Mysterious CEO

Mysterious CEO
Masa Lalu Eduardus Oxley.



"Tapi, Sayang, aku bisa menjelaskannya. Mantan anak tirimu itu yang menyuruhku. Dia bahkan menjanjikan satu juta dolar kepadaku bila aku berhasil membunuhmu."


Mendengar kata anak tiri membuat Eduardus terdiam. Pikirannya kembali merangsang kapan terakhir kali ia bertemu dengan sosok Dean kecil.


Rebecca yang merasa kata-kata itu mampu meluluhkan emosi sang suami dengan pelan mendekati Eduardus dan berkata, "Apa benar dulu kau telah merebut harta ibunya?"


Eduardus menatap Rebecca. "Jadi wanita itu masih hidup?"


Rebecca memegang lengan Eduardus. "Duduklah dan ceritakan padaku."


Lelaki itu menurut dan mendudukan dirinya di sofa tepat di samping Rebecca.


Rebecca pun merasa lega karena emosi suaminya bisa teralihkan. "Sekarang ceritakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?"


Eduardus kembali menatap Rebecca. "Di mana dia sekarang? Kenapa dia bisa tahu aku di sini?"


"Eduardus, sekarang dia adalah CEO di Kitten Group, bosnya Kensky dan Soraya."


Zet!


Eduardus terperanjat. "CEO Kitten Group? Berarti yang kau sebut-sebut dulu saat makan malam itu adalah Dean Bernardus?"


"Benar."


Entah kenapa ada rasa takut dalam diri Eduardus ketika membayangkan sosok Dean akan muncul dan balas dendam kepadanya. "Dulu saat belum menikah, orangtuaku punya usaha ternak sapi di Texas. Usaha itu berkembang dengan baik, tapi aku anak yang malas, suka tidur-tiduran dan mabuk-mabukkan. Aku tidak pernah bekerja dan membantu mereka. Tapi meskipun begitu, mereka tidak pernah marah kepadaku. Justru mereka selalu memanjakanku dan memberikan semua yang kuinginkan. Dan begitu lulus sekolah, aku meminta kepada mereka untuk memasukanku ke Universitas terbaik. Mereka mewujudkan impianku itu dan di situlah pergaulanku semakin buruk. Aku bahkan tidak pernah pulang untuk mengunjungi mereka. Aku sering bolos kelas dan mabuk-mabukan di kontrakan bersama temanku yang lain. Sampai akhirnya aku di DO oleh rektor karena sebulan aku tidak masuk kuliah. Orangtuaku dipanggil menghadap, namun hari itu mereka tidak muncul. Ternyata dalam perjalanan ke kampus mereka menggunakan mobil berdua saja, mobil mereka bakutabrak dengan truk hingga jatuh ke jurang. Aku tidak tahu kejadian itu sama sekali, sampai akhirnya si rektor menyuruhku secara langsung untuk menjemput kedua orangtuaku dan membawa mereka untuk menghadapnya. Tapi begitu tiba di sana, salah seorang koboi memberitahukan kepadaku soal kecelakaan itu. Kejadian itu sudah dua minggu sebelum aku pulang. Bahkan di antara mereka sudah tidak mau bekerja lagi di peternakan, karena khawatir tidak ada yang menggaji mereka. Karena aku sendiri tidak bisa mengurus atau mengelolah peternakan itu, akhirnya aku menjual peternakan beserta hewan-hewan itu kepada petani kaya di sebelah kota. Setelah itu aku pun kembali ke kota dan menghabiskan semua uang dari hasil penjualan itu dan tidak peduli dengan kuliahku. Begitu tiba aku langsung mencari kontrakan baru di sana dan setiap malam pergi ke rumah bordil untuk menyenangkan diriku. Karena uangku semakin hari semakin menipis, sisa uang itu aku gunakan untuk beli tiket dan berangkat ke New York. Sebagian lagi aku simpan untuk biaya hidup sampai aku bisa mendapatkan penghasilan. Karena tidak ada keahlian apa-apa dan jaminan tertulis untuk masuk di perusahan, aku mengandalkan ketampanan dan seksualitas untuk mencari uang. Aku melakukan itu agar bisa menyambungkan hidup. Waktu itu aku berharap bisa bertemu perempuan kaya untuk membiayai hidupku, dan saat itulah aku bertemu ibunya Dean."


"Kau menjual diri?" tanya Rebecca.


"Tidak, tapi aku memang mengincar wanita-wanita kaya untuk dijadikan istri. Jadi begitu ada pelayan datang dan mengatakan bahwa Amelia mengirim salam kepadaku, aku mendekatinya dan dia sendiri yang mengatakan bahwa dia sangat kaya. Awalnya aku tidak percaya. Tapi begitu dia mengajakku ke rumahnya dan bertemu Dean, saat itulah aku langsung melamarnya."


