
"Kenapa kau pulang tanpa pamit padaku, hah? Aku sangat khawatir dan langsung mencarimu," bisik Dean tepat di telinga Kensky. Tangannya melingkar di perut gadis itu dan Kensky pun memejamkan mata saat bibir Dean menyentuh lehernya.
"Kumohon lepaskan aku, Dean. Nanti Tanisa akan melihat kita." Kensky mencoba untuk melepaskan diri, tapi genggaman Dean tak mampu menggerakkan tubuhnya.
"Aku tidak peduli. Kau belum menjelaskan kenapa kau pergi tanpa pamit padaku."
"Aku pergi karena kupikir kau marah dan meninggalkanku. Jadi tanpa pamit aku pun langsung keluar, mencari taksi lalu ke sini."
Dean mengubah posisi duduk Kensky menjadi menyamping. Dengan tangan yang masih melingkar di pinggang ia mendekatkan wajah mereka. "Kau yakin tidak akan menerima tawaranku?" bisiknya, "Apa kau tidak ingin perusahan ibumu kembali?"
Kensky diam dan pasrah. Ia bahkan membiarkan napas lelaki itu menyapu wajahnya yang pucat akibat rasa takut kalau-kalau Tanisa muncul dan melihat mereka. "Aku___" Perkataan Kensky seketika berhenti saat bibir Dean dengan intens menempel di bibirnya.
"Aku apa? Aku mencintaimu?" ledek Dean setelah melepaskan bibirnya.
Saat itulah Tanisa muncul sambil membawa baki berisi satu kaleng soda juga sepiring camilan cokelat. "Oops! Maaf, sepertinya aku ...."
Kensky terlonjak dan hendak berdiri, tapi Dean tidak mengijinkannya dan semakin mengeratkan pelukannya. "Dean, lepaskan aku. Tanisa, kau___"
"Sepertinya kita harus pergi, Nona," kata Dean kepada Tanisa seraya berdiri dari sofa. Bukannya melepaskan Kensky, ia malah memegang tangan gadis itu dan menariknya bersama, "Terima kasih karena kau sudah menjaga calon istriku."
Tanisa ternganga menatap mereka.
Kensky terkejut melihat dirinya ditarik Dean agar mengikutinya keluar. "Kau mau membawaku ke mana? Aku masih ingin bicara dengan Tanisa, Dean."
Dean tak menjawab, ia malah berbalik dan menggendong tubuh Kensky seperti karung beras.
Tanisa pun menahan tawa.
Sedangkan Kensky memukul-mukul punggung Dean dengan kedua tangannya. "Turunkan aku, Dean! Tanisa, tolong aku."
Tawa Tanisa nyaris meledak. Namun bukannya membantu Kensky, ia malah menggerakkan kedua tangannya seakan mengusir mereka.
Dean pun keluar apartemen sambil membawa gadis itu.
Dasar kalian," kata Tanisa, "Sky kalau boleh jujur aku lebih suka kau bersama Dean daripada Ceo yang misterius itu."
***
Tak berapa lama Kensky dan Dean pun tiba di mensionya. Matt yang kini memarkirkan mobil tepat di garasi segera keluar, membukakan pintu untuk bosnya.
Dean keluar sambil meraih tangan gadis itu dan mengajaknya keluar.
"Aku tidak mau!" ketus Kensky seraya menepiskan tangan Dean. Ia marah karena lelaki itu memaksanya pergi dari apartemen Tanisa.
"Sayang, ayolah. Sebaiknya kita masuk dan bicarakan masalah ini baik-baik, oke?" Nada memohon Dean terdengar lembut.
Hal itu membuat Kensky terkejut. "Apa sikapnya seperti ini terhadap para gadis? Apa dia selembut ini?" katanya dalam hati. Ia tak menyangka ternyata di balik wajah datar Dean terdapat sikap lembut yang tak disangka-sangka. Namun, pikirannya yang kagum akan lelaki itu langsung buyar begitu pikirannya tertuju pada sosok laki-laki yang dijodohkan oleh ibunya. Dengan cepat Kensky pun mengubah ekpresinya menjadi garang, "Sebaiknya kau tidak usah memaksaku. Aku tetap tidak akan menerimamu sebagai pacar maupun calon suami karena aku sudah___"
"Punya calon suami," sergah Dean. Ia menatap wajah Kensky yang sedang balas menatapnya, "Itu kan yang ingin kau katakan padaku?" Dengan emosi Dean keluar dari mobil menyusuri pintu sebelah di mana posisi Kensky berada. Ia membuka pintu itu lalu menatapnya, "Sekarang aku memberimu pilihan. Jika kau benar-benar ingin Kapleng Group kembali, kau bisa memilih tawaran yang kubilang tadi saat ini juga. Tapi jika jawabanmu tidak, sebaiknya jangan harap jika perusahan itu akan kembali lagi."
