Mysterious CEO

Mysterious CEO
Menemui Sang Atasan.



"Pak Eduardus?"


Suara Mr. Pay mengejutkan Eduardus. "Ah, maaf."


"Anda baik-baik saja?"


Eduardus tersenyum samar. "Iya, Mr. Pay, aku baik-baik saja. Terima kasih."


"Lalu apa rencana Anda selanjutnya?"


Eduardus menarik napas panjang kemudian melepaskannya perlahan. "Mungkin akan menemui Dean dan menanyakan semua alasan kenapa dia mau melakukan hal baik itu kepadaku, tapi itu tidak akan mengubah keputusanku. Aku sudah memutuskan dan tidak akan mengubah keputusanku, Mr. Pay, aku ingin Dean yang akan mengelolah perusahanku."


***


Di depan Kitten Group Soraya baru saja turun dari taksi. Dengan langkah anggun dan senyum mempesona membuat para lelaki yang berpapasan meliriknya dengan tatapan ingin.


"Selamat pagi, Bu Soraya," sapa si satpam ketika melihat wanita itu memasuki pintu depan.


Bukannya membalas, Soraya malah meliriknya kemudian berlalu menuju lift lantai atas.


"Sikapnya tidak sesuai dengan wajahnya," ketus si satpam kemudian kembali duduk.


Di sisi lain.


"Mr. Hans, nanti aku kembali lagi, ya?" kata Kim, "Aku harus ke ruangan pak Dean sekarang, ada yang harus aku kerjakan di sana."


"Silahkan, Kim. Nanti kalau kembali ke sini, aku ingin kau bawakan aku secangkir kopi."


Kim tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja." Setelah meraih semua file-file di atas mejanya, ia keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Mr. Hans.


Di sisi lain.


Soraya yang baru saja tiba di ruangannya tampak terkejut melihat perubahan posisi meja dan kursi yang biasa ia tempati. "Kenapa ini___"


"Pagi, Soraya," sapa Kim yang tiba-tiba muncul. Di tangannya terdapat banyak file-file dan ia menarik file berwarna merah kemudian memberikannya kepada Soraya, "Ini untukmu."


Soraya meraihnya. "Apa ini?"


"Bacalah," kata Kim kemudian berlalu di balik pintu yang tertulis CEO ROOM.


Soraya semakin penasaran. Dibukanya file itu dan membaca setiap tulisan yang berderet di atas lembar kertas berwarna putih.


Zet!


Mata Soraya terbelalak. "Ini tidak mungkin!"


Tepat di saat itu Kim keluar dari ruangan sang atasan. "Kau sudah membacanya?"


Soraya menatapnya penuh emosi. "Siapa yang membuat surat ini?"


"Aku, kenapa?" balas Kim dengan nada meremehkan, "Aku disuruh pak Dean untuk membuatnya dan memberikannya kepadamu."


Soraya terkejut. "Dean? Dia memecatku?"


"Iya, jadi saya harap Anda bisa pulang sekarang sebelum pak Dean datang. Beliau tidak ingin melihat Anda begitu beliau tiba dan saat ini beliau sudah dalam perjalanan menuju ke sini."


"Tidak! Aku tidak terima, aku tidak melakukan kesalahan jadi kenapa harus dipecat?"


Kim mendekatinya. "Apa kata-kata dalam surat itu belum jelas, Nona Soraya? Di situ dijelaskan bahwa Anda tidak masuk selama tiga hari tanpa kabar. Dan ketentuan perusahan adalah langsung mengeluarkan karyawan baru tanpa digaji jika karyawan tersebut melanggar aturan."


"Brengsek, berarti mama tidak bilang pada Dean kalau aku tidak masuk karena apa," katanya dalam hati. Dengan kesal Soraya terpaksa pergi dan meninggalkan ruangan itu.


Sedangkan Kim yang terus menatapnya kini tersenyum lebar sambil menyandarkan bokongnya di meja. "Akhirnya toxic itu keluar juga."


***


"Kau tidak ingin mampir bersamaku?" tanya Dean kepada Kensky. Saat ini mereka sudah ada di depan gedung kantor Kitten Group bersama mobil yang dikendarai Matt.


Dean mengusap pipi Kensky. Matanya jelalatan memborong semua wajah gadis itu. "Nanti malam kau akan ke mansionku, kan?"


Kensky balas menatap Dean. Dilihatnya mata lelaki itu kini menimbulkan rasa kekhawatiran yang tinggi. Kensky tahu penyebabnya, tapi lagi-lagi ia tidak ingin memulai sebelum Dean yang mengatakan semuanya terlebih dulu.


"Iya, aku akan ke mansion setelah urusanku selesai."


Dean mengecup bibirnya. "Kalau ada apa-apa telepon aku, ya? Atau kau ingin Matt menjagamu?"


