
"Memangnya berapa total hutang papi, Mr. Lamber?"
Lelaki itu menggeleng. "Maaf, Nona Kensky, tapi aku sendiri kurang tahu. Sebulan yang lalu saat menyerahkan lembaran ini kepadaku, ayah Anda hanya bilang bahwa jika beliau sudah jatuh sakit tolong berikan surat ini kepada Anda selaku ahli waris untuk diminta tanda tangan. Dan setelah aku membaca surat ini aku bertanya soal hutang yang tercantum di dalamnya, tapi beliau hanya bilang aku tidak perlu tahu. Beliau sudah ada perjanjian dengan yang bersangkutan, bila mana Kapleng Grouplah yang akan menjadi jaminan untuk melunasi hutang tersebut."
Rebecca tersentak. "Jika perusahaannya sebagai jaminan, berarti utang Eduardus sangat banyak, dong? Lalu," ia menatap Kensky, "uang sebanyak itu dilakukannya untuk apa, sementara dia tidak pernah membangun atau memberikan apa-apa kepada kami? Iya kan, Kensky?"
Mr. Lamber menatap Rebecca saat tatapan wanita itu tertuju padanya. "Aku minta maaf, Nyonya. Meskipun aku pengacara pak Eduardus dan semua masalah pribadi beliau telah diberitahukan kepadaku, tapi aku cukup tahu diri untuk bertanya. Karena sepertinya beliau memang merahasiakan hutang itu dari siapa pun termasuk keluarganya dan aku."
Kensky hanya bisa menyimak. Ia cukup syok dengan kabar yang baru saja didengarnya. Ia tak menyangka jika ayahnya tega menjadikan perusahan almarhumah ibunya sebagai jaminan untuk kepentingan pribadi. "Kalau boleh saya tahu, siapa yang memberikan piutang sebanyak itu kepada papi, Mr. Lamber?"
Mr. Lamber melirik Rebecca sebelum pandangannya beralih ke wajah bingung Kensky. "Eh, Maaf, Nona. Tapi aku sudah berjanji kepada beliau, bahwa aku tidak akan memberitahukan siapa yang____"
"Cepat katakan, Mr. Lamber," sergah Kensky, "Masalah sudah rumit begini Anda masih ingin main rahasia-rahasia lagi, hah?"
Mr. Lamber menelan ludahnya. "Baiklah, Nona," katanya kemudian menarik napas panjang, "Sebenarnya ini rahasia, tapi karena Anda putri kandungnya aku rasa tidak masalah jika Anda tahu siapa orang tersebut."
"Itu harus, Mr. Lamber!" timpa Rebecca, "Kau harus memberitahukannya kepada kami siapa orang itu. Siapa tahu suatu saat kami bisa membayar hutang tersebut dan merebut kembali perusahan kami. Bukan begitu, Kensky?"
Mr. Lamber terdiam cukup lama. Ia menatap Kensky dan Rebecca secara bergantian sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, mungkin sebaiknya saya jujur kepada Nyonya dan Nona Kensky," katanya lalu menarik napas, "Yang memberi piutang itu adalah CEO di Kitten Group. Beliau adalah pengusaha muda yang telah menjadi investor Mr. Oxley sejak bertahun-tahun lalu. Dan karena pengambilan Mr. Oxley setiap tahun semakin banyak, beliau akhirnya memberikan perusahan tersebut sebagai jaminan kepada pemilik Kitten Group sebagai tebusan uang yang beliau pakai."
"Kitten Group?" Mata Kensky terbelalak karena terkejut, "Apa aku tidak salah dengar?!"
Mr. Lamber mengulang, "Benar, Nona. Yang akan menjadi pemegang Kapleng Group selanjutnya adalah pak Dean Bernardus Stewart, jika ayah Anda tidak bisa melunasi hutangnya."
"Tunggu, tadi katamu beliau adalah investor suamiku sejak lama?" tanya Rebecca.
"Benar, Nyonya."
Rebecca menatap Kensky sebelum tatapannya kembali menghadap Mr. Lamber. "Berarti selama ini Kapleng Group telah mengalami kerugian sampai-sampai suami saya harus mencari investor? Kenapa saya tidak pernah tahu, ya?"
"Iya, kenapa papi tidak pernah membicarakan masalah ini kepada kami?" kata Kensky. Mimik wajahnya tampak berpikir, "Aneh, tapi kok bisa papi sampai punya hutang begitu banyak kepada Dean? Kalau benar, lalu uangnya digunakan untuk apa?" pikirnya. Kensky menatap Mr. Lamber dan Rebecca secara bergantian, "Aku harus menanyakan hal ini kepada Dean. Aku harus menanyakannya," katanya dalam hati.
