Mysterious CEO

Mysterious CEO
Calon Mertua.



Ting! Tong!


Bunyi bel membuat Soraya dan Rebecca saling bertatap.


"Biar aku saja," kata Soraya sambil beranjak lalu berdiri dari sofa.


Rebecca duduk diam. Sambil menatap anaknya berjalan meninggalkan ruangan ia tampak berpikir. "Mudahan-mudahan saja caraku ini bisa berhasil. Semoga Dean bisa peka dan segera membuat sertifikatnya, dengan begitu aku masih punya waktu tinggal di sini sampai mendapatkan tempat tinggal baru."


"Ma?"


Suara Soraya mengejutkan Rebecca. "Iya, Nak?"


"Ada yang ingin bertemu, Mama."


Alis Rebecca berkerut. "Siapa?"


Mata Soraya beralih kepada sosok yang sedang berjalan memasuki ruang tamu.


"Halo, Nyonya Rebecca."


Mata Rebecca melotot karena kaget. "Anda?"


Sosok yang berdiri di samping Soraya tersenyum lebar. "Iya, aku. Kenapa ... Anda kaget?"


Wajah Rebecca kontan memucat dan hal itu membuat Soraya merasa penasaran. Dilihatnya sosok lelaki berpakaian rapi sedang berdiri sambil menatap ibunya.


"Kenapa Anda terlihat pucat, Nyonya? Apa Anda takut kalau aku ingin balas dendam?"


Rebecca terperanjat. Ia berdiri dan menatap lelaki itu. "Apa maksud, Anda?"


Sosok yang ternyata adalah Mr. Pay pun melangkah pelan dan mendekati Rebecca. "Anda tidak usah berpura-pura lagi, Nyonya. Orang suruhan Anda sudah mengaku kepadaku bahwa Anda telah menyuruhnya untuk membunuhku. Benar, begitu?"


Zet!


Mata Rebecca terbelalak. "Orang suruhanku? Tidak! Aku tidak pernah menyuruh orang untuk membunuh Anda, Mr. Pay."


"Benarkah? Kalau begitu sebentar," kata Mr. Pay sambil merogoh ponsel dari saku jas-nya. Ia menekan angka untuk menghubungi seseorang. Sambil menatap Rebecca ia menempelkan benda itu ke telinga lalu menyapa, "Suruh mereka ke sini."


Perkataan Mr. Pay membuat Rebecca semakin pucat. Tangannya terasa dingin dan gemetar.


Soraya yang masih merasa bingung pun ikut berkomentar. "Apa-apaan ini? Kenapa Anda menuduh ibu saya ingin membunuh Anda, dan siapa Anda sebenarnya?"


Mr. Pay tersenyum. Sesaat ia menatap Soraya kemudian menatap Rebecca. "Mungkin Anda yang ingin menjelaskan kepadanya siapa aku, Nyonya Rebecca?"


Rebecca menelan ludah. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Bukankah kata Dean dia sudah membunuh pengacara ini? Lalu kenapa dia bisa muncul di sini?"


Tepat di saat itu dua pria bertumbuh besar dengan setelan jas hitam masuk ke dalam ruangan itu. Masing-masing di antara mereka mendorong sosok yang bercelana pendek dengan wajah tertutup kain berwarna hitam.


Soraya dan Rebecca menatap bingung dengan jantung berdetak cepat. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi sebagai anak Soraya takut jika ibunya mendapat masalah.


Mr. Pay menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari jaraknya. "Buka topengnya."


Dengan cepat pria itu menarik topeng itu dan ....


Zet!


Mata Rebecca terbelalak. Dilihatnya sosok lelaki yang ia kenali sedang balas menatap dengan tatapan garang. "Mr. Lamber?" katanya dalam hati.


Mr. Pay berdeham. Ia kemudian memerintahkan pria satunya lagi untuk membuka topeng kepada sosok yang berdiri di samping Mr. Lamber.


Zet!


Wajah lelaki berkulit putih itu tampak datar saat menatap Rebecca.


"Nyonya Rebecca?" panggil Mr. Pay, "Apa Anda mengenali mereka berdua?"


"Gawat, kalau aku mengatakan mengenal Mr. Lamber, dia pasti akan tahu apa yang sudah kulakukan," katanya dalam hati. Dengan jantung berdetak dan tubuh gemetar Rebecca menjawab, "Tidak, aku tidak mengenal mereka."


"Dia bohong!" pekik Mr. Lamber.


Soraya dan Rebecca sama-sama terkejut.


"Dia yang telah menyuruhku untuk memalsukan surat pernyataan yang ditandatangani oleh suaminya. Dia juga yang telah menyuruhku berpura-pura menjadi pengacara suaminya untuk meyakinkan nona Kensky bahwa ayahnya punya hutang kepada pak Dean."


Zet!


Rebecca terperanjat. Tubuhnya semakin gemetar dan berharap dirinya bisa menghilang dari sana.


Soraya menatap ibunya. Tak ingin ibunya disalahkan, dengan cepat ia berkata, "Ibuku melakukan ini bukan karena kemauannya, tapi karena ada yang menyuruhnya."


