
Tanpa berkata apa-apa lagi Kensky pun langsung berdiri dan memeluk Dean. "Aku juga sangat merindukanmu."
"Kalau begitu cepat cium aku, Sky," kata Dean.
Kensky melepaskan pelukannya dan menatap Dean. "Cium?"
"Iya, cepat."
Kensky mendunduk dan mencium dahi Dean. "Sudah."
"Bibir."
Wajah Kensky berubah merah. "Ini rumah sakit, Dean. Kalau perawat datang dan melihat kita, bagaimana?"
"Ini sudah larut, mereka tidak akan datang."
"Tapi___"
"Sudah, cepat. Jangan membantah, ini perintah."
Dengan malu-malu Kensky pun mendudukan tubuhnya di atas ranjang kemudian menunduk untuk mencium Dean.
Lelaki itu tak hanya diam. Tangan sebelahnya terulur dan menehan kepala Kensky lalu membalas ciumannya. Ciuman yang awalnya hanya sebuah kecupan lembut, berubah menjadi ******* yang penuh perasaan.
***
Setelah beberapa hari terbaring lemah di rumah sakit, sekarang tubuh Dean yang sehat bugar sedang berdiri di balik dinding kaca gedung kantor di mana ia bisa menatap suasana kota yang begitu ramai saat menyambut datangnya pagi.
Tok! Tok!
Ketukan pintu membuat Dean menoleh. Dilihatnya Matt masuk sambil membawa sebuah kotak berwarna merah yang diikat dengan pita berwarna gold.
"Ini barang yang Anda minta, Bos."
"Terima kasih, Matt. Apa kau sudah menghubungi Kensky?"
"Sudah, Bos. Nyonya Kensky sedang dalam perjalanan."
Dean mengangguk. "Baiklah. Kau tunggu di luar dan batalkan semua jadwalku hari ini, aku ingin menghabiskan waktu dengan Kensky. Jika ada yang mencariku, katakan saja aku sedang ada tamu spesial."
"Baik, Bos." Pria itu pun pamit dan keluar dari ruangan.
Sedangkan Dean segera meraih kotak itu dan menyimpannya di dalam lemari.
Tok! Tok!
Ketukan pintu membuat Dean menoleh. Dilihatnya gadis cantik yang baru saja masuk dan tersenyum kepadanya.
"Pagi, Sayang," sapa Kensky. Ia mendekati Dean dan memeluknya.
Dean balas memeluk. Tapi bukannya membalas sapaan Kensky, ia malah menunduk dan memagut bibir gadis itu.
Kensky terkejut. Ia ingin menolak, tapi sapuran bibir Dean sangat sulit untuk ditolak. Dengan terpaksa ia pun mengalungkan kedua tangan di leher Dean kemudian membalas ciumannya.
Dean melepaskan ciumannya. Dengan mata sayu ia menatap Kensky lalu berkata, "Ada kiriman untukmu."
Alis Kensky berkerut dengan tangan masih mengalung di leher Dean. "Kiriman apa?"
Dean melepaskan pelukan kemudian berjalan mendekati meja dan memperlihatkan benda yang tak lain adalah ponsel Kensky. "Mr. Bon mengirimnya tadi malam."
Mata Kensky terbelalak. "Ya, ampun, kenapa dia harus repot-repot mengirimnya? Kan aku akan segera kembali."
Dean meraup pipi Kensky. "Apa kau mencintaiku?"
Pertanyaan Dean membuat Kensky terkejut. "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu."
Kensky melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dean. Sambil menyandarkan kepala di dada bidang lelaki itu ia berkata, "Aku sangat mencintaimu, Dean. Aku sangat mencintaimu."
Dean tersenyum. Perlahan ia melepaskan tubuh Kensky lalu berkata, "Kau sudah siap untuk menikah denganku?"
Zet!
Perkataan Dean lagi-lagi membuat ekspresi di wajah Kensky kontan berubah. Ia mendongak dan menatap lelaki itu tanpa berkata apa-apa.
"Kenapa, kau masih memikirkan laki-laki yang telah dijodohkan ibumu?" tanya Dean.
Kensky menggeleng. "Tidak, Dean, kau salah. Hanya saja aku masih merasa tidak enak kepadanya, aku belum sempat membicarakan hal mengenai hubungan kita kepadanya."
Dean tersenyum. Perlahan ia bergerak menjauhi Kensky lalu membuka sebuah laci. Ia menarik sebuah masker mulut berwarna hitam kemudian merapikannya. "Aku akan mengijinkan kau menghubunginya sekarang, aku ingin kau menjelaskan semua padanya sekarang di depanku."
Kensky terdiam. Meskipun ada rasa tidak tega terhadap ceo, mau tidak mau ia harus melakukan apa yang dikatakan Dean. Kensky ingin menolak, tapi ia tidak mau lelaki yang dicintainya berpikir negatif jika ia tidak menuruti permintaannya.
