
Kensky menunduk. Sejenak ia kembali mengingat saat pertama kali dirinya bertemu Dean. "Sebenarnya aku ingin marah padanya, Pi. Dia telah membohongiku, dia bilang bahwa diriku dan dia sudah dijodohkan oleh Papi. Tapi nyatanya tidak. Dan aku sangat terkejut waktu Papi bilang tidak mengenalinya."
Eduardus menahan tawa. "Dia berkata begitu?"
"Iya, saat itu aku sedang berjalan kaki untuk menghadiri wawancara di Kitten Group. Sialnya mobil yang dia tumpangi melindas air dan mengenai tubuhku, aku basah dan handphone-ku rusak. Tapi setelah itu dia turun dan menanyakan namaku. Begitu aku menyebutkan nama lengkapku, dia langsung bilang bahwa namaku sama persis dengan calon istrinya dan begitu aku menyebutkan nama belakangku, dia langsung mengatakan bahwa aku gadis yang sudah dijodohkan dengannya. Yang lebih membuatku percaya, dia menyebutkan nama Papi dengan lengkap. Di situlah dia berkata bahwa Papi telah menjodohkan kami sejak lama."
Eduardus tertawa sambil menggeleng kepala. "Dean, Dean."
Kensky menatap skeptis. "Kenapa Papi tertawa? Apa Papi tidak marah padanya?"
"Kan papi sudah bilang, Nak. Yang bersalah itu papi, bukan dia."
"Itu juga alasan kenapa aku mempertahankan hubungan kami, Pi. Aku merasa bersalah terhadap sikap Papi kepadanya. Jika memang menjalin hubungan dengannya bisa membuat Dean memaafkan Papi, aku tidak akan keberatan asalkan dia mau memaafkan Papi."
Eduardus meraih sebelah tangan Kensky lalu menggenggamnya. "Tadi papi sudah menemuinya."
Kensky terkejut. "Menemuinya? Di mana, Pi?"
"Di kantornya. Tadi pagi papi pergi ke Kitten Group untuk menemuinya."
Mata Kensky melotot. "Lalu, apa dia memukul Papi? Atau dia mengusir, Papi?"
Eduardus tertawa. "Tidak, Nak. Tidak keduanya, malah dia sangat sopan dan menghormati papi."
Dalam hati Kensky merasa senang, dugaan jika Dean akan mencelakai ayahnya pun ternyata tidak. "Syukurlah kalau begitu," balas Kensky.
Wajah Eduardus tampak biasa. "Papi menemuinya dan membicarakan soal rumah dan perusahan kita kepadanya, Sky."
"Apa dia mau menerimanya? Berapa total yang dia bayar? Tapi, sertifikat rumah itu bagaimana?"
"Awalnya papi khawatir jika dia tidak bayar, karena itu artinya ayah tidak bisa membeli rumah untuk kita tempati. Tapi papi juga cukup tahu diri untuk meminta bayaran, sementara yang papi rebut dari mereka tidak sebanding dengan harga jual rumah dan perusahan kita, Sky."
"Jadi Papi tidak meminta dia untuk membayar semua itu?"
"Tidak, Sayang. Dia bahkan tidak menuntut papi untuk memberikan sesuai yang pernah papi rebut dari mereka. Dia bilang rumah dan perusahan itu sudah cukup, tapi dengan satu syarat."
Kensky terkejut. "Syarat? Syarat apa?"
Eduardus tersenyum menatap Kensky. "Dia ingin papi mengijinkanmu bekerja dengannya. Dia ingin menjadikanmu tangan kanannya. Dan soal rumah, ternyata tempo hari dia menyuruh orang untuk merebut sertifikat itu dari tangan Mr. Lamber. Dia tidak ingin membiarkan sertifikat itu jatuh ke tangan Rebecca, karena dia tidak mau membayar rumah yang bukan hak mereka. Jadi sertifikat rumah itu sekarang ada padanya."
"Ya, Tuhan, syukurlah kalau begitu. Tapi ... tapi kenapa dia melakukan hal itu ya, Pi? Bukannya kata Rebecca dia akan membuat kita menderita?"
Eduardus tersenyum. "Papi tahu kenapa dia melakukan ini semua. Di satu sisi dia terlihat jahat, tapi di sisi lain dia sangat baik dan itu semua pasti karenamu, Sky."
Wajah Kensky kontan memerah karena malu.
Hal itu disadari Eduardus. Dengan suara pelan ia berkata kepada Kensky, "Jika kau mencintainya, papi akan setuju kau bersamanya. Papi akan merestui hubungan kalian, Sky."
