Mysterious CEO

Mysterious CEO
Pengakuan Dean Kepada Kensky.



"Maksudku melenyapkan seseorang sama halnya dengan membunuh, bukan? Dan itu bukanlah hal yang mudah, bukan? Sama halnya dengan pernikahan yang harus dilaksanakan tanpa perasaan apa-apa."


Rebecca tahu maksud Dean. "Langsung ke inti saja, Dean. Aku tahu maksudmu. Kau ingin membatalkan perjanjian kita, bukan? Kau tidak ingin menikah dengan Soraya, kan?"


"Benar. Bagaimana, kau mau menyetujuinya?"


"Kau benar-benar licik, Dean," kata Rebecca penuh penekanan.


"Itu semua terserah padamu, aku hanya menawarkan. Lagi pula aku juga tidak akan memaksamu untuk menyetuhuinya. Tapi kalau kau tidak bisa memenuhi syarat itu, aku juga tidak akan bisa membantumu," jawab Dean santai.


Rebecca tampak berpikir. Saat ini satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah Dean dan ia tidak punya pilihan lagi selain menyetujui syarat itu. Lebih baik dia diamuk oleh Soraya daripada harus tidur di dalam penjara. "Baiklah, aku setuju. Tapi bagaimana kalau kau mengingkarinya dan si pengacara sialan itu datang Kamis pagi untuk menjemputku bersama polisi-polisi itu? Oh, Dean, tadi saja sudah ada dua polisi yang datang ke rumah untuk menjemputku."


"Itu salahmu sendiri, siapa suruh kau tidak menjaga suamimu dengan baik. Lagi pula aku tidak akan ingkar janji. Kau lihat saja, Kamis nanti tidak akan ada siapa-siapa yang menjemputmu. Kau bisa tidur enak dan bermalas-malasan Kamis itu bila perlu."


"Baiklah. Kalau begitu aku serahkan semuanya padamu, Dean. Yang penting Kamis itu tidak akan ada siapa-siapa yang datang berkunjung."


"Tenang saja. Jadi, bagaimana? Apa kita sepakat? Jika kau setuju, aku harap hari ini juga kau proklamasikan berita itu kepada Soraya agar dia tidak berharap lebih banyak lagi."


"Kau tenang saja, aku bisa memastikan dia harus menerima kenyataan ini."


***


Beberapa hari kemudian Kensky mulai terbiasa dengan suasana kantor Kitten Group di Jerman. Para karyawan baik dari yang jabatan paling bawah sampai para petinggi perusahan selalu bersikap ramah kepadanya. Bukan karena dia datang bersama Dean, tapi memang semua penghuni perusahan itu lebih sopan dan saling menghargai.


"Bagaimana, apa kau merasa nyaman di kantor ini?" tanya Dean.


Saat ini mereka baru saja tiba di sebuah restoran terkenal untuk makan siang.


Kensky tersenyum. "Entah kenapa aku sangat nyaman di sini, padahal baru berapa hari. Mungkin karena mereka semua sangat baik dan ramah kepadaku."


Dean balas tersenyum. "Mereka memang sudah dilatih sejak dulu untuk selalu bersopan santun dengan baik. Papi selalu menerapkan kepada mereka untuk tidak memandang rendah yang di bawah maupun yang baru."


Membawa istilah papi ke dalam topik pembicaraan membuat Kensky semakin tertarik untuk mengetahui keluarga Dean. Namun mengingat kejadian malam itu yang menimpa Dean, membuatnya tak ingin mendesak lelaki itu untuk menceritakan masalalunya. Apalagi mengajukan pertanyaan yang mungkin akan memicu kembali trauma lelaki itu. "Ayahmu pasti orang yang sangat baik."


Saat itulah pelayan datang untuk menanyakan pesanan mereka. Dan setelah menyebutkan makanan apa yang akan mereka nikmati untuk siang ini, Kensky berpikir Dean pasti akan mengganti topik pembicaraan dengan mengangkat cerita baru. Tapi sayangnya pikiran itu salah, lelaki itu justru menjawab pernyataan Kensky yang tadi membahas soal papinya.


"Kau benar, papi dan mami adalah orang yang sangat baik. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau tidak ada mereka."


Kensky ingat bahwa Dean bukanlah anak kandung keluarga Stewart. Tapi meskipun memiliki rasa penasaran yang tinggi sampai kenapa mereka bisa bertemu, Kensky tidak mau berkomentar lebih untuk menjaga perasaan Dean. "Tanpa kau bilang pun aku bisa melihat kalau ibumu sangat baik. Beliau sangat ramah dan lembut, bahkan saat melihat ibumu aku menjadi teringat pada ibuku."