"Nona, Kensky?" panggil Mr. Lamber.
Kensky tersadar dari pikirannya. "Ah, maaf. Ada apa, Mr. Lamber?"
"Tidak! Aku tidak akan menandatanganinya sebelum aku mendapatkan kejelasan soal hutang itu dari papi secara langsung."
Rebecca tersentak. "Brengsek, sok pintar sekali anak ini," katanya dalam hati. Dengan cepat ia mengubah wajahnya menjadi sedih, "Mr. Lamber, bisakah kau beri kami waktu beberapa hari lagi? Berita ini cukup mengejutkan bagi kami. Benarkan, Sayang?" katanya kepada Kensky, "Sebagai seorang istri, saya juga perlu membicarakan masalah ini dengan suami saya dulu. Saya harus menanyakan kepadanya kenapa sampai dia begitu tega pada kami dengan membebankan hutang sebanyak ini pada kami. Aku dan Soraya sebenarnya tidak masalah, tapi Kensky? Kasihan dia, hanya perusahan itu satu-satunya warisan yang ditinggalkan mendiang ibunya untuk dia."
Kensky terharu mendengar kata-kata itu. Ia menatap Rebecca lalu berkata, "Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula masalah ini juga sudah terjadi. Papi sudah terlanjur menghabiskan semua uangnya," katanya lemah. Ia menunduk sedih, "Hanya saja aku kecewa kepada papi, bisa-bisanya dia melakukan itu hanya untuk kepentingan pribadinya."
"Mama juga tidak abis pikir, Sayang. Tapi biar bagaimana pun kau harus berusaha dulu sebelum itu terjadi. Toh pemilik piutangnya adalah bos kamu. Siapa tahu dia bisa memberikan toleransi dengan membiarkanmu tetap bekerja tanpa digaji."
Zet!
Kepala Kensky tersentak. "Maksud Mama aku yang akan membayar hutang papi?"
Rebecca mengangguk. "Daripada kau harus kehilangan perusahan itu. Mana kau pilih, kehilangan warisan mamimu atau bekerja pada bosmu tanpa digaji sampai hutangnya lunas?"
Kensky terdiam. Ia menatap Rebecca dengan pikiran yang terus dibenaki oleh masalah ini. Perkataan ibu tirinya itu benar, setidaknya ia bisa mempertahankan aset berharga milik ibunya dengan cara seperti itu. "Tapi, bagaimana kalau pak Dean tidak setuju?"
Rebecca meletakkan tangannya di pundak Kensky. "Kita coba dulu," katanya lalu mengalihkan pandangan ke wajah lelaki yang ada di depannya, "Bagaimana, Mr. Lamber, apa Anda bisa memberikan kami toleransi untuk perpanjangan waktu? Aku yakin putri saya pasti bisa mengatasi masalah ini."
Mr. Lamber mengendus. "Baiklah, tapi waktunya hanya lima hari. Soal alasan biar aku akan memikirkannya dan mengatakannya kepada pak Dean atas keterlambatan ini."
Kensky menyipitkan mata. "Kenapa Anda harus pusing? Kan Anda bisa memberikan alasan, bahwa saya tidak mau menandatanganinya."
"Kensky," kata Rebecca pelan, "Kita selesaikan masalah ini baik-baik. Kalau kamu berpikiran seperti itu yang ada pak Dean akan mempersulit kita. Mama takut kalau beliau akan memecatmu dari pekerjaan yang baru saja kau dapatkan dan kau akan semakin sulit untuk mempertahankan perusahan itu."
Kensky terdiam. Apa yang dikatakan Rebecca ada benarnya. Tapi pengakuan Dean yang mengatakan bahwa ia adalah calon istrinya membuat Kensky yakin kalau lelaki itu pasti tidak akan mempersulitnya. "Tapi tunggu ... Jika Dean benar-benar calon suamiku, itu berarti aku tidak perlu susah-susah untuk bayar hutang papi lagi, dong? Dan kalau pun Dean benar akan merebut Kapleng Group dari papi, toh perusahan itu akan menjadi milik kami juga setelah menikah," pikir Kensky. Ia tersenyum samar saat membayangkan bagaimana perusahaan itu akan tetap menjadi miliknya setelah menikah dengan Dean.
"Apa yang kau pikirkan, Kensky?"
Suara Rebecca mengejutkannya. "Tidak, Ma. Aku tidak memikirkan apa-apa," balasnya cepat, "Oh, iya. Setelah ini apa yang akan kita lakukan, Ma?"
Bersambung___