
Wajah Rebecca semakin pucat, sedangkan Soraya yang berdiri tak jauh dari mereka kini perlahan-lahan mundur dan hendak kabur.
Dokter Harvey berdeham. Setelah beberapa menit ia menyimak apa yang terjadi, sekaranglah dia baru sadar apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Maaf, aku tidak tahu masalah kalian dan aku juga tidak ingin terlibat. Jadi begini," katanya sambil menatap Kensky dan Eduardus, "Aku bisa berada di sini, karena dipanggil ibu Rebecca. Beliau memintaku untuk berpura-pura telah dijodohkan dengan Anda, karena laki-laki yang telah mereka jodohkan dengan Anda sudah meninggal. Jadi sebenarnya perjodohan kita tidak ada dan semua ini adalah idenya ibu Rebecca."
Zet!
Kensky ternganga. Ia menatap Rebecca dan Soraya secara bergantian. "Aku tak menyangka kalian setega ini kepadaku," katanya dengan suara parau dan emosi yang tertahan.
"Sky, mama bisa menjelaskannya. Semua ini mama lakukan ada alasannya, Sky."
Kensky menggeleng. "Apapun alasannya kau tetap jahat. Aku tak menyangka ternyata kau sangat kejam daripada iblis. Selama ini kau berpura-pura baik padaku, tapi ternyata___"
"Sky," sergah Rebecca. Wajahnya pucat dan nyaris menangis, "Mama tidak bermaksud melakukan ini, Nak. Ini semua idenya Soraya."
Mendengar namanya disebut membuat Soraya panas. "Apa-apaan Mama, hah? Bukankah Mama sendiri yang ingin dokter Harvey menjadi tokoh lelaki yang telah dijodohkan ayah untuk Kensky? Kenapa sekarang malah aku yang dituduh?" Soraya menatap Kensky, "Aku memang berniat ingin mencomblangkanmu dengan dokter Harvey, tapi ide untuk membuat dokter Harvey sebagai lelaki yang dijodohkan oleh ayah untukmu itu idenya mama, bukan aku."
Rebecca tak bisa menjawab. Dengan keadaan terpaksa ia duduk dan berkata, "Baiklah, mama akan jujur," ia memasang wajah sedih dengan air mata mulai menetes, "Sebenarnya mama melakukan ini demi Soraya."
"Kenapa aku lagi? Aku___"
"Tutup mulutmu, Soraya! Jika bukan karena otakmu yang mengidekan perjodohan ini, aku tidak akan mengatur semua rencana ini dan menyangkut-pautkan dokter Harvey ke dalam masalah ini."
Dengan emosi yang meluap-luap Soraya terpaksa diam. Ia berdiri dan menatap ibunya bagaikan singa lapar yang siap memangsa kapan saja.
Begitu juga Kensky, dengan wajah merah karena marah ia menatap Rebecca lekat-lekat.
"Mama sebenarnya ada perjanjian dengan seseorang. Perjanjian jika mama berhasil menjual perusahan dan rumah ini kepadanya, dia harus menikahi Soraya. Tapi perjanjian itu batal ketika nyawa mama terancam."
Zet!
Soraya terkejut. "Jadi maksud Mama pernikahanku dengan Dean telah dibatalkan?"
Zet!
Kensky terkejut. "Pernikahan? Bersama Dean?" katanya dalam hati, "Berarti selama ini Dean telah berkonspirasi dengan mereka?"
"Maafkan mama, Soraya. Tapi itu terpaksa harus mama lakukan. Posisi mama waktu itu di ambang kehancuran. Pengacara asli ayahmu datang dan ingin bertemu dengannya, sementara waktu itu mama sendiri tidak tahu ayah ada di mana. Seandainya tidak ada bantuan Dean, mungkin hari itu juga mama sudah di penjara, Soraya. Jadi demi menghindari amukan pengacara itu, mama meminta bantuan Dean dan membatalkan perjodohan kalian."
Zet!
Lagi-lagi dua pasang mata tampak kaget. Jika Soraya terkejut karena perjodohannya gagal, Kensky terkejut karena persekongkolan Dean dengan kedua wanita itu.
"Jadi karena sudah tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan uang dari hasil penjualan perusahan dan rumah ini, mama memutuskan menjodohkanmu dengan Dr. Harvey, Sky. Mama melakukan itu agar mama bisa membujuk Dean untuk kembali menikahi Soraya."
"Berarti, Mama, Soraya dan Dean sekongkol?" tanya Kensky. Suara nyaris tak terdengar.
"Iya, kami sekongkol karena dia menginginkan Kapleng Group serta rumah ini. Mama terpaksa melakukan segala cara termasuk menyingkirkan ayahmu, agar bisa menjual Kepleng Group dan rumah ini kepadanya."
Air mata Kensky merebak. "Dean, kenapa dia setega itu? Lalu apa maksudnya mengatakan bahwa aku ini adalah calon istrinya? Kenapa dia berbohong bahwa diriku telah dijodohkan dengannya?" kata Kensky pelan.
