Mysterious CEO

Mysterious CEO
Dipanggil CEO.



Sejurus kemudian mereka pun tiba di depan gedung Kitten Group. Dengan gerakan dan langkah cepat Dean memasuki gedung berlantai sepuluh itu dengan pandangan dingin dan wajah datar. Tatapan dan wajahnya itu selalu menjadi ciri khas seorang Dean Bernardus bagi semua penghuni perusahan.


Di lantai satu gedung itu ditempati oleh customer service dan penjaga keamanan. Di lantai dua dihuni oleh semua staf administrasi dan pembukuan. Di lantai tiga dihuni oleh tim HDR, sedangkan di lantai empat dan lima ditempati oleh tim marketing. Di lantai enam dan tujuh dihuni oleh semua tim keuangan yang sudah diberikan tugas masing-masing. Semenentara di lantai delapan dan sembilan dihuni oleh manager dan GM perusahan. Di lantai sepuluh tentu saja dihuni oleh sang pemimpin yang tak lain adalah Dean Bernardus Stewart, sosok manipulator yang sangat tampan, tapi baik.


Lelaki yang biasa disapa pak Dean itu keluar dari lift lantai sepuluh. Kim dan Soraya langsung berdiri begitu melihatnya.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi," balas Dean tanpa menoleh saat memasuki ruangannya.


Setelah mendengar pintu ruangan CEO itu tertutup, barulah Kim dan Soraya mendongak menatap ke arah pintu.


"Apa dia sedang marah?" tanya Soraya.


"Dia? Kau ini ...," Rasanya Kim ingin meremas mulut Soraya, "Ingat, ya? Di kantor ini tidak ada yang berani memanggil beliau dengan sebutan nama saja. Aku harap kau bisa mengubah sikapmu itu jika ingin lebih lama bekerja di sini," sekertaris itu berdiri untuk meninggalkan Soraya, tapi bunyi interkom membuat Kim terpaksa kembali duduk dan mengangkatnya, "Iya, Pak? Baik, Pak!" Ia menutup kembali gagang interkom itu lalu menekan tombol untuk panggilan lain dan berkata, "Halo, Mr. Hans?"


"Iya, Kim. Ada apa?"


"Pak Dean menyuruh Anda ke ruangannya sekarang. Ada hal yang akan dibicarakan dengan Anda mengenai acara kantor besok."


"Baik, Kim. Aku akan segera kesana, terima kasih."


"Kembali kasih, Mr. Hans."


"Acara kantor? Memangnya ada acara apa?" tanya Soraya begitu melihat Kim selesai bicara.


"Besok ulang tahun kantor. Ayo, sekarang kerjakan yang ini," titah Kim yang mulai bosan terhadap Soraya. Ia merasa wanita itu banyak membuang waktu, "Kau harus menguasai ini dalam waktu satu bulan. Jika sudah sebulan kau tidak juga menguasai programnya, jangan salahkan aku jika pak Dean memecatmu atau memindahkanmu ke divisi lain."


Dengan kesal Soraya menuruti perintah Kim. "Memecatku?" pekiknya dalam hati, "Kau yang akan kupecat, Nona! Lihat saja."


Di sisi lain.


"Nona Oxley?" panggil Mr. Hans.


Dengan cepat Kensky berdiri dan menatapnya. "Iya, Pak?"


"Tolong buatkan laporan ini untukku, aku akan memeriksanya setelah kembali dari ruangan pak Dean. Beliau mengundangku ke ruangannya sekarang. Kau bisa, kan?"


"Baik, Pak," Kensky meraih dokumen itu dari tangan kepala divisinya, "Hanya ini saja, Pak?"


"Iya. Kalau begitu selamat bekerja dan selamat datang."


Kensky tersenyum. "Baik, Pak, terima kasih." Kensky pun menatap lelaki yang rambutnya sudah mulai beruban. Tapi uban yang timbul di kepalanya itu bukan karena usianya yang sudah tua, melainkan faktor keturuan. Dalam hati Kenksy berkata, "Semoga saja si bos gila itu tidak akan mengatakan yang macam-macam kepada Mr. Hans."


Tak ingin pekerjaannya tertunda, Kensky pun kembali ke kursinya dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan Mr. Hans.


Di sisi lain.


"Apa beliau ada di dalam?" tanya Mr. Hans kepada Kimberly.


"Ada, Mr. Hans, beliau sudah menunggu Anda di dalam."


"Terima kasih, Kim. Ngomong-ngomong ini siapa?" tanya Mr. Hans saat melihat wanita cantik dengan make-up tebal yang duduk di samping sekertaris Dean.


Kim melirik Soraya. "Dia karyawan baru, Mr. Hans. Dia saudara tirinya asisten Anda."


Perkataan Kim membuat Soraya menatap tajam. Sementara Mr. Hans langsung bergerak dan masuk ke dalam ruangan CEO seakan tidak mau tahu.


"Selamat pagi, Pak Dean," sapa Mr. Hans begitu masuk ke dalam ruangan.


Dean yang kebetulan sudah menunggu di sofa yang disediakan khusus untuk tamu pun langsung berdiri dan berjabat tangan dengan kepala divisi bagian keuangan itu. "Pagi, Mr. Hans, silahkan duduk," Dean menunggu sampai lelaki itu duduk lalu berkata, "Begini, Mr. Hans. Karena besok adalah ulang tahun kantor, aku ingin Anda mengurus semua anggaran untuk acara besok. Anggaran untuk makanan, dekorasi, hingga minuman dan apapun itu."


"Baik, Pak. Tapi sumpah, aku sendiri lupa kalau besok ulang tahun kantor."