"Kenapa, kau takut aku akan mendengar pembicaraan kalian?" tanya Dean.
Dean menyeringai sambil memainkan masker itu.
Sedangkan Kensky yang tampak gemetar, kini mencari kontak ceo lalu menghubunginya.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel dari atas meja membuat Kensky terkejut. Tapi karena getaran itu berasal dari ponsel Dean, ia segera berbalik lalu mendekati dinding kaca dan membelakangi Dean.
Drtt... Drtt...
Dean yang berdiri di samping meja pun segera meraih ponsel itu dan menyambungkannya. "Halo?"
Sapaan Dean yang terdengar sama dengan suara di balik telepon membuat Kensky terkejut dan menoleh. Dilihatnya lelaki itu mengenakan masker mulut sambil menempelkan ponsel di telinganya.
"Halo?" sapa Kensky untuk memastikan.
Dean membalasnya, "Halo, Sayang?"
Kensky terkejut dengan mata berkaca-kaca ia menatap Dean. "Kau?"
Dean melepaskan maskernya. Dengan langkah cepat ia mendekati Kensky dan memeluknya. "Iya, ini aku ... Ceo-mu."
Kensky menangis dan balas pelukan Dean. "Kau tega, Dean. Kau sangat tega padaku."
Dean memeluknya erat-erat sambil menangis. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."
Mereka berdua menangis dan saling berpelukan. Begitu tangis satu sama lain mereda, mereka melapaskan pelukan masing-masing dan saling bertatap muka.
Dean menghapus air mata Kensky. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku, kau mau kan memaafkan aku?"
Kensky masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selama ini ia bahkan tidak pernah tahu bahwa sosok ceo itu ternyata adalah Dean. Tapi meskipun lelaki itu menyembunyikannya, ia merasa senang karena ceo itu adalah Dean. "Kenapa kau tega padaku, Dean, kenapa?"
Dean mengecup bibir Kensky sesaat. "Aku melakukan ini ada alasannya. Aku bukan sengaja menyembunyikan semua ini darimu, tapi aku punya alasannya." Dean melepaskan tubuh Kensky kemudian berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah kotak merah yang terlilit pita berwarna gold dan mengeluarkannya dari sana.
Zet!
Kensky terkejut. "Itu kan kotak yang sama dengan yang aku punya."
Dean tersenyum. Perlahan ia membawa kotak itu dan meletakannya di atas meja. "Kemarilah."
Kensky menurut. Tangannya terulur menyambut tangan Dean yang sedang menunggu untuk digenggam.
Lelaki itu mengajaknya duduk di atas pangkuan. Begitu tubuh Kensky dengan nyaman berada di atas pangkuannya, Dean segera melingkarkan kedua tangannya di perut Kensky dan berkata, "Buka dan lihatlah."
Posisi Kensky duduk menyamping. Dilihatnya wajah Dean yang sedang tersenyum kepadanya dengan ekspresi terkejut. "Kau ingin aku membukanya?"
Dean mengangguk. "Iya."
Dengan gugup Kensky pun mengalihkan pandangan kemudian menyentuh kotak itu. Perlahan ia menarik pita dan membukanya.
Zet!
Dilihatnya sebuah liontin foto dan kertas putih yang terlipat rapi di dalam kotak itu. "Apa ini?"
"Semua ini diberikan Barbara kepadaku beberapa jam sebelum dia meninggal."
Zet!
Kensky terkejut. "Mami memberikan ini kepadamu beberapa jam sebelum dia meninggal?"
"Iya."
"Berarti tepat di hari ulang tahunku?"
"Iya," balas Dean, "Lihatlah semuanya, bukankah kau ingin mengetahui siapa keluarga ibumu?"
Mata Kensky berkaca-kaca. Tapi demi menuntaskan rasa penasarannya, ia segera meraih semua yang ada di dalam kotak itu dan menatap lekat-lekat. Benda pertama yang ia ambil adalah sebuah liotin berbentuk hati.
Kensky membukanya dan ....
Zet!
Dilihatnya foto Barbara sedang tersenyum sambil memeluk dirinya saat bayi. "Ini kan ...," Kensky tak sanggup menahan airmatanya. Dengan rasa bahagia yang meluap-luap ia menatap Dean kemudian menatap foto yang satunya lagi, "Ini siapa?"
"Itu foto ibuku," jawab Dean, "Liontin itu adalah pemberian ibuku satu-satunya. Aku sengaja menyimpan foto Barbara di situ untuk mengenang dua wanita yang paling kucintai."
Kensky balas menatapnya. "Apa hubunganmu dengan ibuku?"
Dean meraih tengkuk Kensky kemudian mencium bibirnya. Setelah puas mencium gadis itu, ia melepaskannya lalu berkata, "Bacalah surat itu, kau akan tahu apa hubunganku dengan ibumu."
Kensky segera mengalihkan pandangan. Dengan cepat ia meraih kertas putih yang terlipat rapi itu dan mulai membacanya.
Bersambung___