
Dean tersenyum sayang saat mengingat wanita itu. "Aku sering memanggilnya dengan sebutan si rambut cokelat. Kami sangat akrab. Bisa dibilang teman, bisa juga dibilang kakak-beradik. Mami dan papi begitu senang melihat kami jika sedang bersama. Selisih usia kami berbeda hampir dua puluh tahun, tapi kedekatan kami seperti orang yang usianya berbeda satu tahun. Aku juga sering membantunya di toko saat aku belum sekolah."
"Dia pasti sangat senang bertemu denganmu."
"Tentu saja, dia sangat senang sekali. Aku juga bahkan tak kalah senang ketika diadopsi oleh mereka. Sebenarnya aku tidak ingin menjadi pewaris tunggal harta mereka, karena bagiku menjaga dan bekerja demi mereka pun aku sudah bahagia. Mereka telah merawatku, jadi sudah sepantasnya aku membalas budi terhadap keluarga itu," Dean tersenyum lagi, "Tapi ternyata mereka tidak pernah menganggapku anak adopsi, mereka justru menganggapku seperti anak kandung dan memberikanku pendidikan di sekolah yang sangat mahal."
Kensky memeluknya. "Berarti kau memang sudah ditakdirkan untuk hidup bahagia selamanya, Dean. Buktinya setelah ayah tirimu yang jahat itu merebut semuanya, kau bertemu keluarga Stewart dan memberikan semua yang kau inginkan."
Lelaki itu balas memeluknya. Sesaat ia mencium pipi Kensky lalu berkata, "meski begitu, tapi rasanya belum lengkap. Hidupku akan lebih bahagia lagi, jika sudah memilikimu selamanya."
Kensky mendongak menatap Dean. "Aku mencintaimu."
Lelaki itu memunduk kemudian ******* bibir Kensky. Mereka pun berciuman. Ciuman yang panas dan membawa mereka ke atas ranjang.
Perlahan tangan Dean melepaskan gaun tidur Kensky, sementara gadis itu dengan penuh cinta menatap Dean dengan mata sayu akibat gairah yang diciptakan oleh ciuman tadi.
"Kau mencintaiku?" tanya Kensky.
"Sangat. Aku sangat mencintaimu, Kensky."
Kensky mengalungkan kedua tangan di leher Dean. Sambil menatap sayu ia berkata, "Kalau kau benar mencintaiku, apa kau akan menuruti semua kemauanku?"
Dean mengecup dahinya lama sekali. "Apapun, apapun itu akan kuberikan. Aku bahkan rela mati jika itu yang kau inginkan."
Gadis itu tertawa. "Aku tidak ingin kau mati, Dean. Kalau kau mati aku juga bisa mati. Aku hanya ingin satu hal darimu malam ini."
Dean menunduk sesaat untuk menjilat pucuk dada Kensky.
Gadis itu mendesah saat rasa dingin dan nikmat menghampiri bagian itu.
"Katakanlah, aku akan menurutinya," bisik Dean setelah itu.
"Benarkah?"
Dean balas menatapnya. "Apa yang kau inginkan dariku?" Tak perlu menunggu jawaban gadis itu, Dean langsung meraih kedua tangan Kensky dan meletakannya di atas kepala. Dan begitu bagian keras dan kenyal itu terlihat menggoda, Dean menyerang kembali bagian itu dengan sapuan lidah yang lembab dan sedikit kasar.
Kensky mendesah dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan kenikmatan saat bibir Dean begitu erotis menyerang bagian itu. "Oh, Dean, aku ingin ...." Lagi-lagi Kensky menghentikan kata-katanya saat kecupan bibir lelaki itu kini menyusuri bagian perutnya.
Tangan Dean yang tak mau kalah sibuk, kini berada di bagian dada Kensky untuk melakukan pijatan. Sambil memberikan kecupan di paha Kensky secara bergantian tangan Dean dengan penuh cinta meremas bagian kenyal itu hingga membuat Kensky semakin menggeliat.
"Deah ... Oh, my God ... Aku tak tahan lagi, Deah. Oh."
Lelaki itu terus menyusuri paha Kensky dengan sapuan lidah yang membuat gadis itu meremas rambut di kepalanya. "Kumohon bercintalah, Dean. Aku ingin bercinta. Aku sangat menginginkanmu, Dean."
Dean tak mengubris. Ia terus menyusuri bagian itu sampai akhirnya bibirnya menyentuh bagian lembab yang ada di antara kedua paha Kensky.
