
Kensky terperangah. Airmatanya langsung menetes saat mendengar kata-kata itu. "Memangnya apa yang terjadi dengan papi, Ma? Kumohon jangan membuatku khawatir, dan kenapa itu bisa terjadi?"
"Maafkan mama, Sayang. Tapi tadi saat membesuk papimu kondisinya sangat baik, dia bahkan sudah bisa berjalan dan berbicara. Karena mama melihat kondisinya dia sudah sehat, mama mengajaknya pulang. Untung saja papimu mau dan pemilik tempat itu sudah memperbolehkannya pulang, biar bisa istirahat dengan baik. Dan begitu tiba di rumah mami pikir dia akan langsung istirahat, tapi ternyata tidak. Papimu langsung mencarimu ke mana-mana dan mama tidak lagi tahu harus bilang apa kepadanya. Meskipun kondisinya sudah membaik, tapi mama belum siap untuk mengatakan hal yang sebenarnya."
"Mama tidak bilang kan kalau sekarang aku ada di Eropa?"
"Maafkan mama, Sky, tapi posisi mama waktu itu tidak bisa berbohong. Begitu tiba di rumah, orang pertama yang ayahmu tanyakan adalah dirimu. Katanya dia ingin membahas soal perjodohan itu denganmu, tapi karena kamu tidak ada mau tidak mau mama harus jujur bahwa kamu ada di Jerman. Sejak itulah ayahmu jadi pendiam sampai sekarang. Mama rasa ... mungkin dia berpikir bahwa kau pergi ke sana untuk meninggalkannya. Dia bahkan sempat bilang kepada mama, kalau dia sangat menyesal karena pernah menjahatimu."
"Ya, Tuhan," Kensky semakin frustasi, "Bagaimana ini? Kondisi papi pasti akan drop lagi kalau seperti itu."
"Itu sebabnya mama ingin kau pulang dan menjelaskan padanya soal kepindahanmu ke sana. Mama sudah bilang kalau di sana kau sedang bekerja, tapi sepertinya dia tidak percaya. Jadi ada baiknya jika kau sendiri yang menjelaskannya sendiri agar dia bisa percaya dan sehat kembali."
"Kalau sekarang mungkin tidak bisa, Ma. Aku masih banyak pekerjaan. Begini saja, aku video call sekarang dan bicara dengan papi. Biar aku sendiri yang akan menjelaskannya kepada papi, agar papi tidak berpikir yang macam-macam dan bisa tenang."
"Mama rasa itu bukan ide yang bagus, Sky. Karena tadi setelah kami tiba di rumah dia sempat menyuruh mama untuk menghubungi kontak seseorang sebelum menanyakanmu, tapi mama belum menghubunginya karena melihat kondisi papimu seperti itu. Dia bahkan tidak mau makan sama sekali, Sky. Jadi lebih baik kau saja yang ke sini, biar hatinya senang dan kondisinya kembali normal saat melihatmu secara langasung. Mama rasa Dean juga pasti akan mengijinkanmu, jika kau memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi."
Kensky terdiam, baginya ini adalah pilihan yang paling sulit. Meski kondisi sang ayah saat ini sedang membutuhkannya, tapi tugasnya yang masih sangat baru ini sangat besar dan berisiko jika ia harus meninggalkan tanggung jawab.
"Sky?"
Kensky terkejut. "Ya, Ma?"
"Kau harus pulang sebelum terlambat, kau tidak mau kan melihat ayahmu dalam keadaan tak bernyawa?"
Jantung Kensky berdegup kencang. Ia tak sanggup membayangkan saat pulang melihat Eduardus sudah berada di dalam peti dengan tubuh kaku dan dingin. "Baiklah, Ma. Aku akan menelepon pak Dean dulu dan minta ijin. Aku juga berharap semoga saja dia mengijinkanku pulang."
"Itu pasti, Sayang. Dia pasti akan mengerti."
"Iya, Ma."
Tut! Tut!
Kensky segera memutuskan panggilan. Tak ingin menunda waktu lagi karena memikirkan kondisi sang ayah, Kensky segera mencari kontak Dean dan menghubunginya. Dengan posisi yang masih sama ia menatap dinding sambil menunggu panggilannya terhubung.
"Halo, Sayang?" sapa Dean dari balik telepon.
Kensky tersenyum sayang. "Apa kabar? Apa aku mengganggumu?"
"Kabarku buruk."
Ekspresi Kensky mendadak berubah. "Kenapa, Sayang? Apa ada masalah di kantor?"
"Iya dan masalahnya sangat berat."
"Memangnya ada masalah apa?"
"Aku merindukanmu."
Kensky mengendus. "Kau ini, aku pikir benar ada masalah besar seperti katamu tadi."
Terdengar Dean terkekeh. "Kamu sendiri sedang apa? Apa kau merindukanku?"
"Aku sangat merindukanmu. Hari-hariku rasanya sangat berat tanpamu, Dean."
"Kalau begitu besok aku ke sana saja, bagaimana?"
Kensky terkejut. "Jangan, Dean. Tidak usah, biar aku saja yang menemuimu di sana."
"Kau tidak perlu ke sini, Sayang. Biar aku saja yang ke sana, ya?"