Soraya mendengarnya. Dengan cepat ia mendapat ide dan berkata, "Itu hanya alasannya, Sky. Dia juga telah membohongimu. Selama ini dia memang bos kita, tapi tujuan dia sebenarnya hanya ingin menghancurkanmu dan ayahmu saja."
Rebecca menarik napas sambil menatap lelaki itu. "Dia anak tirimu, Eduardus. Dialah yang menyuruhku melakukan ini semua, dia ingin membalas dendam kepadamu."
Kensky terlalu syok dengan persekongkolan serta kebohongan Dean, sehingga ia tak terlalu mengubris apa yang baru saja dikatakan Rebecca.
Eduardus tampak berpikir. "Dean ... Dean ...," Matanya terbelalak, "Dean Bernardus, apa dia anaknya Amelia?"
Rebecca menggeleng. "Aku tidak tahu nama ibunya siapa, tapi yang jelas dia melakukan ini semua karena ingin balas dendam kepadamu, terhadap apa yang pernah kau lakukan padanya."
Kensky tidak setuju. "Tidak, itu tidak mungkin! Kalian pasti bohong. Kalian melakukan ini pasti karena ingin Dean menikahi Soraya, kan?"
Soraya maju mendekati Kensky. "Kau ingin buktinya? Aku punya buktinya, bila mana Dean hanya memanfaatkanmu," kata Soraya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku gaun kemudian mengotak-atiknya. Setelah mendapatkan file yang ia cari, dengan cepat Soraya menekan play untuk memutar rekaman suara itu di hadapan Kensky.
'Aku akan menikahi Soraya setelah pembalasanku selesai. Saat ini aku belum puas menyaksikan bagaimana kehidupan keluarga Oxley menderita. Jadi, aku harus membuat mereka semakin menderita lagi dan setelah puas aku akan segera melamar Soraya.'
Kensky terperanjat saat mendengar suara yang berbicara di dalam rekaman itu. Ia sangat mengenali suara itu, suara yang selama ini milik orang yang paling ia cintai. "Tidak, itu tidak mungkin. Dean tidak mungkin melakukan itu padaku. Kalian pasti berbohong, kalian pasti berbohong. Dean mencintaiku, dan aku mencintainya. Dia tidak mungkin ...." Kensky menghentikan perkataannya. Rasa sakit dalam hatinya tak bisa dibendung lagi. Tanpa berkata apa-apa dia pun langsung berlari dan meninggalkan mereka semua.
"Kensky! Kau mau ke mana, Nak?" panggil Eduardus.
Gadis tidak peduli. Ia terus menaiki tangga dengan air mata semakin deras hingga masuk ke dalam kamar.
Rebecca yang melihatnya langsung tertawa dalam hati. "Bagus, akhirnya kau tahu siapa Dean yang sebenarnya."
Soraya tampak berpikir. "Mencintai Dean? Dean juga mencintai dia? Apa jangan-jangan selama ini mereka menjalin hubungan diam-diam?" katanya dalam hati, "Aku harus mencari tahu kebenarannya. Ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh menjalin hubungan. Aku yang lebih pantas mendapatkan Dean."
Eduardus masih berdiri sambil menatap Rebecca. Tatapan tajamnya menusuk bagaikan jarum. "Rebecca?"
Wanita itu tersentak dan menatapnya. "Ada apa, Suamiku?"
"Aku bukan suamimu lagi. Dan jangan kau pikir urusan kita sudah selesai, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat kepadaku, Rebecca."
Dokter Harvey berkomentar, "Maaf, kalau begitu aku permisi dulu."
Rebecca mendekat. "Dokter, maaf su___"
"Tidak apa-apa," balasnya cepat. Tanpa berkata apa-apa lagi lelaki itu langsung pergi dan meninggalkan mereka.
Sedangkan Soraya yang masih penasaran dengan tangis juga perkataan Kensky tadi, kini menaiki tangga menemui gadis itu.
"Mau ke mana kau?" tanya Rebecca dengan nada ketus.
"Aku mau menghibur Kensky, Ma. Dia pasti sakit hati."
Rebecca menyetujui. Setelah anaknya itu menghilang di balik tangga, ia menatap Eduardus. "Sayang, aku minta maaf. Aku kan sudah___"
"Diam kau, Rebecca!" bentak Eduardus, "Kau pikir aku lupa apa yang pernah kau lakukan padaku, hah? Aku tidak akan pernah lupa saat kau menaruh sesuatu ke dalam makananku dan memaksaku untuk memakannya."
Rebecca semakin takut. Jika saja kemunculan Eduardus saat ini dalam kondisi lemah dan sekarat seperti dulu saat terakhir kali mereka bertemu, ia pasti punya keberanian untuk melawan lelaki itu meski dia suaminya. Tapi yang berdiri dan muncul di hadapannya saat ini adalah Eduardus yang sudah sehat bahkan terlihat lebih kuat dari sebelumnya. Jadi ia tak punya sama sekali keberanian untuk melawan.
Bersambung__