
Tangannya yang kokoh perlahan menyentuh dan membuka kain itu hingga terlepas. Mata Dean terpana, gairah dalam dirinya mendorong pikiran dan hatinya untuk menunduk, melihat dan mengecup bagian lembab itu dengan penuh perasaan.
"Oh, Dean ...," desah Kensky saat rasa dingin menyentuh bagian itu. Kedua tangannya bahkan dengan cepat meremas seprai ketika rasa nikmat terus menyerangnya, "Dean ... Oh, Dean."
Lelaki semakin terhanyut. Ia terus menggerakkan lidahnya di bagian itu dengan lahap untuk terus memancing ******* Kensky. Karena tak tahan oleh gairah yang sudah meluap, Dean akhirnya bangkit dan menindih tubuh Kensky dengan keperkasaan yang sudah mengeras di balik celananya. Dengan cepat ia membuka sabuk, kancing celana, ritslesting, hingga celana itu terbuka. Namun tak ingin buru-buru, Dean kembali menyerang bagian itu dengan serangan bibir yang membuat ******* Kensky kembali memenuhi ruangan.
"Dean, aku menginginkanmu. Aku sangat menginginkanmu."
Lelaki itu bangkit dan mencium Kensky. Dengan bibir yang saling bertaut penuh gairah Dean mengarahkan senjatanya ke arah sasaran. Dalam hati ia merasa senang karena rencananya berjalan mulus tanpa penolakan dari gadis itu, gadis yang ia tahu adalah anak kandung dari orang yang paling dibencinya.
Perasaan Kensky justru sebaliknya. Jika sebelum itu hatinya ragu saat mendengar pengakuan Dean pagi itu bila mana dia adalah calon suaminya, malam ini justru hati Kensky berbunga-bunga seperti gairah yang sedang meluap dalam dirinya. Ia sangat senang Dean membawanya ke dalam kamar dan membuatnya begitu bergairah seperti sekarang ini. Bahkan tidak rasa penyesalan dalam dirinya akibat sikap impulsifnya. Keraguan yang pernah ada dalam dirinya saat Dean mengaku sebagai calon suami kini hilang begitu saja, bagaikan lilin diterpa angin yang sangat kencang. Ia yakin kalau lelaki itu berkata jujur dan percaya bahwa lelaki itu akan menikahinya.
Tok! Tok!
Dean terdiam untuk memastikan apa yang ia dengar ketika keperkasaannya menyentuh ujung pintu Kensky yang lembab.
Tok! Tok!
"Brengsek!" umpat Dean dengan suara keras.
Tok! Tok!
"Akan kupecat dirimu, Matt," Dean menjauhkan diri dari Kensky. Dilihatnya wajah gadis itu yang penuh gairah dengan mata yang masih terpejam, "Maafkan kekacauan ini, Sayangku," ia mengecup dahi Kensky lalu turun dari ranjang, "Aku akan kembali." Dean meraih jubah tidur berwarna hitam yang tergantung di dekat pintu. Dengan perasaan membara akibat amarah dan gairah yang bercampur aduk membuat lelaki itu berlajan cepat menuju pintu lalu membukanya dengan kasar.
Clek!
"Soraya?!" Dean terkejut.
"Halo, Sayang."
Lelaki itu dengan cepat menutup pintu kamarnya dari luar dan menarik Soraya agar menjauh dari kamarnya. "Sedang apa kau di sini?" ketus Dean.
Soraya mengerutkan alis sambil melirik ke bagian pintu kamar tepat di belakang Dean. "Siapa di kamarmu? Kenapa kau menutup pintunya? Dan kenapa kau mengajakku ke sini? Kau tidak ingin aku masuk ke dalam kamar?"
Mereka sekarang berada sedikit jauh dari kamar Dean yang tepatnya di pembatas tangga sehingga mereka bisa melihat lantai satu dengan hanya menengok ke bawah.
"Tidak dan itu bukan urusanmu!" bentak Dean.
Soraya kesal. "Apa kau sedang bersama wanita lain, Dean?"
Dean berkacak pinggang sambil menatap gadis itu. "Iya, memangnya kenapa?"
"Pantasan saja dari tadi aku mencarimu ke mana-mana tidak ada, ternyata kau sedang bersama wanita lain."
Lelaki itu berjalan ke arah tangga. "Itu bukan urusanmu, Soraya."
"Itu urusanku, Dean!"
Dean berbalik menatapnya. "Jangan pernah kau melarangku melakukan apapun yang kusukai, Soraya."
"Aku berhak melakukannya, Dean! Aku ini calon istrimu."
Tangan Dean mengepal erat. Dengan emosi yang meluap dalam diri ia kembali mendekati Soraya. "Jika kau berani melarangku untuk melakukan itu, hari ini juga aku akan membatalkan perjodohan kita. Paham?"
Soraya menelan ludah. "Tapi__"
"Sekarang sebaiknya kau keluar dari sini."
