dan mendapatkan anak perempuan."
Mereka pun tertawa bersama. Dan tak ingin perbincangan itu berakhir, mereka saling membahas bisnis dan rencana keluarga Harvest dan Stewart untuk ke depannya.
"Itu hal yang bijaksana, Mr. Stewart. Kapan kau akan merealisasikannya?" kata Mr. Harvest, "Kalau kau tidak keberatan, aku ingin menjadi salah satu investor juga di kampus itu."
***
Dengan kondisi sedikit mabuk, Mr. Hans dan Kim masuk ke sebuah hotel terbesar yang ada di New York. Karena hasrat dalam diri mereka begitu meluap-luap sejak menghadiri pesta pernikahan Kensky dan Dean beberapa jam yang lalu, kini mereka memutuskan mencari hotel sebagai tempat untuk menuntaskan gairah masing-masing.
"Mudah-mudahan masih ada kamar kosong," kata Mr. Hans begitu keluar dari mobil. Ia menggandeng tangan Kim agar wanita itu tidak terjatuh.
"Oh, Sayang ... kalau di sini juga tidak ada tempat kosong untuk kita, maau tidak mau kita harus melakukannya di dalam mobil," kata Kim.
Mereka berdua melewati pintu depan dan menghampiri meja resepsionis. "Selamat malam," sapa Mr. Hans kepada wanita yang merupakan petugas hotel.
"Malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
"Kami ingin memesan kamar untuk dua malam. Apa ada kamar kosong?"
Saat itulah sosok wanita cantik bergaun merah muncul di samping mereka. "Aku titip kunci kamar, aku ingin keluar sebentar."
"Baik, Nona."
Kim yang merasa mengenal suara itu segera menoleh dan menatap wanita itu.
Zet!
"Soraya?"
Wanita itu tak kalah kaget. "Kim? Sedang apa kau di sini?" katanya seraya menatap wanita dan sosok lelaki yang berdiri di sebelahnya.
Mr. Hans yang mendengar percakapan itu pun langsung menoleh. "Soraya? Sedang apa kau di sini? Apa kau tidak menghadiri pernikahan adikmu?"
Alis Soraya berkerut. "Adik? Maksud kalian Kensky?"
"Iya," balas Kim cepat, "Hari ini kan pernikahan Kensky dan Dean. Atau kau baru pulang juga dari pesta itu?"
Soraya terkejut. Dalam hati ia berkata, "Pernikahan Kensky dan Dean? Jadi mereka berdua telah menikah," Soraya tampak berpikir, "Kenapa bisa Dean menikah dengan Kensky, sementara dia tahu gadis itu anaknya Eduardus?"
"Soraya?"
Suara Kim mengejutkannya. "Oh, iya?"
"Kami masuk dulu, ya. Sampai nanti."
Soraya mengangguk sambil menatap tubuh Mr. Hans dan Kim yang berjalan menuju lift. Rasa penasarannya saat melihat kebersamaan kedua orang itu langsung terhalaukan, akibat perkataan Kim mengenai pernikahan Dean dan Kensky. "Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mana mungkin Dean bisa menikahi gadis yang sudah jelas ayahnya pernah menjahatinya. Ini tidak beres, aku harus mencaritahu soal ini. Mama juga harus tahu soal ini."
"Maaf, Nona."
Suara petugas hotel itu mengejutkan Soraya. Ia menoleh dan menatap wanita itu.
"Apa ada pesan sebelum Anda pergi?"
"Oh, iya. Kalau ada lelaki yang datang mencariku, kau berikan saja kunci kamarku."
"Baik, Nona."
Soraya kembali mengalihkan pandangan. "Dean dan Kensy ... Baiklah, mungkin sudah saatnya kalian harus merasakan apa yang kami rasakan."
Di sisi lain.
Begitu masuk ke dalam kamar, Mr. Hans langsung membawa Kim ke atas ranjang. Ia bahkan langsung menarik panties wanita itu ketika gaunnya terangkat dan menyusupkan kepala pelontosnya di antara paha Kim yang mulus.
Kim mendesah saat merasakan dingin dan lembab menghampiri kewanitaannya. Namun, kenikmatan itu tak bisa mengalahkan rasa penasarannya ketika bertemu Soraya beberapa menit yang lalu. "Sedang apa dia di hotel ini? Apakah Kensky tahu jika Soraya ada di kota ini?"
Mr. Hans yang sudah mabuk akan gairah terus menyerang bagian itu secara kasar. Karena merasa tidak nyaman dengan pakaian yang menghalangi aksinya, ia beranjak dan melepaskan semua pakaian hingga tubuhnya telanjang.
Begitu juga Kim yang merasa tak nyaman dengan gaun yang masih membungkus tubuhnya, ia segera melepaskan gaun itu hingga memperlihatkan tubuh telanjangnya kepada Mr. Hans yang kini menunduk dan menyerang tubuh itu bagaikan singa yang kelaparan.
Bersambung___