
Kali ini Kensky terdiam sambil menatap Rebecca. Hal yang tidak mungkin jika ia berkata jujur tentang apa yang dilakukannya bersama Dean. Namun, setelah memikirkan jawabannya yang cukup masuk akal ia pun memilih untuk berbohong. "Tidak, Ma. Aku ditempatkan di kamar tamu dan saat bangun tadi aku langsung di antar pulang oleh supirnya."
Alis Rebecca kembali berkerut. "Aneh, kok Dean memperlakukannya seperti itu?" katanya dalam hati, "Seharusnya kan dia memperlakukan Kensky dengan kasar."
Ting! Tong!
Bunyi bel pintu membuat Kensky dan Rebecca terkejut lalu sama-sama menoleh ke bawah.
"Biar Mama yang buka," kata Rebecca, "Kau istirahat saja, Sayang. Kepalamu pasti pusing, kan?"
Kensky menggeleng. "Tidak, Ma. Aku tidak apa-apa, aku ingin menjenguk papi dulu."
Ting! Tong!
"Baiklah, kalau begitu mama lihat dulu siapa yang datang."
Kensky mengangguk lalu melihat Rebecca menuruni tangga. Dengan tubuh yang masih dibalutkan gaun putih yang dikenakan saat pesta tadi malam, ia membuka handle pintu kamar untuk membesuk ayahnya.
Clek!
Kensky mendorong pintu kamar itu. Karena Eduardus sedang terlelap, ia pun melepaskan sepatu tingginya agar tidak menimbulkan suara. Senyum di bibirnya tampak senang saat melihat wajah Eduardus terlelap begitu damainya. "Papi, cepat sembuh, ya?" kata Kensky saat menunduk mendekati wajah sang ayah lalu mengusap dahinya.
Clek!
Pintu kamar terbuka. Kensky menoleh dan segera berdiri begitu melihat Rebecca masuk bersama satu lelaki berjas lengkap dengan tas hitam di tangannya. Alisnya berkerut-kerut menatap mereka secara bergantian.
"Kensky," kata Rebecca seraya menatap Kensky dengan ekspresi pasrah, "Beliau ini adalah pengacara ayahmu."
Kensky segera mendekat untuk berjabatangan dengan lelaki yang umurnya kira-kira tua sedikit dari Rebecca. Selama ini ia memang tidak pernah tahu soal pengacara, tangan kanan, bahkan apapun yang bersangkutan dengan ayahnya. Ketidakakraban dirinya dan Eduardus membuat Kensky tak peduli dengan segala urusan ayahnya, apalagi urusan perusahan.
"Jadi begini, Nona," kata lelaki itu. Ia hendak melanjutkan kata-katanya, tapi Kensky segera melontarkan perkataan yang membuatnya menelan kembali kata-kata itu.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja, aku tidak ingin mengganggu istirahat papi."
Lelaki itu menggangguk dan lebih dulu keluar. Sementara Rebecca yang mengekor dan berjalan tepat di belakang Kensky, kini melirik Eduardus sebelum menutup kembali pintu kamar itu. "Sebaiknya kita bicara di ruang tamu saja," usulnya. Ia pun lebih dulu menuruni tangga, "Kensky, mama buatkan minuman dulu, ya? Kau mau minum apa?"
"Tidak usah, Ma. Terima kasih."
"Saya juga tidak usah, Nyonya," timpa lelaki itu.
"Kalau begitu kita langsung saja ke ruang tamu," kata Rebecca. Ia menggandeng lengan Kensky saat menuruni tangga. Sambil melirik lelaki yang ada di hadapannya, ia berbisik kepada Kensky, "Kira-kira apa ya tujuannya datang ke sini?"
Setelah mereka semuanya tiba di ruang tamu, Rebecca mengambil posisi duduk di samping Kensky, sedangkan lelaki itu duduk tepat di hadapan mereka.
Kensky melirik Rebecca sebelum akhirnya menatap lelaki yang duduk di hadapannya. Lelaki itu terlihat sedang mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Map itu berisi beberapa lembar kertas putih yang kelihatannya seperti berkas-berkas.
"Jadi begini, Nona Kensky," katanya sambil menatap gadis itu, "Oh, iya. Perkenalkan, namaku Ronny Lamber," kata lelaki itu seraya mencondongkan badan untuk berkenalan dengan Kensky dan Rebecca. Setelah kedua wanita itu membalas uluran tangannya, ia melanjutkan kembali perkataannya, "Jadi begini, Nona Kensky, aku adalah pengacara tuan Eduardus Oxley. Aku datang ke sini karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan mengenai perusahan orang tua Anda. Karena menurut informasi yang kudengar dari beliau Anda-lah orang yang berhak tahu mengenai perusahan itu."
