Mysterious CEO

Mysterious CEO
Kebencian Kensky.



Di sisi lain.


"Maafkan aku, Sky. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati. Tapi seandainya kau jujur sejak awal bahwa Dean dan kau punya hubungan spesial, aku dan mama pasti tidak akan menjodohkanmu dengan Harvey." Saat ini Soraya sedang berada di kamar Kensky. Sambil duduk di pinggir ranjang ia menatap Kensky yang kini sedang menangis di tengah ranjang dengan kaki terlipat di depan tubuh dan kepala menunduk.


"Aku yang salah, aku terlalu percaya kepadanya. Seandainya aku tahu dia mendekatiku hanya untuk balas dendam, aku tidak akan pernah mau bekerja di perusahan itu."


Soraya berpura-pura memasang wajah sedih. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi karena sudah terlanjur. Jadi, lebih baik aku diam sampai kau tahu semuanya."


Saat itulah kepala Kensky terangkat dan menatap Soraya. "Apa maksudmu sampai aku tahu semuanya?"


"Sebenarnya Dean sengaja memindahkanmu ke Jerman karena satu alasan. Tapi aku bersumpah, kami tidak tahu alasan itu apa. Waktu aku dan mama protes soal keberangkatanmu ke sana, dia hanya bilang mama jangan ikut campur. Dia marah pada mama, karena ayah yang merupakan target utamanya untuk balas dendam telah hilang. Dan karena tidak akan bisa lagi membalaskan dendamnya kepada ayah, kaulah yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi dia mendekatimu hanya untuk membalaskan dendamnya terhadap ayah."


Kensky menyipitkan mata. "Ayah hilang?"


Lagi-lagi Soraya menatap sedih. "Maafkan kami, Sky. Bukannya tidak ingin jujur kepadamu, tapi aku dan mama sampai bingung dan tidak tahu mencari ayah di mana waktu itu. Sebenarnya ayah tidak di rawat oleh orang ahli terapi, tapi ayah hilang karena diculik orang. Waktu itu ada orang datang ke sini untuk menagih hutang kepada ayah. Karena ayah sudah sakit, mereka pergi dan membawa ayah ikut bersama mereka. Aku sampai menuduh mama yang telah menyuruh orang untuk menculik ayah, tapi ternyata bukan. Mama marah, bahkan sampai frustasi karena tidak tahu harus mencari ayah di mana dan takut kalau-kalau kau mencari ayah. Itu sebabnya setiap kali kau ingin menemui ayah di kamar kami selalu beralasan ayah sudah tidur, padahal sebenarnya ayah sudah tidak ada."


Kensky terkejut. "Berarti itu alasannya kalian bilang papi sudah meninggal?"


"Benar, karena kami pikir ayah sudah tidak akan kembali lagi," kata Soraya. Ia ingin menangis, tapi airmatanya tak bisa keluar karena memang hatinya baik-baik saja.


Kensky beranjak dan turun dari kasur. "Kalian dan Dean ternyata sama saja, kalian jahat! Ibu dan anak sama-sama jahat!"


"Kensky! Kensky!" Soraya terus memanggil, tapi Kensky tak peduli.


Gadis itu keluar kamar dengan emosi yang meluap-luap.


Soraya yang masih berdiri di kamar itu kini tersenyum lebar lalu berkata, "Akhirnya aku bisa memisahkan kalian. Dean, Dean, inilah akibatnya jika kau terus menolakku. Kensky pasti akan membencimu."


Di sisi lain.


Dengan air mata yang masih menetes Kensky menuruni tangga. Langkahnya cepat dengan tangan yang memegang pembatas tangga.


"Sky," panggil Rebecca.


Langkah Kensky terhenti. Ia menatap wanita itu dengan tatapan garang. "Kalian semua sama. Kau, Soraya dan Dean sama jahatnya."


Kensky melanjutkan langkah, tapi Rebecca langsung berkata, "Besok ayahmu akan ke sini, katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan."


Kensky tak menjawab. Ia hanya berdiri diam tanpa menatap Rebecca. Setelah memastikan ibu tirinya sudah selesai berbicara, ia segera pergi dan meninggalkan rumah itu tanpa berkata apa-apa.


Di sisi lain.


Dengan wajah garang bercampur gelisah Dean berdiri di depan dinding kaca apartemennya. Kekhawatiran akan kedoknya diketahui Kensky membuatnya takut dan gemetar.


Tok! Tok!


Dean menoleh, "Masuk!"


Clek!


Sosok Matt muncul dengan sebuah bungkusan yang isinya adalah makanan untuk sang atasan. "Ini Bos makanan untuk Anda. Sebaiknya Anda makan dulu."


"Aku belum lapar. Apa sudah ada kabar tentang mereka?"


Matt meletakan bungkusan itu di meja yang ada di depan Dean. "Kata mereka Eduardus sudah tiba di rumah itu. Satu jam kemudian ada laki-laki berkaca mata keluar dari sana, kemungkinan itu adalah laki-laki yang dicalonkan Rebecca dengan nyonya Kensky."


