Mysterious CEO

Mysterious CEO
Mandi Bersama.



"Itu tidak akan terjadi, Dean. Kita sama-sama saling mencintai dan kita akan terus mencintai sampai maut memisahkan kita."


Mereka pun mulai menikmati sarapan dengan hati berbunga-bunga. Dan setelah sarapan Dean mengajak Kensky untuk berbincang-bincang.


"Jadi hari ini kita belum langsung ke kantor?" tanya Kensky saat Dean mengumumkan kabar itu.


Mereka sekarang masih di posisi yang sama saat sarapan tadi; duduk berdampingan dengan sebelah tangan saling bergenggaman.


"Sebelumnya aku memang tidak mengabarkan kepada mereka soal kedatanganmu. Jadi Mr. Bon baru saja menyampaikan hal itu dan mereka akan menyiapkan kedatanganmu besok."


"Mr. Bon? Siapa?"


"Posisinya sama seperti Matt. Tapi dia kutempatkan di sini, sedangkan Matt di Amerika."


"Apa dia seorang supir?" tanya Kensky.


"Iya, dan dia juga yang mengawasi semua operasional perusahan."


Kensky menatap bingung. "Kenapa kau tidak memilih manager atau siapa yang khusus untuk mengawasi perusahanmu? Kenapa harus supir?"


Dean terkekeh. "Karena supir seperti cctv yang paling ampuh untuk mendapatkan informasi."


Kensky tertawa. "Baiklah. Jadi kita hari ini akan ke mana?"


"Kau ingin ke mana? Hari ini kita masih punya waktu untuk bersenang-senang sebelum besok disibukkan dengan pekerjaan."


"Oke. Kalau begitu aku mandi dulu, dan setelah itu aku akan memikirkan ke tempat mana yang akan kita kunjungi," Kensky hendak pergi, tapi Dean menahannya, "Ada apa?"


"Kau tidak ingin aku mandikan?"


Wajah Kensky berubah merah. "Aku malu."


Dean mengerutkan alis. "Apa yang membuatmu malu? Bukankah kita sudah saling melihat satu sama lain?"


Kensky kembali duduk. "Itu beda, Sayang."


"Tidak ada yang berbeda, Sky. Ayo, daripada kita saling berdebat lebih baik kita mandi saja sekarang." Dean menggendong tubuh Kensky layaknya pengantin pria menggendong pengantin wanita.


"Dean! Turunkan aku."


Lelaki itu tak peduli. Ia terus membawa tubuh Kensky hingga ke kamar mandi. "Kau mau di bathtube atau di bawah shower?"


Kensky hanya menggeleng. Ini pertama kalinya ia mandi bersama Dean dan meski sudah sering kali telanjang di hadapan lelaki itu, tapi entah kenapa baru kali ini hatinya dilanda rasa malu yang sangat tinggi.


"Kalau begitu bathtube saja." Dean mengambil kesimpulan sendiri.


Sementara Kensky pasrah saja apa yang akan dilakukan lekaki itu kepadanya. Ia tahu meskipun gairah Dean begitu meluap-luap, tapi lelaki itu tidak akan menidurinya. Bahkan sekalipun dirinyalah yang begitu menginginkan, Dean akan terus menolak dan selalu berkata; 'Aku akan melakukannya setelah kita menikah.'


Kensky kasihan padanya. Karena setiap kali lidah Dean beraksi dan memberikan rasa nikmat_ yang membuat Kensky seakan terbang menuju surga, dan berkali-kali membawanya ke puncak kenikmatan sampai rasanya ia ingin pingsang saja_ Dean sama sekali tidak meminta balasan. Lekaki itu tidak menyuruh Kensky untuk memuaskannya. Melainkan dialah yang selalu memuaskan Kensky sampai berkali-kali, padahal dirinya sudah menahan siksaan batin yang terus bersarang dalam dirinya. Kensky merasa tak tega setiap kali melihat Dean hanya menuntaskan nafsunya sendiri di kamar mandi daripada bersamanya. Lama kelamaan Kensky pun mengerti sampai kenapa lelaki itu tidak mau melakukan dengannya. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena itulah; mereka akan bercinta setelah menikah.


Sementara di posisi Dean, ia takut jika meminta Kensky untuk menuntaskan hasratnya, yang ada mereka akan bercinta dan ia akan melanggar janjinya sendiri.


Dan sekarang di dalam kamar mandi yang besar itu, Dean sedang menyiapkan air mandi untuk mereka berdua. Sambil menunggu air di dalam bathtube penuh, dengan penuh kelembutan Dean mulai melepaskan setiap kancing kemeja di tubuh Kensky.


Kensky tersenyum. "Sejak kapan kau memakaikanku kemeja ini?"


Dean tak menatapnya. Mata indahnya terlalu asik menatap jemari yang kini sedang sibuk membuka kancing kemeja putih miliknya. "Semalam begitu tiba di sini, aku langsung memakaikannya padamu. Aku bingung dan tidak tahu ingin memakaikan gaun tidurmu yang mana. Jadi daripada aku salah, lebih baik aku menggunakan kemejaku saja."