"Tidak, Dean. Aku ingin minta ijin kepadamu beberapa hari saja. Mungkin ini tidak seharusnya terjadi, tapi aku ingin pulang ke Amerika. Apa kau akan memberiku ijin untuk itu?"
"Apa yang terjadi? Apa mereka menyakitimu?"
Kensky menunduk sesaat. "Barusan Rebecca telepon, katanya papi sudah pulang karena kondisinya sudah membaik. Tapi di saat dia mencariku dan aku tidak ada, Rebecca terpaksa jujur kepadanya bahwa aku ada di Jerman."
"Terus?" Suara Dean terdengar berat.
"Kondisi papi sekarang sudah lemah, bahkan katanya papi tidak mau makan sejak tadi setelah tahu aku meninggalkannya," Kensky menarik napas panjang, "Memang dulu beliau sangat jahat padaku, Dean. Tapi biar bagaimana pun dia juga ayahku. Jika tidak ada dia, mungkin aku tidak akan lahir. Jadi aku takut tidak akan bisa melihatnya lagi, jika aku tidak pulang sekarang untuk menjenguknya."
"Iya, Dean, aku tidak akan lama. Hanya satu-dua hari saja dan aku akan segera kembali. Aku hanya ingin menemui dan menjelaskan kepadanya kenapa sampai aku pergi ke Jerman. Mungkin saat ini dia berpikir bahwa aku telah meninggalkannya."
"Tapi kan kau bisa menyuruh Rebecca untuk menjelaskan kepadanya."
"Kata Rebecca dia tidak mau. Dia bahkan sudah panjang lebar menjelaskan alasannya, tapi papi tidak mau menerima alasan itu. Jadi saran Rebecca sebaiknya aku sendiri yang langsung menemui dan menjelaskannya, biar papi percaya."
"Baiklah, kapan kau ingin pergi? Aku akan memesankan tiket untukmu."
Wajah Kensky berubah ceria. "Sungguh? Kau mengijinkan aku pergi, Dean?"
"Apapun untukmu, Sky."
"Oh, Dean, aku sangat beruntung memilikimu."
"Aku juga."
"Kalau begitu besok saja. Tapi aku ingin penerbangan malam, karena pagi sampai sore aku harus menyelesaikan tugas-tugas kantor dulu."
"Baiklah, kau tenang saja. Aku akan mengurus semuanya."
"Dean?" panggilnya pelan.
"Iya?"
"Aku ingin kita bertemu di sana, aku ingin menghabiskan dua malam itu denganmu di kamar."
"Tentu saja, bahkan tanpa kau minta pun aku akan mengurungmu di dalam kamar."
Kensky tertawa. "Baiklah, aku mandi dulu. Sejak tadi pulang kantor aku belum mandi. Seandainya ada kau di sini, pasti aku meminta kau yang memandikanku."
"Kalau begitu malam ini aku akan ke sana dan memandikanmu."
Kensky terbahak. "Kau ini ada-ada saja."
"Yah, sudah. Mandilah, aku akan mencari tiket untukmu dulu."
"Terima kasih, Dean. Aku cinta kamu."
"Aku juga."
Di sisi lain.
Di dalam kamar hotel yang atmosfernya panas akibat emosi Dean yang kini meluap-luap bagaikan lahar panas, sosok lelaki itu sedang menatap dinding kaca dengan wajah merah dan urat-urat yang timbul akibat kepalan tangan. "Matt?" panggil Dean dengan suara berat bagaikan mjolnir yang setara dengan empat trilion enam ratus tiga puluh empat triliun delapan ratus lima puluh miliar kilogram.
"Iya, Bos?"
"Suruh Mr. Pay dan Mr. Bla standbye. Suruh Mr. Bla menyiapkan Eduardus dan saksi mata itu."
"Siap, Bos."
Dean menatap tajam. "Kau akan benar-benar hancur Rebecca, kau akan hancur bersama anakmu Soraya."
"Bos, aku sudah menyampaikan pesan Anda."
Saat itulah Dean menoleh menatap pria itu. "Rebecca telah membohongi Kensky. Dia telah membuat Kensky-ku khawatir dengan memanfaatkan kondisi Eduardus. Katanya Eduardus sudah sekarat dan gadisku baru saja menelepon untuk meminta ijin, karena ingin membesuk Eduardus."
"Jangan-jangan mereka akan mencelakai nona Kensky, Bos."
Dean kembali membelakangi pria itu. "Tidak, Matt. Rebecca sudah mengatakan rencananya padaku tempo hari. Dia akan mempertemukan gadisku dengan lelaki lain. Dia telah menyediakan lelaki untuk calon istriku," Dean kembali berbalik menatapnya, "Aku ingin tepat di hari Rebecca mempertemukan Kensky dengan lelaki itu, Eduardus ikut muncul dan menghancurkan pertemuan itu. Suruh Mr. Bla menghasut Eduardus, agar dia sendiri yang akan menghancurkan istrinya itu."
"Baik, Bos."
"Suruh Mr. Bla dan pengacara gadungan itu tetap standbye. Karena begitu Eduardus muncul, Mr. Pay akan ikut hadir untuk membelaku."
"Siap, Bos."
Bersambung__