Dean yang duduk di depan Kensky pun segera meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Kau menyukai ibuku?" ia mengusap punggung tangan Kensky dengan jempolnya.


"Iya, bliau sangat baik, sungguh. Rasanya aku sangat nyaman berada bersama ibumu. Bersamanya membuatku merasa seperti sedang bersama ibuku," katanya sedih.


Dean mencium tangannya. "Kau boleh menganggap ibuku sebagai orangtuamu. Dan kalau memang bersama mami membuatmu sangat nyaman, kau boleh tinggal di rumahku jika kau mau."


Kensky tertawa. "Kau ini ada-ada saja, itu kan tidak mungkin."


Alis Dean berkerut. "Kenapa tidak mungkin?" goda Dean.


"Kalau begitu kapan kau ingin kita menikah? Minggu depan, bulan depan, atau tahun depan?"


Kensky tertawa lagi. Saat tawanya terhenti ia menatap Dean lekat-lekat. "Jangankan bulan depan atau tahun depan, besok pun aku siap menikah denganmu, Dean," kata Kensky dalam hati, "Hanya saja entah kenapa hatiku belum ingin hal itu terjadi. Mungkin nanti setelah aku tahu siapa kamu yang sebenarnya."


Dean menatapnya. "Apa yang kau pikirkan?"


"Apakah kamu lelaki pilihan orangtuaku? Apakah kamu bocah laki-laki yang ada di foto itu? Apakah kamu lelaki yang memberiku ponsel dan ...." Rentenan pertanyaan dalam pikiran Kensky terhenti saat mengingat benda portable itu. Dengan cepat ia menarik tangannya dari genggaman Dean untuk memeriksa tasnya.


Dean mengerutkan alis. "Apa yang kau cari?"


Saat itulah mata Kensky mendapat benda itu. "Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya mencari sebuah catatan kecil dan ternyata masih ada." Kenky berbohong dan memperlihatkan lembaran kecil berukuran memo kepada Dean.


"Apa itu?"


"Catatan kantor, aku sering mencatat tugas penting agar aku tidak melupakannya."


Wajah Dean berubah datar. "Kensky?" panggilnya pelan.


"Iya?"


"Kalau aku menceritakan masa lalu-ku yang buruk itu, apa kau masih mau menikah denganku?"


Kensky tersenyum dan kembali meraih tangan Dean. "Seburuk apapun masa lalu-mu, aku akan selalu mencintaimu dan siap menjadi istrimu."


Dean menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar. "Meskipun aku bukan anak kandung keluarga Stewart?"


Kensky terdiam sambil menatap Dean. Tapi sikap diamnya itu bukan karena terkejut dengan apa yang barusan keluar dari mulut Dean, melainkan rasa tidak percaya karena lelaki itu mau membongkar jati dirinya yang sebenarnya. Meskipun sudah tahu dari Mrs. Stewart, Kensky tidak ingin menunjukan kepada Dean bahwa dia sudah tahu soal status Dean di keluarga Stewart. "Apa yang membuatmu berkata begitu?"


Dean tak melepaskan tangan Kensky. "Aku serius, aku bukanlah anak kandung mereka. Aku hanya anak angkat yang mereka adopsi saat usiaku delapan tahun."


Hati Kensky ikut sedih. Walaupun Dean belum menceritakan kenapa sampai dia diadopsi oleh keluarga Stewart, tapi ia bisa ikut merasakan bagaimana kehidupan Dean saat itu. Kensky tahu bagaimana hidup tanpa orang tua. Karena di usia yang hampir sama Kensky juga pernah merasakan bagaimana kehilangan orang tua. Meskipun saat itu sang ayah masih hidup sampai sekarang, tapi sikap Eduardus terhadapnya membuat Kensky bukan hanya merasa kehilangan sosok ibu, tapi juga ayahnya.


"Aku tidak akan memaksamu menceritakannya sekarang," balas Kensky dengan tangan yang terus menggenggam tangan Dean.


"Bagiku sekaranglah saat yang tepat untuk menceritakannya. Aku ingin jujur kepadamu dan menceritakan semua masalaluku."


"Siapapun dirimu aku tetap akan mencintaimu, Dean. Tak peduli kau anak siapa, tak peduli kau pernah melakukan apa, aku akan selalu bersamamu selamanya."


Saat itulah pelayan datang untuk membawa menu pesanan mereka.


"Sebaiknya kita makan dulu," kata Dean sembari mencium tangan Kensky.


Gadis itu tersenyum manis. "Aku rasa mendengar cerita sambil minum anggur nanti malam pasti akan lebih menyenangkan," godanya.


Dean balas menatapnya. "Itu ide yang bagus, Sayang."


Bersambung__