Mysterious CEO

Mysterious CEO
Peran CEO Dalam Keluarga.



Pertanyaan itu membuat Kensky terdiam. Dalam hati ia berkata, "Kenapa ibunya Dean bertanya begitu? Atau jangan-jangan beliau tahu kalau kami hanya berpura-pura? Ya, ampun, bagaimana ini? Dean pasti akan marah jika aku mengatakan yang sebenarnya."


"Tidak apa-apa, Sky. Aku tidak akan mengatakannya kepada Dean, yang penting sekarang kamu harus jujur padaku soal hubungan kalian yang sebenarnya."


Entah kenapa hati Kensky begitu nyaman saat mendengar nada Mrs. Stewart yang begitu lembut. Suara wanita itu mengingatkannya kepada Barbara dan saat mendengar suara wanita itu, Kensky merasa ibunya hidup kembali dan sedang berbicara dengannya. Tapi soal Dean ... di satu sisi Kensky tidak mau membohongi Mrs. Stewart, tapi ia juga tidak ingin mengecewakan wanita itu dengan semua kejujurannya. Dengan terpaksa ia menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. Ia bahkan sudah pasrah seandainya Mrs. Stewart akan mengusirnya dari kamar itu bila dia berkata jujur soal hubungannya dengan Dean.


"Maafkan aku. Sebenarnya aku tidak ingin berbohong, tapi aku juga tidak ingin jujur. Aku tidak ingin mengecewakan Anda, apalagi lagi hari ini adalah hari spesial Anda. Namun jika kejujuranku membuat Anda bahagia, aku akan mengakui di depan Anda bahwa aku dan Dean tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas atasan dan bawahan saja."


Senyum di wajah Mrs. Stewart terlihat tulus dan itu membuat Kensky terkejut. "Tapi kamu menyukainya, kan?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Mrs. Stewart membuat Kensky lagi-lagi terkejut. Dilihatnya wajah keriput itu yang tampak tersenyum untuk menunggu jawabannya. Ia pun menunduk sesaat kemudian mengangguk. "Iya, aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai anak Anda, Tante."


Mrs. Stewart meraih tangan Kensky kemudian menggenggamnya. Dengan penuh kelembutan ia mengutarakan apa yang akan dikatakannya sejak tadi. "Dean itu memang anak yang baik. Dia laki-laki yang setia dan bertanggung jawab. Sejak dia bergabung bersama keluarga Stewart, sejak itulah dia menjadi sosok laki-laki yang paling kami cintainya."


Alis Kensky mencuat menyiratkan minat. "Bergabung? Maksud, Anda?"


Mrs. Stewart menarik napas panjang. "Dean adalah anak angkat kami. Karena aku dan suamiku tidak punya anak laki-laki untuk meneruskan usaha keluarga Stewart, aku dan suami memutuskan untuk mengadopsi Dean," wanita tua itu tersenyum haru saat mengingat kenangannya bersama Dean, "Seandainya kami tidak bertemu Dean waktu itu, entah apa yang terjadi dengan keluarga ini. Kitten Group pasti tidak akan sesukses sekarang jika tidak ada Dean."


Kensky menatap sedih. "Lalu, sekarang di mana suami dan anak Anda?"


"Suamiku meninggal setelah berapa hari anak perempuanku meninggal belasan tahun yang lalu. Saat itu pun aku ingin mati saja agar bisa bertemu mereka. Tapi mengingat adanya Dean dalam kehidupanku, aku akhirnya memilih hidup dan bertahan untuk dia."


Kensky menatap sayu. "Anda pasti sangat sedih."


Mrs. Stewart tersenyum sayang.


"Eh, Tante, boleh aku bertanya?" kata Kensky.


"Boleh, Sayang," balas Mrs. Stewart sambil tersenyum.


"Anda bertemu Dean di mana?"


"Anak perempuanku yang menemukannya," kata Mrs. Stewart, "Maafkan aku, Sky. Tapi aku tidak bisa menceritakan selanjutnya bagaimana sampai kami hidup bersama. Ada baiknya jika kamu sendiri yang mendengarnya langsung dari Dean. Dan harapanku saat ini hanya satu; kau bisa menjadi istri Dean dan mendampinginya sampai maut memisahkan kalian."


Kensky terkejut. "Aku? Anda ingin aku menjadi istri Dean? Kenapa harus aku?"


"Karena kaulah calon istrinya Dean. Kaulah satu-satunya wanita yang terpilih untuk menjadi istri Dean."


"Mami?"


Suara Dean mengejutkan Mrs. Stewart dan Kensky. Mereka berdua menoleh, sementara Dean perlahan berjalan mendekati mereka.


"Kenapa belum tidur, Mami?"


Kensky menatap bingung setelah mendengar pengakuan Mrs. Stewart tadi. "Kenapa ibunya Dean berkata begitu, ya? Sebenarnya ada hubungan apa keluargaku dengan keluarga ini? Tempo hari Dean yang mengatakan, bahwa aku adalah calon istrinya dan sekarang ibunya," Kensky semakin bingung dengan pikiran-pikirannya, "Apa itu artinya papi memang sudah lama mengatur perjodohan kami tanpa sepengetahuanku dan mami?"