Kensky tersenyum sayang. Ia tak menyangka sosok Dean yang dari luar terlihat cuek dan sangar, ternyata begitu peka dan peduli kepadanya. Perlahan tangannya menyentuh kepala Dean, mengusap, kemudian menciumnya. "Aku cinta kamu."


Dean menatap Kensky dan saat itu juga semua kancing selesai dilepaskan. Ia senyum lebar dan berkata, "Aku juga, bahkan cintaku kepadamu jauh lebih besar daripada cintamu kepadaku."


Dean juga balas tersenyum. "Kau Siap?"


Gadis itu mengangguk malu. Dilihatnya Dean sedang melepaskan celananya kemudian mengajaknya masuk ke dalam bathtube secara bersamaan. Dean mengambil posisi di bagian belakang, sedangkan Kensky duduk di depannya sambil menyandarkan belakang tubuh ke dada lelaki itu.


Dean meraih botol sabun cair yang letaknya di dekat situ, menuangkannya sedikit di tangan, lalu menggosokkannya dengan lembut ke bahu Kensky.


Gadis itu pun memejamkan mata saat kedua tangan Dean yang besar itu mulai memijatnya. "Kursus pijat di mana, Pak?" ledek Kensky.


"Kau suka?" tanya Dean. Suaranya mulai parau.


Kensky sangat tahu kalau suaranya sudah berubah, itu berarti Dean sedang bergairah. Perlahan ia meraih sebelah tangan lelaki itu untuk menghentikan pijatannya. Sambil menyandarkan punggung ke dada Dean, ia melingkarkan tangan sebelah itu ke depan tubuhnya. "Sentuh aku, Dean."


Lelaki itu menurut. Tangan sebelahnya meraih tangan Kensky dan menggenggamnya, sedangkan tangan yang satu lagi kini merambat untuk menyusuri tubuh Kensky.


"Kenapa kau tidak pernah mengajaku untuk menuntaskan hasrat bersamamu?" bisik Kensky.


Dean menyentuh dadanya, membelainya, lalu memainkan pucuk berwarna kemerahan itu yang selalu memicu candunya. "Kalau aku mengajakmu, yang ada nafsuku tidak bisa terkontrol dan sudah pasti kita akan melakukannya."


"Memang kalau kita melakukannya sebelum menikah kenapa? Kau kan tetap akan menikahiku, Dean."


Dean tersenyum samar kemudian menempelkan bibirnya ke leher Kensky. Tangannya meremas pelan bagian kenyal gadis itu, sementara napas dan bibirnya begitu lembut menyentuh kulit lehernya.


Kensky mendesah, meremas tangan Dean dan memejamkan mata saat elusan tangan Dean begitu nikmat. Tak ingin hal itu berakhir, ia mengarahkan tangan Dean yang lain agar melakukan hal yang sama di bagian yang satu lagi.


"Maafkan aku. Tapi aku tidak ingin merusak apa yang aku miliki. Kau sangat berharga bagiku, Sky."


Hati Kensky berbunga-bunga. Perlahan ia membalikan tubuh dan menatap Dean. "Kalau begitu kapan kau akan melamarku?"


Ekspresi Dean sulit terbaca. "Kau serius mau menikah denganku?"


"Harusnya aku yang bertanya, apa kau serius ingin menikahiku? Dan kalau aku tidak serius ingin menjadi istrimu, tidak ada gunanya aku mencintaimu."


Dean tersenyum. "Kau yakin?"


"Aku yakin."


"Meskipun aku bukan orang baik?"


Kensky berdecak. "Memangnya kau sejahat apa, hah? Dan sudah berapa banyak orang yang kau bunuh sampai-sampai kau mengatakan, bahwa dirimu jahat."


Dean tertawa. "Aku belum pernah membunuh orang," katanya lalu merengkuh tubuh gadis itu dan memeluknya.


Dengan penuh cinta Kensky balas memeluk Dean dan menyandarkan kembali kepalanya di dada Dean. "Kalau begitu kenapa kau mengatakan dirimu penjahat?"


Dean meraup air dengan tangan sebelah dan meneteskannya ke punggung Kensky.


Gadis itu merasa geli, tapi tidak protes karena itu yang dia sukai.


"Aku memang jahat. Suatu saat kau pasti akan membenciku karena tahu hal itu."


Kensky mendongak menatap Dean. "Seseorang tidak akan berbuat jahat jika tidak ada yang menjahatinya. Kau pasti melakukannya karena orang itu menjahatimu, kan?"


Dean menatap wajah Kensky lekat-lekat. Lama sekali ia menatap wajah cantik itu lalu berkata, "Apa kau akan tetap mencintaiku meski tahu aku adalah orang jahat?"


Suara Dean cukup berat sehingga Kensky percaya kalau lelaki itu tidak main-main.


Bersambung___