Kensky menggeleng. "Aku tidak apa-apa," balasnya lembut. Ia pun mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Dean. Meski masih ragu dengan perasaan lelaki itu terhadapnya, tapi Kensky senang saat melihat rasa takut kehilangan terpancar dari raut mata dan wajah Dean, "Masuklah, nanti kau terlambat."


Dean memeluknya sesaat kemudian melepaskannya. Ada rasa tidak tega dalam dirinya sehingga tidak ingin berpisah. "Kumohon masuklah denganku, aku ingin kau menemaniku bekerja."


Kensky terkekeh. "Kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini. Kau terlihat tidak tenang, Dean."


Apa yang dikatakan Kensky memang benar. Sejak semalam di mana Soraya mengabarkan hal itu kepadanya, rasa takut terus menghantui Dean. Rasa takut itulah yang membuat lelaki itu merasa tidak tenang sampai saat ini.


Dean meraih tangan Kensky. Ia meremasnya sambil menatap tangan itu. "Aku tunggu kau di mansion nanti malam, ada satu hal yang ingin kuceritakan."


Kensky terdiam sesaat. "Apakah soal itu?" katanya dalam hati, "Iya, aku akan menemuimu di sana."


Mereka pun berpisah. Dengan berat hati Dean keluar dari mobil dan terpaksa melihat mobil itu melaju keluar dari area kantor. Setelah menarik napas panjang Dean berkata, "Aku harus jujur kepadanya, aku harus mengungkapkan semua kepadanya."


Di sisi lain.


"Selamat siang, Bu Kim."


Suara laki-laki dari arah belakang mengejutkannya. "Siang. Iya, ada apa?" Dilihatnya seorang satpam muncul bersama lelaki yang berpakaian rapi.


"Ada yang ingin bertemu pak Dean, Bu Kim."


"Oh, iya. Terima kasih ya, Pak."


"Sama-sama, Bu." Si satpam pun berlalu. Sedangkan lelaki yang bersamanya tadi, kini berdiri sambil menatap Kimberly. Wanita itu berdiri. Dengan ramah ia berkata, "Maaf, Pak. Kalau boleh tahu nama Anda siapa dan ada kepentingan apa ingin bertemu beliau?"


Lelaki itu berdeham. Dengan senyum tulus ia menjawab pertanyaan Kimberly. "Namaku Eduardus Oxley. Aku ingin bertemu beliau, karena ada urusan pribadi yang harus kami bicarakan."


"Oh, maaf. Baiklah, silahkan duduk, Mr. Oxley. Sebentar lagi pak Dean akan segera tiba," kata Kim seraya menunjukan kursi kosong yang ada di depannnya. Ia pun kembali duduk. Dan meksipun tatapannya mengarah ke layar komputer, tapi otaknya terus bekerja untuk merangsang pikiran, "Eduardus Oxley? Kenapa nama balakangnya mirip dengan Kensky dan Soraya, ya? Apa jangan-jangan dia ayah mereka?"


Tepat di saat itu Dean muncul dengan setelan jas gelap dan rambut tersisir rapi. Kaca mata hitamnya tak dilepas dan wajahnya datar saat mendekati mereka.


Kim berdiri. "Selamat pagi, Pak."


"Pagi," balas Dean tanpa menoleh. Ia terus berjalan dan masuk ke dalam ruangan.


Eduardus ikut berdiri. "Apa itu pak Dean?"


"Iya. Tunggu sebentar, ya? Saya akan memberitahukan kedatangan Anda kepada beliau."


"Iya, terima kasih."


Eduardus kembali duduk. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Dean sama sekali tidak melihatnya? Apakah Dean melihatnya, tapi tidak mau menegurnya? Apakah Dean ingin bertemu dengannya? Rentenan pertanyaan itu berenang dalam benak Eduardus sampai ia sendiri tak sadar jika Kim sudah berdiri di hadapannya.


"Mr. Oxley?"


Eduardus terkejut. "Ah, iya, maaf." Dengan cepat ia berdiri dan menatap Kimberly.


Kim balas tersenyum. "Tidak apa-apa. Sekarang Anda boleh masuk, beliau sudah menunggu Anda di dalam."


Lagi-lagi Eduardus terkejut mendengar kata-kata itu. Ada rasa bahagia dalam diri ketika Dean masih mau bertemu dengannya. "Baik. Terima kasih banyak, Nona." Eduardus pun bergerak dan menuju pintu yang bertulis ruangan CEO. Sebelum masuk ia bahkan menarik napas untuk menghilangkan rasa takut dalam dirinya.


Clek!


Didorongnya pintu ruangan kemudian masuk ke dalam. "Selamat siang," sapa Eduardus. Suaranya bergetar seperti jantungnya saat ini saat menatap tubuh Dean yang tinggi. Tubuh yang sangat berbeda dengan tubuh saat terakhir kali ia bertemu lelaki itu.


Bersambung__