"Pergi!"
Dengan kesal Soraya pun bergerak menuruni tangga. Sedangkan Dean yang masih emosi masih berdiri dengan dada naik turun untuk memantau Soraya hingga memastikan wanita itu lenyap di balik dinding yang ada di lantai satu. Karena cukup syok dengan kehadiran wanita itu yang tiba-tiba muncul, Dean mencari ponselnya. Ia pun sadar kalau dirinya telanjang dan hanya mengenakan jubah tidur. Dengan cepat ia pun berbalik dan masuk lagi ke dalam kamar.
"Kensky!" pekiknya Dean saa melihat gadis itu jatuh ke lantai, "Apa yang kau lakukan, Sayang?"
Kensky tersenyum. "Kenapa kau lama sekali? Aku ingin menyusulmu."
Dean terkekeh. "Dalam keadaan seperti ini?"
Lelaki itu membopong tubuh Kensky hingga ke atas ranjang. Setelah mendapatkan posisi nyaman, ia kembali menatap Kensky lalu mengecup bibirnya. "Berbaringlah, kau masih sangat mabuk," Dalam hati Dean bertanya-tanya, "Seandainya dalam keadaan sadar, apakah Kensky akan pasrah kepadaku seperti ini? Jika itu benar, aku akan sangat bahagia."
Drtt... Drrtt...
Getaran ponsel membuat Dean menoleh lalu meraih benda itu dari nakas. Dengan cepat ia menyambungkan panggilan dan menempelkan benda itu kr telinga. "Halo, Matt! Kenapa Soraya bisa masuk? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengunci pintunya?"
"Maaf, Bos. Tapi tadi nona Soraya ingin ke toilet. Di saat bersamaan juga mereka mengatakan kalau Mr. Hans mabuk dan berbuat ulah dengan tamu lain. Jadi dengan terpaksa aku membiarkan nona Soraya masuk sendirian ke dalam rumah untuk mengamankan Mr. Hans. Maafkan aku, Bos."
Dalam hati Dean bersyukur, karena itu berarti Mr. Hans tidak akan ingat kalau Kensky sedang bersamanya. "Sekarang di mana si tua itu?"
"Mereka sudah mengantarnya pulang, Bos. Tamu-tamu juga sudah pulang."
"Soraya di mana? Cari dia dan pastikan dia tidak berada di mension ini lagi, Matt. Aku tidak ingin dia ada di sini."
"Nona Soraya juga sudah pulang, Bos. Dia keluar dengan wajah marah-marah."
"Pastikan lagi kalau dia benar-benar pulang. Aku tidak mau dia muncul tiba-tiba di depan kamarku seperti tadi. Tapi ngomong-ngomong, dari mana dia tahu kamarku?"
"Maaf, Bos. Sumpah, aku tidak mengatakannya. Saat dia menanyakan di mana toiletnya, aku justru mengarahkan nona Soraya ke lantai satu."
"Ya, sudah, itu tidak penting. Sekarang periksa semua area mension dan pastikan jika dia sudah benar-benar tidak ada di tempat ini lagi."
"Baik, Bos."
Tut! Tut!
Dean memustuskan panggilannya lalu kembali menatap wajah Kensky yang kini terlelap dengan damai. "Bahkan aku sudah berteriak-teriak pun kau masih bisa tertidur," kata Dean lalu tersenyum. Sambil mengusap pipi Kensky ia berkata lagi, "Apa begitu besarkah efek samping dua gelas anggur tua itu terhadapmu?"
***
Panas mentari pagi yang menyinari wajah membuat Kensky terbangun. Tubuhnya menggeliat, matanya perlahan mulai terbuka. Dilihatnya langit-langit kamar mewah dengan lampu kristal yang sedang menggantung.
Alisnya berkerut. "Di mana ini?" Ia terkejut dan langsung bangkit dari kasur, tapi sakit kepala tiba-tiba menyerangnya, "Akh!"
Teriakan Kensky membuat Dean terbangun. Lelaki itu sedang berbaring di sofa dengan tubuh bagian atas yang telanjang. Dengan cepat ia berjalan mendekati ranjang saat melihat Kensky sudah terduduk. "Ada apa, Sayang?"
Kensky menoleh dan terkejut saat melihat Dean. "Aaaakh! Sedang apa kau? Kenapa kau ada di sini?!" Kensky menutup matanya dengan kedua tangan, karena tak ingin melihat tubuh Dean yang telanjang.
Dean bingung. Ia menatap tubuhnya sendiri yang ternyata di bagian atas dalam keadaan terbuka. "Maaf!" Dengan cepat Dean meraih jubah tidur yang bertepatan letaknya hanya berdekatan. Setelah memakai jubah itu ia pun segera duduk tepat di samping Kensky. "Sudah aman," katanya pelan.
Kensky perlahan menjauhkan tangan dari wajahnya kemudian menatap Dean. "Kenapa aku bisa ada di sini?"
Bersambung___