"Kensky?" panggil Dean.


Gadis itu terkejut dan segera beranjak dari ranjang. "Iya?"


"Sudah larut. Kita balik, ya?" kata Dean kemudian menatap ibunya, "Mami, aku dan Kensky pulang dulu."


Mrs. Stewart menatap sedih. "Kalian akan meninggalkanku lagi? Ingin rasanya mami mati saja daripada hidup sendirian di rumah ini."


"Mami, kumohon jangan berkata begitu," Dean naik ke atas ranjang kemudian memeluk Mrs. Stewart, "Aku tidak ingin meninggalkan Mami. Seandainya aku tidak mengurus Kitten Group pasti aku tidak akan meninggalkan Mami sendirian di rumah ini."


"Mami tahu, tapi setidaknya jangan secepat ini. Mami mau kalian menginap di sini dulu dan pulang besok."


Dean melirik Kensky. "Kalau hanya aku mungkin bisa, Mami. Tapi kan ada Kensky ... dia tidak mungkin menginap di sini."


Kensky tersenyum. "Bisa, kok. Aku bisa menginap di sini, asalkan aku harus pulang pagi-pagi sekali."


Wajah Mrs. Stewart berubah cemerlang. "Benarkah?"


Dean cukup kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia merasa dikerjai. "Awas kau, ya," kata Dean tanpa mengeluarkan suara.


Kensky pun hanya tertawa dan balas meledeknya. "Tentu saja, Mami."


"Baiklah. Karena kalian mau menginap di sini malam ini, mami akan tidur lebih cepat biar pagi-pagi bisa bangun sebelum kalian pergi," tatapannya mengarah ke wajah Kensky, "Kau ingin tidur di mana, Sayang, kamar tamu atau tidur bersama Dean?"


Zet!


Pertanyaan Mrs. Stewart membuat Kensky tergagap. "Aku ... aku tidur di kamar tamu saja."


Dean menahan tawa. "Kenapa, kau tidak ingin tidur denganku, ya?"


Wajah Kensky berubah merah. "Aku tidak suka sesak. Aku ingin tidur di kamar tamu saja."


Mrs. Stewart ikut tertawa dan menatap salah satu pelayan yang berdiri di belakangnya. "Tolong siapkan kamar tamu untuk calon menantuku."


"Baik, Nyonya."


"Sekarang kalian berdua keluarlah. Mami akan tidur biar besok bisa bangun pagi-pagi sekali dan membuatkan sarapan untuk kalian berdua," kata Mrs. Stewart.


Kensky pun dengan cepat mendekati wanita itu dan menciumnya. "Selamat tidur, Mami."


Tindakkan Kensky kepadanya membuat Mrs. Stewart terkejut. Sambil tersenyum menatap Kensky dan Dean ia berkata, "Selamat tidur, anak-anakku."


"Mimpi indah, Mami," sahut Kensky.


Dean tak menjawab. Tapi ia dengan penuh kasih sayang menutup tubuh Mrs. Stewart dengan selimut yang sangat tebal.


Setelah memastikan bahwa wanita itu bernar-benar menutup mata, barulan Dean mematikan lampu kemudian keluar dari kamar itu bersama Kensky.


Clek!


"Sepertinya kau sudah tidak takut lagi pada mami," ledek Dean ketika mereka keluar dan berdiri di depan pintu kamar Mrs. Stewart.


Kensky membuang napas panjang. "Entalah, tapi rasanya aku ingin sekali tinggal di dekat ibumu."


Dean menyeringai. Saat ini mereka sedang berjalan di koridor rumah menuju ruang tamu. "Kalau itu yang kau inginkan, besok dan seterusnya kau bisa tinggal di sini atau kapanpun kau mau."


Kensky menengadahkan kepalanya. "Kau gila! Aku kan punya rumah dan keluarga."


Dean terkekeh. "Kan katamu ingin tinggal bersama ibuku."


Kensky tak menggubris. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Kenapa aku merasa sudah kenal dekat dengan Mrs. Stewart, ya? Padahal ini kan pertemuan pertama antara aku dan beliau."


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, tapi sampai saat ini Dean tidak bisa tidur karena terus memikirkan Kensky. Ia ingin sekali mengunjungi gadis itu di kamarnya, tapi takut kedatangannya itu hanya akan mengganggu Kensky. "Tidak, aku tidak boleh mengganggunya," kata Dean sambil mondar-mandir di dalam kamar dengan hati yang gelisah.


Namun karena tak bisa menahan gejolak dalam dirinya, Dean pun memutuskan untuk mengunjungi gadis itu. "Aku harus menemuinya. Aku harus melihatnya. Ya, Tuhan, aku hanya ingin melihatnya dan aku janji tidak akan macam-macam."


Bersambung___