Kensky menatap sedih. "Tapi, Pi, entah kenapa setelah kejadian ini aku merasa ragu padanya. Aku tidak yakin kalau dia tulus mencintaiku, Pi."
Di saat bersamaan sang pelayan datang membawa pesanan makan siang mereka. Sambil membicarakan soal hari-hari selanjutnya, ayah dan anak itu makan siang bersama dengan wajah bahagia dan penuh kedamaian.
***
Di dalam mansion yang megah bak istana raja, Kensky dan Dean sedang duduk bersama di sofa panjang tepatnya di ruang tamu. Seperti janji Dean kepada Kensky, ia akan menceritakan semua secara lengkap tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dan meskipun sudah tahu dari sang ayah soal kebenaran semua itu, tetap saja Kensky ingin menuntut kejujuran dari Dean. Jadi sambil duduk di atas pangkuan lelaki itu, Kensky siap mendengarkan setiap kata yang diucapkan olehnya.
"Awalnya aku hanya mencoba menghasut Rebecca untuk menjual perusahan dan rumah itu kepadaku, dan ternyata dia mau," kata Dean memulai.
"Kau bilang apa padanya?"
"Aku bilang padanya meskipun dia istri dari ayahmu, tetap saja dia tidak akan mendapat harta karena ada kau: anak kandung Eduardus. Jadi daripada percuma menjalani hidup bersama ayahmu dan tidak akan mendapatkan apa-apa, lebih baik dia mencari cara agar bisa menjual perusahan dan rumah itu kepadaku. Dan ternyata dia setuju, tapi dia ragu karena takut ayahmu tahu."
Kensky terlihat santai setiap kali Dean mengucapkan penjelasannya. Bahkan tangannya yang nakal itu terus bergerak lembut di punggung kepala Dean.
"Aku pun menyarankannya untuk memakai obat. Aku menyuruh Rebecca menaruh obat itu ke dalam makanan ayahmu."
Kensky berkomentar. "Tapi logisnya Rebecca juga salah. Meksipun dia tidak akan mendapat bagian dari papi, kalau dia memang mencintai papi pasti dia tidak akan menerima tawaranmu."
Dean tersenyum. Sejenak ia mengecup pipi Kensky kemudian melanjutkan kata-katanya. "Saat itulah dia curiga kepadaku. Dia bilang kalau hanya sekedar menginginkan perusahan, kenapa aku harus membuat ayahmu menderita? Aku pun tidak berbohong, aku menjelaskan padanya bahwa aku ingin balas dendam kepada ayahmu. Aku bilang kalau aku ingin membalas apa yang pernah dilakukan Eduardus dulu terhadapmu. Saat itulah mungkin dia berpikir aku memanfaatkannya, dan memang benar. Jadi merasa dirinya yang paling terancam dalam perbuatan ini, dia membuat tawaran denganku. Awalnya aku hanya menjanjikan satu juta dolar kepadanya jika berhasil menjual perusahan itu padaku, tapi dia tidak mau. Dia menambahkan perjanjian dengan menjodohkanku dengan Soraya. Jadi begitu ayahmu meninggal, perusahan dan rumah sudah jatuh ke tanganku, dia memintaku untuk menikahi Soraya."
"Dan kau menyetujuinya?"
"Iya," jawab Dean. Ia menatap Kensky lama sekali untuk melihat ekspresi di wajah gadis itu, "Tapi aku tidak sebodoh itu. Jika aku menikahi dia, itu artinya keuntungan mereka lebih banyak dibanding aku. Apalagi begitu Rebecca mengakui bahwa dia telah menyuruh orang untuk meyakinkanmu ... saat itulah aku mulai merencanakan strategi baru untuk menghancurkannya."
Alis Kensky berkerut. "Kenapa? Bukankah lebih bagus kalau hal itu terjadi, toh sebentar lagi keinginanmu akan terpenuhi?"
Dean tersenyum samar. "Memang, tapi tidak untuk menikah dengan wanita yang tidak kucintai. Kalau kau sampai menyutujui semuanya, itu berarti aku harus menikahi Soraya. Aku tidak mau, karena aku tidak mencintainya."
Kensky menahan senyum. Dengan mata sayu ia berkata kepada Dean, "Benarkah?"
"Iya, aku hanya mencintai satu orang dan orang itu adalah dirimu."
Wajah Kensky bersemu merah. Tapi dengan cepat ia melontarkan pertanyaan agar Dean terus menjelaskan semuanya. "Terus, apa strategimu itu selanjutnya?" tanya Kensky.
Dean mengalihkan pandangan. "Aku mengirim orang untuk menculik ayahmu."
Zet!
Mata Kensky terbelalak. "Jadi kau yang menyuruh orang untuk menculik papi?"
"Iya."
Bersambung___