Tangan Dean mengepal erat. "Lalu apa lagi yang terjadi?"


"Kabar yang aku dapat hanya itu, Bos."


Drtt... Drtt...


Masih posisi berdiri Dean mendengar dan menyimak sambil menatap Matt dengan wajah datar.


"Halo?" sapa Matt pelan. Ia menyimak setiap kata yang terdengar dari balik telepon, "Baik, kalau begitu ikuti ke manapun nyonya pergi dan segera kabari aku."


Tut! Tut!


Kepala Matt tersentak. "Bos, kata mereka Eduardus sudah pergi dari rumah itu. Beberapa menit kemudian nyonya Kensky juga menyusul dengan wajah terlihat menangis dan marah-marah."


Wajah Dean semakin garang. Tanpa berkata apa-apa ia hanya menatap dinding dan mengepalkan tangan hingga urat-uratnya bermunculan. "Mereka pasti sudah membongkar semuanya, Soraya dan Rebecca sudah pasti mengatakan semuanya demi membela diri," kata Dean. Ia berbalik membelakangi sang supir, "Hubungi Mr. Bla, suruh dia mengabarimu kalau Eduardus muncul di sana."


"Baik, Bos."


Mata Dean menyipit, "Soraya dan Rebecca," katanya penuh penekanan, "Kalau sampai Kensky tidak ingin lagi bertemu denganku hanya karena itu, kalian akan tahu akibatnya."


Dengan cepat Dean merogoh ponsel dari saku celana untuk menghubungi Kensky. Sambil menunggu panggilan ia terus berdiri dan menatap indahnya kota. Bahkan meski suasana di luar sana begitu ramai dan cerah akibat lampu-lampu jalan yang terang-benderang, hal itu tidak bisa mengobati suasana hati Dean yang gelap bagaikan kuburan.


"Halo?" sapa suara di balik telepon.


Dean mengenali suara itu. "Mana Kensky?! Kenapa kau yang mengangkat teleponnya?"


Sosok di balik telepon itu tertawa. "Dean, Dean. Kau pikir Kensky masih mau lagi kepadamu, hah? Ini akibatnya karena kau telah menolakku, Dean."


"Apa maksudmu, Soraya?"


"Kensky sudah tahu semuanya. Kami sudah mengakuinya. Kami sudah mengatakan padanya, bahwa kau selama ini bersekongkol dan hanya memanfaatkannya. Aku juga bilang padanya, bahwa kaulah yang menyuruh ibuku untuk membunuh ayahnya."


Wajah Dean kontan memerah. Tanpa menjawab perkataan Soraya ia langsung memutuskan panggilannya.


Di sisi lain.


Kensky terus menangis. Ia bahkan menangis sejadi-jadinya tanpa peduli Tanisa yang kini sedang duduk untuk menunggu penjelasannya.


"Baiklah, menangislah sepuasnya. Aku akan mencari pakaian yang lebih nyaman untuk kau kenakan," kata Tanisa.


Saat ini Kensky sudah berada di apartemen sahabatnya. Sambil duduk di sofa ruang tamu gadis itu terus meluapkan kesakithatiannya terhadap Dean lewat air mata.


"Pakailah ini. Kau pasti tidak nyaman dengan gaun itu, kan?" kata Tanisa seraya menyodorkan baju tidur berwarna putih dan berbahan katun.


Kensky tak menggubris. Ia terus menangis dan tak memperdulikan Tanisa yang ada di hadapannya.


Tanisa pun mengerti. Meski ia sendiri masih bingung apa yang menyebabkan sahabatnya itu menangis, ia kembali duduk di depan Kensky dan menunggu sampai tangis sahabatnya itu mereda. Dan begitu tangis Kensky hilang, Tanisa menatapnya dan berkata, "Sudah? Kenapa berhenti? Apa airmatamu sudah habis?"


Kensky ingin tertawa tapi juga sakit hati. Ia sedang bersedih, tapi sahabatnya itu mengajaknya bercanda.


Tanisa tersenyum. "Ini, pakailah. Aku akan buatkan hot cokelat dulu untukmu."


Mereka berdua pun berlalu, Tanisa pergi ke dapur untuk membuat hot cokelat, sedangkan Kensky ke kamar untuk mengganti gaunnya dengan baju tidur. Dan begitu selesai dengan aktivitas masing-masing, mereka sama-sama kembali ke ruang tamu. Kensky duduk di posisi sebelumnya, begitu juga Tanisa. Mereka saling berhadapan.


"Sekarang ceritakan padaku, apa yang membuatmu datang-datang dan langsung menangis seperti tadi?" Tanisa memulai.


"Sebelum menceritakannya, aku ingin bertanya ... malam ini bolehkah aku menginap di sini?"


"Tentu saja, kenapa tidak?"


"Terima kasih," jawab Kensky,


"Aku minta maaf karena tidak menceritakan padamu sebelumnya. Rencana setelah hari ini berlalu, aku akan menemuimu besok dan menceritakannya. Tapi ternyata semua di luar prediksiku. Semuanya hancur, Tanisa."


Bersambung___