
Kensky terkejut. "Kenapa papi melakukan itu?" Airmatanya merebak.
Soraya yang melihatnya pun berpura-pura baik dan mengajak Kensky untuk duduk di sofa. "Aku dan mama juga sempat kaget, Sky. Tapi kau tahu kan kondisi ayah seperti apa? Jadi begitu kami mengeluarkan ayah dari bak air aku langsung menghubungi dokter, sedangkan mama melakukan segala cara agar ayah kembali sadar. Tapi belum sempat dokter datang, ayah sudah tidak ada. Ayah meninggal malam itu juga."
Kensky semakin menangis. "Ya, ampun, kenapa kalian tidak langsung menghubungiku malam itu? Kalau tahu akan menjadi seperti ini, malam itu juga aku langsung terbang ke sini."
"Kami panik, Kensky. Kami juga sedikit takut memberitahukanmu, karena tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu."
Kensky terus menangis. Sedangkan Soraya yang kini menatap adik tirinya itu tersenyum samar karena Kensky percaya saja pada kebohongannya.
Rebecca pun demikian. Meski dalam posisi sedang berpura-pura menangis, ia sesekali melirik Kensky dan tertawa dalam hati karena gadis itu percaya saja apa yang Soraya katakan.
"Maafkan kami, Sky. Kami bahkan tidak menunggumu saat pemakaman ayah," kata Soraya sambil menangis.
Kensky menatapnya. "Makam? Kapan kalian mengadakan pemakaman? Kenapa kalian tidak menungguku?" Emosi Kensky mulai terlihat.
Soraya menatap sedih. "Karena mama semakin histeris saat melihat tubuh ayah yang sudah tak bernyawa lagi, jadi aku memutuskan untuk melakukan pemakaman ayah pagi tadi di belakang rumah. Kau ingin aku mengantarmu ke sana?"
Kensky terkejut. Tapi rasa penasaran ingin melihat makam itu membuatnya mengangguk. "Aku ingin ke sana, Soraya. Antarkan aku."
Dengan penuh kemenangan Soraya tertawa dalam hati. Tapi dengan ekspresi yang masih sama seperti tadi ia mengajak Kensky keluar rumah menuju pintu belakang.
Rebecca yang tadinya berpura-pura sedih kini tersenyum lebar begitu kedua gadis itu menghilang. "Kau memang manusia paling bodoh di dunia ini, Sky," katanya dalam hati, "Sebentar lagi tujuanku akan tercapai. Tidak masalah aku gagal menjual perusahan dan rumah ini kepada Dean, tapi setidaknya aku bisa menggagalkanmu untuk bertemu calon suamimu yang sebenarnya. Aku akan menikahkan kau dengan dokter Harvey, dan membuat Dean mau menerima kembali perjanjian itu untuk menikahi Soraya. Bagaimanapun caranya, aku harus membuat Soraya menikah dengan Dean."
Di sisi lain.
Soraya dan Kensky sedang berjalan menyusuri halaman belakang. Karena halaman itu sangat luas, mereka sedikit menguras tenaga agar bisa cepat sampai ke tempat tujuan.
"Di sana," kata Soraya seraya menunjuk tumpukan tanah yang ditaburi bunga-bunga bermacam warna, "Di sanalah makam ayah, Sky."
Kensky menatap tumpukan tanah itu yang letaknya berdekatan dengan pagar tembok pembatas. "Papi?" ia kembali menangis dan segera berlari menuju makam itu. "Papi! Kenapa Papi cepat sekali meninggalkanku, Pi?" Kensky bahkan tak peduli meski yang dipelukanya itu adalah tanah. Saking merasa bersalah pada sang ayah, ia langsung merosot ke tanah yang masih segar itu dan menangis sejadi-jadinya.
Soraya yang posisinya masih berdiri kini tertawa dalam hati. Namun tak ingin Kensky curiga, ia segera berjongkok dan mengusap punggung gadis itu untuk menunjukkan kepeduliannya. "Mama juga sepertimu. Dia bahkan tidak makan dari semalam, karena terus memikirkan ayah. Bagi kami ini seperti mimpi, karena ayah begitu cepat meninggalkan kita."
Kensky menghentikan tangisnya. Perlahan ia bangkit dan menatap Soraya dengan sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
Soraya bersikap peduli. Dengan hati-hati ia membersihkan bagian tubuh Kensky yang terkena tanah. "Jangan sedih lagi. Kita ikhlaskan saja, biar ayah bisa tenang di alam sana."