Gadis itu mendesah nikmat, meremas pinggiran spray, serta kaki terbuka lebar agar Dean semakin leluasa memainkan lidahnya. "Dean ... Oh ... kumohon bercintalah denganku, Dean, kumohon."
Lagi-lagi Dean tak menggubris. Dia seakan tuli dan tak mau mendengar perkataan Kensky. Ia terus menyerang bagian itu dengan lidahnya dan membuat gadis itu semakin gila.
Kensky tak tahan lagi. Dengan cepat ia bangkit, menarik tubuh Dean dan menatapnya. "Kumohon bercintalah denganku."
Di sisi lain.
Rebecca duduk di ruang makan dengan wajah terlihat cemas. Karena sudah selesai menyiapkan segala menu makanan kesukaan Soraya, ia kini menunggu wanita itu untuk turun dan makan malam bersamanya. Jika biasanya Rebecca akan langsung mengatakan sesuatu di saat Soraya pulang kantor, kini ia menunggu sampai jam makan malam tiba untuk menyampaikan kesepakatan yang ia buat bersama Dean.
"Ada yang ingin mama sampaikan," Rebecca memutar-mutar pastanya di garpu hingga gulungannya menebal.
Soraya segera mendongak. "Pasti kabar buruk."
Rebecca menelan ludah. "Dari mana kau tahu?"
"Dari ekspresi Mama. Biasanya kan Mama akan tersenyum lebar kalau ada kabar gembira yang ingin disampaikan padaku, tapi saat ini ekspresi Mama bahkan kusam dan tidak enak dilihat."
Mata Rebecca terbelalak menatap anaknya. Tapi karena tuduhan itu memang benar, ia hanya bisa menatap tanpa berkata apa-apa.
Soraya pun sama, dengan ekspresi tak sedap dipandang ia menatap Rebecca. "Kabarnya apa?" tanya Soraya dengan nada kasar.
"Ini tentang Dean."
Soraya terkejut. "Dean? Kenapa dia, Ma? Apa yang terjadi padanya?"
Rebecca bisa melihat kepanikan yang ada di wajah anaknya. Dan itu berarti respon yang muncul merupakan wujud dari perasaannya yang tulus. "Apa kau benar-benar mencintai dia?"
Alis Soraya terangkat sebelah. "Kenapa pertanyaan Mama seperti itu?"
"Tidak apa-apa, mama pikir kau mau menikahinya hanya karena harta."
Soraya menatap skeptis. "Aku bukan anak kecil, Mama. Jangan basa-basi lagi. Sekarang jujurlah padaku, ada apa sebenarnya?"
Rebecca menelan ludahnya sambil menatap Soraya. "Mama hanya khawatir saja ... khawatir karena kau akan menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak mencintaimu. Mama takut rumah tanggamu akan hancur karena tidak bahagia, apalagi kau tahu sendiri Dean seperti apa ... dia pasti akan menelantarkanmu dan mencari wanita lain."
Brak!
Soraya membanting sendoknya. "Maksud Mama dia akan memilih Kensky dan mencampakan aku, begitu?"
Rebecca terkejut. "Mama rasa begitu, karena kalau mama lihat dia lebih menyukai Kensky daripada ... Ini hanya intusi mama saja, Soraya. Sepertinya memanfaatkan Kensky hanya alasannya saja, agar dia bisa mendekati gadis itu."
"Tapi kan dia punya perjanjian dengan Mama?"
Rebecca harus mengambil alasan seperti itu agar Soraya tidak mengamuk. Ia tidak mau mengatakan bahwa Dean sudah membatalkan perjodohan itu demi membantunya. Rebecca tidak mau Soraya menganggap lagi dirinya hanya mementingkan diri sendiri, sementara dirinya saat ini sudah berada di posisi tersudut dan terancam. Jadi hanya dengan alasan itulah yang bisa digunakan Rebecca untuk menghasut Soraya agar tidak menuntut pernikahan itu.
"Itu benar. Tapi seperti yang mama bilang tadi, mama takut setelah menikah kau akan dicampakan dan sakit hati. Jadi sebelum itu terjadi, tidak ada salahnya kalau kau membatalkan perjanjian itu dan tidak usah menikah dengan Dean."
Mata Soraya terbelalak. Ia berdiri dan berkacak pinggang di depan ibunya. "Aku tidak peduli meskipun Dean akan cinta atau tidak kepadaku, Ma. Aku juga tidak peduli meskipun dia akan menduakanku. Tapi aku berjanji di hadapan Mama, aku akan menyingkirkan siapa saja wanita yang merebut Dean dari aku termasuk Kensky!"
Rebecca ternganga. "Maksud kamu?"
Bersambung___