Semua pasang mata menatap Soraya termasuk Mr. Pay.


"Apa orang itu adalah Dean?"


Zet!


Rebecca terkejut. Saat itulah dia baru bisa membuka mulut dan membalas pertanyaan Mr. Pay. "Dari mana Anda tahu?"


"Suami Anda, Nyoya. Suami Anda telah menceritakan semuanya kepadaku. Dan berdasarkan keterangan suami Anda yang tak lain adalah klienku, beliau telah mengaku punya masalah di masalalu dengan beliau. Jadi demi menebus kesalahannya, beliau tidak mempermasalahkan apa yang telah diperintahkan pak Dean untuk mencelakainya. Tapi, Anda ... Anda yang telah melakukannya, Nyonya. Anda yang telah meracuni, menyewa orang, bahkan menyuruh orang untuk membunuhku agar aku tidak bisa bertemu dengan suami Anda."


Rebecca menggeleng kepala. "Tidak! Aku tidak menyuruh orang membubuh Anda, Mr. Pay, sumpah."


Lelaki itu menatap sosok lelaki yang berdiri di sebelah Mr. Lamber. "Apa benar dia tidak menyuruhmu untuk melenyapkanku?"


"Dia bohong, dia telah menyuruhku untuk membunuh Anda agar Kamis itu Anda tidak menemuinya dan tidak jadi bertemu suaminya."


Rebecca histeris. "Tidak! Itu tidak benar, aku tidak pernah menyuruhnya untuk membunuh Anda. Sumpah!"


"Tapi Anda dengar sendiri kan yang dia katakan? Dan hari Kamis itu Anda sudah berjanji akan mengajaku untuk menemui suami Anda. Bukan begitu, Nyonya Rebecca?"


"Tidak! Itu tidak benar, pengakuannya tidak benar. Waktu itu aku meminta Dean untuk menyuruh anak buahnya untuk melenyapkan Anda, bukan orang ini."


"Berarti benar Anda telah menyuruh orang untuk membunuhku?"


"Iya, tapi bukan dia! Aku menyuruh Dean."


Tepat di saat itu dua pria lagi muncul secara tiba-tiba dan mengejutkan mereka semua.


"Mr. Pay?"


Rebecca dan Soraya terkejut melihat dua pria bertubuh tinggi yang berpakaian polisi itu.


Mr. Pay menatap mereka. "Bawa dia!"


Rebecca terperanjat. Dilihatnya dua pria berpakaian polisi itu mendekatinya. "Tidak, aku tidak bersalah. Kalian tidak boleh membawaku! Bukan aku yang melakukannya!"


Kedua polisi itu memegang tangan Rebecca. "Ayo, ikut kami."


"Jangan! Jangan bawa mamaku, mama tidak bersalah!"


"Ayo! Sekarang keluar semuanya," pinta Mr. Pay.


"Soraya, tolong mama! Mama tidak bersalah, Nak. Tolong mama."


Soraya ikut menangis. "Kalian tidak boleh membawa mamaku, dia tidak bersalah."


Mr. Pay menoleh. "Kau ingin di penjara seperti ibumu? Kau bisa menjadi tersangka, karena telah bersekongkol bersama ibumu."


Soraya menelan ludah. "Tidak, aku tidak mau."


"Kalau begitu diam, ibumu harus menerima hukuman sesuai dengan perbuatannya."


Dengan wajah pucat dan bergetar Soraya menatap tubuh-tubuh itu menghilang di balik dinding pembatas. Airmatanya merebak. "Dean, ini semua karena Dean!"


***


Di sebuah restoran langganan Dean sedang duduk bersama dua orang di hadapannya. Dua orang yang tak lain adalah Eduardus dan Mr. Pay. Sambil menikmati makan malam mereka membahas soal penyerangan Mr. Pay yang tiba-tiba muncul di hadapan Rebecca tadi pagi.


"Sebenarnya apa maksud Anda melakukan ini, Pak Dean? tanya Mr. Pay sambil memotong stik daging yang ada di piringnya.


Dean membersihkan mulutnya. "Balas dendam. Aku ingin balas dendam kepada klien Anda, Mr. Pay."


Mr. Pay menatapnya. "Kalau Anda ingin balas dendam, lantas kenapa Anda masih membiarkan klienku tetap hidup? Bukankah tujuan Anda ingin membuatnya menderita?"


Dean menatap Eduardus yang sedang menatapnya dengan ekspresi sedih. "Jika sebelumnya aku ingin balas dendam, karena beliau adalah ayah tiri yang kejam. Sekarang aku ingin beliau tetap hidup, karena aku ingin beliau menjadi ayah mertuaku."


Perkataan Dean membuat Eduardus terkejut. "Kau serius, Dean? Kau yakin ingin menjadikan aku mertuamu?"


"Aku serius. Mungkin dulu kau adalah ayah tiri yang jahat dan kejam yang pernah aku temui. Tapi untuk ke depannya, aku sangat yakin jika kau bisa menjadi ayah mertua yang sangat baik dan sangat bijaksana yang pernah kutemui."


Bersambung___