Kensky menatap lekat-lekat ke wajah Soraya. Ia mendapati mata wanita itu yang tampak berair dan merah. Meski ia tahu kakak tirinya itu menangis, tapi Kensky bisa melihat ekspresi Soraya yang sama sekali tidak merasa kehilangan. Ia pun memahaminya; mungkin karena Eduardus bukan ayah kandung Soraya. Kalau dia anak kandungnya, pasti Soraya akan lebih histeris dari dirinya. Anak di mana yang tidak merasa kehilangan ketika sosok orang tua yang satu-satunya harapan mereka pergi dan tidak akan kembali lagi untuk selamanya.
"Sky?" panggil Soraya pelan.
Gadis itu menoleh dan balas menatapnya.
"Sebenarnya kami ingin membawa ayah ke tanah pekuburan umum, tapi aku dan mama pikir kau pasti akan setuju kalau ayah dimakamkan di sini saja. Di samping itu biar kita tidak perlu jauh-jauh lagi melihat makam ayah. Kau tidak marah kan ayah dimakamkan di halaman ini?"
Kensky kembali melirik dan mengusap pusaranya. "Tidak apa-apa," jawablah lemah tanpa menatap Soraya, "Dulu aku sempat berkeinginan untuk membuat makam papi di dekat makam mami, tapi ...." Kenksy sesugukan ketika membayangkan hidupnya sekarang tinggal sebatang kara. Meski Eduardus pernah menjahatinya, tapi ia sangat bersyukur karena Eduardus telah menjodohkannya dengan Dean.
Soraya yang melihat hal itu langsung membawa tubuh Kensky ke dalam pelukan. "Tenanglah, lagi pula semua sudah terjadi. Sekarang kita ikhlaskan saja semuanya."
"Aku sangat menyesal, Soraya. Seandainya aku tahu papi akan meninggalkanku secepat ini, aku pasti akan langsung datang malam itu. Dia pasti meninggal dalam keadaan marah dan sangat membenciku."
Soraya mengusap punggungnya. "Semua sudah terjadi, Sky. Seandainya waktu bisa diulang, mungkin kita tidak akan melawan, meminta maaf dan melaksanakan semua perintahnya."
"Kau benar, padahal aku belum sempat melakukan perintah papi untuk terakhir kali. Itu adalah satu-satunya permintaan papi kepadaku selama hidup."
"Permintaan apa?" tanya Soraya sambil berdiri. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Kensky. Tak mau terkesan ingin tahu, ia membantu Kensky membersihkan bagian baju yang sudah terkena tanah.
"Terima kasih," balas Kensky. Ia menatap Soraya, "Kata mama papi telah menjodohkanku dengan seseorang. Hal itulah yang membuatku merasa terbebani sampai sekarang ini, Soraya."
"Kenapa? Bukannya kau sudah tahu siapa lelaki itu?"
Kensky menatap wanita itu. Matanya bahkan masih merah akibat menangis. "Aku tidak tahu siapa dia, Soraya. Itu sebabnya aku merasa terbeban karena sampai saat ini aku sendiri tidak tahu siapa lelaki yang telah dijodohkan papi denganku." Kensky tidak mungkin mengatakan bahwa Dean-lah lelaki itu. Meski sudah mendapat pengakuan dari Mrs. Stewart dan Dean secara langsung, tapi tetap saja Kensky ingin mendengar pengakuan itu secara langsung dari sang ayah. Namun siapa sangka jika harapan yang satu-satunya tersisa, kini sudah tidak ada lagi. Ayahnya sudah terkubur di dalam tanah, di mana kakinya dan Soraya berdiri untuk saat ini
"Kalau aku tidak salah dengar waktu ayah kembali__ sebelum ayah memutuskan untuk berendam di bak air__ beliau dan mama sedang membahas soal perjodohanmu. Kalau tidak salah ayah sudah mengatakan kepada mama siapa lelaki itu."
Kensky terkejut. "Kau serius, Soraya?"
"Iya, tapi aku tidak sempat mendengar siapa namanya. Mama dan ayah berbicara bisik-bisik. Sepertinya mereka memang sengaja tidak ingin aku tahu, biar aku tidak membocorkannya kepadamu."
"Dean? Apakah lelaki itu Dean?" kata Kensky dalam hati. Airmatanya kembali merebak dan menatap pusara di sampingnya, "Pi, terima kasih, terima kasih papi sudah menjodohkan aku dengannya," Kensky kembali menatap Soraya, "Kalau begitu, ayo kita kembali. Aku ingin bicara dengan mama. Aku ingin tahu siapa lelaki itu. Dan kalau memang hal itu yang papi inginkan dariku, aku akan segera mewujudkannya."
Soraya tertawa dalam hati. "Ya, ampun. Mama, rencana kita berhasil."
Bersambung__