Mysterious CEO

Mysterious CEO
Membohongi Kensky.



Tak ingin memikirkan hal yang menyebabkan sakit dalam hatinya, Kensky mengalihkan pikirannya kepada sosok bocah di dalam foto yang tak lain adalah ceo. "Kira-kira kapan ya dia akan melunasi hutang papi? Lalu, bagaimana cara dia melunasinya? Apa dia berani bertemu Dean dan mengatakan bahwa dialah orang yang akan melunasi hutang papi? Tidak. Dean tidak boleh bertemu dengannya, dia pasti akan mencelakai ceo."


Kensky ingin sekali membahas masalah hutang ayahnya ketika bersama Dean. Tapi setiap kali lelaki itu sudah menatap dan menciumnya, ia menjadi lupa ingatan dan terbuai pada perlakuan Dean. Perlakuan yang kurangajar, tapi selalu dirindukannya. Dean bagaikan obat penghibur baginya. Sehingga setiap kali ia bersama lelaki itu, justru rasa nyaman dan damai-lah yang selalu menyelimutinya.


Pikiran-pikirannya itu tak terasa membawa Kensky tiba di depan rumah. Tetapi bukannya masuk ke dalam, ia malah berdiri dan menatap rumah itu untuk membangkitkan kenangan-kenangan masa kecilnya saat Barbara masih hidup. "Mami, apakah aku harus meninggalkan rumah ini dan pindah ke Eropa? Apakah aku harus merelakan laki-laki yang kucintai dan menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak kukenali? Bantu aku mami, bantu aku meski hanya lewat mimpi."


Clek!


Pintu depan rumah terbuka dan sosok Rebecca muncul dari dalam dengan balutan jaket tebal. "Kensky! Apa yang kau lakukan di sana, Sayang? Kau tidak ingin masuk?"


Gadis itu terkejut. "Mama!" ia pun bergerak mendekati rumah dan menghampiri Rebecca yang juga ikut menghampirinya, "Mama mau ke mana? Cuaca di luar kan sangat dingin, Ma."


"Kamu sendiri hanya berdiri di sini tanpa memakai jaket. Memangnya kau tidak dingin?" balas Rebecca, "Mama ingin ke toko depan. Bisa kau temani mama? Sekaligus ada hal yang ingin mama bicarakan denganmu. Mama tidak ingin bicara di dalam, karena tidak mau Soraya mendengarnya."


Kensky menjadi penasaran. "Memangnya soal apa, Ma?"


Sambil berjalan Rebecca memulai pembicaraannya. "Tadi mama berkunjung ke tempat ayahmu. Oh, iya. Ada kabar baik, Sky," ekspresi Rebecca kontan berubah. Jika sebelumnya tampak biasa-biasa saja, sekarang wajahnya tampak girang, "Ayahmu sudah bisa bicara," bohongnya.


Langkah Kensky terhenti. "Mama serius?"


Rebecca mengangguk sambil menatap Kensky. "Serius, Sayang. Lagi pula masa mama harus berbohong."


"Ya,Tuhan, ini benar-benar kabar baik," lirih Kensky. Matanya berkaca-maca karena bahagia.


Mereka berdua pun kembali bergerak dan berjalan sangat pelan.


"Tentu saja. Dan ada kabar yang lebih baik lagi, Sky. Kau mau tahu kabar baik itu apa?"


Kensky mengangguk mantap. Matanya berubah cemerlang akibat rasa bahagia yang ia rasakan ketika mendengar perubahan sang ayah dan melihat wajah Rebecca yang sama bahagianya. "Kabar apa lagi itu, Ma?"


Rebecca memudarkan senyumannya. "Mungkin bagimu ini bukan kabar baik, tapi semua ini demi masa depanmu sendiri, Sky. Dan bagi mama ini adalah kabar baik."


"Iya, kabar apa itu, Ma? Mama jangan membuatku semakin penasaran."


Rebecca tersenyum lebar sambil melirik Kensky. "Kata ayah dia sudah menjodohkanmu dengan seseorang. Laki-laki itu katanya tampan dan juga mapan."


Zet!


Dengan cepat langkah Kensky terhenti. "Aku sudah dijodohkan?" tanya Kensky. Kedua alisnya bahkan terangkat saking terkejutnya mendengar kata-kata Rebecca.


"Iya, Sayang, kau telah dijodohkan. Katanya sudah lama ayahmu ingin mengatakan hal ini kepadamu. Tapi karena kondisi dan keadaan kalian yang tampak tidak baik, jadi ayahmu merahasiakannya darimu."


Kensky terdiam. Ia menatap Rebecca dengan bibir bergetar, mata berkaca-kaca, tapi wajah berseri-seri untuk mewakilkan kebahagiaannya. "Ya, Tuhan, apakah benar laki-laki mapan itu adalah Dean? Jadi benar selama ini ayah telah menjodohkan aku dengannya? Dan itukah alasannya kenapa mama tidak ingin Soraya tahu akan hal ini?" katanya dalam hati. Air mata Kensky hendak menetes, "Ya, Tuhan, terima kasih. Terima kasih ya, Tuhan."