Rebecca telihat menyimak, tapi sebenarnya itu hanya formalitas agar Eduardus melupakan kesalahannya.


"Begitu sah menjadi suaminya, aku langsung mengeluarkan sikap asliku. Aku sering marah-marah, mabuk, berjudi hingga pulang pagi. Aku menghabiskan uangnya, bahkan aku sering mencari masalah agar bisa memukulinya."


"Saat itu Dean umur berapa?" tanya Rebecca.


"Aku lupa, tapi kalau tidak salah usianya saat itu sekitar delapan tahun. Karena waktu Amelia menerima lamaran dan siap untuk menikah denganku, hari itu Dean sedang merayakan ulang tahunnya yang ke delapan," jawab Eduardus, "Dan sampai sekarang pun aku masih sangat ingat kapan terkahir kali aku bertemu dengan mereka berdua."


"Dia sakit-sakitan karena sikapku kepadanya. Karena memang hal itu yang aku inginkan, waktu aku pulang di saat malam terkahir bersama mereka aku langsung menariknya keluar kamar dan berencana mendorongnya dari tangga. Tapi dia berteriak dan Dean mencegahnya. Namun aku tak menyerah, aku memukul Dean hingga berdarah," Eduardus melirik Rebecca, "Malam itu aku sengaja memukul Dean agar Amelia memberikan apa yang kuinginkan. Aku meluapkan emosiku kepada Dean, agar wanita itu mau memberikanku sesuatu dan ternyata itu berhasil. Dia memberikan rumah, usaha, serta semua isinya kepadaku asalkan aku berhenti menyakiti Dean."


Rebecca terkejut. "Semuanya?"


"Iya, semuanya. Jadi malam itu juga aku langsung mengusir mereka dan tidak peduli mereka akan pergi ke mana," kata Eduardus. Ia menyandarkan punggung di sofa lalu berkata lagi, "Jadi kalau sekarang dia muncul dengan identitas sebagai CEO, itu berarti mereka telah bangkit lagi dan membangun usaha baru yang dinamai Kitten Group."


Rebecca menggeleng. "Tidak, Eduardus, ibunya Dean sudah lama meninggal. Alasannya padaku dia ingin balas dendam padamu, karena kau telah menyebabkan ibunya meninggal malam itu."


Eduardus terperanjat. Ia terdiam sambil membayangkan nasibnya saat ini. Kitten Group bukanlah perusahan biasa dan sudah pasti pemimpinnya adalah orang pintar dan paling berkuasa. Orang itu pasti hebat dan bisa memerintahkan bagaikan raja lalim.


"Kalau sudah begini, dia pasti akan mencari dan membunuhku," kata Eduardus.


"Apa rencanamu selanjutnya?"


Lelaki itu menatap Rebecca. "Jika memang dia menginginkan rumah dan perusahanku sebagai pengganti harta ibunya yang kurebut dulu, aku akan memberikannya. Aku akan menjual saham perusahan dan rumah ini kepadanya."


Wajah Rebecca berubah tegang. "Gawat, kalau begini aku harus mencari Mr. Lamber. Aku harus meminta kembali sertifikat rumah itu sebelum Eduardus menanyanyakannya padaku."


"Rebecca?"


Suara Eduardus mengejutkannya. "Iya, ada apa?"


"Kenapa kau diam saja? Apa yang kau pikirkan? Apa kau sedang memikirkan bagaimana caranya menewaskanku lagi, agar Dean mau memberimu uang?"


Rebecca menggeleng cepat. "Tidak, Eduardus. Sumpah, aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya___"


"Baiklah," sergah Eduardus lalu berdiri, "Aku mau pulang. Besok aku akan kembali dan bertemu Kensky. Katakan kepadanya bahwa besok pagi aku akan ke sini lagi."


Rebecca ikut berdiri. "Kau mau pulang ke mana? Rumahmu di sini, Sayang."


Eduardus berdecak. "Aku tidak ingin tinggal di sini lagi dan aku tidak menganggap dirimu lagi sebagai istriku." Tanpa menunggu jawaban sang istri Eduardus langsung pergi meninggalkan rumah itu.


Rebecca yang melihatnya pun berubah kesal sambil mengepalkan tangan. "Brengsek! Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa dia muncul tiba-tiba dan menghancurkan semuanya? Kenapa?" Rebecca geram, "Aku harus melakukan sesuatu, aku harus melakukan sesuatu agar Eduardus bisa percaya padaku lagi."


Bersambung___