Mata Kensky melotot. "Aku lebih baik kehilangan perusahan itu daripada menjadi pacarmu." Kensky sendiri tak sadar jika dirinya begitu berani mengucapkan kata-kata itu. Ia sendiri sebenarnya sangat menyukai Dean. Tapi mengingat dirinya sudah terikat dengan sosok laki-laki pilihan ibunya, Kensky pun yakin kalau Kapleng Group bisa kembali jika ia memohon bantuan kepada laki-laki itu.
Dean menyeringai licik. "Kau yakin?"
Dean mengendus. "Baiklah. Jika itu sudah keputusanmu, silahkan pergi dari sini dan jangan kembali lagi."
Brak!
Dean membanting pintu mobil kemudian berjalan meninggalkan Kensky yang tampak syok di dalam sana. Matanya bahkan melotot dengan bibir sedikit terbuka karena terkejut atas sikap yang baru saja ditunjukan lelaki itu kepadanya.
"Nona, apa Anda ingin pulang sekarang?" tawar Matt cepat.
Kensky menoleh untuk menatapnya. Matanya nanar karena sakit hati. Ia tak menyangka ternyata Dean bisa sekasar itu kepadanya. "Terima kasih, Matt. Aku bisa pulang sendiri."
Dengan cepat Kensky membuka pintu mobil kemudian keluar. Airmatanya bahkan sudah menetes saat kembali mengingat perkataan Dean tadi, 'Baiklah. Jika itu sudah keputusanmu, silahkan pergi dari sini dan jangan kembali lagi.'
"Apa setega itukah dia kepadaku?" lirih Kensky seraya berjalan menyusuri halaman, "Sebenarnya aku juga ingin menjadi pacamu, Dean. Tapi ...." Kensky tak sanggup menahan tangis. Airmatanya pun merebak hingga membasahi pipi.
Di sisi lain.
Sambil menenggak habis isi minumannya di dalam kamar, Dean mengenakan handuk yang melingkar di pinggang dengan tangan memegang ponsel. "Kau tahu di mana sertifikat rumah itu di simpan, Rebecca?" tanyanya dengan penuh amarah.
"Aku tidak menemukannya, Dean. Tapi aku akan menanyakannya keada Kensky. Siapa tahu dia tahu di mana sertifikat itu berada."
Mata Dean semakin tajam saat mengarah ke jendela. "Dia sudah menolak tawaranku, Rebecca."
"Dia? Dia siapa?" tanya Rebecca dengan nada bingung.
"Siapa lagi kalau bukan anak tirimu. Dia sudah menolak tawaran yang kuajukan. Sepertinya dia memang tidak ingin perusahan itu kembali."
"Tawaran? Memangnya kau menawarkan apa sampai dia menolakmu?"
Tangan Dean meremas gelas kristal itu hingga buku-buku tangannya memutih. "Kau tidak perlu tahu. Tapi karena dia sudah menolak tawaranku, siap-siap saja aku akan mengeluarkan dia dari rumah itu."
"Aku sih tidak peduli meski kau mengusirnya. Kau akan membunuhnya pun aku tak peduli. Karena begitu kau membayar perusahan dan rumah ini, aku dan Soraya akan langsung ke luar negeri meninggalkan mereka."
Dean semakin mengepalkan tangannya. "Mungkin dia pikir aku sedang main-main. Aku rasa sudah saatnya untuk membuktikan padanya, bahwa Dean Bernardus bisa lebih berkuasa dari siapapun di negara ini."
"Jika kau perlu bantuan untuk melenyapkan dia kau tinggal bilang saja kepadaku. Kau tidak udah repot-repot menyingkirkannya," tawar Rebecca.
"Yang harus kau lakukan sekarang hanyalah cari tahu di mana sertifikat rumah itu berada. Aku ingin segera mendapatkan perusahan dan rumah itu secepatnya. Aku juga tidak sabar melihat anak tirimu itu bertekuk lutut di hadapanku dan memohon-mohon untuk minta ampun."
"Iya, aku akan berusaha mencarinya."
***
Kensky yang baru saja pulang dengan wajah kusut masuk ke dalam rumah.
Kedatangannya juga ternyata sudah ditunggu oleh Rebecca. Hati wanita itu geram karena anak tirinya kini semakin dekat dengan Dean. Rebecca tidak mau jika lelaki kaya itu akan jatuh cinta padanya dan meninggalkan Soraya. Tapi demi dolar yang ditawarkan lelaki itu kepadanya, mau tidak mau Rebecca harus berpura-pura di depan Kensky. Wajah yang tadi begitu garang kini memancarkan kilau ceria seakan senang melihat gadis itu. "Halo, Sayang!" serunya sambil menghambur untuk memeluknya, "Bagaimana, apa kata bosmu?"
Wajah Kensky tampak garang. Sambil menatap Rebecca ia berkata, "Sekali pun Kapleng Group akan terlepas dari kita, aku tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengannya, Ma."
Rebecca melepaskan pelukannya. "Menjalin hubungan, maskudmu?"
Bersambung___