Dean tersenyum samar. "Namanya juga sudah tua, pasti suka lupa," katanya dalam hati. Ia mengubah wajahnya kembali datar lalu berkata lagi, "Aku sudah menyuruh Matt untuk memesan makanan di restoran langgananku. Dia akan mengirimkan daftarnya lewat email Anda nanti. Semoga kalian bisa bekerja sama demi kelancaran pesta besok."


"Baik, Pak."


Dean meletakkan tungkainya di kaki sebelah, sedangkan tangannya yang satu merangkul sandaran sofa. "Apa Anda punya ide tambahan untuk acara besok, Mr. Hans?"


"Ide?" ulangnya, "Ide apa, ya?" Mr. Hans tampak berpikir, "Apa pestanya akan diadakan di dalam kantor, Pak?"


"Menurut Anda bagusnya di mana?" tanya Dean sambil menatapnya.


"Sudah tua bangka, tapi jiwanya masih muda ternyata," pikir Dean, "Aku setuju. Kalau begitu besok pukul delapan malam saja, bagaimana? Tapi pastikan di jam itu semua karyawan harus hadir."


"Itu ide yang bagus, Pak," balas Mr. Hans kaku.


"Tapi dengan satu syarat."


Mr. Hans terkejut. "Syarat apa, Pak?" tanyanya sambil mendorong kaca mata yang hendak merosot dari hidungnya.


"Pastikan semua karyawan harus hadir tanpa terkecuali. Aku juga tidak mau menerima alasan dalam bentuk apapun."


"Itu sudah pasti, Pak. Siapa bilang mereka tidak akan hadir di pesta itu, apalagi pesta ini adalah ulang tahun kantor. Saya yakin mereka semua pasti akan hadir, apalagi besok kan malam minggu."


"Oh iya, ya. Aku sampai lupa kalau besok malam minggu. Anda ternyata jiwa remaja juga, ya."


Mr. Hans terkekeh. "Fisik boleh tua, tapi tenaga dan pikiran jangan dong, Pak."


Tawa Dean nyaris meledak. Ia coba membayangkan bagaimana Mr. Hans yang tubuhnya sedikit keriput itu memiliki tenaga yang kuat di atas ranjang. Dean terbahak membayangkannya.


Mr. Hans menatap Dean dengan mimik wajah bingung. "Apanya yang lucu, Pak?"


"Kakek Sugiono!"


"Hah? Kakek Sugiono? Siapa dia, Pak Dean?"


Dean menahan tawa. "Lupakan! Kalau begitu tolong Anda umumkan berita ini ke semua anak buah Anda," Dean berdiri dan mendekati mejanya, "Aku juga akan menyuruh Kim untuk menempelkan undangan di pintu masuk, biar besok pagi semua karyawan bisa membacanya."


"Baik, Pak. Apa ada lagi?"


"Kurasa itu saja."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


Mr. Hans langsung berdiri dan pamit undur diri. Saat Dean hendak meraih gagang interkom, Mr. Hans sudah mendekati pintu. Lelaki tua itu bahkan sudah memegang handle dan membuka pintunya saat Dean memanggilnya.


"Mr. Hans?"


Mr. Hans menoleh. "Iya, Pak?"


"Tolong bilang kepada asisten baru Anda besok dia harus hadir, begitu juga dengan yang lain. Bilang kepada mereka jika siapa yang tidak hadir di pesta besok, pastikan besoknya lagi tidak usah menginjakkan kaki di kantor ini dan siap menerima skorsing selama dua minggu," kata Dean kemudian menekan tombol interkom untuk menghubungi sekertarisnya.


Mr. Hans yang masih berdiri di dekat pintu itu langsung menjadi patung. Ia menelan ludah dengan terpaksa. "Baik, Pak."


"Kim! Tolong buatkan undangan ulang tahun untuk besok. Tempatnya di mension Kitten pukul delapan malam," katanya dengan nada tegas.


"Baik, Pak."


"Jangan lupa kau cantumkan catatan dan tempel di depan pintu; bagi siapa yang tidak hadir, wajib menerima surat peringatan dan siap mendapat skorsing selama dua minggu."


"Baik, Pak!"


Dean menutup gagang interkom itu lalu kembali duduk. Sambil menyandarkan diri dengan tangan yang terlipat di atas perut, ia menyeringai licik. "Baiklah, Kensky. Film akan segera kita mulai."


Di sisi lain.


Dengan langkah cepat Mr. Hans keluar dari lift yang berhenti di lantai enam. Ia menghampiri seluruh staf keuangan di ruangan itu lalu menyuruh mereka semua agar berkumpul di lantai tujuh. "Semuanya ke ruanganku sekarang, ada penyampaian penting dan saya tidak mau mengulangnya."


Mimik wajah Mr. Hans yang datar membuat semua Staf accounting itu bertanya-tanya. Bahkan ada yang saling bisik-bisik karena penasaran tentang perkataan sang kepala divisi barusan.


"Kira-kira ada masalah apa, ya?" tanya salah satu wanita muda kepada seniornya.


"Mungkin masalah keuangan. Secara yang mengatakannya kan adalah kepala divisi kita."


"Iya juga, sih. Apalagi wajah Mr. Hans tampak menyeramkan, mungkin masalahnya besar."


Setelah tiba di lantai ruangannya Mr. Hans langsung mengambil posisi menyendiri dan berdiri di depan ruangannya yang baru. Setelah memastikan semuanya sudah terkumpul, Mr. Hans segera memulai dan menyampaikan pengumuman itu.


"Mohon perhatian, aku hanya minta waktu kalian lima belas menit saja untuk menyampaikan hal ini."


Bersambung___