Kensky terkejut, namun di satu sisi ia senang karena ayahnya ternyata masih mengakuinya. Ia teringat akan kejadian makan malam di mana Eduardus berkata, bahwa dia akan menggaris nama Kensky dari daftar warisan.
Ia melirik Rebecca lagi sebelum wajahnya kembali menatap lelaki itu. "Perusahan? Maksud Anda Kapleng Group?" tanya Kensky. Wajahnya tampak khawatir.
Lelaki itu menautkan kesepuluh jarinya lalu menatap Rebecca dan Kensky secara bergatian. "Benar. Karena sebelumnya aku mendapat kabar bahwa beliau sedang sakit dari salah satu rekan bisnisnya, jadi aku langsung menyiapkan semuanya dan datang ke sini untuk menemui Anda."
Kensky semakin panik. "Ada apa? Apa yang terjadi dengan perusahan itu?"
Tuan Lamber mulai membuka map di depannya dan mengambil selembar kertas putih yang sudah terdapat kata-kata yang tersusun secara paragraf. Ia membaca lagi lembaran itu sebentar untuk memastikan bahwa kertas itulah yang akan diperlihatkannya kepada Kensky. "Ini adalah pernyataan yang dibuat oleh pak Eduardus sendiri sebelum beliau jatuh sakit. Beliau sempat memberikan ini kepadaku satu bulan sebelumnya beliau sakit. Tapi sebaiknya Anda mendengarkan dulu isi pernyataan tersebut sebelum ditandatangani."
Kensky menatap bingung. Ia melirik kertas yang ada di tangan Mr. Lamber kemudian menatap Rebecca. "Apa isinya, Ma?" bisiknya hampir tak terdengar.
Rebecca menggerakkan bahunya. "Mama tidak tahu, Sayang."
Kedua wanita itu pun kini menghadap untuk menyimak isi pernyataan itu.
Sebelum memulai Mr. Lamber berdeham kemudian membaca tulisan-tulisan dari hasil ketikan huruf komputer yang ada di kertas itu. "Kensky, Sayang, putriku yang paling kusayangi. Maafkan papi, Nak. Papi terpaksa menjual perusahan kita karena papi terlilit hutang. Maafkan juga karena papi tidak memberitahukannya kepada kalian. Sebenarnya papi punya perjanjian dengan pembeli perusahan kita. Perjanjian itu adalah; jika sebelum papi meninggal kau dan Soraya sudah menikah, kalian bisa membantu untuk membayarkan hutang itu kepadanya. Tapi jika seandainya papi meninggal di saat kalian belum menikah, papi terpaksa memberikan perusahan kita kepada orang itu untuk menebus semua hutang-hutang papi. Dan sebagai anak kandung dari keluarga Oxley, papi harap kau bisa mengerti dan menyetujui keputusan ini, Kensky. Dari lubuk hati yang paling dalam, papi sangat minta maaf karena tidak pernah membuatmu bahagia. Tapi percayalah, dalam hati kecil papi selalu tersisip cinta yang tulus untukmu, Nak. Bertanda tangan di bawah ini. Eduardus Oxley."
Tuan Lamber menyodorkan kertas di tangannya kepada Kensky, tapi Kensky hanya diam mematung karena syok mendengar penyataan itu. "Sebaiknya Anda baca sendiri sebelum menandatanganinya, Nona Oxley."
Kensky tersadar. Ia segera meraih lembaran itu dan menatap isinya. Karena masih ragu dan menganggap perkataan Mr. Lamber itu tidak benar, ia membaca lagi satu persatu kalimat yang tertera di atas kertas itu untuk memastikan. Seandainya saja hanya ukiran tinta komputer yang terpampang di kertas itu, Kensky tidak akan mempercayainya. Tapi karena melihat tanda tangan beserta nama yang tercantum di bawahnya, mau tidak mau Kensky harus percaya. Airmatanya bahkan menetes saat melihat nama Eduardus Oxley sebagai pihak penjual.
"Ini tidak mungkin," bisiknya lemah, "Papi ...." Airmatanya merebak.
Rebecca mengambil alih dan langsung merampas kertas itu. "Anda jangan membohongi kami, Pak! Suami saya tidak mungkin menjual perusahannya. Dia sudah mewariskan perusahan itu kepada kedua anaknya."
"Maaf, Nyonya. Tapi sesuai dengan pernyataan yang sudah ditandatangani oleh beliau, begitulah keputusanya. Jadi mau tidak mau Anda harus mempercayainya."
Rebecca tersentak menatap Kensky. "Kensky, kau harus melakukan sesuatu, Nak! Kau harus melakukan sesuatu." Nadanya berubah histeris, "Mama tidak mau hidup susah, Kensky. Mama tidak mau hidup di jalan. Lakukan sesuatu, Kensky. Lakukan sesuatu!"
Bersambung____