Rebecca menatap Kensky penuh tanda tanya. "Kenapa dia?"


"Ma," panggil Kensky, "Apa Mama tidak salah dengar? Mama yakin papi bilang begitu?"


"Aku hanya tidak yakin saja kalau papi telah menjodohkan aku, Ma."


Rebecca tampak gugup. "Tapi itu kenyataan, Sky. Kata ayahmu memang seperti itu. Hanya saja waktu berbicara dengan mama ayahmu tidak menyebutkan siapa nama laki-laki itu."


Kensky melirik Rebecca. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Apa mungkin papi sengaja tidak memberitahukan kepada mereka kalau laki-laki itu adalah Dean? Aku yakin pasti begitu, karena papi tahu kalau Soraya sangat menyukai Dean."


Rebecca melirik Kensky. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Kenapa ekspresinya begitu?" Hal itu ternyata membuatnya semakin penasaran. Dan karena hal itu sangat mengganjal dalam dirinya, Rebecca menghentikan langkahnya. Sambil menatap Kensky dengan alis berkerut-kerut ia bertanya, "Apa kau senang atau sedih? Kenapa kau menangis? Apa kau keberatan jika dirimu sudah dijodohkan? Memang, sebagian wanita juga pasti tidak akan setuju jika mereka dijodohkan dengan laki-laki yang bukan pilihan mereka sendiri, tapi tidak ada salahnya kan mencobanya."


Kensky memegang kedua lengan Rebecca. "Aku bahagia, Ma. Aku menangis karena itu artinya aku tak akan sendirian lagi, aku tidak akan menjomblo lagi. Dan yang membuatku semakin senang karena laki-laki itu sudah mapan. Itu artinya aku mendapatkan calon suami yang sudah punya masa depan."


"Tapi kan kalian belum tertemu, Sayang. Memangnya tidak masalah bagimu menikah dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah kau lihat?" Rebecca sengaja menanamkan keraguan dalam diri Kensky untuk mencari tahu seberapa tertariknya Kensky terhadap perjodohan itu.


"Mama tenang saja, cinta itu kan bisa tumbuh dengan sendirinya," ia tersenyum, "Ya, sudah. Ayo kita jalan lagi, Ma. Soraya pasti akan mencari Mama."


Mereka pun kembali berjalan menuju toko yang kini sudah di depan mata. Kensky melirik Rebecca, dalam hati ia sangat bahagia karena akhirnya pengakuan Dean pun terbukti. Tapi meskipun sudah mendengar pengakuan itu dari mulut Rebecca, tetap saja Kensky masih ragu selama ayahnya belum mengungkapkan pengakuan itu kepadanya secara langsung. Tapi ia yakin kalau laki-laki itu adalah Dean, dan untuk sementara Kensky ingin hubungan mereka dirahasiakan dulu dari siapapun termasuk dari Rebecca dan Soraya.


***


Setelah membeli beberapa barang yang sebenarnya tidak penting bagi Rebecca, mereka berdua kembali ke rumah.


"Ma, aku ke kamar dulu. Aku mau mandi dan istirahat."


"Oke, Sayang. Nanti mama akan memanggilmu kalau makan malamnya sudah siap."


Kensky mengangguk kemudian pergi meninggalkan Rebecca dan Soraya yang sedang duduk sambil menatap bingung.


Soraya menatap ibunya. "Sepertinya dia sedang bahagia. Apa dia sudah membahas soal keberangkatannya ke Eropa kepada Mama?"


Rebecca melirik ke arah pintu kamar Kensky. Setelah melihat pintu itu sudah tertutup ia pun menjawab pertanyaan Soraya dengan nada berbisik. "Tidak, dia belum membahas soal itu. Tapi mama punya kabar gembira untukmu mengenai hal lain."


"Kabar apa, Ma?"


"Ikut, Mama," Rebecca mengajak Soraya ke dapur yang memang tempat paling aman baginya untuk bicara berdua, "Kau tahu, dia menyetujui perjodohan itu tanpa berpikir panjang lagi. Dia bahkan tidak banyak tanya dan langsung senang saat mama mengatakan masalah perjodohan itu. Dan bodohnya lagi, dia percaya saja tentang perkembangan ayahnya yang sudah bisa berbicara," kata Rebecca lalu tertawa.


Soraya tersenyum lebar. "Mama serius? Memangnya Mama bilang apa sampai dia langsung setuju?"


Rebecca melirik pintu masuk dapur. Saat ini posisi ibu dan anak itu sudah duduk saling berhadapan dengan meja besar yang menjadi pembatas.


"Mama mengubah rencana sedikit, Soraya."


Alis Soraya berkerut menyiratkan minat. "Mengubah rencana, kenapa?"


Bersambung___